
"Boleh saja. Hari ini tidak ada agenda apa pun yang terjadwal. Jadi, kita bisa bersantai."
"Hore!" Sanubari senang karena Kelana menyetujui usulannya.
Dia tidak sabar untuk bisa melihat es krim emas raksasa dengan jarak dekat. Sanubari penasaran bagaimana rasanya es krim abadi yang konon tidak pernah meleleh sejak pertama kali dibuat ratusan tahun silam. Tentunya itu adalah bualan Jin belaka yang dimakan mentah-mentah oleh Sanubari. Tidak ada es krim emas di puncak Monas. Itu menjadi PR baru bagi Kelana untuk meluruskannya.
"Mungkin sebaiknya kita makan dulu. Ini terlalu pagi untuk pergi ke Monas," saran Jin.
"Yah, tidak bisa langsung saja, ya?" sahut Sanubari.
"Bisa saja ke sana sekarang tapi kau tidak bisa langsung ke puncak. Gerbangnya belum buka," balas Jin.
"Jin benar, Tuan Muda. Sebaiknya kita cari sarapan dulu." Kelana menyetujui saran Jin.
"Mau makanan Italia atau Indonesia?" tawar Jin.
"Yang penting enak," kata Sanubari.
Sanubari belum mengerti perbedaan makanan Indonesia dan Italia. Lidahnya hanya tahu kata enak. Masakan apa pun itu asalkan bisa dimakan, Sanubari tidak keberatan. Bagi Sanubari, mau asalnya dari mana pun, yang namanya makanan tetaplah makanan.
"Cercheremo prima il cibo. Signor Aeneas, le piacerebbe provare la cucina indonesiana o semplicemente cercare un ristorante italiano?"
(Kita akan cari makanan dulu. Tuan Aeneas mau mencoba masakan Indonesia atau mencari restoran Italia saja?)
Biasanya bila hanya melakukan perjalanan bisnis berdua, Kelana yang akan mengatur segalanya tanpa banyak tanya. Dia sudah cukup paham dengan selera bosnya. Namun, kali ini ada Sanum dan Sanubari. Kondisi berbeda kali ini membuat Kelana harus sesekali meminta pendapat untuk memastikan dia tidak salah ambil tindakan. Meski sebelumnya Aeneas mengatakan untuk memenuhi semua keinginan Sanubari.
"Non mi dispiace il cibo indonesiano. Lascia che Sanubari decida cosa vuole mangiare! Non badare a me!"
__ADS_1
(Aku tidak keberatan dengan masakan Indonesia. Biarkan Sanubari menentukan apa pun yang ingin dia makan! Jangan pedulikan aku!)
Kelana menyampaikan perkataan Aeneas. "Tuan Aeneas bilang terserah tuan muda Sanu."
"Baiklah, Bocah. Tentukan dalam lima hitungan! Jangan terlalu lama berpikir!"
"Heh?!" sentak Sanubari terkejut.
Dia tidak siap menerima tantangan ini. Menentukan pilihan sendiri itu jauh lebih sulit daripada mengikuti orang lain. Sanubari terbiasa makan seadanya apa pun yang disediakan ibunya. Dia tidak pernah diberi pilihan sebebas hari ini. Dia benar-benar kebingungan.
Jin mulai berhitung. "Satu, dua, tiga, em—"
Sanubari memotong hitungan Jin dengan spontan menjawab, "Mie ayam!"
Hanya itu yang terlintas di pikirannya. Dia sering melihat tukang mie ayam lewat di jalanan depan rumahnya. Aroma sedap tercium sampai rumahnya setiap kali tukang mie ayam itu mangkal. Sanubari sangat penasaran dengan bagaimana rasanya. Selama ini ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mencobanya karena keterbatasan ekonomi.
Jin pun mengajak mereka ke 'Warung Emak Elite'. Rumah makan ini menyediakan menu aneka masakan mie baik lokal maupun mancanegara. Jadi, Aeneas bisa memesan fetucini, pasta, lasagna atau semacamnya bila tidak bisa makan makanan Indonesia. Meskipun suda diberi tahu tetapi Aeneas lebih memilih ikut memesan mie ayam. Dia ingin tahu bagaimana rasa dari setiap makanan yang disukai putranya.
Sambil menunggu makanan, Kelana menjelaskan kebenaran tentang Monas. Tugu Monumen Nasional (Monas) merupakan bangunan simbol perjuangan bangsa Indonesia pasca penjajahan yang mulai direalisasikan pembangunannya tahun seribu sembilan ratus enam puluh satu. Di atas tugu Monas ada cawan besar dan di tengahnya ada bangunan yang dikenal sebagai mahkota Monas. Mahkota Monas merupakan puncak dari tugu Monas. Puncak tugu Monas ini berbentuk lidah api. Warnanya emas karena memang material pembentuknya adalah emas murni.
