
Dari Arah kedatangan internasional, seorang pria berambut putih berjalan. Dia masih tergolong muda—usianya baru genap dua puluh tahun, tetapi seperti itulah warna alami rambutnya. Matanya yang sebiru samudra menyelami dataran bandara, mencari figur yang mungkin saja dia kenal sambil menempelkan ponsel pintar ke telinga.
"Tuan Demyan!"
Seorang pria berpenampilan sangat rapi berseru sambil berlari kecil, menghampiri pria berjaket dengan gambar tengkorak es yang terkombinasikan secara apik bersama huruf LC pada bagian punggung. Tepat saat itu, sambungan telepon ditutup. Pria itu yakin tidak salah orang.
Pria berjaket jin yang merasa terpanggil pun menghentikan langkah, berbalik badan. Orang tidak dikenal berdiri di sana. Tanpa bertanya, Demyan bisa menebak siapa yang baru saja menyerukan namanya.
"Tidak kusangka bahasa nasional Italia telah berubah menjadi bahasa Indonesia." Demyan tertawa sambil mengembalikan ponsel pintar ke tas selempang kecil.
"Tidak, Tuan. Bahasa kami masih sama. Hanya saja, kami diwajibkan menguasai bahasa Indonesia. Maaf, saya tidak bisa berbahasa Rusia. Jadi, saya putuskan untuk berbicara dengan Anda dalam bahasa Indonesia karena katanya Anda sangat mahir dalam gahasa ini," jawab pria itu.
"Oh, begitu. Bos besar aneh sekali. Sejak kapan dia tergila-gila dengan bahasa Indonesia sampai semua orang disuruh belajar bahasa Indonesia? Apa dia ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional?"
"Sebenarnya ini gara-gara Bos Singkong Kecil."
"Bos Singkong?"
Demyan tidak mengerti apa hubungannya Bos Singkong Kecil dengan tuntutan wajib berbahasa Indonesia yang diterapkan selama kurang lebih lima tahun ini di organisasinya yang berpusat di Rusia. Ia belum pernah mendengar tentang Bos Singkong Kecil ini sebelumnya. Jika Gafrillo sebagai bos besar yang disegani seluruh dunia saja bisa tunduk kepada Bos Singkong Kecil, itu artinya sosok ini adalah sosok yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
"Karena inikah aku dikirim kemari?" batin Demyan.
"Ceritanya panjang. Bagaimana bila kita bercerita sambil berjalan? Anda pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."
"Oke. Aku sangat ingin mendengar tentang Bos Singkong Kecil ini. Sepertinya menarik."
__ADS_1
"Mau saya bawakan kopernya?"
"Tidak perlu."
"Mari ikuti saya kalau begitu!" ajak pria itu yang lantas diikufi Demyan sambil menyeret koper.
Pria itu pun menjelaskan siapa Bos Singkong Kecil yang dimaksud alias Sanubari. Kisah ini dimulai sekitar tujuh tahun yang lalu. Aeneas terkadang memang membawa beberapa anak buahnya untuk sesekali bertandang ke rumah. Di sana, Aeneas memperlihatkan Sanubari.
Mereka tidak diperintahkan untuk mendekat, tetapi anak itu dengan sendirinya mendekat ketika menyadari kehadirannya. Sanubari dengan keceriaannya mengajak mereka bermain, memaksa mereka memakan dan membeli singkong keju. Terkadang mereka juga harus mendengar Sanubari berbicara dengan bahasa Italia yang sulit dipahami. Hal-hal tersebut terjadi kepada siapa pun yang pernah singgah di vila danau Garda tanpa terkecuali.
Sampai suatu ketika Sanubari berkata, "Ini tidak adil. Aku saja mempelajari bahasa kalian. Seharusnya Paman-paman ini juga mempelajari bahasaku. Kita 'Teman harus saling memahami, iya 'kan?"
Kebetulan Aeneas mendengar percakapan putra kesayangannya itu bersama para bawahannya. Sejak saat itulah maklumat untuk mempelajari bahasa Indonesia dikumandangkan. Sanubari juga pernah membalas pesan berbahasa Rusia dari afiliasinya. Isi pesan tersebut adalah perintah supaya berbahasa Indonesia karena merepotkan jika harus mempelajari banyak bahasa.
