Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ajakan


__ADS_3

Sejujurnya, Eiji memikirkan perihal ini sejak perbincangannya kala itu—ketika menemani Shima bermain panahan. Firasatnya tidak enak setelah itu. Selama ini, Anki tak pernah disebut dalam segala urusan. Namun, hari itu, Shima secara gamblang melibatkan Anki dalam bisnisnya.


Menjadikan adiknya sendiri sebagai bidak bisnis bukanlah keinginan seorang Eiji Shiragami. Sekali pun mempersembahkan manusia dengan kedok merger sudah terdengar lumrah di kalangan pegisnis, politikus, dan semacamnya. Bagi Eiji itu tetap tidak manusiawi.


Pernikahan politik, pernikahan bisnis, tawar menawar budak, suap menyuap dengan mengorbankan wanita—semua itu memuakkan. Sayangnya, Eiji menjadi salah satu pelaku tersebut dalam kurun waktu sembilan tahun ini. Dengan sangat terpaksa, dia harus menyelam dalam samudra kepalsuan.


Masa bodoh dengan orang lain, asalkan hal semacam itu tidak terjadi pada keluarganya sendiri. Jika itu sungguh terjadi pada gadis kesayangannya, dan Onyoudan terlibat, maka Eiji tidak akan memiliki alasan lagi untuk menetap. Kendati demikian, Eiji lebih memilih diam.


Rencana itu masih berupa kata-kata. Dia berharap Shima akan memegang kesepakatan mereka, perjanjian kala Eiji pertama kali secara resmi menjadi anggota. Selama Onyoudan tidak melakukan pergerakan berlebihan, Eiji akan setia di jalannya.


"Kau tidak betah menjadi anggota Onyoudan, Anak Baru? Seharusnya kau pertimbangkan matang-matang dulu sebelum memutuskan untuk masuk," nasihatnya bijak, "kalau terlanjur begini, Onyoudan tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Kecuali, kau berteman baik dengan tuan muda Kou. Gayanya memang sedikit eksentrik, tetapi pembangkang seperti dia cukup bagus dijadikan sekutu untuk menentang Onyoudan."


Jika Eiji tidak ingat dengan adiknya sendiri, mungkin dia tidak akan berkata seperti itu pada remaja di hadapannya. Sanubari masih muda. Mungkin dia merasa tertekan setelah misi perdananya. Eiji memahaminya.


Untungnya belum ada lagi misi lapangan berat lagi untuk divisi mereka. Mungkin beban akan lebih berat bila pemuda di hadapannya ini mendapatkan misi gila berturut-turut. Sepanjang pengamatannya, Sanubari hanyalah pemuda lugu yang masih labil. Sepasang netranya mengiba pada Sanubari yang menatapnya lurus. Tanggapan berikutnya dari sang pemuda sama sekali tidak diduga Eiji.


"Kita tidak butuh orang lain untuk membantu. Bersama-sama, kita pasti bisa. Kak Eiji, bergabunglah denganku! Dengan menyatukan kekuatan, aku yakin kita bisa menaklukkan Onyoudan dan menjadikan dunia ini lebih baik."


Lamaran yang cukup tegas dan berani dari Sanubari. Kapan lagi mereka bisa memiliki kesempatan berdua seperti ini, dia harus memanfaatkannya dengan baik. Selain itu, dia ingin mempersingkat keberadaannya di Onyoudan. Dia tidak ingin tanpa sengaja membunuh lagi. Itu hanya akan menumpuk dosa serta hutang puasa penebusan. Yang dua bulan saja belum dia laksanakan.


Eiji terbahak-bahak. "Kau pikir ini tugas kelompok SMA?"


"Aku serius. Sejujurnya, aku masuk ke sini karena Kakak."

__ADS_1


"Aku tahu itu. Kau mengatakannya berulang."


"Maksudku, Kakak itu keren. Tempat ini terlalu ... hm ... apa ya, menyebutnya? Picik? Licik? Busuk? Ah," Sanubari menggosok kepalanya kebingungan, "apalah itu namanya. Yang jelas tempat ini tidak cocok untuk Kakak. Mari kita membangun organisasi bersama-sama!"


Sanubari masih saja membujuk dengan santai tanpa sadar satu mata tak berjiwa sedang mengintai. Dia menggenggam tangan Eiji, memohon penuh percaya diri.


Eiji tersenyum. "Berbicara saja belum lancar, berlagak merekrut anggota. Sekadar informasi saja, aku cukup nyaman dengan pekerjAaanku sekarang. Aku hanya bekerja di balik layar. Ah, untuk kasus lapangan seperti tuan muda waktu itu, aku hanya sesekali melakukannya. Cukup buang-buang waktunya! Ayo pergi!"