"... Tuan Muda Sanu paham, kan? Tidak ada es krim raksasa di puncak Monas." Kelana mengakhiri penjelasannya.
Sanubari manggut-manggut. "Uuuu, aku baru tahu api punya lidah. Tapi dimana api menyembunyikan lidahnya, ya? Terus, bagian mana dari api yang disebut mulut? Selama ini aku belum pernah menjumpai api yang memiliki wajah seperti kita."
"Bukan seperti itu maksud saya. Tidak ada api yang bisa berbicara. Tidak ada api yang memiliki wajah seperti manusia atau hewan. Tapi, coba Anda bayangkan nyala api pada damar atau yang Anda kenal sebagai ublik atau mungkin lampu teplek! Bisa juga Anda coba bayangkan nyala api pada lilin!"
"Oke." Sanubari mulai membayangkan nyala api kecil memanjang meliuk-liuk.
__ADS_1
"Bisa Anda bayangkan?"
"Ya."
"Kurang lebih seperti itulah yang disebut lidah api. Bentuknya menjulur-julur. Kalau digambar mungkin akan menyerupai es krim. Tapi itu bukan es krim loh, ya!"
Menjelaskan kepada anak-anak seperti Sanubari memang harus menggunakan kalimat sederhana dan tidak ambigu supaya si Bocah tidak salah tangkap. Anak dalam proses belajar memang menyerap segalanya tanpa filter. Orang dewasa harus memberikan pengetahuan terarah yang bisa merangsang sistem penyaringan baik pada anak. Terkadang orang dewasa juga dituntut memiliki otak kreatif guna mengakali jawaban bila ada pertanyaan liar dari anak yang sulit dijawab.
Setelah itu, makanan pun tiba. Mereka segera melahap mie ayam yang masih panas. Mie ayam di restoran ini terkenal sebagai mie ayam nomor satu se-Jakarta. Ayam yang dibubuhkan semuanya daging. Tidak ada tulang, kulit atau pun jeroan. Namun, jeroan dan kulit bisa pula ditambahkan bila meminta. Porsinya jumbo dengan banyak sawi dan irisan mentimun. Selain itu, ada pula toping siomai dan bakso bledek.
Bakso bledek merupakan bakso daging sapi asli yang di tengahnya diisi dengan tumisan pedas daging yang telah dihaluskan. Sementara kerupuk pangsit dan gorengannya diletakkan di mangkok yang berbeda. Kuahnya kaya rasa. Mienya pun sudah gurih tanpa kuah. Benar-benar hidangan yang memanjakan lidah.
Aeneas memandang mie ayam sebagai versi lain dari pasta. Tekstur dan rasanya berbeda. Rasanya lumayan kuat tetapi dia bisa memakannya.
Pukul setengah tujuh lebih mereka meninggalkan restoran lalu menuju Monas. Jarak monumen tugu Monas dengan stasiun Gambir sangatlah dekat. Rombongan Sanubari berjalan ke sana dengan berjalan kaki. Hanya butuh beberapa menit untuk mencapainya.
Mereka memasuki kawasan taman di sekitar tugu Monas. Para pedagang dan jasa persewaan siap sedia ditempat masing-masing. Tamannya sangat luas. Monas terlihat kecil dari arah kedatangan mereka. Berhubung waktu masih terlalu pagi untuk menuju museum tugu Monas, mereka bersenang-senang menikmati area taman terlebih dahulu.
Jin menitipkan pedangnya pada Kelana karena Sanubari ingin belajar menaiki sepeda. Mereka menyewa dua sepeda gandeng. Satu untuk Sanubari dan Jin. Satunya lagi untuk Aeneas dan Sanum. Mereka berkeliling meninggalkan Kelana.
"Anaknya diasuh sama baby sitter. Bos kencan sama istri. Di sini aku jadi tempat penitipan barang. Seharusnya kuajak istriku sekalian biar kita bisa doble date," gumam Kelana sambil duduk menyangga kepala.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Kelana melihat nama yang tertera pada ponselnya. Firasatnya mendadak tidak enak tetapi dia tetap mengangkat panggilan tersebut.
Dengan tenang dia berusaha berbicara, "Pronto."
(Halo.)
__ADS_1
Benar saja firasat buruknya. Suara keras langsung menyambut telinga kanannya begitu panggilan dia angkat.