
"Tempat ini mungkin aman, tetapi aku ingin kau tetap menjaganya sampai dia sembuh, dan pastikan kejadian seperti ini tidak terulang!"
Damiyan menjawab dalam diam. Dia hanya memberikan anbgukan pelan sebagai respons, tidak tahu lagi harus berkata apa.
Pertemuan pagi itu sangat singkat. Tidak banyak yang ingin Aeneas bicarakan. Dia hanya ingin mendengar penjelasan langsung atas apa yang terjadi dari mulut Damiyan, lalu segera kembali ke rumah sakit.
*
"Apa? Coba cari sekali lagi! Semalam Sanubari tiba bersama kami. Perawat membawanya. Mustahil Sanubari tidak dirawat di sini!" Anki melebarkan matanya.
Eiji sama terkejutnya dengan Anki. Dia setengah tidak percaya mendengar keterangan petugas rumah sakit itu. Ketika Sanubari dibawa pergi, dia sedang mendapat perawatan. Jadi, Eiji kurang tahu siapa saja yang membawanya.
"Anda bisa melihatnya sendiri! Nama Sanubari benar-benar tidak terdaftar sebagai pasien di rumah sakit ini." Resepsionis memutar monitor ke arah Anki karena gadis itu tetap bersikukuh.
Hasil pencarian itu benar-benar kosong. Hanya ada sebaris kalimat yang bermakna 'Tidak ditemukan.'. Anki bungkam seketika.
"Mungkin dia tidak dirawat dengan nama Sanubari. Karena kami dirawat secara terpisah dan Sanubari sedang tidak sadarkan diri, mungkin perawat mendatanya sebagai pasien tidak dikenal. Mohon periksa data pasien yang masuk UGD semalam! Aku yakin salah satunya adalah teman kami," Eiji berusaha mengungkapkan dugaannya.
Dia berharap akan mendapat titik terang dengan ini. Anki tidak berpikir sampai sana. Namun, dia meyakini analisa kakaknya ada benarnya.
Monitor dibalik kembali. Resepsionis dengan cekatan memeriksa rekap data yang diminta.
"Data pasien gawat darurat dari tanggal empat Mei pukul tujuh belas, sampai lima Mei pagi ini total dua pasien. Atas nama Shiragami Eiji, dan Hananta Syaifullah."
"Ada lagi?" Eiji berusaha membuat resepsionis itu berbicara lebih banya.
Sayangnya, yang dia peroleh hanyalah gelengan kepala dan dua kata, "Tidak ada."
"Bukankah ini aneh? Kakak dan Hanan saja terdaftar sebagai pasien. Kenapa Sanubari tidak? Tidak atas namanya sendiri. Tidak pula atas nama anonim."
__ADS_1
Eiji menoleh pada gadis di sebelahnya yang sedang bermonolog. Gadis itu bersedekap, menundukkan kepala, entah apa yang ditatapnya di bawah sana.
Sebenarnya, yang aneh tidak hanya itu. Jika hanya Eiji sendiri dan Hananta yang terdaftar sebagai pasien, mengapa semua orang mendapatkan jatah makanan? Pertanyaan semacam itu hanya bisa Eiji pendam untuk saat ini.
Tiba-tiba, Anki menoleh pada Eiji. "Kakak tahu nama lengkap Sanubari? Atau mungkin nama lainnya?"
Eiji mencoba mengingat. Nama remaja beriris mata hijau itu sangat singkat. Hanya satu kata—Sanubari. Tidak lebih. Tidak kurang. Mustahil dia lupa dengan nama sederhana itu.
Dia sudah menyelidikinya. Itu nama asli Sanubari. Dari lahir sampai sekarang, tiada riwayat pengubahan nama yang bisa dia temukan. Maka, sebagai tanggapan atas pertanyaan adiknya itu, Eiji hanya bisa menggeleng.
Anki mendengus. Namun, dia belum menyerah. Dia mencoba mengutarakan semua probabilitas yang mungkin terjadi.
"Mungkin namanya itu ditulis dalam bahasa lain. Seperti, Heart, Kokoro, atau mungkin bahasa Italia dari sanubari ...."
Dengan sabar, sang resepsionis meladeni Anki. Sekian percobaan berlalu, dan yang mereka temukan hanyalah kenihilan. Eiji dan Anki pun terpaksa meningglkan pusat layanan itu dengan menelan kekecewaan.
"Kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini?" Anki memanyunkan bibir tipisnya.
Keduanya berdiri di depan elevator, menanti pintu mengkilat itu terbuka. Saat memikirkan kondisi Sanubari, mendadak bulir bening terjun bebas.
Eiji melirik adiknya yang tampak melankolis. Dia refleks meletakkan tangan ke atas kepala adiknya.
"Kenapa menangis?"
"Bagaimana kalau Sanu ternyata sudah ...." Bulir-bulir bening itu menderas tanpa bisa dikontrol.
"Sudah apa? Jangan berpikir macam-macam! Dia pasti baik-baik saja. Mari coba tanya Abri! Mungkin dia tahu sesuatu." Eiji mengacak rambut adiknya.
Meski Eiji baru mengenal Sanubari belum lama ini, tetapi dia juga tidak ingin pemikiran adiknya menjadi nyata. Dia belum sempat berterima kasih kepada Sanubari dengan benar. Tanpa bisa dikendalikannya, Eiji mendadak membayangkan kamar jenazah, kamar yang sunyi, kamar yang suram, kamar dengan brangkar-brangkar ditutupi kain-kain putih.
__ADS_1
Bunyi dentingan melenyapkan bayangan itu. Eiji lekas menyangkal dan membuang jauh-jauh khayalan semacam itu. Bersama Anki, dia berjalan memasuki elevator.
Sesaat sebelum pintu tertutup, dua pria ikut masuk. Pria berambut hitam menekan tombol, lalu bergeser ke kiri bersama pria berambut pirang. Dia bergeser sedikit menjauhi pintu karena melihat angka yang ditekan Anki merupakan lantai sebelum tujuannya.
Kakak beradik itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutan masing-masing ketika melihat pria pirang yang kini satu kotak dengan mereka. Sangat mudah mengingatnya. Pria itu benar-benar mirip Sanubari dengan kontur wajah lebih tegas dan dewasa. Perbedaan mencolok hanya ada pada rambut mereka.
"Aeneas Baldovino Gafrillo atau Bari?" Eiji membatin dua nama itu. Dia terpaku di tempatnya.
Data tentang ayah Sanubari yang bernama Bari dan Gafrillo berputar-putar di kepalanya. Dia seolah berjalan di atas seutas tali kebimbangan. Informasi dalam memorinya terasa rancu. Video dari Anki, catatan kelahiran Sanubari, serta fakta bahwa orang di sebelahnya ini tidak ada bedanya dengan Gafrillo jika dilihat dari dekat.
Dentingan kembali terdengar. Pintu terbuka lebar. Namun, sampai pintu merapat kembali, tidak ada dari mereka yang keluar.
Anki dan Eiji tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kecanggungan menyelimuti Anki, mungkin juga Eiji.
Anki ingin menyapa dan bertanya. Akan tetapi, keraguan membuat niatnya itu seperti ditarik ulur.
Satu denting lagi membuat pintu bergeser. Dua pria itu keluar. Anki ikut keluar dengan menggandeng Eiji. Mau tidak mau, Eiji pun mengimbangi langkah adiknya.
Lorong lantai itu sangat sepi, seakan kamar-kamar yang ada sengaja dikosongkan. Langkah-langkah mereka cukup ringan. Sehingga, tidak terlalu ada bunyi berisik yang menggema. Eiji dan Anki pun tetap membuntuti kedua pria itu.
Tidak dinyana, pria berambut hitam berhenti. Anki pun ikut berhenti. Eiji secara otomatis juga berhenti. Pria yang menemani lelaki pirang itu berbalik badan.
"Kenapa kalian di sini?"
Tidak ada orang selain mereka di sana. Jelas, pertanyaan itu ditujukan kepada Anki dan Eiji yang terdiam.
"Jika kalian tersesat, di sana ada peta digital," lanjutnya menunjuk satu arah.
Pria berambut pirang terus berjalan beberapa langkah. Namun, turut berhenti ketika menyadari asistennya berhenti. Dia menoleh. Tatapannya bersirobok dengan Anki.
__ADS_1
"Paman, Paman berambut pirang pasti saudara Sanubari, kan?" Akhirnya, Anki memberanikan diri. Pandangannya melewati pria berambut hitam, tertuju pada pria beriris mata hijau. Ini mungkin kesempatannya menemukan Sanubari. Anki menggenggam erat tangan kakaknya untuk mengalihkan keraguan.