
Tinggal delapan orang dalam gerbong dimana Sanubari berada. Tujuh pria dan satu perempuan. Mereka saling berkelahi dalam ruangan yang sempit. Masing-masing dari Sanubari dan Mitsuki menghadapi satu lawan.
Tersisa satu pria bermasker. Pria itu mencoba menyeret Anki. Gadis itu melakukan perlawanan. Namun, dia kalah tenaga.
Pria itu mengangkat tubuh Anki dang memanggulnya. Anki pun terus berteriak serta memberontak. Abrizar berdiri. Karena menghalangi jalan, pria bermasker pun mendorong dengan tangannya yang bebas sambil menyuruhnya untuk minggir.
Abrizar menangkap tangan yang menyentuhnya. Dari posisi ibu jari, Abrizar tahu itu tangan kanan. Yang artinya, Anki tidak di sana.
Abrizar menarik tangan itu, menendang betis pria bermasker hingga kehilangan keseimbangan. Abrizar juga memperkirakan posisi Anki untuk menangkapnya. Sesuai prediksinya, pria itu menimpanya. Dia pun berhasil memeluk Anki. Akan tetapi, pria bermasker belum melepaskan rengkuhannya.
Abrizar menendang. Sayang, tendangannya ditangkap pria bermasker, membuatnya Ambruk ke belakang. Punggung Abrizar menghantam lantai dengan sangat keras. Lebih menyakitkan lagi, Anki menindihnya. Termasuk pria bermasker yang masih memegangi Anki.
Tidak jauh dari mereka, Sanubari memegang pedang pendek atau yang lebih dikenal dengan tantou. Panjangnya hanya tiga puluh centimeter dan tidak seberat katana yang dipakainya di ujian masuk Onyoudan, sehingga Sanubari masih bisa memakainya layaknya mengayunkan pisau. Dia menggunakan tantou itu untuk menangkis tantou lain yang lebih pendek. Setelah Sanubari merebut yang pertama, pria bermasker mengeluarkan tantou sepanjang lima belas centimeter dari balik rompi hitamnya.
Bunyi gesekan dua benda tajam dan dentingan sesekali mengganggu telinga. Sanubari berkelit sana sini untuk menghindari tusukan, sampai akhirnya dia berhasil menangkap pergelangan tangan pria bermasker. Dia menekan pergelangan tangan sekuat tenaga. Tantou terjatuh dari genggaman. Sanubari menendangnya. Tantou tersebut menancap pada kursi kereta.
Selesai mengempaskan tantou, tendangan Sanubari berikutnya tertuju pada perut pria bermasker. Pria tersebut termundur sampai menabrak rekannya sendiri yang sedang beradu jurus dengan Mitsuki. Nyaris saja Mitsuki juga terkena. Lelaki itu berhasil melompat ke atas ursi tepat waktu.
Duapria bermasker jatuh tersungkur. Mitsuki menoleh. Manik matanya menangkap Sanubari yang berbalik badan. Remaja itu melempar keluar tantou yang dipegangnya. Sontak saja Mitsuki membelalakkan mata.
"Apa bocah itu bodoh? Dapat senjata, bukannya digunakan untuk melukai lawan, malah dibuang begitu saja," batinnnya tak habis pikir. Andaikan itu dirinya, Mungkin Mitsuki telah menggunakannya untuk menusuk punggung atau bagian tubuh lain lawan.
Sanubari tidak melakukan semua itu. Remaja tersebut menggunakan tangan kanannya untuk memiting pria bermasker. Sementara tangan kirinya memegang tangan kiri pria bermasker supaya bisa terlepas dari Anki. Dia menarik tubuh pria bermasker dari keduanya.
"Kak ABri, bawa Anki pergi! Nanti aku akan menyusul setelah membuat orang ini pingsan," ucap Sanubari seraya tersenyum.
