Santri Famiglia

Santri Famiglia
Lari


__ADS_3

"Perché vinora non hai avuto un buon padrone di casa, ma in qualche modo mi sono innamorato di questo a colpo d'occhio."


(Karena selama ini tidak ada host-mu yang bagus, tetapi entah mengapa aku langsung menyukainya dalam sekali pandang.)


Sweeta memandangi Sanubari. Sanubari yang merasa tidak enak diperhatikan pun menunduk. Sepertinya dirinya yang beranjak remaja memancarkan aura menawan. Dengan mudahnya lawan jenis terpikat padanya meski hanya sekilas pandang.


Sweeta kembali melihat pada Madam Belleza dan Melanjutkan kalimatnya, "Ne aggiungo di più se è di meno. Che ne dici di quindici volte?"


(Akan kutambah jika kurang. Bagaimana kalau lima belas kali lipat?)


"Questo è un prezzo molto alto."


(Itu harga yang sangat tinggi.)


"Ma a una condizione."


(Tetapi dengan satu syarat.) yang


"Cosa c'è? Forse posso considerare."


(Apa itu? Mungkin aku akan mempertimbangkannya.


Sweeta tersenyum. Dia menunjuk Sanubari yang berdiri di sebelah Belleza sambil berkata, "Voglio che sia esclusivo solo per me per quest'anno. Se sara soddisfacente, forse lo estenderò."


(Aku ingin dia ekslusif hanya untukku selama setahun ini. Jika memuaskan, mungkin aku akan memperpanjangnya.


"Aku? Ekslusif? Sebenarnya apa yang tante-tante ini bicarakan? Hah, aku tidak mengerti," batin Sanubari yang hanya bisa terdiam.


Arah pembicaraan mereka benar-benar tidak bisa dipahami oleh otak Sanubari. Kedua wanita yang bersamanya terlihat seperti ibu-ibu di pasar yang sedang menawar dagangan. Sanubari ingat bahwa Sanum dulu juga sering melakukannya. Biasanya Sanum akan menawar sampai mendapatkan harga termurah supaya besoknya mereka tidak kelaparan. Namun, anehnya wanita bergaun hitam ini malah menawar dengan harga yang lebih tinggi.


Sementara itu, Belleza merasa ini adalah penawaran tertinggi yang bisa ia dapat. Dengan pelipat gandaan sebanyak itu, klub yang ia kelola sudah untung besar. Tidak perlu lagi memanjang-manjangkan negosiasi. Mereka sepakat. Sweeta mentransfer sejumlah uang ke rekening klub lalu mengajak Sanubari pergi.


"Aspetta un attimo, zia! Ma devo lavorare qui."


(Tunggu dulu, Tante! Tapi saya harus bekerja di sini.)


Sanubari memandang Belleza kebingungan. Ia membutuhkan pekerjaan di tempat ini sekarang untuk bertahan hidup. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan sekarang.


"Zia, non mi dai un lavoro adesso?"


(Bibi, bukankah Anda bilang akan memberikan pekerjaan kepada saya?)


"Sì, ci stai lavorando adesso. Vai!"


(Iya, kau bekerja padanya sekarang. Pergilah.)


Sweeta membawa Sanubari pergi. Sebelumnya Sanubari mengambil barang-barangnya yang ia tinggalkan di ruangan staf.

__ADS_1


"Dove stiamo andando?"


(Kita mau kemana?"


"Divertirsi."


(Bersenang-senang.)


"Ma sto con la zia per lavoro, non per divertimento."


(Tapi saya di sini untuk bekerja. Bukan untuk bersenang-senang.)


"Il tuo lavoro è divertirti con me. Ti pago per questo."


(Pekerjaanmu adalah bersenang-senang denganku.)


"Oh, ci sono persone che sono pagate per divertirsi."


(Oh, jadi seseorang bisa dibayar hanya untuk bersenang-senang, ya?)


Bermain tetapi dibayar, menurut Sanubari itu profesi yang harus dimasukkan ke daftar pekerjaan favoritnya. Siapa yang tidak mau jika bisa menghasilkan uang dengan mudah semudah bermain.


