
Inou Chou benar-benar kacau. Paramedis kewalahan mengevakuasi jenazah-jenazah yang bergelimpangan sepanjang jalan.
Ini tragedi pembantaian terparah sepanjang masa setelah peristiwa bersejarah—insiden dijatuhkannya bom nuklir keNagasaki dan Hiroshima seolah akan terulang kembali. Era-era peperangan tersebut telah berakhir lama.
Penduduk saat ini pun hanya mendengar kisah-kisah semacam itu di kelas sejarah. Tidak terperihkan kepedihan kala itu. Anak-anak terlantar. Mayat-mayat pun dikuburkan secara masal bagai tumpukan sampah.
Kini, petugas-petugas medis mungkin mau tidak mau harus melakukan hal serupa. Ambulans hilir mudik, memindahkan korban pembantaian, hingga bangsal jenazah tidak lagi mampu menampung raga yang tersisa.
Embusan angin malam membuat mereka merinding, terbayang betapa mengerikannya andaikan peristiwa berdarah ini terus berlanjut. Cumulonimbus-cumulonimbus berarak, menghalangi bintang gemintang dan rembulan dari pandangan manusia, menambah kekelaman malam.
Rintik-rintik kecil mulai menetes ke bumi, tertangsang ke kelopak sakura, mengetuk ringan atap, menciptakan riak-riak di sungai. Kabar hujan sedikit membawa suhu panas, selaras dengan konflik yang belum mereda.
Para petugas medis pun enggan melangkah lebih jauh. Mereka berdiri sekitar tiga meter dari pintu masuk kuil, saling berkasak-kusuk dengan suara yang sangat pelan. Agaknya, mereka harus menunda evakuasi sejenak dikarenakan kondisi gang belum aman.
Letupan-letupan senpi menggelegar. Bebunyian benda keras saling beradu pun mewarnai senandung malam. Cukup lama para polisi itu saling beradu jurus. Mereka sana-sama prajurit terlatih. Pastilah sulit untu saling menumbangkan.
Serangan yang sana pun menyulitkan mereka mengenali rekan sendiri pada mulanya. Namun, setelah beberapa saat berlalu, mulai terlihat bahwa keluarga Shiragami lebih unggul.
"Kalian semua yang tergabung dalam Onyoudan, berhenti!" Naito menyandera atasannya sendiri.
Orang-orang dari keluarga Shiragami telah menyelidiki Onyoudan sampai ke akar. Meskipun organisasi tersebut legal, terang-terangan menunjukkan eksistensinya pada publik, serta sering memberikan citra baik. Namun, terlalu banyak kejahatan yang mereka gelapkan.
Aparatur keamanan akan tutup mata terhadap tindak pidana maupun perdata yang menjerat anggotanya. Slogan 'Onyoudan pelindung sipil' hanyalah kamuflase. Gerakan sosial yang mereka lakukan sekadar pencitraan belaka.
Faktanya, kebenaran dijual dengan harga yang sangat mahal. Kebenaran hanya milik mereka yang mampu membayarnya. Hukum seolah hiasan semata yang tiada bermakna, kecuali hanya sebagai pemerindah unsur-unsur negara.
Mereka yang tergabung dalam keluarga Shiragami tahu fakta tersebut sejak lama.
Namun, mereka lebih memilih bungkam, diam sesuai perintah Raiden. Meskipun begitu, mereka siap beraksi kapan pun.
__ADS_1
Maka, ketika Raiden memberi kode hari ini, mereka yang berbaur dengan kepolisian pun tanpa ragu bergerak. Walaupun mereka belum tahu apa yang melandasi perubahan pikiran Raiden.
Sebagian dari polisi tampak bimbang. Gerakan mereka pun meragu. Mereka bingung, haruskah melanjutkan pertarungan dan mengabaikan pemimpin yang tertodong pistol di pelipisnya, ataukah berhenti melakukan perlawanan.
Keragu-raguan itu membuat mereka mudah dilumpuhkan. Dalam waktu singkat, polisi-polisi yang bertentangan dengan keluarga Shiragami telah ditaklukkan.
Raiden menjadi pengamat jalannya pertarungan. Naito dan rekan satu profesinya sama sekali tidak memberinya porsi.
Perisai retak dan pecah tergeletak di mana-mana. Polisi yang tumbang menindih jasad. Sementara yang masih berdiri diborgol dengan posisi tangan di belakang.
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Kakek Rai?" Naito menunggu perintah.
Dia pikir mustahil kembali ke markas kepolisian saat ini. Kemungkinan perseteruan baru akan terjadi bila mereka kembali sekarang. Mereka harus merencanakan strategi matang-matang untuk menghindari hal tidak diinginkan.
