
Sanubari panik. Dia melihat jam digital pada ponsel. Waktu masih menunjukkan pukul dua lebih enam dini hari. Pintu depan pasti masih dikunci.
"Beranda," remaja itu menoleh pada pintu kaca, sejenak memandangnya, "ya, aku bisa lewat sana."
Sanubari mengangguk mantap. Dia menyambar tas, lalu membuka pintu geser. Tak lupa ditutupnya kembali pintu geser tersebut. Tanpa pikir panjang, Sanubari melompat dari lantai dua. Dia berlari dengan kaki telanjang.
Sebuah mobil hitam terparkir di depan stasiun. Pintu kursi tengah tampak terbuka dari kejauhan. Sanubari memelankan laju dengan napas tersengal-sengal.
"Kau Sanubari?" tanya pria dari kursi kemudi.
Sanubari memperhatikan lelaki itu. Dia tidak tahu harus senang atau terkejut, pria yang memanggilnya adalah Shiragami Eiji. Sanubari pun mengangguk menanggapi lelaki itu.
"Masuklah!" Eiji menggerakkan kepala, mengisyaratkan supaya Sanubari mengikuti perintahnya.
Sanubari pun masuk. Mobil langsung tancap gas begitu pintu ditutup. Eiji memacu kendaraan tersebut di atas kecepatan rata-rata. Sanubari sampai berbenturan dengan pria di sebelahnya ketika melewati tikungan.
"Maaf!" ucap Sanubari tergagap.
Pria di sebelahnya hanya tersenyum. Sanubari berpegangan pada pintu Supaya tidak terantuk dengan orang di sebelahnya lagi. Jantung Sanubari berdetak sangat cepat.
Dia was-was, takut kalau-kalau terjadi tabrakan. Dalam kecepatan yang sangat tinggi, pastilah kendaraan akan ringsek tak berbentuk jika menabrak sesuatu.
Mendadak pandangan Sanubari menggelap, dada sesak seketika. Dia seperti seorang pengidap asma yang penyakitnya kambuh. Sekonyong-konyong Sanubari menjerit dengan genggaman kian mengerat, "Tidak!"
Sangat keras, sampai dua pria menoleh padanya. Eiji pun turut mengintip dari spion dalam. Sanubari memucat, tubuhnya pun menggigil. Trauma itu kembali menyerang sang remaja.
"Kau kenapa, Bocah?" tanya Eiji yang fokus menyetir seperti seorang pembalap. Dia layaknya penguasa jalanan di malam yang gelap.
Sanubari terengah-engah. Pandangannya masih berkunang-kunang. Namun, dia mencoba menenangkan diri.
"Aku hanya ... hanya mendadak tertidur dan mimpi buruk saja," kilah Sanubari tertawa canggung.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar, Sanubari meraih headphone yang sengaja dibawa kemana pun. Dia memasang benda itu ke telinga, lalu memejamkan mata.
"Payah!" cibir Sanubari pada dirinya sendiri dalam hati.
Rasa itu selalu membuatnya tak nyaman tiap kali kembali. Sanubari sendiri tidak bisa mengendalikan kemunculannya. Remaja itu memegangi perut sebelah kiri, ada rasa nyeri di sana walau tak ada luka.
Hanya tragedi masa lalu yang menyeruak, tetapi luka itu terasa abadi. Seolah tak diizinkan untuk melupakan kejadian waktu itu, sakit yang kini hanyalah ilusi terasa nyata baginya.
Headphone Sanubari meredam segalanya. Dia berulang kali mengatur napas hingga bisa normal. Mata tetap terpejam sampai dia tak sadar mobil telah berhenti.
Tahu-tahu hedphon dilepas darinya dan seseorang berkata, "bangun!"
Sanubari membuka mata. Kursi kemudi telah dibalik ke arahnya. Kursi yang didudukinya pun bergeser dari posisi semula—menciptakan ruang yang lebih luas di bagian tengah mobil.
Agaknya Sanubari sempat benar-benar tertidur, sampai dirinya tidak sadar pergerakan kursi. Sanubari membuka mata, tetapi dia masih terbengong.
Sampai Eiji mengetuk kepala Sanubari dengan headphone. "Jangan malah melamun!"
Barulah kesadaran Sanubari terkumpul sepenuhnya. Remaja itu mengusap-usap bekas ketukan sambil meminta maaf.
Sanubari menangkap headphone tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Entah sejak kapan Eiji sudah menyalakan laptop. Sampai detik ini Sanubari pun belum tahu misi seperti apa yang akan diberikan padanya.
