
"Pacar Kak Dami pemalu, ya? Kok langsung dimatiin?"
Sanubari sempat melihat sosok perempuan di ponsel Damiyan. Rambutnya pirang dengan ujung bergelombang. Iris matanya biru seperti milik Damiyan.
Padahal, aslinya, itu adalah Aeneas. Belajar dari masa lalu, Damiyan memasang filter otomatis yang diaplikasikan pada Aeneas dan Kelana. Setiap kali panggilan video dari mereka datang, filter akan otomatis aktif, lalu mengubah Aeneas menjadi perempuan dan Kelana sebagai anak kecil. Wajah mereka dipermak total sehingga tidak bisa dikenali Sanubari. Suara Aeneas dan Kelana pun diubah di ponsel Damiyan.
Suara Aeneas seperti perempuan, sedangkan Kelana seperti anak-anak. Damiyan meminta maaf dalam hati atas kelancangan itu. Dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak mau sampai ketahuan bila Sanubari mendadak berdiri di sebelahnya seperti saat di Nagoya, juga seperti saat ini.
Damiyan memasukkan ponsel ke saku. Alih-alih meluruskan fakta, dia malah balik bertanya, "Sudah selesai berkabungnya? Kok malah main kejar-kejaran dengan anak kecil?"
"Aku harus cepat-cepat bekerja supaya bisa segera pulang. Andai aku tahu cara menghubungi teman-teman ...."
Sanubari menatap langit biru. Setelah sadar di rumah sakit, Sanubari dibawa ke rumah Kakek Fang. Dia tidak memiliki cidera parah yang mengharuskannya dirawat inap.
Saat itu, Damiyan sudah mengembalikan penampilannya seperti semula. Dia keramas supaya semir temporernya luntur. Sanubari pun mengenalinya. Tentu, Sanubari heran mengapa bisa bertemu Damiyan lagi di negara yang berbeda.
"Aku baru turun dari kapal pesiar ketika sebuah kapal kargo tiba-tiba meledak. Muatan kapal tersebut terlempar ke mana-mana. Aku melihatmu terbakar di dermaga. Jadi, aku lekas membawamu ke rumah sakit setelah api dipadamkan."
Dusta Damiyan itu dipercaya mentah-mentah oleh Sanubari. Itu terdengar masuk akal di telinga Sanubari karena dirinya memang di kapal ketika tidak sadarkan diri. Saat sadar pun Sanubari sempat merasakan sekujur tubuh seperti mengalami inflamasi.
"Tapi kok tidak ada luka apa pun di tubuhku?" Sanubari melihat kedua lengan. Dia juga menyentuh wajah.
"Itu karena tubuhmu ajaib, Sanu. Keadaanmu sebelum ini sangat mengerikan. Kau bisa melihatnya sendiri di kamera pengawas jika tidak percaya."
"Kupikir itu hanya mimpi," kata Sanubari.
__ADS_1
Dia mencoba menanyakan tentang Sai pada Damiyan setelahnya. Namun, Damiyan menjawab tidak tahu. Sanubari ingin menghubungi teman-temannya. Sayang, dia tidak hafal kontak mereka.
Sanubari sama sekali tidak membawa uang. Pakaiannya saja lenyap akibat kecelakaan. Saat Sanubari bingung dengan biaya rumah sakit, Damiyan mengatakan bahwa ada dokter baik yang akan dengan senang hati melunasinya. Akan tetapi, Sanubari harus menggantinya.
Damiyan juga memperkenalkan Sanubari pada Kakek Fang—pria yang bersedia memberikan tempat tinggal dan pekerjaan. Semua itu akal-akalan Damiyan supaya Sanubari tidak bisa segera pulang. Uang yang diperoleh akan habis untuk makan dan membayar akomodasi. Menabung satu atau dua tahun pun belum tentu dia bisa melunasi hutang dan membeli tiket pesawat. Ditambah lagi, Sanubari tanpa sengaja membunuh salah satu kuda Kakek Fang ketika iseng meniup sumpit. Itu adalah kuda yang baru mereka makamkan dan doakan. Salah satu kuda terbaik yang harganya tidaklah murah. Karenanya, makin membengkak lah hutang Sanubari.
"Kak Dami, pinjami aku uang! Setelah sampai rumah nanti, pasti kuganti. Setelah kupikir-pikir, mustahil Kak Dami tidak memiliki banyak uang. Jalan-jalan ke luar negeri saja bisa. Kakak pasti menolak kemarin karena khawatir aku tidak akan membayar hutang, kan?"
