
Pisau mengenai tengah apel. Buah itu terdorong mundur hingga menancap pada sandaran kursi 9E. Jin menekan tombol-tombol bulat yang mengitari tombol dengan gambar pisau di tengah. Demonstrasi ini seperti permainan MMORPG bagi Jin.
Pisau memanjang. Kemudian merekah hingga menyerupai garpu lalu kembali ke bentuk semula dalam sekejap mata. Jin begitu lihai memainkannya tanpa memedulikan layar panduan yang sesekali muncul.
Dengan adanya panduan, membuktikan bahwa pemakai Aifka tersebut masih pemula. Orang yang sudah piawai biasanya akan mematikan mode pemandu karena akan memperlambat kinerja.
"Apelnya terbelah!" seru seorang penyidik yang melihat buah terbelah menjadi dua bagian.
Bagian bawah jatuh ke kursi. Sementara setengahnya lagi tersangkut di bilah pisau yang menancap pada sandaran kursi lalu jatuh bersama-sama akibat beban yang tidak seimbang. Terdapat bekas sayatan horizontal yang cukup lebar pada sandaran kursi. Setelah itu Jin juga menunjukkan bagaimana cara mengedit video melalui editor video Aifka.
Para polisi yang bertugas pun paham bagaimana luka pada korban terjadi dan bagaimana pisau itu bisa menghilang. Rupanya menghilangnya jejak pisau memang hanya hasil rekayasa saja. Tidak ada yang namanya pisau hantu. Mereka merasa malu karena sempat tidak mempercayai Jin. Mereka juga meminta maaf kepada Sanum karena telah menjadikan wanita tersebut sebagai korban salah tangkap.
"Masih ada delapan pisau di Aifka. Pak Polisi mau mencobanya?" tanya Jin.
"Tidak, cukup. Ini sudah terlalu malam."
"Oke."
Jin mematikan mode penyamaran lalu mengaktifkan autopilot dengan lokasi pendaratan yang telah ditetapkan. Perlahan terlihat tabung hitam menempel pada salah satu sisi dinding bioskop. Tabung tersebut berubah bentuk menjadi capung raksasa. Sesuatu menyerupai antena yang menempel pada kamera pengawas ruangan terbang dan menempel pada mulut Aifka.
Padahal ada cara yang lebih aman untuk menyadap kamera daripada menggunakan kumis Aifka. Sepertinya pengguna memang belum sepenuhnya menguasai Aifka. Animatronik capung raksasa itu terbang ke arah Jin. Benda itu mendarat di kursi sebelahnya.
"Silakan bawa barang buktinya, Pak Polisi!" Jin menyerahkan ponsel pintar itu kepada ketua penyidik.
Semua orang tercengang menyaksikan pemandangan itu. Mereka seperti menonton film sci-fi yang menjelma menjadi kenyataan. Tidak disangka senjata canggih mata-mata seperti perlengkapan mutakhir dalam movie mata-mata benar-benar ada di dunia nyata.
"Nona Kiara, sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan tindakan Anda!"
"Animatronik dan akta kepemilikan ini sudah cukup sebagai bukti bahwa Andalah tersangka pembunuhan ini," imbuh penyidik lain sambil memperlihatkan salinan akta kepemilikan yang telah Kelana kirim ke ponselnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan informasi itu? Itu pasti dipalsukan. Ada yang ingin menjebak saya," kilah Kiara dengan suara bergetar.
"Akui saja perbuatan Anda, Nona! Data itu asli. Bukankah ada wawancara virtual juga saat proses pembelian?" ujar Jin.
"Benar. Data itu kami dapatkan dari CEO BGA langsung. Kami bisa menjamin keasliannya," timpal Kelana.
"Kenapa kalian bisa mendapatkannya semudah itu?"
"Kami memang menjamin kerahasiaan informasi konsumen. Namun, kami tidak bisa melindungi seseorang yang menyeret istri pemilik perusahaan dalam masalah. Andaikan orang lain yang Anda libatkan dalam kasus ini, mungkin kami tak akan ikut campur dan menyerahkan informasi tentang Anda kepada siapa pun," jelas Kelana.
"Istri pemilik perusahaan?" kata Kiara sembari memandang Sanum lalu menoleh pada Kelana, "siapa kalian sebenarnya?"
"Bukankah apa yang saya katakan tadi sudah cukup jelas?" jawab Kelana sambil tersenyum.
Kasus telah terpecahkan. Kiara dibawa pergi polisi. Para polisi lain menyadarkan rekannya yang pingsan dan mengambil semua barang bukti yang tersisa. Para pengunjung pun diperbolehkan pulang tanpa pemeriksaan lebih lanjut karena pelaku sebenarnya telah tertangkap. Beberapa di antara mereka masih berkerumun di area bioskop untuk mengurusi pengganti rugian.