"Misi kali ini cukup besar. Kita harus menyelamatkan ketua Kouhei dan mencuri senjata selundupan yang baru saja diturunkan dari kapal kargo. Pertama-tama, kita harus memadamkan seluruh penerangan yang ada. Sekarang, lakukanlah, Anak Baru!" Eiji membalik laptop ke arah Sanubari.
Sanubari celingukan. Dia memandangi satu per satu dari tiga orang lain yang ada dalam mobil.
"Apa yang kau cari? Hanya kau anak baru di sini, Sanu," ucap Eiji menatap tajam.
"Oh. Jadi, apa yang harus kulakukan?" Sanubari cengengesan.
"Matikan seluruh lampu di area dermaga!" ulang Eiji penuh penegasan.
__ADS_1
"Tapi aku tidak tahu dimana saja saklarnya," jawab Sanubari polos.
"Gunakan kemampuan peretasanmu untuk menyaadap sumber penerangan!" tegas Eiji tak tahan untuk tidak memutar bola mata. Dia tidak habis pikir, bocah selamban Sanubari bisa menyelesaikan soal buatannya dengan sempurna. Padahal peretas papan atas saja belum tentu bisa mengurai kode-kode rumit ciptaannya, kecuali satu orang—Frosty Sky.
Eiji menjadi penasaran dengan Sanubari setelah melihat nilai ujiannya. Seumur hidup, dia tidak pernah menemukan seseorang dengan kemampuan peretasan setinggi Sanubari. Sejauh ini, peretas yang dia akui kemampuannya adalah Kimbap dan Frosty Sky.
Dia pernah berhadapan dengan Kimbab, dan Eiji memasukkan kode yang tidak bisa dipecahkan Kimbab pada soal Sanubari. Mustahil Sanubari bisa memecahkannya jika dia hanya seorang anak yang iseng ingin bergabung. Beberapa anggota dalam divisinya saja hanya lulus dengan total nilai kurang dari dua puluh persen.
Sengaja Eiji menerapkan standar tinggi untuk ujian divisinya. Untuk pertama kalinya, rekor terbaik dipecahkan oleh seorang remaja yang usianya baru jalan tujuh belas tahun tanpa riwayat pendidikan pasti. Pikiran Eiji mulai mencurigai Sanubari sebagai Frosty Sky. Dari caranya memecahkan kode, mereka memiliki kemiripan.
Namun, sikap Sanubari hari ini membuat Eiji meragukan dugaannya. Hati Eiji pun bertanya-tanya, "Apa anak ini berpura-pura bodoh?"
Sementara itu, Sanubari yang duduk di hadapan Eiji mulai ketar-ketir. Dia menyengir gelisah sembari melihat ke monitor. Dia melebarkan mata, otot-otot mulutnya terasa kaku.
"Mati aku!" batin Sanubari sama sekali tidak paham dengan apa yang ada di hadapannya.
Kendati demikian, Sanubari memilih untuk jujur. "Maaf, aku tidak bisa meretas."
"Hah, lalu bagaimana kau bisa menyelesaikan soal-soal buatanku di ujian masuk Onyoudan?" selidik Eiji.
"Hanya sedikit keberuntungan." Lagi-lagi Sanubari tertawa kecil guna menutupi kegugupan. Pandangan tertunduk, takut kebohongannya terendus.
Rasanya sulit dipercaya sebuah keberuntungan bisa membawa seseorang mendapatkan nilai sempurna. Waktu terus bergulir, Eiji tidak ingin memikirkan itu sekarang. Dia meraih koper hitam dan menyerahkannya pada Sanubari.
"Pakai ini!"
"Apa ini?"
"Pakai saja! Semua tanpa terkecuali!"
Perintah itu tidak bisa dibantah. Sanubari membuka koper yang menyerupai koper uang. Ada satu setel baju, kacamata, earphone, dan belati di sana.
__ADS_1
Sanubari menanggalkan pakaiannya dan berganti dengan baju serba hitam panjang. Dia juga memakai masker dan sarung tangan. Sepatu juga disediakan. Kebetulan dia tidak memakai alas kaki sebelumnya. Ukurannya sangat pas.
"Kacamata itu yang akan memandu menemukan lokasi penyekapan. Jangan pernah melepas kacamata dan earphone-mu karena hanya dengan itu kita bisa berkomunikasi. Kuharap kau bisa memanfaatkan senjata yang dibekalkan padamu dengan baik," ujar Eiji yang ditanggapi dengan anggukan oleh Sanubari.