Dia masih ingat nasihat Abrizar waktu di Italia. Kala itu, ABRIzar berkata, "... jika bisa melumpuhkan, maka lumpuhkan terlebih dahulu, baru kabur! Lari itu hanya membuang-buang tenaga ...."
Dia berpikir perkataan Abrizar itu ada benarnya, dan saat ini dia merasa mampu. Dia akan membuat orang-orang ini tidak berdaya supaya mereka bisa pulang dengan santai lagi.
Mitsuki melemparkan pandangan ke arah lain. Kakinya melompat, tangan telulur pada tantou yang mengoyak busa kursi. Dalam satu tarikan ringan, telapak itu mencabutnya. Seentak kaki berikutnya, Mitsuki menghalangi dua pria bermasker yang mulai bangkit.
__ADS_1
Anki dan Abrizar bangkit. Saling bergandengan, keduanya berjalan cepat keluar gerbong. Anki menuntun Abrizar menuju gerbang tiket.
Jarak mereka masih agak jauh. Kendati demikian, Abrizar tahu ada beberapa orang berdiri di arah yang mereka tuju. Dia bisa mendengar percakapan mereka. Karenanya, lelaki itu mengeratkan genggaman pada tangan Anki, memperlambat langkah.
Dari arah yang berlawanan, pria-pria berpakaian serba hitam menatap ke arah datangnya Abrizar dan Anki. Salah satu dari mereka menatap ponsel dan Anki berulang kali secara bergantian. Sementara satu lagi yang berdiri tepat di sebelah mesin otomatis gerbang tiket berbicara.
"Hoka no bijin ga kita nda. Chou kawaii!" katanya memandang gadis cantik lain yang datang. Gadis sangat imut menurutnya itu tidak lain adalah Anki.
"Are wa Shiragami Anki da. Machigainai," ucap pria pemegang ponsel mantap. Dia sangat yakin gadis yang berjalan ke arah mereka itu adalah orang yang mereka cari.
"Sou ka?"
"Ima sugu tsukamou!" Pria pemegang ponsel mengajak yang lain untuk segera menangkapnya.
"Kanojo wa Koko e aruitekuru ndarou? Tsuku made mattara ...," pria yang satunya malah menyarankan untuk menunggu karena gadis itu berjalan ke arah mereka, tetapi lelaki itu mendadak menelengkan kepala saat Anki dan Abrizar tiba-tiba berhenti, "are? Nande aitsura totsuzen tomadotta?"
Anki pun sama bingungnya dengan tindakan Abrizar. Dia pun menanyakan pertanyaan yang sama, "Kenapa mendadak berhenti?"
"Adakah jalan keluar selain lewat sini?"
"Jalan ini tidak aman," ungkap Abrizar yang baru saja mengetahui niat dua pria di dekat gerbang tiket. Abrizar tidak paham isi pembicaraan mereka yang diucapkan dalam bahasa Jepang. Hanya dua kata yang diketahuinya—nama Anki. Itulah yang membuat instingnya berkata bahwa mereka harus menjauh.
Anki menatap ke arah gerbang tiket. Dia memang melihat dua pria bermasker. Namun, keduanya memakai seragam petugas stasiun. Dia juga mengamati sekitar. Tidak ada yang aneh.
"Ayo!" desak Abrizar sedikit menarik mundur.
Keduanya pun beralih haluan. Sepembalikan badan kemudian, perintah untuk mengejar pun terkumandangkan. Begitu kerasnya, sampai Anki bisa mendengarnya. Keduanya spontan berlari.
"Tiarap!" seru Abrizar tepat saat lamat-lamat tarikan pelatuk dihantarkan ke membran tinfaninya.
Tak berjarak detik, desingan peluru melintas di atas mereka. Maraton belum dimulai, tetapi jantung Anki sudah terpacu terlebih dahulu. Derap lebih dari dua pasang terdengar mendekat. Tidak hanya itu, letupan-letupan kembali meraung.