Dulu, peringkat pertama pekerjaan yang ingin ia lakukan diduduki profesi sebagai penggali kubur. Kemudian, profesi tersebut digeser dengan profesi sebagai atlet anggar dan renang. Kini muncul lagi kandidat profesi baru yang menempati posisi pertama. Cita-cita Sanubari masih sering berubah layaknya remaja pada umumnya.


Sweeta merasa terhibur dengan perkataan Sanubari. Host lain biasanya akan langsung merayunya dan mengatakan hal-hal vulgar jika ia ajak bersenang-senang. Akan tetapi, jawaban Sanubari terdengar menyegarkan di telinga Sweeta. Remaja itu bahkan sama sekali tidak menggodanya. Sweeta semakin mengeratkan pelukan ke lengan Sanubari.


"Sei cosi divertente."


Sweeta tertawa. Mereka terus berjalan sampai ke sebuah lobi hotel. Sweeta memesan sebuah kamar di lantai dua puluh. Pegawai hotel membimbing mereka ke kamar yang telah dipesan lalu pergi.


Sweeta membuka pintu dengan kartu kamar yang ia terima. ia mengajak Sanubari masuk lalu bertanya, "Vogliamo fare un bagno insieme?"


(Mau mandi bersama?)


Dengan malu-malu, Sanubari menjawab, "Ho fatto il bagno."


(Aku sudah mandi.)


Bagaimana mungkin Sanubari bisa mandi bersama wanita dewasa? Apalagi mereka tidak memiliki hubungan sama sekali. Jelas itu adalah hal terlarang yang tidak boleh ia lakukan.


Bergaul dengan orang dewasa itu merepotkan. Mereka seenaknya mengatakan candaan memalukan. Sanubari menghela napas dalam hati.


Sweeta sedikit kecewa mendengar ajakannya ditolak. Akan tetapi, itu bukan masalah besar. Jika tidak bisa hari ini, mungkin dia bisa mengajaknya besok.


"Peccato. Va bene allora. Aspetta un attimo!"


(Sayang sekali. Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar, ya!)

__ADS_1


Sweeta meninggalkan Sanubari ke kamar mandi. Sanubari mengamati kamar hotel yang disewa Sweeta. Kamarnya sangat luas. Di seberang ranjang terdapat dinding kaca yang menyajikan indahnya kota malam bersalju.


Sanubari masih belum tahu apa pekerjaannya. Di kamar ini tidak terlihat sesuatu yang bisa dikerjakan.


"Mungkinkah pekerjaanku akan dimulai besok dan sekarang kami kemari hanya untuk istirahat?" pikir Sanubari, "mungkin memang seperti itu."


Namun, di sana hanya ada satu ranjang. Tidak sopan rasanya jika ia tidur di tempat itu. Sedangkan yang membayar saja Sweeta. Sanubari berjalan ke sofa. Ia meletakkan tasnya ke meja lalu duduk.


Awalnya ia ingin menunggu Sweeta selesai mandi. Mungkin saja masih ada yang Sweeta ingin diskusikan tentang pekerjaannya esok. Namun, Sanubari tertidur sebelum Sweeta selesai mandi.


Tubuhnya terlalu lelah setelah penerbangan antar negara, seharian berkeliling danau Garda gunna mencari alamat yang tidak ia ketahui dimana pastinya serta melarikan diri dari rumah. Tubuh dan pikirannya benar-benar lelah. Menemukan tempat nyaman nan tenang membuatnya seketika jatuh dalam alam bawah sadar.


Sweeta bersenandung senang begitu keluar dari kamar mandi. Ia mencari keberadaan Sanubari yang ternyata duduk di sofa sambil menyangga kepala, dihampirinya pemuda yang tengah memejamkan mata.


Sweeta tersenyum. Sanubari terlihat lucu dengan mulut yang menganga. Air liurnya sampai mengalir dari sudut bibir. Benar-benar terlihat seperti bocah cilik yang sedang tidur. Namun, itu tidak mengurangi keindahan wajah maskulin yang mulai terbentuk sempurna.


