
Sanubari terlihat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Akan tetapi, Aeneas tetap bisa mengenalinya. Bagaimana pun juga Sanubari adalah putra kandungnya sendiri. Minimnya pertemuan tidak akan membuatnya melupakan Sanubari semudah itu. Terlebih lagi dia seperti bercermin ke masa lalu ketika melihat Sanubari.
Aeneas tidak tahu harus senang atau sedih di saat seperti ini. Kepulangan Sanubari tentu membuatnya bahagia. Di sisi lain, ia merasa kehilangan karena sang Istri telah meninggalkan dirinya dalam keabadian.
Sama halnya dengan Sanubari. Kebahagiaannya runtuh tanpa menunggu detik berlalu. Kerinduannya kepada sang Ayah seketika berubah menjadi tatapan kebencian.
"Kenapa ... kenapa Papa melakukan ini?" geram Sanubari yang mulai dikuasai emosi. Telapak tangannya mulai terkepal. Tanpa aba-aba, Sanubari mendekat dengan sebuah tinju seraya berkata, "Aku benci Papa! Teganya menyakiti mamak!"
Sanubari tidak keberatan jika ayahnya tidak pernah mencari keberadaannya selama ini. Sanubari tidak keberatan jika Aeneas jarang berinteraksi dengannya. Akan tetapi, melukai ibunya adalah sesuatu yang tidak bisa Sanubari tolerir.
Aeneas menangkap pukulan Sanubari. Ia mencoba menjelaskan. "Ini tidak seperti yang kau lihat."
"Papa pikir aku ini buta? Tidak. Aku tidak buta. Aku bisa melihat dengan sangat jelas. Aku juga tidak sedang berhalusinasi," bentak Sanubari.
Ia telah dikuasai amarah. Ditariknya tangannya lalu berusaha meluncurkan pukulan ke area lain. Saat ini Sanubari hanya ingin memukuli ayahnya itu.
Namun, Aeneas dengan Lincah menghindar. Tak satu pun pukulan dan tendangan Sanubari berhasil mengenainya. Ia masih berusaha dengan tenang menjelaskan. "Bukan aku yang membunuhnya."
Sikap Aeneas malah semakin membuat Sanubari beranggapan bahwa Aeneas adalah penjahat berdarah dingin. Ia mempertanyakan ketulusan kasih sayang Aeneas selama ini terhadap dirinya dan sang Ibu.
Awalnya Aeneas hanya bertahan dari serangan Sanubari. Namun, gerakan Sanubari semakin intens. Aeneas terpaksa menendang Sanubari. Tendangannya mengenai perut Sanubari. Sanubari terdorong mundur hingga menabrak almari dan terjatuh.
Tendangan tersebut cukup membuat perut Sanubari ngilu. Rupanya ia belum cukup kuat untuk melawan ayahnya. Melihat ekspresi ayahnya yang seolah tanpa perasaan membuat Sanubari ketakutan.
Aeneas mendekati Sanubari tanpa kata. Akan tetapi, Sanubari mendadak kabur dari kamar sebelum Aeneas berhasil mendekat. Sanubari berlari dengan perasaan kacau. Tanpa sengaja ia menabrak Matilda.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa sepertinya buru-buru sekali?" tanya Matilda.
"Zia Ilda, lapor polisi! Mamak ... tolong mamak, Zia!" ungkap Sanubari dengan gelisah. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi aman.
Sanubari semakin panik ketika melihat Aeneas berlari menuruni tangga. Buru-buru ia berkata, "Zia, di sini bahaya! Harus pergi dari sini."
Setelah mengucapkan itu, Sanubari refleks menggandeng tangan Matilda dan mengajaknya berlari keluar.
"SANu, ada apa ini? Langkah Matilda terpaksa mengikuti Sanubari tetapi ia segera menghentikannya.
"Zia, ayo cepat pergi!"
"Aku akan tetap di sini, Sanu. Lepaskan!"
"Zia ...." SANubari berdecak. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi tetapi Aeneas sudah menyusul. Bergegas Sanubari meninggalkan rumah megah itu.
