Santri Famiglia

Santri Famiglia
Meditasi Nyamuk


__ADS_3

Pulang dari klinik, hidangan telah siap. Satu ayam utuh, kentang tumbuk, jus tomat, semua Sanubari lahap dengan antusias. Sanubari menyayangkan tidak adanya nasi. Namun, dirinya harus puas dengan apa yang diperolehnya. Dia tidak dalam kondisi bisa meminta ini itu seenak perut. Utangnya saja belum mampu dicicil sedolar pun.


Dia mengkrikiti tulang-tulang hingga daging tak bersisa barang sebesar helaian benang. Tulang muda dan tulang-tulang lain yang empuk pun dikeremusnya. Sumsum disesapnya sampai rasa bumbu lenyap.


Usai menandaskan semua, Sanubari kembali diajak ke ruang bawah tanah. Saat menuruni anak tangga, Sanubari bertanya, "Kok kembali ke sini? Bagaimana dengan pekerjaanku hari ini?"


Biasanya, latihan hanya dilakukan setelah pekerjaan harian selesai. Jadwal Sanubari selalu sama meski pekerjaannya bisa berubah-ubah. Terkadang memanen, menanam, memupuk, atau melakukan pekerjaan perladangan lain. Terkadang hanya menjadi kuli. Terkadang pula pergi ke peternakan untuk mengurus ternak atau memerah susu. Memerah susu kambing, susu sapi, memanen madu, memungut telur, semua pernah Sanubari lakukan, dan sehari pun belum pernah libur.


Sebagian pekerjaannya biasanya selesai pada tengah hari. Meskipun begitu, ada pula yang selesai sampai sore hari.


"Tidak ada pekerjaan hari ini."


"Tidak bisa begitu dong, Kek!" protes Sanubari, "jika tidak bekerja, bagaimana aku bisa makan, membayar sewa, tagihan listrik."


Dia terus berjalan mengikuti Fang. Anehnya, Fang tidak berhenti di tempat biasanya. Keduanya terus berjalan lebih dalam.


"Aku akan berbaik hati menanggung biaya makanmu selama kau tidak punya uang. Sedangkan untuk yang lain-lain, akumulasikan saja dengan utangmu!"


"Jangan seenaknya mengatur utang orang! Siapa juga yang mau menimbun utang? Pokoknya, Kakek harus memberikan pekerjaan padaku sekarang juga!"


Fang berbalik badan. "Sanu, coba pikirkan ini! Gajimu sangat kecil. Untuk biaya hidup saja hampir-hampir tidak cukup andai Kakek yang murah hati ini tidak bersedia berbagi makanan gratis, kan? Jangankan menyisihkan, seumur hidup pun utangmu belum tentu terlunasi. Tapi, bayangkan bila kau berhasil menuntaskan tantanganku dalam dua bulan! Selama itu pula utangmu akan lunas. Kurasa kau cukup cerdas untuk menyimpulkan mana alternatif yang lebih cepat untuk terbebas dari utang. Ah, tapi, aku tidak akan membantumu melunasi utang pada Alfred dan membelikan tiket pulang. Jadi, aku akan tetap menyediakan pekerjaan selagi ada."


Fang menuntaskan umpannya. Dia tersenyum melihat Sanubari yang cemberut.


Sanubari mengakui kebenaran perkataan Fang. Satu bulanan saja dia baru bisa mengumpulkan sekitar 100 dolar, lalu uang itu lenyap dalam sehari hanya untuk membeli buku kultivar singkong. Akan butuh sekitar satu tahun hanya untuk membayar Alfred dengan kecepatan mengumpulkan uangnya saat ini. Akhirnya, Sanubari memberikan anggukan setuju. Tidak masalah pekerjaannya dikurangi. Yang penting, tantangan ini bisa selesai secepat mungkin.


Mereka melanjutkan perjalanan. Fang membuka sebuah pintu. Mereka memasuki ruangan tiga kali tiga meter.


"Ini kamar mandi." Fang membuka satu pintu lagi.


"Untuk apa Kakek menunjukkan kamar mandi tersembunyi?"

__ADS_1


Sanubari sungguh tidak mengerti. Ruangan itu kosong. Hanya tergelar karpet kecil di salah satu ujung ruangan.


"Di sini, kau akan berlatih kesabaran dan konsentrasi. Duduklah bersila di sana! Kau tidak boleh bergerak apa pun yang terjadi setelah aku keluar nanti, kecuali kebelet ke kamar mandi. Pakai ini!" Fang menekan dinding. Dinding tiba-tiba mencuat.


Sanubari tidak akan sadar bahwa di sana ada laci bila Fang tidak melakukan itu. Rak-rak tertanam, menyatu sempurna pada dinding.


Sebelum Sanubari sempat bertanya, Fang lekas berkata, "Kau akan mengerti kegunaannya setelah ini!"


Meski bingung, Sanubari memakai pelindung mata yang diberikan Fang. Pelindung mata itu dilengkapi tonjolan yang menutupi hidung. Dia juga memakai pelindung telinga yang seperti headphone. Begitu Sanubari siap di posisi, Fang keluar.


Pintu dikunci. Sanubari terkesiap ketika dinding tiba-tiba bergeser. Dengingan seketika memenuhi ruangan. Jutaan nyamuk menyerbu.


"Kenapa bisa mendadak banyak nyamuk begini?"