Dua kali sudah, Sanubari memohon. Namun, jawaban Damiyan tetap sama. "Sudah kubilang aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku ini hanya wisatawan bagpacker, Sanu. Kau mungkin belum pernah mendengarnya. Tapi, aku pun harus bekerja di negara tujuan ketika kehabisan bekal sebelum melanjutkan perjalanan."
Lagi-lagi, Damiyan mengatakan kebohongan. Sejatinya, sumber keuangan Damiyan tidak terbatas, disponsori langsung oleh Aeneas hanya demi membuntuti Sanubari.
"Aku tahu kita belum kenal lama, tapi Kak Dami bisa percaya padaku! Pinjamilah, Kak!" Sanubari mengatupkan kedua telapak tangan. Dia sungguh ingin segera pulang dan menanyakan kabar Sai.
"Tumbuhlah subur dan garang! Jangan sampai kalah dengan hama!" Shawn menyemprot Sanubari dari samping.
Damiyan ikut kena. Pinggang mereka ke bawah basah. Kedua pria itu menoleh. Bocah laki-laki sebelas tahun menggendong tabung semprot. Dia cekikikan mengucurkan air pada Damiyan dan Sanubari.
"Shawn, itu bukan untuk manusia, tapi tanaman!" hardik Sanubari.
Saat melihat Sanubari hendak melangkah padanya, Shawn berbalik badan. Dia berlari. Tabungnya tidak terisi penuh. Jadi, dia bisa berlari tanpa keberatan.
"Shawn, kembalikan itu padaku! Aku tidak bisa bekerja tanpa itu!" teriak Sanubari sambil mengejarnya.
Pekerjaan pertama Sanubari selesai lebih lama karena harus bermain kejar-kejaran dengan Shawn. Selesai menyemprot tanaman, dia masih harus memanen tomat di bawah terik matahari. Kendati demikian, kulit Sanubari tidak terbakar walau tidak memakai tabir Surya. Begitu panen selesai, dia masih harus mengangkat berkarung-karung tomat dan sayuran lain ke truk pengangkut.
__ADS_1
Damiyan duduk santai memperhatikan pemandangan itu. Dia menyeruput capuccino. Di sebelahnya, duduk Fang.
"Berguna juga anak yang kau bawa. Pekerjaannya juga lumayan, lebih cepat dari seorang pekerja di sini."
Fang turut memperhatikan. Ketika pekerja biasanya baru berhasil mengangkat satu karung, Sanubari sudah bolak-balik mengangkut tiga karung. Pekerja lain hanya berjalan, sedangkan pemuda itu berlari.
"Makanya, jangan membayarnya mahal-mahal supaya dia bisa di sini lebih lama! Lumayan bisa memperoleh pekerja yang setara gratis, kan?" Damiyan tersenyum.
"Apa yang kau rencanakan?" Fang mengernyit, "dengan adanya dia, pengeluaran memang bisa ditekan. Tapi, aku tidak Setega itu untuk mengeksploitasi kekuatan seseorang. Yeah, awalnya, dia memang sedikit mengacau, tapi setelah diajari dan bisa, pekerjaannya cukup memuaskan. Bohong bila aku tidak menginginkannya tetap bantu-bantu di pertanian ini."
Damiyan pun tidak menyangka bahwa orang yang baru keluar dari rumah sakit bisa bekerja secekatan itu. Sanubari seorang diri bisa menyamai orang yang memakai alat. Asal jangan menyuruhnya memakai benda elektronik atau melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan alat-alat semacam itu saja! Padahal, luka Damiyan yang tidak lebih parah dari Sanubari saja belum sembuh.
Kalau masalah angkut mengangkut, Sanubari memang tidak kesulitan. Dia terbiasa membawa muatan naik/turun lereng ketika masih tinggal bersama Canda. Otot-otot tubuhnya mengingat semua pengalaman itu.
"Jadikan dia muridmu! Jika tetap seperti itu, dia tidak akan bertahan lama di dunia ini."
"Apa yang kau katakan?"
"Kek, apa kau tidak mengenali wajah itu?"
Fang mengamati wajah Sanubari. Keringat bercucuran. Pemuda beriris hijau itu mengelap peluh dengan lengan sebelum mengangkat karung berikutnya.
"Gafrillo? Apa hubungannya anak itu dengan Gafrillo?"
"Yang jelas, dia bisa mati kapan pun karena serangan salah sasaran, selain karena ulahnya sendiri bila dibiarkan. Bela dirinya sudah lumayan, tapi belum cukup matang. Dia juga perlu dibekali teknik serangan rahasia supaya bisa bertahan sendiri."
__ADS_1