__ADS_1
Abrizar melepaskan tangan dari Anki. Dia menggerakkan tongkatnya seraya berkata, "Lari dan cari tempat berlindung!"
Tongkat bergerak layaknya perisai, menutup sudut tembak. Denting-denting nyaring pun berguguran. Dari sisi pengejar, teriakan diserukan.
"Utsu na! Kanojo ga kizutsuitara kaichou wa okochau kamo." Lelaki yang lebih bijak di antara mereka, berharap rekan-rekannya bertindak lebih berhati-hati dengan mengatakan itu.
Mereka diperintahkan untuk membawa Anki. Bukan untuk melukainya. Sudah tentu ketua mereka akan marah bila kulit mulus sang gadis tergores. Apalagi sampai menghilangkan nyawanya. Kemungkinan besar nyawa mereka yang harus dijadikan penebus bila itu terjadi. Probabilitas semacam itu tak terelakkan.
"Cepat pergi!" Sekali lagi Abrizar memperingatkan.
"Tapi ...." Anki tidak bisa meninggalkan pria difabel begitu saja. Melihat kondisi fisik pria di sebelahnya, Anki tahu pria ini akan kesulitan kabur bila ditinggalkan.
"Aku akan menyusul. Kita tidak bisa terus berlari sambil menghindari peluru seperti tadi. Aku akan sedikit menangani mereka. Sekarang, cepat pergilah!" Pesan Abrizar itu sudah cukup panjang. Dia tidak ingin memperpanjangnya lagi.
Ini bukan waktunya untuk ceramah panjang lebar. Keduanya hanya sedikit beruntung karena di kubu pria bermasker juga sedang terjadi sedikit perdebatan. Abrizar berharap Anki bisa mengerti.
Abrizar harus melepaskan Anki jika ingin bergerak bebas. Misil-misil tidak lagi diarahkan selaras dengan bahu setelah mereka berusaha menghindarinya dengan merunduk. Mereka bisa selamat tanpa luka pun karena tongkat Abrizar.
Sorot mata Anki menyiratkan ketidak relaan. Namun, lelaki di sebelahnya tidak membiarkannya memilih. Dengan sangat terpaksa, Anki meninggalkan Abrizar.
"Ara, kotori ga icchau nda. Dousuru, Tarou Aniki?" Pria bermasker yang suka bertanya memandang punggung Anki. Dia menyayangkan kepergian burung kecil yang menjadi buruan mereka itu.
Semua orang berhenti menembak. Peringatan pria yang selalu memperhatikan foto Anki melalui ponsel adalah suatu keharusan. Dialah Tarou—senior nomor satu dari lima belas elite.
Sementara yang paling banyak bicara dan suka bertanya adalah Jirou—si nomor dua. Tentu itu bukan nama asli mereka. Hanya saja, seperti itulah mereka dipanggil saat terjun ke lapangan. Sesaat kemudian, Jiro beralih melihat Abrizar yang telah berdiri.
"Saa, ima wa utte mo ii no kana?" Menyeringai, Jiro berbasa-basi dengan bertanya boleh atau tidaknya menembak lagi.
Tarou menghela napas. Dia pun membiarkan Jiro melakukan sesuka hatinya. "Suki ni shite!"
"Kikoeru KA, Minna?" seru Jirou yang bermakna, 'Apakah kalian semua mendengarnya?'. Sebuah isyarat untuk memulai tembakan lagi.
__ADS_1
Tempat ini sangat sepi. Mereka tidak perlu takut terkena hukuman akibat salah sasaran. Misi mereka adalah membawa satu gadis dan melenyapkan penghalang. Dengan kata lain, menghabisi pria di hadapan mereka bukanlah pelanggaran. Toh dia bukan Shiragami Eiji sang Kartu As.
Primer-primer menyala satu demi satu, merangsang propelan untuk menciptakan ledakan. Puluhan proyektil pun meninggalkan Laras, terbang bersama momentum menuju Abrizar.