Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tabrakan Dua Ular Besi


__ADS_3

Manometer menunjukkan angka delapan. Yang berarti, tekanan udara dalam kereta normal. Mitsuki tidak memeriksa perlengkapan tempurnya sebelum berangkat. Dia hanya refleks menarik tuas penutup pintu begitu berhasil masuk ke kabin.


Ini adalah keberangkatan darurat. Dia tidak mempunyai waktu untuk memeriksa kelayakan sebagaimana masinis baik yang seharusnya. Tanpa melakukan itu pun dia percaya kereta Jepang selalu dalam kondisi prima.


Lelaki itu duduk di kabin masinis, mengendalikan ular logam yang berdesing halus menyusuri lorong gelap. Diotak-atiknya apa pun yang ada di sana, sengaja mematikan sinyal ke kontrol pusat.


Dia fokus mengemudi sambil memperhatikan rute yang terpampang di layar onboard. Lampu merah menyala. Kereta telah melewati dua perhentian, tetapi saat ini keretanya tidak dekat di stasiun mana pun. Tampak titik merah bergerak ke arahnya dalam satu lintasan.


"Gawat, kereta ini akan bertabrakan," gumamnya diakhiri dengan decak kesal.


Dengan matinya sinyal, kereta dari arah depan tidak akan tahu posisi kereta ini. Kecuali, kereta sudah pada jarak yang sulit dihindarkan. Sistem darurat diaktifkan. Kereta berhenti. Mitsuki membuka salah satu sisi gerbong paling belakang. Buru-buru, dia berlari.


Perhentian dadakan itu membuat Sanubari yang duduk di gerbong penumpang bersama Anki dan Abrizar bingung. Dia menoleh ke belakang, lalu ke depan lagi.


"Gelap. Ini bukan stasiun, tetapi kenapa berhenti?"


Pertanyaan tersebut terjawab ketika Mitsuki tergopoh-gopoh mendekati mereka seraya berseru, "Kita harus segera keluar dari sini! Kereta ini akan bertabrakan."


Semua orang tersentak melihat Mitsuki yang melintas. Sanubari yang penasaran bergegas berdiri dan menyusul. Dia bertanya, "Bagaimana bisa? Kereta ini saja berhenti."


"Kereta ini memang berhenti, tetapi tidak dengan kereta di ujung sana," tegas lugas Mitsuki seraya mengarahkan jempol ke belakang.

__ADS_1


Anki ikut berdiri, menggandeng Abrizar dan menyusul keduanya. Tanpa ditanya, Abrizar menyahut, "Mitsuki benar. Dua kereta menuju ke sini."


Abrizar bisa mendengar. Satu sudah sangat dekat, sedangkan satu lagi masih cukup jauh. "Kurang dari satu menit kereta dari arah depan akan sampai," Lanjutnya.


"Apa?" Anki menoleh tidak percaya dengan mata melotot.


"Kau dengar itu, Sanu? Sepertinya Abri bisa memprediksi waktu yang kita miliki," timpal Mitsuki.


Mereka sampai di gerbong di mana tiga pria berpakaian serba hitam tak sadarkan diri. Mitsuki memasang mata waspada. Dia berhenti, lalu setelah sekilas pandang berbalik badan, dia berkata, "Anki, kamu duluan!"


Anki mengangguk. "Kak Abri, sedikit melompat!" katanya sambil melakukan hal yang sama.


"Paman, bangun!"


"Sanu, apa yang kau lakukan?" bentak Mitsuki tak habis pikir.


"Kasihan mereka jika tetap dibiarkan di sini.


"Tinggalkan saja! Kita tak punya banyak waktu. Untuk apa mengurusi penjahat?"


"Siapa pun mereka, orang ini tetaplah manusia. Manusia berhak hidup."

__ADS_1


Sanubari benar-benar tidak tega membiarkan mereka pingsan dalam kereta yang katanya akan ditabrak. Entah apa jadinya bila mereka benar-benar ditinggalkan. Anki dan Abrizar masih menunggu.


Melihat niat Sanubari itu, hati Anki tergerak. Dia melepaskan tangan Abrizar, hendak membantu Sanubari. Belum sempat niat itu terwujud, bunyi hantaman keras terdengar. Badan kereta berguncang, kereta terdorong mundur. Hingga akhirnya, gerbong-gerbong yang saling tertaut keluar dari rel, menggelepar bak belut terangkat dari air.


Sisi luar kereta menghantam dinding lorong dengan sangat keras mengakibatkan sebagian kaca retak, dan sebagian lainnya pecah berhamburan. Hal serupa terjadi pula pada kereta di sisi lain di mana lebih banyak orang berada. Semuanya histeris, kalang kabut dengan guncangan yang tiba-tiba.


Sang masinis gemetar hebat. Pasalnya, tidak ada peringatan pada layar navigasinya. Lampu merah pun tidak menyala. Layar pun hanya menunjukkan kereta yang dikendalikannya. Sama sekali tidak ada kereta lain yang melaju dalam satu jalur.


Dia sampai mengira sedang mengantuk ketika melihat setitik cahaya kecil dari kejauhan. Awalnya, dia mengira itu cahaya dari peron terdekat. Namun, tidak seperti itu. Sang masinis mengerjapkan mata berulang. Dia tidak menduga akan ada kereta lain di depan. Mode darurat telah diaktifkan. Sayangnya, pengereman tidak berhasil tepat waktu


Dua moncong ular besi itu saling seruduk, mendorong satu yang tak lagi bergerak. Tumbukan keras itu menciptakan percikan api.


***


Teman-teman yang paham tentang perkeretaan, harap beri saran di kolom komentar, atau DM saya di Instagram!


Saya butuh teman diskusi untuk menyempurnakan episode ini. Teman-teman pembaca lain bila menemukan kesalahan dan memiliki saran, mohon jangan sungkan ujtuk menyampaikannya, ya!


Terima kasih, Semua!


Di sini saya selalu menanti banyak komentar dari kalian.

__ADS_1


__ADS_2