Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mwiny Bersaudara


__ADS_3

Keributan terjadi i laboratorium bawah tanah. Beberapa orang ditangkap setelah perkelahian selama beberapa saat. Tidak ada yang bisa kabur.


Belasan orang berjaga di setiap pintu yang ada. Mereka memakai perlengkapan lengkap—rompi anti peluru, senapan serbu, bayonet. Penampilan mereka persis angkatan bersenjata yang bertugas.


Helikopter terbang tanpa menghiraukan hujan lebat yang mengguyur. Tali terulur ke bawah. Orang-orang turun, melompat dengan tali itu. Mereka berlari, merangsang masuk setelah membobol pintu secara paksa.


"Sisir semua lorong yang ada! Jangan sampai terlewat!"


Mereka berkomunikasi dengan alat yang tersemat di telinga masing-masing. Pasukan itu terbagi menjadi beberapa tim.


"Manticore."


Seorang perempuan berjilbab dengan penampilan sama persis seperti mereka bergumam resah. Dia berdiri tertegun di depan kurungan berlapis kaca. Tangannya terkepal erat. Desir ngeri menjalar ke sekujur tubuh ketika melihat makhluk di hadapan.


"Hewan macam apa ini?"


"Mengerikan."


"Apa ini nyata?"


Beberapa pria yang datang bersamanya merinding. Tidak pernah sekali pun mereka berjumpa dengan binatang berkepala manusia seperti itu.


Mata birunya bersinar dalam keremangan. Makhluk itu membuka mulut, tetapi suaranya teredam dinding kaca penghalang. Kaki singanya memukul jeruji. Ekor kalajengking raksasanya begerak-gerak, menembakkan sesuatu yang menghantam kaca.


"Kamu, hubungi yang lain! Amankan makhluk ini! Ingat untuk tidak membiarkannya sampai lepas! Berhati-hatilah dengan ekornya! Itu sangat beracun."


Perempuan itu menunjuk satu orang dalam tim. Kemudian, dia berbalik badan.


"Yang lain, ikut aku! Kita lanjutkan penyisiran!"


Mereka meninggalkan ruangan itu. Empat anggota laboratorium yang ada di sana pun sudah diborgol. Bom dikalungkan ke leher mereka. Itu akan diaktifkan bila mereka mencoba kabur. Keempatnya bergetar ketakutan.


Sementara itu, kelompok perempuan itu bertemu dengan gadis yang mengendap-endap, hendak melarikan diri dari kekacauan. Mereka menangkapnya.


"Mi–miss Petamana, kenapa Anda berpenampilan seperti mereka?" Gadis itu terkejut melihat penampilan perempuan berjilbab.


"Aku bukan Petamana," jawab perempuan berjilbab itu dingin.

__ADS_1


"Ja–jangan bercanda! Saya sudah bekerja dengan Anda dua tahun ini." Gadis itu merasa tidak nyaman. Tangannya mendadak diborgol di belakang pinggang.


Perempuan berjilbab merogoh tas pinggang. Dia mengambil sesuatu, mengalungkannya pada gadis itu.


"Jangan mencoba kabur atau liontin ini akan meledak dan menghentikan detak jantungmu!"


Dia menekan bandul yang menggantung di depan dada dengan telunjuk. Pandangan mereka saling bertemu.


Gadis tawanan itu menelan ludah kasar. Matanya berkaca-kaca.


"Miss,apa-apaan ini? Kenapa Anda bekerja sama dengan mereka? Si–siapa kalian? Kenapa mengacau di tempat kami? Apa salah kami? Kami tidak pernah menyinggung pemerintah maupun kelompompok lain," bahu gadis itu bergetar, dia berkata sambil meneteskan air mata.


"Tunjukkan di mana wanita itu berada!" perintah tegas perempuan berjilbab.


Dia sudah mendengar laporan dari setiap tim yang tersebar di bangunan bawah tanah itu. Belum ada satu pun dari mereka menemukan yang dicari.


"Si–siapa maksud Anda?"


"Petamana Mwiny."


"Bukankah Anda sekarang ada di sini?"


Gadis itu akhirnya mengangguk pelan, membimbing mereka ke tempat tersembunyi. Tempat yang sangat sepi. Beberapa saat berjalan, mereka berhenti di depan pintu geser.


Perempuan berjilbab menggeser pintu. Pada saat itu, Petamana telah menyuntikkan cairan ke tubuh pemuda yang terbaring.


Fukai tidak menyangka, dia akan terbangun di tempat berbeda dalam keadaan terikat. Dia menoleh ke kanan. Abrizar tertidur di sana, sama terikatnya.


Fukai seperti sedang setengah berhalusinasi karena efek obat tidur. Di sebelah kirinya, dua orang memakai jas lab berdiri di sebelah ranjang Sanubari. Yang perempuan memegang suntikan.


