Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mata Melompat


__ADS_3

Si gadis kecil terus menembak. Jarum-jarumnya terpental mengenai kulit Sanubari, tidak ada satu pun yang bisa menancap.


Sanubari sesekali menggosok leher atau menggaruk kepala sambil menyerang Mikki. Kulit yang terkena tembakan terasa seperti baru digigit semut atau binatang kecil lain.


"Ke-kenapa tidak bisa?" Gadis itu tercengang, mulai meragukan akurasi sendiri.


"Tidak! Tidak mungkin! Aku yakin tadi itu kena," lanjutnya.


Dia menahan tembakan, mengawasi Sanubari yang menjegal. Mikki melompat. Sanubari menangkap kakinya. Namun, Mikki mampu melakukan gerakan memutar di udara. Dia menendang kepala Sanubari dengan kaki yang bebas, kemudian terguling.


Kepala Sanubari tertoleh ke arah anjungan. Gadis itu menembak lagi. Sebuah jarum melesat cepat.


"Argh!"


Sanubari menjerit sambil berguling-guling. Telapak tangannya spontan menutupi mata kiri. Darah mengalir, membuat Sanubari seolah menangis darah.


"Kena?" Gadis kecil itu melompat dari atap anjungan.


Mikki mengernyit. Dia memperhatikan mata Sanubari yang ditutupi. Sesuatu mencuat dari sela-sela jari Sanubari.


"Dia akan segera pingsan." Si gadis kecil berjalan mendekati Mikki. Dia ikut mengernyit manakala melihat darah yang berceceran. Sebuah jarum tidak seharusnya menyebabkan pendarahan separah itu.

__ADS_1


"Lain kali, jangan mengincar mata! Lihat! Kasihan dia." Mikki menyentuh kepala si gadis kecil yang terhalang topi.


Gadis kecil itu memalingkan muka, enggan melihat mata Sanubari yang berdarah-darah. Dia bersembunyi di belakang Mikki.


Gadis itu merasa jijik sekaligus ngeri. Buruannya saja tidak pernah mengeluarkan darah sebanyak itu.


Sanubari mencabut jarum, lalu melemparnya SEmbarangan. Kenangan buruk masa kecil terbayang begitu saja. Kala itu, dirinya hanya bisa melihat dengan rasa cemas dan takut pada Aldin yang terduduk dengan pimes tertancap ke mata.


Kini, Sanubari mengerti bagaimana rasanya itu. Bola matanya terasa teramat panas, perih taktertahankan. Begitu nyerinya, sampai-sampai hidungnya turut mengeluarkan cairan. Tekanan dari dalam terasa nyata, seolah bola matanya hendak keluar hingga Sanubari tidak berani memindahkan tangan yang digunakan untuk menutup mata. Dia takut kalau-kalau matanya sungguh melompat keluar.


Darah mengucur semakin banyak, membentuk genangan di sekitar kepala Sanubari yang meringkuk menahan sakit.


Gadis kecil itu mengangguk. Lantas, dia berlari tanpa melihat Sanubari. Bulu romanya meremang. Itu adalah pertama kalinya dia melihat manusia berdarah-darah.


Tidak lama kemudian, Lance datang. Dia meletakkan barang-barang, hendak mengobati Sanubari dengan perlengkapan seadanya. Akan tetapi, Sanubari tidak mau memindahkan tangan. Dia menggeleng lemah.


"Mataku akan menggelinding kalau kulepas," katanya parau. Dia sungguh takut itu akan terjadi.


"Matamu tidak akan lepas dengan sendirinya bila tidak dicongkel. Jadi, singkirkan tanganmu dan biarkan aku mengobatimu!" Lance mencekal pergelangan tangan Sanubari, tetapi tenaga pemuda itu terlalu kuat. Lance tidak bisa menarik lengan Sanubari.


"Menurutlah, Bocah! Aku tidak mau ada bau bangkai sepanjang pelayaranku!" Mikki menendang pinggang Sanubari.

__ADS_1


Genangan darah bertambah lebar. Jika dibiarkan seperti itu terus, Sanubari akan meninggal karena kehabisan darah cepat atau lambat. Begitulah pikir Mikki.


Liuna mengintip dari balik punggung Mikki. Dia masih jijik. Di saat yang bersamaan, dia juga penasaran. Sanubari tidak tumbang walau 15 detik sudah berlalu. Selain itu, Sanubari memiliki reaksi berbeda dibandingkan Sai dan yang lain.


Sanubari merinding mendengar perkataan Mikki. Membayangkan anggota tubuh yang membusuk, Sanubari semakin berkeringat dingin. Air matanya pun terus mengalir. Dia masih takut, tetapi sudah mau duduk.


Denyutan di matanya masih belum mereda. Itu bahkan lebih kencang dari detak jantungnya. Sanubari dilanda dilema antara melepaskan tangan atau tidak.


"Cepatlah!" desak Mikki.


Kata-kata Mikki sama sekali tidak bisa Sanubari enyahkan dari pikiran. Sanubari berpikir, "kalau anggota tubuh membusuk, itu artinya aku akan segera mati? Tidak! Aku tidak mau itu!"


Sanubari menggeleng kuat. Saat telapak tangan diturunkannya, bola mata itu benar-benar melompat dari tempatnya, menggelinding di dekat kaki Liuna. Sontak, gadis kecil itu menjerit.


"Kyaaaa!"


Dia lari lintang pukang dari sisi Mikki. Itu pemandangan yang terlalu mengerikan bagi gadis kecil 13 tahun seperti dirinya. Dia masuk ke anjungan, lalu duduk bersandar dinding.


"Anak ini tidak normal ...," batin Mikki ternganga.


Lance pun terperanjat. Lelaki itu sampai terbengong-bengong menyaksikan adegan tersebut. Itu fenomena teraneh yang pernah disaksikannya.

__ADS_1


__ADS_2