Santri Famiglia

Santri Famiglia
Diskusi Shiragami


__ADS_3

"Kita baru saja sampai ke Jepang masak harus ke Indonesia?"


"Bukan ke Indonesia, Sanu! Aku yakin yang dia maksud adalah suatu tempat di Jepang."


"Oh, sejak kapan Bali pindah ke Jepang?"


Sanubari mengernyit. Walau Sanubari tidak pernah tamat sekolah, tetapi dia masih ingat pulau-pulau yang bisa dibilang termasuk bagian utama Indonesia. Meskipun Sanubari tidak tahu pasti dimana letak Bali, dia yakin tidak salah ingat.


"Coba pikir saja secara logika! Dari sini ke Indonesia sekurang-kurangnya butuh enam jam. Ah, aku lupa pastinya berapa," ungkap Abrizar sambil terus berjalan.


Keduanya meninggalkan kuil Shinto karena tempat tersebut sudah sangat sepi. Lelaki yang Dimata-matai sudah tak terlihat. Pun jua dengan sang gadis.


"Memangnya sekarang jam berapa?"


"Hm, tunggu sebentar!"


Abrizar membuka tas. Dia mengambil ponsel. Seperti biasa, Abrizar menekan tombol daya dan ponselnya itu akan dengan sendirinya berbicara, "Pukul enam belas lima puluh tujuh."


"Kau dengar sendiri, bukan? Mustahil bisa sampai ke Indonesia malam ini jam tujuh. Dari sini ke bandara saja memakan waktu lebih dari satu jam." Abrizar mengembalikan ponselnya ke tas.


Ia bersyukur hanya ponsel Sanubari yang disita. Setidaknya mereka masih bisa memakai ponsel Abrizar untuk mencari informasi. Keduanya masih belum terbiasa dengan jalanan Jepang. Sementara orang tidak selalu ada untuk ditanya. Mereka masih butuh peta dan ponsel sebagai pembimbing jalan pulang.

__ADS_1


Sanubari mengangguk-angguk. "Terus, bagaimana kita bisa menemukan tempat yang dimaksud Anki?"


"Kita cari WiFi gratis."


"Dimana?"


"Rumah sakit, toserba, atau fasilitas umum lainnya."


"Oh, aku tahu! Kita ke Lawson atau seven eleven saja!" ajak Sanubari, "kayaknya tadi ada di sekitar jalan kemari."


Sementara itu, Shiragami duduk bersimpuh di atas tatami. Di hadapannya ada lelaki tua yang masih berpakaian lengkap khas pendeta Shinto. Tatapan lelaki tua itu mendominasi, seperti menghakimi Shiragami Eiji.


"Itsu soshiki o yameru no ka?" tanya pria tua itu yang sangat ingin Eiji berhenti bekerja di perusahaan tempat Eiji kini.


Eiji terdiam dalam posisi duduk sempurnanya. Berulang kali kakeknya dan Anki meminta hal yang sama, padahal dia melakukan semua ini demi keduanya. Eiji sangat menyayangi Anki dan sang kakek. Hanya mereka keluarganya yang tersisa.


"Yamata to Onyōudan kara deteike! Mada betsu no shigoto ga sagaseru deshou? Koko de sōryo ni natte kagyō o itonamu koto mo dekiru. Karera to nagaku sugoshi sugite komatte hoshikunai nodaga." katanya lagi mendesak Eiji untuk segera keluar dari perusahaan dan memutus hubungan dengan Onyoudan.


Sore wa dekimasen. Ojīchan wa shitte imasu yo ne? Ore wa sōryo ni naritakunai nodesu."


Eiji menolak. Dia tidak bisa meninggalkan Onyoudan dan perusahaan tempatnya bekerja. Dia juga tidak mau dipaksa menjadi penerus sang kakek sebagai kepala pendeta. Menjadi pendeta bukanlah jalannya. Sampai kapan pun keputusannya perihal satu ini tidak akan berubah. Dia bukan Anki yang suka bermain di sekitar kuil dan mengikuti kegiatan yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Nara, yaritaihōdai! Onyōuda n to wa kankeinai kagiri!"


Pria tua itu berusaha menegosiasi. Dia hanya ingin Eiji terlepas dari Onyoudan. Dia tak akan memaksa cucunya itu untuk menjadi pengurus kuil. Pria tua itu mengerti, Eiji masih muda. Pemuda itu masih menginginkan kebebasan.


"Sore wa muri desu. Ojīchan ga nani o iou to, ore wa kangae o kaemasen."


Eiji tetap tidak bisa memenuhi permintaan kakeknya. Andaikan pria tua itu tahu Eiji melakukan ini demi melindungi mereka berdua, tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran sang kakek atau membuat Anki kehilangan keceriaannya.


"Kono Ganko!" gerutu pria tua itu pada sang cucu yang keras kepala.


———©———


Catatan :


"Kapan kau akan keluar dari organisasi itu?"


"Keluarlah dari Yamata dan Onyoudan! Kau masih bisa mencari pekerjaan lain, bukan? Kau juga bisa menjadi pendeta di sini dan menjalankan perusahaan keluarga. Aku tidak ingin kau terkena masalah karena terlalu lama bersama mereka,"


"Tidak bisa. Kakek tahu, bukan? Aku tidak ingin menjadi pendeta."


"Baiklah, lakukan apa pun yang kau mau! Asal jangan lagi berhubungan dengan Onyoudan!"

__ADS_1


"Itu mustahil. Apa pun kata Kakek, aku tidak akan mengubah keputusanku."


"Dasar keras kepala!"


__ADS_2