Eiji melepaskan tangan dari Sanubari, menepuk bahu lelaki itu, lalu berjalan melewatinya. Sanubari lekas menyambar tas, sarung, dan pakaiannya. Sambil mengekor, dia melipat baju.


"Aku tidak main-main. Aku sudah punya satu anggota. Ditambah kak Eiji nanti jadi bertiga."


"Hentikan imajinasi liarmu itu, Bocah!"


"Itukah alasan Kakak tidak mau bekerja sama denganku? Kakak menganggapku sebatas bocah?"


"Aku bukan bocah, dan Kak ...," Sanubari hendak menyebut nama Abrizar, tetapi diurungkannya, "... dia—rekanku itu sangat luar biasa."


Sanubari ingat pesan Abrizar untuk tidak menjual namanya. Dia harus mendapatkan Eiji dengan kemampuannya sendiri untuk lulus dari ujian kedua sang anggota pertama. Jika Abrizar sampai tahu dia menjual namanya, mungkin kesepakatan yang telah terjalin akan dibatalkan begitu saja.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan kumpulan bocah."


"Setidaknya aku lebih normal dari Yakuza di sini. Bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tidak seperti suruhan Kak Eiji untuk menyusul Anki. Mereka berlagak seperti penculik," cerocos Sanubari sambil menjejalkan barang-barangnya.

__ADS_1


Tasnya tidak besar, tetapi cukup untuk menyimpan semuanya. Dia kesal dikatai bocah terus-terusan. Bagaimanapun juga, sebentar lagi usianya genap delapan belas tahun. Lima hari lagi. Tepat di akhir goldenweek tahun ini—tanggal lima Mei.


Di lain pihak, Eiji terperanjat dengan laporan Sanubari. "Apa katamu tadi? Aku sama sekali tidak menyuruh siapa pun untuk menjemput Anki."


Eiji berhenti melangkah. Dia berbalik badan, melihat Sanubari yang sibuk menutup kembali resleting tas.


"Ha, benarkah?" tandas Sanubari tidak percaya, "kami hampir saja mati. Mereka tak segan-segan menembak."


Kira-kira begitulah kesimpulan Sanubari setelah melihat pelaku penyerangan malam itu. Dia tidak mengenali semua, tetapi sangat yakin salah satu yang ada dalam gerbong adalah anggota Onyoudan. Dia hanya sekali bertemu dengannya. Namun, tidak ada keraguan dalam ingatannya.


"Dari mana kau tahu mereka anggota Onyoudan?"


"Aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka waktu pertama kali masuk ke gedung ini. Namanya ...," Sanubari melirik ke atas seraya bersedekap mengingat-ingat, "O ... O ... Oka ... pokoknya, namanya Oka-oka gitu. Entah Oka siapa, aku lupa pastinya. Yang jelas, dia salah satu ketua di Onyoudan dan tidak bisa bahasa Indonesia."


"Jadi, mereka benar-benar melakukannya?" lirih Eiji nyaris tak terdengar.


Sekian detik, dia bergeming dengan tangan terkepal erat. Kecemasan merambat lebih cepat. Dia tidak bisa membiarkan tanda-tanda gerakan pengkhianatan ini.


"Ingatkan aku untuk menghapus semua rekaman pagi ini!" Eiji berbalik badan, menarik pintu kaca yang tepat di belakangnya.


"Rekaman? Rekaman apa?" Sanubari kembali mengikuti Eiji keluar sebelum kakak Anki itu mengunci pintu.


"Semua CCTV aktif, meskipun kantor sedang libur. Ada juga beberapa transmisi tertanam hampir di semua sudut bangunan. Kita harus melenyapkan percakapan barusan sebelum ada yang menemukannya. Jika terlambat, mungkin para eksekutor akan menghampiri kita. Itu sama sekali tidak baik. Kau tidak menyadari semua itu, tetapi berani memintaku bekerja sama denganmu?" Eiji tersenyum pada Sanubari.

__ADS_1


Senyuman yang terkesan meremehkan bagi sang remaja. Dia tidak bisa menjawabnya. Ini sungguh buruk. Tanpa sengaja, Sanubari telah membawa hidupnya sendiri dalam masalah. Dia teringat peristiwa yang dilihatnya saat pertama kali masuk gedung Onyoudan.


"Semoga hukumannya hanya memotong kuku, andaipun ketahuan," harap Sanubari dalam hati. Dia mendongak, melambungkan doa ke langit yang tertutup awan.


__ADS_2