Pertanyaan itu hanya tersuarakan dalam pikiran Sanubari. Bila Sanubari membuka mulut, tidak diragukan lagi lusinan nyamuk bisa tersasar ke rongga mulutnya. Sanubari tidak ingin makan nyamuk.


Mereka seolah terbang rapat sampai hanya barikade dinding hitam yang bisa Sanubari lihat. Para penghisap darah itu mengerubungi Sanubari. Beberapa hinggap di rambut, kacamata, wajah, tangan.


Satu nyamuk pergi, yang lain mengambil alih kulit terbuka tak bernyamuk. Mereka seolah sedang berlomba menentukan siapa yang lebih kuat, yang bisa menjebol pertahanan Sanubari.


Tindakan mereka hanya menimbulkan sensasi geli. Dengingannya juga sangat mengganggu. Penutup telinga tidak cukup untuk meredam kebisingan. Sanubari risih. Namun, dia bersyukur peralatan yang dipakainya mencegah nyamuk masuk ke lubang telinga dan hidung.


Protes sudah pasti Sanubari lontarkan setelah dikeluarkan dari sarang nyamuk. Tantangan ini konyol. Beruntung, dia tidak keluar dengan bentol-bentol.


"Hidup ini tidak bisa ditebak. Kita tidak tahu kapan harus tinggal di alam liar. Setiap tantangan yang kuberikan pasti bermanfaat untukmu."


Jawaban Fang itu sama sekali tidak memuaskan. Tidak sekali pun Sanubari berniat tidur di alam terbuka. Andaipun tinggal di tengah hutan, Sanubari akan membangun rumah bebas nyamuk.


Mengingat semua tantangan memang tidak ada yang normal, Sanubari berusaha menerima dengan lapang dada setelah sekian pembujukan. Kepalang tanggung bila dia berhenti. Lagi pun, bertahan dari gelitikan nyamuk dan kebisingannya jau lebih mudah daripada memukul bola dan menahan rasa sakit ketika minum racun setiap hari.


Meditasi nyamuk terus dilakukan sampai satu pekan. Kemudian, binatang diganti lebah. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menyengat Sanubari. Selanjutnya, lintah dan tetap tak satu pun yang bisa menghisap darah Sanubari.

__ADS_1


Hingga pekan berikutnya, seekor piton raksasa dimasukkan ke ruangan. Ular tersebut sengaja dibuat kelaparan berat. Tak pelak, kepala Sanubari menjadi sasaran empuk. Si ular melilit badan Sanubari, lalu mencaplok kepalanya.


Fang kalang kabut. Dia sekonyong-konyong menyeruak masuk ke ruangan, lalu menembakkan jarum beracun.


Kepala Sanubari benar-benar tertelan. Taring-taring berbisa menghimpit lehernya. Rona Fang memutih melihat pemandangan mengerikan itu.


Setelah menunggu satu menit, dia berlari ke Sanubari yang duduk. Dengan sangat hati-hati, dia membuka mulut ular dan menarik dari kepala Sanubari.


"Fuwah! Akhirnya, bisa napas lagi. Terima kasih, ular baik hati!" Sanubari tertawa, "kalau seharian penuh harus main tahan napas, bisa-bisa paru-paruku mengempis."


Fang mengembuskan napas lega melihat Sanubari masih hidup. Namum, celotehan Sanubari membuat Fang tidak habis pikir. Dia pun langsung menghardik.


"Dasar bodoh!"


Sanubari mendongak. Dia melihat Fang yang sedang berusaha menarik kepala ular. Mulut ular masih melingkari kening Sanubari, membuatnya terlihat seperti memakai topi ular.


"Oh, hei, Kek! Tantangan hari ini selesai, ya? Tumben cepat? Ini belum 30 menit, kan? Biasanya juga sampai berjam-jam." Sanubari mengatakannya dengan enteng.


Kekhawatiran Fang seolah tiada artinya. Yang dikhawatirkan cengengesan meski nyaris termakan ular hidup-hidup dan dalam keadaan sadar. Fang lanjut memarahinya. "Kenapa kau biarkan ular memakanmu, hah?"


Bukannya Sanubari tidak takut. Dia sangat takut malah. Apalagi saat si ular mendesis sambil menjulur-julurkan lidah. Sanubari mencoba mengalihkan ketakutan dengan memejamkan mata.


Ketika si ular meremat badan Sanubari, adrenalin Sanubari semakin terpacu. Siapa duga, lilitan tidak sekuat yang ditakutkan Sanubari. Jadi, Sanubari berusaha lebih rileks lagi. Ketika mulut ular menutupi seluruh wajahnya, Sanubari tetap berusaha tenang. Yang perlu dia lakukan hanyalah menahan napas selama mungkin. Demi memenangkan tantangan, Sanubari akan melakukannya.


"Kakek sendiri yang menyuruhku untuk tidak bergerak apa pun yang terjadi, kan?"


"Tapi, kalau dalam bahaya, kau tetap harus melawan!"


"Itu akan membuatku gagal dan tantangan ini terus berlanjut."


"Tidak semua perkataan orang bisa kau percaya. Tidak semua rencana bisa kau ikuti sampai akhir. Terkadang, kau harus melakukan pelanggaran atau improvisasi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Gunakanlah otakmu untuk berpikir! Jangan mau bila disuruh menyerahkan diri pada bahaya begitu saja!"

__ADS_1


__ADS_2