Yang awalnya hanya bawahan Aeneas saja yang diwajibkan belajar bahasa Indonesia. Setelah peristiwa itu, hampir semua asosiasi di bawah Aeneas diwajibkan pula menguasai bahasa Indonesia jika ingin terus berkomunikasi. Usut punya usut, anak kecil itu telah mengirim pesan serupa kepada semua kontak tokoh penting yang tersimpan di ponsel Aeneas.
Insiden pesan itu membuat Kelana dan Aeneas memijat kening. Tidak ada yang protes sih. Mereka bahkan membalas pesan tersebut dan menyatakan bahwa akan dengan suka rela menerapkan saran dari Sanubari yang dianggap sebagai Aeneas. Akan tetapi, Aeneas khawatir Sanubari akan sembarangan mengirim pesan lagi. Perintah untuk menjauhkan Sanubari dari ponsel pintar. Namun, perintah wajib berbahasa Indonesia yang terlanjur tersebar tidak dihapuskan.
Demyan tercengang. Bos Singkong Kecil yang sempat ia kira sebagai sosok tertinggi di atas bos besar rupanya hanya seorang bocah yang tiga tahun lebih muda darinya. Ia tidak menyangka bahwa pesan iseng dari seorang anak kecil bisa membawa perubahan besar. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, pesan tersebut mampu membuat hampir seluruh warga dunia bisa berbahasa Indonesia. Khususnya mereka dari dunia bawah.
Ini adalah informasi mengejutkan sekaligus menyegarkan. Sebagai seorang tokoh besar, Aeneas tidak pernah mengoar-ngoarkan tentang keluarganya di media sosial. Berita tentang ia memiliki istri dan anak pun belum diketahui banyak kalangan, kecuali mereka yang pernah berkonflik dengannya dan para bawahan yang bermarkas di Italia.
*****
Malam harinya, Damiyan menemui Aeneas. Mereka duduk saling berhadapan di salah satu gedung tertinggi di Verona.
__ADS_1
"Aku hanya meminta anak buah terbaik. Tidak kusangka malah mendapatkan kandidat ketua berikutnya," ucap Aeneas sambil meletakkan gelas minumannya kembali.
"Ah, sepertinya hanya jus buah biasa. Kupikir wine," batin Damiyan meneguk minumannya lalu menjawab, "Kata kakek, Anda meminta orang yang fasih berbahasa Indonesia, mudah bergaul dengan anak muda, cekatan dan sangat bisa diandalkan. Hanya aku yang sesuai dengan kriteria itu. Karena itulah aku dikirim ke sini."
Damiyan tersenyum penuh percaya diri sambil memperhatikan segelas minuman di tangan. Ia penasaran dengan apa yang baru saja diminumnya. Ini kali pertama kalinya ia merasakan minuman semacam ini.
"Kenapa dilihati terus minumannya? Tidak suka?" tanya Aeneas yang memperhatikannya.
"Ah, bukan begitu. Rasanya sangat menyegarkan dan enak. Apa ini jenis wine terbaru?"
Aeneas tersenyum lalu menjawab, "Itu hanya sari buah naga biasa. Aku sudah lama tidak mengonsumsi minuman beralkohol."
Kebiasaan itu telah ia hentikan sejak Sanum dan Sanubari tinggal bersamanya. Pernah sekali ia menyimpan banyak stok di rumah. Namun, Sanubari yang tidak tahu apa-apa tanpa sengaja meminumnya. Alhasil, Sanum membuang semua persediaan yang ada. Setiap hari wanita itu menceramahi, melarangnya menyentuh miras. Aeneas mematuhi keinginan istrinya itu tanpa protes lagi.
"Oh." Damiyan masih memandangi minumannya.
"Lan, apa kau sudah memberikan berkasnya?"
"Sudah, Tuan Aeneas. Saya sudah mengirim datanya ke ponsel Damiyan. Saya juga membawa berkas cetaknya. Ini!" Kelana menyerahkan sebuah map kepada Damiyan.
Damiyan meletakkan gelasnya lalu membuka isi map tersebut.
"Tugasmu adalah menjaga anak itu. Ikuti kemana pun dia pergi, awasi dari kejauhan, jangan sampai ketahuan! Bantu dia saat terdesak saja! Selebihnya, biarkan dia bertindak sesuka hati dan mengatasi masalahnya sendiri," jelas Aeneas dengan serius.
Damiyan manggut-manggut mendengar perintah Aeneas. Ia membaca data dan melihat foto Bos Singkong Kecil yang baru saja ia dengar tadi pagi. Foto itu sangat mirip dengan Aeneas meskipun warna rambut keduanya berbeda.
__ADS_1