
Sai menekuri benda pipih di mejanya. Dia sedang mempelajari mekanisme silet khusus milik Sanubari. Tangan kanannya menvcorat-coret kertas, mencatat dan menggambar setiap detail yang ditemukannya.
Beberapa hari, dia melakukannya. Namun, belum semua detail bisa Sai dapatkan.
Di kursi lain, Eiji, Renji, dan Abrizar membaca koran digital. Renji dan Eiji sedang mencari tahu tentang kendaraan yang saat ini ada di pasaran. Khususnya Indonesia.
Sementara Abrizar sedang menganalisa berita tentang Muktar. Headset dipasang di telinganya supaya yang lain tidak terganggu dengan suara pembaca layar.
Abrizar mengetik nama para majelis hakim yang bertugas dalam sidang. Para polisi yang terlibat juga dicatatnya. Dia menelusuri jejak digital mereka.
Sanubari enggan melibatkan diri dengan urusan rumit seperti itu. Jadi, dia menyibukkan diri di dapur, menyiapkan sarapan. Menurutnya, berkutat dengan makanan lebih baik daripada melihat rangkaian pengkodean memusingkan.
Sanubari menjerang teh. Robot asisten rumah tangga mengantar gelas demi gelas pada semua orang setelah Sanubari selesai menuangkan.
"Kak Penculik Baik Hati ternyata tidak berubah. Dari dulu, masih saja suka memberi makanan lezat pada siapa pun."
Sanubari tersenyum, teringat ketika dahulu dirinya disekap oleh Jin. Itu adalah saat-saat pertama Sanubari merasakan makanan mewah. Sebagai tawanan, gizi Sanubari sangat diperhatikan. Sampai detik ini, Sanubari masih menganggap penculikan itu sebatas permainan seperti yang diakui Jin di hadapan Aeneas. Kepercayaan Sanubari terhadap Jin telah terpupuk sedemikian dalam.
"Aku harus bisa mengumpulkan banyak uang supaya bisa selalu berbagi seperti Kak Penculik Baik Hati."
Masih tersisa tiga ekor bebek dari hari sebelumnya. Sementara tiga ekor lainnya dibawa ke tempat para gadis. Sanubari dengan telaten memisahkan daging dari tulang.
Dia membuat sebagian sebagai martabak, sebagian lagi ditumis. Renji menghampirinya.
"Harum sekali. Apa sudah ada yang masak? Kau membuatku lapar," ujar Renji.
"Itu martabak di piring, potong-potong saja, lalu bawa! Bisa jadi camilan."
Sanubari menuang adonan kulit martabak ke teflon. Sementara martabak lain yang sudah terisi dan dilipat dalam penggorengan.
"Kau ini lebih cocok menjadi koki daripada Mafioso, Sanu!"
Renji membawa martabak yang telah dipotong-potong. Dia berjalan sambil memakan satu potong.
"Apa salahnya menjadi mafia yang bisa masak?" balas Sanubari sambil menceburkan martabak baru ke minyak panas.
"Serius, ini enak! Kau seperti koki profesional. Tapi dalam dunia mafia, kau hanya bayi amatiran yang tidak tahu apa-apa," sahut Renji. Diletakkannya piring ke meja.
Sai ikut mencicipi. Dia juga mengambilkan untuk Abrizar. Eiji pun turut mengambil sepotong. Dalam waktu singkat, piring langsung bersih. Renji kembali ke dapur, mengambil piring baru berisi martabak panas.
Tidak lama kemudian, semua masakan selesai. Mereka pindah meleseh di bawah, sarapan bersama.
Aroma sedap menuhi rumah ketika Muktar mulai membuka mata. Dia dalam kebingungan. Lama, dia hanya menatap langit-langit. Seingatnya, dia baru saja menjalani hukuman mati. Akan tetapi, tempatnya sekarang tidak seperti alam kubur.
Dia tidak mendengar pertanyaan malaikat seperti yang dipelajarinya. Lampu yang menempel pada plafon tampak sangat duniawi.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan setelah ini?"
__ADS_1
"Kau mengajak kami membentuk organisasi, tapi tidak tahu apa yang ingin kau capai??"
"Maksudku, aku tahu. Aku ingin menciptakan dunia yang damai. Tujuan pertamaku menjadikan kuburan gratis sudah terwujud. Selanjutnya, aku tidak tahu lagi."
"Desa ini mungkin sudah bisa kau kendalikan, Sanu. Tapi, bagaimana dengan kota lain?"
"Itu ...."
"Yang jelas, agenda terdekat kita adalah membersihkan nama temanmu dan menstabilkan keuangan untuk menyokong organisasi kita. Akan ada banyak hal yang harus kita lakukan setelahnya."
"Kak Abri sudah merencanakannya?"
"Ya, ada banyak hal dalam daftar agendaku."
"Kurasa, Abri lebih cocok jadi ketua kita daripada Sanu."
"Aku tidak berminat menjadi ketua."
"Kalau begitu, kurasa Abri lebih tepat berada dalam posisi konselor."