"Kita harus segera mengurus mayat-mayat ini. Tidak mungkin kita membiarkan mereka membusuk di sini."
"Ada petugas medis yang akan mengurus mereka. Para petugas medis itu sedang membereskan kekacauan di luar. Tapi, Kek! Bagaimana dengan orang-orang ini? Pasti akan terlihat aneh bila polisi menangkap polisi lainnya." Naito meminta pendapat.
"Diam! Kami hanya tidak pernah menjadi bagian dari parasit seperti kalian yang mengaku sebagai pembela negara," sergah Naito.
"Tidak ada gunanya kita menawan mereka. Dilepaskan pun hanya akan merugikan." Faiden menghela napas. Tentunya, dia tidak ingin menanggung biaya hidup para tawanan.
"Haruskah kita menghabisi mereka sekarang?" tanya Naito.
"Itu bukan pilihan bijak untuk saat ini." Gelengan kepala Raiden berikan. Dia tidak menyangka masalah akan berkembang serumit ini, sampai pihak kepolisian pun turut terlibat. Sementara, dia saja belum mendengar pokok permasalahan dari mulut kedua cucunya.
"Adakah tempat sementara untuk menyembunyikan mereka? Luka Kakek harus segera diobati. Petugas medis mungkin juga akan segera ke mari."
"Gudang ...."
__ADS_1
Tidak menunggu lama, mereka menuju tempat yang dimaksud, mengeluarkan semua barang yang bisa dijadikan senjata, lalu melucuti orang-orang itu. Mereka merobek lengan-lengan panjang seragam para tawanan untuk dijadikan pengganti lakban sebagai pembungkam mulut. Sabuk pun dilepas untuk mengikat kaki.
Setelah itu, mereka memanggil paramedis agar segera mengangkat para jenazah dari area kuil. Mereka membantu jalannya evakuasi. Sedangkan Raiden pulang setelah mendapatkan perawatan atas luka ringannya.
Rumah yang dia huni sendirian tampak sepi seperti biasanya. Raiden memasukinya dengan perasaan berat. Dia memikirkan masa depan kedua cucunya. Peristiwa hari ini membuatnya pusing.
"Sudah kubilang, jangan berurusan dengan mereka! Sekarang, lihatlah apa yang terjadi setelah kau mengabaikan nasihatku, Dasar Anak Pembangkang!"
Raiden terbayang pembelotan demi pembelotan yang dilakukan Eiji. Dia sudah cukup bersabar selama ini, meski dia cukup sering geregetan dengan sikap keras Eiji. Kendati demikian, dia tetap menyayangi Eiji.
Lelaki tua itu lekas mandi dan berganti pakaian. Pikirannya tidak tenang. Kasus hari ini bukanlah kasus kecil. Lusinan mayat memenuhi kuil, tentu itu bisa dibilang pertanda buruk.
Raiden duduk termenung di pinggiran dipan, mengkhawatirkan keselamatan Eiji dan Anki. Entah mendapat wangsit dari mana, dia bergegas mengambil ponsel. Didialnya nomor seorang kenalan.
""Fukai, boleh aku minta tolong padamu?" Ucapan Raiden itu terdengar sangat serius.
Fukai menghentikan tangannya yang menggerakkan tetikus, menunda pemeriksaannya pada hasil ronsen Sanubari. Jam kerjanya telah berakhir satu jam yang lalu.
Namun, dia ingin memastikan sekali lagi kondisi organ dalam remaja titipan Raiden itu. Sebagai dokter kepercayaan, dia ingin segera menemukan apa penyebab pemuda itu tak sadarkan diri sampai detik ini.
Akan tetapi, telepon dari Raiden mengalihkan perhatiannya sepenuhnya. Karena pembicaraan ini sepertinya penting, Fukai pun harus memusatkan konsentrasinya.
"Tentu. Apa yang bisa kulakukan untukmu, Kakek Rai?" tanyanya.
"Kudeta mungkin akan terjadi. Bawa kedua cucuku keluar dari Jepang!" Permintaan Raiden terdengar sangat lugas.
Menilik dari ucapan Raiden itu, Jepang sepertinya akan jatuh dalam kondisi yang sangat serius. Fukai mencoba menarik garis merah. Dia memejamkan mata. Mengingat peristiwa di kuil sebelumnya, besar kemungkinan agresi akan terjadi bila konflik meluas. Tidak terbayangkan betapa berbahayanya tempat ini bila itu terjadi.
"Apa Kakek brerencana memulai peperangan?"
__ADS_1
"Tidak ada cara lain."
"