
Stasiun Umeda.
Berpasang-pasang kaki berderap cepat seolah terburu keluar dari markas naga besi. Berpencar, tapak-tapak itu mencari tujuan masing-masing. Dua pasang sepatu menuruni anak tangga, tertelan mulut terowongan bawah tanah.
Grafiti terbentang sepanjang lorong. Walau remang tanpa sorot matahari, tetapi cukup jelas bagi Sanubari untuk menikmatinya. "Ini sangat artistik!" celetuknya kagum.
Kepala tertoleh ke kanan dan kiri, mengamati guratan tinta warna-warni yang terpadu apik nan harmonis. Hatinya tak henti-henti melontarkan pujian, sampai kepalanya terarah ke depan.
Seorang bocah kecil berjaket Pikachu berjalan memungguinya. Tingginya tak melebihi pinggang orang dewasa yang mengapitnya. Sementara tangan mungilnya bergandengan erat dengan seorang wanita di kanan, dan pria di kiri.
Acap kali bocah itu menggantung, memperlakukan dua tangan yang menggenggamnya layaknya ayunan. Hardikan sang wanita tak dihiraunya. Celotehannya terdengar begitu riang.
Sanubari mendadak bungkam menyaksikan pemandangan tersebut. Dia tersenyum dalam kecemburuan dan keirian. Pemandangan yang membuat Sanubari merindukan sosok yang mustahil direngkuhnya.
__ADS_1
"Aku ingin keluarga seperti itu. Mungkin, sekarang mustahil bagiku. Tapi, suatu saat aku juga akan memiliki keluarga kecil. Akan kubuat keluarga masa depan yang lebih indah dari itu. Tidak akan kubiarkan apa yang terjadi padaku terulang pada keluarga masa depanku." Hati Sanubari mendadak melankolis.
Dadanya tiba-tiba terasa aneh, hingga matanya menghangat. Sebutir anak air sukses meluncur dari pelupuk kanannya, berkilau ditimpa bias mentari pagi.
"Haaa, perasaan apa ini? Menyebalkan."
Sanubari menghela napas. Hidungnya turut terasa basah. Keluhan itu mengundang Sai untuk menoleh padanya.
Sai tidak tahu suhu tubuh Sanubari. Namun, dia sering melihat Eiji mendadak menangis tanpa alasan ketika sedang demam. Eiji tidak pernah mengambil libur sekali pun sedang kurang sehat. Meskipun karenanya sikap Eiji menjadi sedikit aneh. Hal itu pula yang membuat Sai berpikir bahwa Sanubari terkena demam setelah melihat perubahan sikapnya. Ciri-cirinya sama persis seperti Eiji saat terjangkit demam.
"Aku baik-baik saja." Kata-kata Sanubari makin tidak teratur makin ke belakang. Dia sesenggukan tanpa bisa dikontrol.
"Seharusnya kau izin saja kalau sedang demam." Sai prihatin pada Sanubari. Dia yang biasanya lebih banyak diam, berusaha berbicara untuk mencurahkan perhatian.
__ADS_1
"Aku tidak demam," elak Sanubari tertunduk malu. Dia mengusap pipi yang terasa basah.
"Tapi kau menangis. Apa kalau tidak demam?"
"Ugh," untuk ini pun Sanubari juga tidak memiliki jawaban, dia hanya bisa merespons, "aku juga tidak tahu.
"Eiji sempai itu baik hati dan sangat penyayang. Seharusnya kau jujur padanya. Dia tidak akan memaksa anggotanya yang kurang sehat untuk kerja rodi. Bahkan, dia akan melindungi anggotanya yang melakukan kesalahan kecil. Kecuali bila itu kesalahan berat yang tidak bisa ditolerir. Onyoudan itu kejam. Kesalahan sekecil butiran debu pun bisa mendatangkan hukuman besar. Namun, kau akan tetap aman di bawah bimbingan Eiji sempai."
Tak disangka, Sanubari akan mendengar itu dari Sai. Padahal, dirinya benar-benar sehat. Kalaupun sekarang dia memang ingin istirahat, tetapi itu karena kejadian kejar-kejafan hari sebelumnya.
"Kak Eiji baik? Setengah hati Sanubari mempertanyakan ini.
Dua kali dia dipaksa memenuhi target waktu yang tidak manusiawi. Sementara tadi pagi, dia baru diancam akan dijatuhi denda satu miliar yen. Sanubari tidak tahu apakah definisi 'baik' menurutnya dan Sai itu memiliki makna yang berbeda.
__ADS_1