
Sai membuka gorden Yang menutupi dinding kaca. Dinding kaca tersebut jarang dibuka menjelang senja. Sebab, dinding tersebut menghadap ke barat. Cahaya menyilaukan akan memasuki ruangan bila kelambu disibak sepenuhnya.
Namun, hari ini dia membukanya lebar-lebar karena Sanubari ingin menyaksikan keindahan matahari tenggelam. Sanubari berdiri tepat di depan dinding kaca ditemani Anki sejak langit masih keemasan sampai kegelapan merangkak menutupi cakrawala sepenuhnya.
"Anki, sampai kapan kau mau berdiri di sana? Mengapa kita tidak langsung makan ini saja? Aku tidak tahan lagi. Ini sangat menggoda," celoteh Kouhei menghirup dalam-dalam masakan Anki yang terletak di meja.
Tangannya bergerak ke depan, membuka kedua bungkusan tas besar. Kouhei memeriksa isinya. Anki menoleh.
"Jangan sentuh! Tidak ada yang boleh makan sebelum kak Eiji datang!" sergah Anki saat mengetahui tindakan Kouhei.
"Aku hanya memeriksa saja," kilah Kouhei yang lantas menjauhkan tangannya, "ngoomong-ngomong, di mana sake, gin, Vodka, atau winenya?"
"Tidak ada. Kak Kou makan saja di luar kalau mau minum-minum. Aku ke sini bukan untuk mengadakan pesta alkohol."
"Tapi, bukankah kau bilang ini perayaan? Perayaan kurang seru tanpa sake."
"Perayaan ulang tahun kakak bukan perayaan seperti itu. Kak Kou bisa pergi dan mencari pesta sesuai selera Kak Kou sendiri kalau mau. Lagipula, Kak Kou tidak diundang di sini."
"Hey! Aku atasan kakakmu. Seharusnya kau bersikap lebih hormat padaku."
"Atasan kakak, bukan atasanku," ucap Anki tersenyum.
__ADS_1
"Tetap saja kau harus menunjukkan sikap hormat padaku. Aku lebih tua darimu," kekeh Kouhei tak mau kalah.
"Wah-wah, ada apa ini pada kumpul ramai-ramai?" sahut Renji yang baru datang berjalan ke arah mereka.
Sanubari dan Anki menoleh. Mereka melihat Eiji datang bersama Renji. Remaja itu langsung berlari kecil menyambut Eiji.
"Kak Eiji, selamat ulang tahun! Maaf, aku tidak membawa apa-apa. Andai aku tahu hari ini hari istimewa kakak, pasti sudah kusiapkan hadiah," ucap Sanubari seraya menyalami Eiji.
Detik berikutnya, Anki memeluk kakaknya sembari mengucapkan ulang tahun. Semua orang memandang Eiji yang diserbu Anki dan Sanubari.
"Sudah kubilang, jangan pernah kemari lagi! Mengapa masih juga membangkang?" hardik Eiji pada adiknya.
"Kakak sendiri tidak pernah mau mendengarkan ku. Jadi, aku tidak punya pilihan lain."
"Aku hanya ingin merayakan ulang tahun Kakak. Apa itu pilihan yang buruk?" Anki melepas pelukan, sedikit mendongak untuk menatap sang kakak.
Sanubari menggandeng tangan keduanya. Dia menginterupsi dan menggelandang mereka. "Berhubung KA Eiji sudah datang, ayo mulai berdoa dan makan-makan!"
"Anki, aku tidak dipeluk juga?" Renji merentangkan kedua tangan yang tentu saja langsung mendapat pelototan dari Eiji.
Renji segera menurunkan tangannya kembali dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. Sai duduk tenang di sebelah Abrizar. Kouhei terus berisik, menyuruh Anki segera memulai acara.
__ADS_1
Anki mendudukkan Eiji ke sebelah Abrizar, lalu mengeluarkan kue cokelat. Dia menyalakan lilin angka dua puluh dua di atas kue bertuliskan. 'Otanjoubi Omedetou, Eiji nii Chan!'. Yang artinya, 'Selamat Ulang Tahun, Kak Eiji!'. Anki juga tidak pernah lupa menuliskan tanggal kelahiran sang kakak—dua puluh dua April pada kue.
Ruangan dibiarkan gelap sesaat selama lilin dinyalakan. Bersama-sama, mereka menyanyikan lagu ulang tahun dalam bahasa Jepang. Namun, lagu itu tidak pernah selesai karena Eiji selalu meniup lilinnya di larik ke tiga lirik.
"Biar cepat." Selalu alasan itu yang Eiji katakan tiap tahunnya.
Dahulu sekali, Eiji bahkan meniupnya saat semua orang baru mengeluarkan suku kata pertama. Alhasil, Anki, ibu, dan ayahnya memprotes. Sejak saat itu, dia membiarkan mereka bersenang-senang dengan lagu itu terlebih dahulu sebelum meniupnya.
Eiji mengambil pisau kue yang sudah disiapkan. Dia memberikan potongan pertama untuk Anki.
"Potong saja sendiri kalau kalian mau!" ucapnya setelah memotong untuk dirinya sendiri.
"Ini buat kak Abri saja!" Anki menyerahkan potongan kue pemberian kakaknya pada Abrizar.
"Kok malah diberikan orang lain?" Eiji menoleh ke tangan Anki yang melewatinya.
Dia bahkan melihat Anki menyentuh tangan lelaki disebelahnya. Keduanya tampak dekat, membuat Eiji curiga. Selama ini, Anki tidak pernah mengajak orang luar datang ke kantor Onyoudan untuk turut merayakan ulang tahunnya.
"Aku bisa mengambil lagi untuk diriku sendiri," balas Anki dengan enteng.
"Jangan bilang kau sengaja mengajak pacarmu hari ini untuk mengenalkannya padaku?" Eiji beralih memandang Anki dengan serius.
__ADS_1
Duo Akamizu turut memperhatikan Abrizar. Kouhei memang sempat berkenalan dan mengajak Abrizar mengobrol. Akan tetapi, dia tidak berpikir ke sana.