Sementara itu, Sanubari terus berlari tanpa arah. Cairan hangat mulai menggenangi pelupuk matanya. Tidak disangka kepulangannya akan disambut dengan tragedi menyayat hati.
Ia kecewa dengan ayahnya. Hatinya tersiksa disayat pengkhianatan. Saat ini ia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah yang dianggapnya penuh kepalsuan itu.
Salju satu Januari mulai menuruni daratan Verona. Suhu di sekitar danau Garda pun semakin rendah. Napas yang tersengal menampakkan wujudnya bak asap rokok yang dihembuskan melalui mulut. Di tengah hawa dingin itu, Sanubari masih bisa berkeringat.
Lelah berlari, Sanubari pun berhenti, diusapnya Air mata yang mengalir. Dalam lengangnya malam, ia berdiri sendirian di trotoar, ia menengadahkan kepala. Salju turun semakin deras, butir-butir lembutnya berjatuhan di wajah Sanubari. Adapun yang bersarang di rambut hitamnya yang sedikit panjang.
"Mungkinkah langit mencoba mendinginkan hatiku yang memanas?"
__ADS_1
Sanubari tersenyum miring. Satu, dua mobil yang melintas membuatnya gelisah. Lekas dipakainya headphone dan tudung jaket. Sanubari kembali menjejakkan kaki. Tidak ada yang bisa ia dengar dalam kesunyian malam kecuali isi kepalanya sendiri. Sanubari telah memblokir telinganya dari gangguan di luar.
Dirinya lima tahun yang lalu mungkin akan gemetar tanpa bisa bergerak andaikan dalam posisi saat ini. Namun, Sanubari pernah mengalami kegelapan sejati yang lebih mengerikan. Sendirian dalam kesenyapan malam saat ini tidak menjadi masalah baginya.
Yang menjadi masalah adalah ia tidak tahu harus bermalam dimana. Tidak mungkin tidur di luar. Angin semakin kencang menerpa tubuhnya seolah badai salju akan segera datang. Hawa dingin menembus jaketnya. Ia bisa mati mengalami pembekuan darah jika tidur di tempat terbuka.
Sedangkan ia sama sekali tidak punya uang untuk menyewa penginapan. Di tas ranselnya hanya ada bingkisan dari Zunta, pakaian dan sebuah ponsel pintar. Tidak mungkin ia menjual ponselnya. Sebab, hanya ponsel itu yang bisa menghubungkannya dengan Zunta dan kakek Canda. Mengingat hal tersebut, Sanubari mendadak berhenti lagi.
"Apa sebaiknya aku ikut kakek Canda kembali ke Chile saja, ya?"
Pikiran itu melintas dalam benaknya begitu saja. Hanya mereka satu-satunya keluarga baik hati yang bisa diingat Sanubari. Lantas, Sanubari melepas tas dan mencari keberadaan ponselnya. Sayang, ia tidak bisa menghubungi Canda yang mungkin saja sudah dalam perjalanan menuju bandara. Sanubari lupa bahwa tidak ada kartu SIM pada ponselnya. Ia juga tidak memiliki koneksi internet.
———©———
Catatan Penulis :
Bab 'Selamat Tinggal' alias bab sebelum ini sudah dirubah isinya sesuai dengan yang semestinya, ya! Teman-teman yang kemarin sudah buka, silakan ditengok lagi episodenya!
Maaf baru bisa memperbaikinya. Ruter WiFi rumah baru saja tersambar petir. Hari berikutnya sudah diperbaiki tapi cuma bisa sebentar. Setelah itu tidak ada internet sama sekali meski sinyalnya full. Sepertinya takdir sedang menyuruh saya istirahat dari pernovelan dengan mematikan internet. Hahaha.
Hari ini baru bisa on line lagi. Jadi, baru bisa memperbaiki episode hari ini. Selamat membaca dua episode terbaru, Teman-teman!
Jangan lupa selalu dukung penulis dengan cara like dan komentar, ya! Vote dan beri hadiah seikhlasnya juga bila berkenan serta ada jatah.
Terimakasih atas dukungannya, Semua! Selalu baca episode terbaru, ya!
__ADS_1
Bersambung ....