Memandangnya dari dekat membuat Sweeta semakin menyukainya, dicoleknya pipi Sanubari. Namun, Sanubari masih tetap terlelap. Sweeta membuka kancing kemeja Sanubari. Matanya berbinar melihat otot perut yang terbentuk sempurna. Remaja di hadapannya seakan tidak memiliki kekurangan sama sekali.


Sanubari merasakan ada yang meraba tubuhnya. Merasa terganggu, ia pun memaksa mata beratnya untuk terbuka. Samar-samar terlihat bayangan wanita berambut panjang semakin mendekat. Spontan ia angkat tangan kiri lalu didorongnya mundur wajah wanita itu.


Mata Sanubari terbelalak. Sweeta duduk di pangkuannya hanya dengan jubah mandi. Dengan gugup, Sanubari bertanya, "Zia cosa vuoi?"


(Tante mau apa?)


Sweeta memegang tangan Sanubari yang menutupi wajahnya. Padahal sedikit lagi dia bisa mencium Sanubari, tetapi telapak tangan kekar remaja itu mendadak menjadi tembok penghalang di antara mereka.


"Certo che mi sono divertito con te, ma prima sei andato a letto."


(Tentu saja bersenang-senang denganmu. Tapi kau malah tidur duluan.)


Penampilan wanita di hadapan Sanubari sama sekali tidak baik untuk jantung dan pikirannya yang masih polos. Hatinya berkata bahwa ia harus pergi dari tempat itu. Sanubari mencoba menolak dengan halus. Namun, Sweeta memaksa.


Mau tak mau Sanubari harus berbuat kasar pada Sweeta, didorongnya wanita itu hingga terjengkang di lantai. Buru-buru disambarnya ransel lalu melarikan diri dari tempat itu. Sanubari menunggu pintu elevator terbuka dengan cemas.


Mata dan kepalanya bergerak mengamati jalan arahnya datang, takut jikalau wanita tadi menyusulnya. Perasaannya seberantakan penampilannya saat ini.


Sesaat kemudian elevator terbuka. Bergegas Sanubari memasukinya untuk turun ke lantai satu. Elevator langsung bergerak ke lantai tujuan tanpa hambatan. Satu dentingan kemudian, pintu terbuka.


Sanubari kembali berlari melewati lobi sepi. Hawa dingin kembali menyergap, menembus dada Sanubari ketika ia keluar dari gedung bertingkat itu. Saat itulah Sanubari sadar bahwa kemejanya terbuka. Dengan tangan gemetar ia mengancingkan kembali kemejanya sambil berjalan cepat. Hampir saja ia diperkosa oleh seorang wanita.


Salju masih menghujani daratan lengang. Tidak ada lagi kendaraan yang lalu lalang kecuali traktor salju yang menyusuri aspal, membersihkan tumpukan salju yang setebal tiga centimeter.


Lari dan lari. Sepertinya hari ini adalah hari pelarian bagi Sanubari. Kesialan demi kesialan terus saja mengejarnya.


Sanubari terjatuh, terpeleset salju yang mulai membeku menjadi es. Namun, ia segera bangkit untuk melanjutkan langkah tak tentu arah. Ia memelankan langkah. Toh dia sudah berada beberapa blok dari tempatnya semula.


Sanubari melihat jajaran kursi kosong di swalayan seberang jalan. Lekas ia percepat kakinya untuk memasuki swalayan kecil yang buka dua puluh empat jam.

__ADS_1


"Hangat," lirih Sanubari begitu berada di dalam.


Ia langsung menuju bangku kosong di salah satu sisi swalayan, diletakkannya ransel ke atas meja lalu duduk. Akhirnya Sanubari menemukan tempat istirahat sementara yang gratis. Tubuhnya terlalu letih untuk terjaga. Remaja itu pun tertidur sambil memeluk ranselnya.


__ADS_2