Sementara keluarga Sanubari memilih untuk meninggalkan tempat itu. Meminta ganti rugi itu bagi mereka tidak penting. Toh itu hanyalah sebuah film. Lebih baik pulang dan istirahat daripada antre untuk hal kecil. Mereka berlima berjalan menuju parkiran.
Poin kekaguman Sanubari terhadap Jin bertambah. Lelaki itu telah menyelamatkan ibunya. Selain itu, Jin terlihat seperti sosok kakak menyenangkan dengan kecerdasan tinggi. Meskipun pria itu suka mengerjainya. Namun, itu tidak mengurangi poin kekaguman Sanubari. Jin menjadi idola pertama Sanubari.
"Kak Penculik Baik Hati hebat! Bagaimana Kakak bisa mengetahui trik pembunuhan yang rumit itu?" tanya Sanubari dengan antusias.
"Kehidupan ini adalah misteri. Sementara segala hal di sekeliling kita adalah puzzle untuk mengungkap misteri. Jika kau ingin menguak misteri, maka tajamkan pikiranmu! Pilah, kumpulkan dan susun potongan puzzle yang menjadi bagian dari misteri yang ingin kau pecahkan.! Ingatlah bahwa semua yang kau temukan belum tentu menjadi bagian misteri yang kau targetkan! Sebab,dunia ini memiliki lebih dari satu misteri."
"Aaaa ... aku tidak paham tapi aku juga ingin menjadi seperti Kak Penculik Baik Hati. Kemudian, menjadi lebih hebat lagi sampai melampaui Kakak."
Jin tertawa mendengar pernyataan Sanubari. "Mungkin kau harus bisa menaklukkan eskalator dan hantu dulu sebelum bermimpi mengalahkanku."
"Jangan sebut makhluk itu! Mereka mengintai dimana-mana." Sanubari merapat pada ibunya tanpa berani melirik ke mana pun.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa saat, mereka sampai di tempat parkir. Kebanyakan sepeda motor yang masih memenuhi tempat itu. Sementara mobil hanya tersisa dua. Mereka segera masuk mobil.
Kondisi yang longgar membuat Jin lebih leluasa menggerakkan mobil. Jin dengan perlahan melajukan mobil keluar dari parkiran.
"Mau cari makan dulu atau langsung pulang? Mumpung lagi di kota nih. Jam segini banyak yang tutup. Tapi aku tahu tempat murah, enak dan masih buka kalau kalian mau makan," tawar Jin.
"Mungkin makan dulu saja. Kasihan tuan muda Sanubari perutnya tidak jadi terisi gara-gara kejadian tadi," balas Kelana.
"Wah, kalian memang pengertian!" Sanubari bersorak riang. Perutnya memang terasa lapar setelah mengeluarkan seluruh isinya.
Jalan di kota kecil ini sudah mulai sepi. Jalan terasa milik sendiri karena tidak banyak kendaraan lalu lalang. Tiba-tiba Kelana teringat sesuatu.
"Aku penasaran dengan berapa gaji seorang penjual tiket saat ini. Kenapa orang seperti dia bisa memiliki Aifka?"
"Entahlah. Aku tidak tahu." Jin mengedipkan bahu.
"Tidakkah kau merasa aneh tentang semua ini?" Kelana mencoba meminta pendapat pemuda kritis itu. Bagaimanapun juga perihal ini sedikit mengganggu pikiran Kelana.
Namun, dengan acuh tak acuh Jin malah menjawab, "Bukan urusanku. Siapa peduli dengan gaji wanita itu. Yang penting kasus terpecahkan dan bibi Sanum bebas dari tuntutan. Iya kan, Bi?"
"Iya, terimakasih Jin. Mungkin tanpamu aku tidak akan pernah bisa bertemu Sanubari lagi," jawab Sanum.
Kelana kembali diam. Mungkin dirinya hanya sedikit agak berlebihan tentang semua ini. Kekhawatirannya mungkin tidak berdasar.
Tiba-tiba sirene peringatan kereta akan melintas terdengar. Palang pembatas perlahan diturunkan. Deru kereta api terdengar mendekat dari arah timur dengan kecepatan tinggi. Jin melepas pedal gas lalu menginjak rem.
"Remnya?" batin Jin terperangah.
Namun, Jin tidak kehabisan akal. Lekas ditariknya handrem.
__ADS_1
"Sial! Ini pun tidak bekerja," umpat Jin dalam hati.
Mobil terus melaju, menabrak palang pembatas hingga patah. Palang tersebut memang sudah usang dan berkualitas rendah sehingga tidak bisa menahan beban berat. Semua orang panik.