Jarumnya menembus kulit Sanubari dan benda itu telah kosong. Kemudian, seorang perempuan dengan penampilan berbeda, tetapi berwajah sama persis datang. Dia berbicara dengan intonasi tinggi seperti orang marah-marah.


"Hentikan penelitian berbahayamu! Sudah berapa orang menjadi korban malpraktikmu ini?"


"Kau pasti iri melihat keberhasilanku, kan? Aku berhasil menciptakan makhluk legenda, mitos hidup. Kau sudah melihat karyaku, kan?"


Petamana tertawa terbahak. Beberapa pria menangkap dia dan Juma. Perempuan berjilbab berjalan geram. Dia menampar Petamana.

__ADS_1


"Manusia tidak diciptakan untuk mengubah ciptaan yang ada."


"Munafik! Kau sendiri bermain-main dengan genetika makhluk hidup. Lantas, apa bedanya kau denganku, saudaraku Hana? Bukankah kau percaya bahwa manusia dibekali akal untuk terus belajar dan bereksperimen?" sindir Petamana tersenyum miring.


Petahana Mwiny adalah saudara kembar Petamana Mwiny. Mwiny bersaudara itu dikenal sebagai jenius genetika. Keduanya sangat dekat dan akrab di masa lampau.


Namun, perbedaan visi membuat keduanya tercerai. Mereka tidak mau lagi saling mengurusi satu sama lain. Mereka bahkan memutuskan kontak.


Sampai penugasan itu tiba, akhirnya, Petahana ber-diri di sini, di hadapan saudarinya. Dia tidak menyangka, kegilaan saudarinya akan sejauh ini.


"Aku berbeda denganmu. Aku hanya meneliti bagaimana mengendalikan sifat mereka melalui rekayasa genetik. Tidak mengubah wujud mereka sama sekali, dan itu hanya pada binatang. Aku tidak gila sepertimu!" kilah Petahana.


Fukai menyaksikan pertengkaran mereka. Di antara laki-laki yang datang bersama perempuan itu, dia merasa mengenali satu. Orang itu seperti pria di hutan yang singgah di rumah Fanon.


"Hana, pemuda ini kejang!" seru pria itu yang tidak lain adalah Sasin, "Bagaimana ini? Jika sampai terjadi sesuatu pada yang kita cari ini, maka kita ...."


Petahana menggigit bibir. Jantungnya berdebar kencang. Dia buru-buru memerintahkan, "Mana, keluarkan penawarnya! Kau pasti telah memasukkan hasil penelitian bodohmu itu padanya, kan? Cepat berikan penawar untuk membatalkan reaksinya!"


"Tidak ada," jawab Petamana tergagap. Dia menunduk ketakutan setelah melihat Sanubari kejang-kejang.


Dia sudah berulang kali melihat hasil eksperimen meregang nyawa. Petamana seharusnya sudah terbiasa, tetapi kehadiran Petahana menekan mentalnya. Sisi lain yang hampir terkubur mendadak terpantik begitu saja, kembali muncul, dan melemahkannya.


"Sasin, larikan dia ke rumah sakit terlebih dahulu!" perintahnya panik.


Sasin segera melepas ikatan dibantu yang lain, sementara Petahana memegang Sanubari agar tidak jatuh dari ranjang. Sasin menggendong pemuda itu. Mereka mengikatnya pada tubuh Sasin. Setelah itu, Sasin berlari meninggalkan ruangan.


Menyadari yang berjalan di depan matanya adalah fakta, Fukai langsung menjerit, "Sanu!"


Matanya mengikuti Sasin. Sanubari tidak terlihat lagi di tempat itu.


"Tenanglah! Apa ada hal aneh yang kamu rasakan?"


Saat Fukai menoleh, seorang perempuan dengan kecantikan khas Arab sedang membuka ikatannya. Wanita berjilbab itu menunduk dan bergerak dengan cepat.


"Ke mana pria tadi membawa Sanu? Apa-apaan ini? Kenapa kami bisa berpindah tempat dan banyak orang di sini?" Fukai menyerocos sedikit linglung, tetapi dia mencemaskan Sanubari.


"Jangan khawatir! Kami akan membawa kalian ke rumah sakit yang sama dengan anak itu," jawab Petahana yang juga masih merasa tegang.

__ADS_1


Dalam hati, Petahana berharap perjalanan Sasin lancar. Hujan masih mengguyur dengan derasnya. Tentu, itu menyulitkan mobilitas mereka, apalagi dengan membawa pasien gawat darurat.


Dia tidak berkata lebih. Perempuan itu tidak akan menceritakan apa pun sampai kondisi Fukai terkendali, sampai cukup pasti bahwa Fukai terlepas dari pengaruh obat yang diberikan.


__ADS_2