"Kenapa kau berpikir begitu, Ei?"
"Karena dia memang seperti penasihat. Walau dia bukan pengacara atau ahli hukum."
"Ngomong-ngomong soal pengacara, bukannya si Jin itu pengacara? Berarti, dia ada di posisi konselor kedua?"
"Untuk apa jabatan? Yang penting terus bergerak, kan?"
"Kau akan mengerti setelah organisasi ini menjadi besar, Sanu. Itu akan meningkatkan efektivitas pekerjaan karena segalanya tersusun sistematis."
"Apa kubilang? Abri memang pantas menjadi konselor."
"Oke-oke. Jadi, kita punya bos besar Sanu, konselor Abri dan Jin, lalu ketua Eiji?"
"Rasanya aneh dipanggil bos."
Muktar bisa mendengar semua itu. Akan tetapi, dia tidak tahu siapa saja yang berbicara. Hanya suara Sanubari yang dikenalinya.
"Jadi, aku tidak jadi mati?"
Muktar duduk. Dia menghimpun tenaga sebelum keluar. Sepasang mata menyadari pergerakannya. Seorang pria langsung meninggalkan makanan dan menghampirinya.
"Bagaimana perutmu? Enakan? Ada yang bergolak di dalam? Bisa kentut?"
Dia memegang perut Muktar. Kekhawatirannya tampak berlebihan di mata muktar. Sementara muktar merasa aneh, bangun-bangun mendapatkan pertanyaan seperti itu. Namun, saat itu juga, Muktar buang gas.
"Maaf." Muktar malu.
__ADS_1
"Sepertinya baik-baik saja."
"Tentu baik-baik saja. Formula penetral kemarin tidak akan melumpuhkan pencernaannya," sahut Juma.
"Lapar? Mau gabung dengan yang lain? Ayo kubantu! Namaku Fukai. Maaf, kemarin aku terpaksa memasukkan bius dosis tinggi ke tubuhmu," kata Fukai.
"Saya bisa berdiri sendiri," balas Muktar.
Juma memberi tempat di sebelahnya. Sanubari lari ke dapur. Dia mengambilkan air putih hangat serta piring dan sendok tambahan.
Muktar berterima kasih. Mereka saling berkenalan. Muktar merasa sangat beruntung mendapatkan sambutn hangat dari orang-orang yang tidak dikenal.
Kemudian, Abrizar berkata, "Nama baru apa yang ingin kaupakai? Pikirkan baik-baik, lalu katakan padaku! Akan segera kuurus identitas barumu. Kau tidak bisa memakai nama itu lagi karena Muktar yang dikenal sebagai narapidana telah mati."
Mereka memberikan penjelasan singkat mengapa Muktar masih hidup. Muktar memahami keadaannya.
"Akbar saja."
Mulai hari itu, Muktar dipanggil sebagai Akbar. Nama spontan yang terpikir olehnya. Dia harus menerima kondisi ini. Setidaknya, dia tidak perlu sembunyi-sembunyi saat keluar dengan identitas baru.
"Baiklah."
Selesai makan, Abrizar meminta Akbar melihat laptopnya. Dia hanya bisa mengumpulkan data tanpa bisa menganalisa karena informasi yang diperoleh dari dunia maya terbatas.
Di sana, terpampang riwayat transaksi para majelis dan aparat sejak mencuatnya kasus sampai akhir persidangan. Abrizar tidak mengenali mereka. Dia hanya mencari tahu transaksi setelah Sanubari mengatakan adanya kemungkinan suap menyuap.
Akbar menggulir dokumen perlahan. Dia membaca dengan sangat hati-hati. Dia menghentikan jari ketika menemukan sebuah nama.
"Ini ...."
"Kau menemukan nama yang kaukenal?" tanya Abrizar.
"Ya, nama kyai di pondok tempatku mengajar."
"Apakah dia mengirim sejumlah uang pada polisi?"
"Beliau mentransfer lima ratus juta pada hakim ketua Tito."
Akbar bisa mengenali karena Abrizar mencantumkan profil orang-orang yang namanya tertera dalam riwayat rekening bank. Karena ada banyak orang dengan nama sama, Abrizar sengaja melampirkan data tersebut untuk mengerucutkan kemungkinan.
"Berarti, benar ada nepotisme dalam hasil persidangan."
"Tapi, bisa saja kyai dan orang itu memang sedang ada usaha bersama, kan? Misalnya, pertanian, jual/beli tanah, atau mungkin dagang Hewan, KAn?"
Akbar tidak ingin berprasangka buruk. Dirinya sendiri tidak mengetahui kebenarannya. Prasangka akan menjadi fitnah bila ternyata itu salah.
"Kalau begitu, coba ceritakan pada kami, mulai beberapa hari sebelum kejadian sampai peristiwa itu terjadi! Mungkin kami bisa menarik benang merah dari keteranganmu," kata Abrizar.
__ADS_1
Sanubari menyimak sambil makan keripik talas. Yang lain ikut menghentikan aktivitas untuk mendengar. Mereka butuh banyak kepala untuk saling tukar pendapat.