
Dua pemilik toko bakeri sedang sibuk berbincang tentang kemerosotan usaha mereka selama beberapa hari terakhir. Mereka ingin merebut pelanggan kembali tetapi takut mengusik usaha yang dinaungi Gafrillo secara langsung.
Gafrillo adalah induk perekonomian Italia. Dia bisa saja menggulingkan atau bahkan membinasakan usaha yang mengganggunya dengan mudah. Semua orang Italia mengenalnya. Dia adalah sosok yang disegani sekaligus dihormati seluruh warga setempat.
Beberapa pemilik toko dan pegawai yang bekerja di sekitar kafe Sanubari melihat sendiri Gafrillo hadir dalam acara pembukaan kafe. Kehadirannya sudah cukup memberi tahukan kepada mereka bahwa kafe singkong keju Sanubari bukanlah sekadar kafe biasa.
Wajar jika kafe yang baru dibuka itu bisa mendapatkan pelanggan setia dengan mudahnya. Sebab, di belakangnya ada pengaruh orang hebat seperti Gafrillo. Tidak mudah menggait Gafrillo untuk mau bekerja sama dengan pengusaha kecil seperti mereka. Bahkan sekali pun Gafrillo tidak pernah singgah dan membeli sesuatu dari toko mereka.
Kemunculannya membuat beberapa pihak bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya pemilik kafe dengan menu tak biasa yang baru dirintis itu. Orang-orang semakin tercengang ketika mengetahui pemilik usaha hanyalah seorang bocah dua belas tahun. Wajah bocah itu muncul di acara reality show dan terpampang dalam majalah kuliner. Namanya pun menjadi topik hangat perbincangan setiap orang.
Tidak banyak media yang memuat tentang identitas Sanubari secara mendetail dan hubungannya dengan Gafrillo. Sebagian besar hanya menyebutkan bahwa dia adalah orang Indonesia yang menetap di Italia sejak dua setengah tahun yang lalu. Dulu dia hanya membawa tiga potong batang pohon singkong. Sekarang perkebunan singkongnya meluas. Hasil panennya pun menjadi bahan pokok kafe yang digandrungi banyak orang.
Kini bocah singkong itu sedang berjalan di pusat pertokoan sambil memeluk kantung berukuran sedang. Dia menuju sebuah toko bakeri yang ada di seberang kafenya. Dengan perlahan, ia mendorong pintu kaca yang cukup berat. Genta kecil pun tergerak, mengeluarkan bunyi gemerincing yang menyadarkan penjaga toko akan kehadiran pelanggan.
Mereka pun dengan kompak menyambut pelanggan pertama hari ini dengan mengucapkan, "Benvenuti nella nostra pasticceria!"
(Selamat datang di toko bakeri kami!)
Mereka berdua melihat Sanubari yang memasuki toko dan berjalan mendekat. Pintu tertutup kembali. Ternyata yang masuk ke toko hanyalah seorang bocah. Tidak disangkanya lagi, yang datang adalah saingan bisnis yang baru saja mereka bicarakan.
Tentu ada rasa tidak enak dalam dada ketika melihat bocah itu tersenyum tanpa dosa berdiri di hadapan mereka. Namun, mereka harus tetap bersikap ramah untuk menjaga reputasi. Pencitraan yang buruk hanya akan membuat usaha mereka semakin terpuruk. Mereka sadar akan hal tersebut.
Dengan senyuman hangat patisier wanita bertanya, "Cosa vuoi comprare, Fratellino?"
(Kamu mau membeli apa, Adik Kecil?"
Sanubari nampak bingung. Ini kali pertama dia memasuki toko bakeri sendirian. Tidak banyak yang dia ketahui tentang apa saja yang dijual di sana. Dia bisa membaca pamflet menu tetapi hanya piza yang dia tahu.
Sanubari pun memberikan selembar uang kepada patisier itu lalu berkata,"Ho solo questo. Cosa pensi che possa ottenere con questi pochi soldi?"
(Aku hanya punya ini. Kira-kira apa yang bisa kudapatkan dengan uang sedikit ini?)
Di Indonesia, uang lima ratus rupiah hanya bisa dia gunakan untuk membeli tiga buah permen. Sedangkan untuk membeli donat atau martabak abal-abal yang tidak lebih besar dari telapak tangan saja dia harus mengeluarkan uang seribu rupiah.
Jantung Sanubari berdebar panik. Dia tidak tahu jika toko yang dimasukinya menjual makanan yang enak dan terlihat mahal. Semua makanan di toko ini pasti harganya lebih dari seribu rupiah. Sedangkan uang kertas yang dia bawa hanya bertuliskan nominal lima ratus. Dia akan sangat malu jika uangnya kurang.
Patisier wanita itu menerima uang Sanubari lalu menjawab, "Fratellino, il prezzo di una singola porzione di cibo qui è tutto tra i dieci ei trenta euro. Quindi puoi ordinare quello che vuoi."
(Adik Kecil, harga semua makanan di sini satu porsinya hanya berkisar antara sepuluh sampai tiga puluh euro. Jadi, kamu bisa membeli apa pun yang kamu inginkan.)
Dua patisier itu mulai berpikir bahwa Sanubari adalah anak yang sangat polos. Bocah itu sudah memiliki kafe tetapi belum begitu paham tentang uang. Pastinya akan sangat mudah seandaikan mereka ingin memanfaatkan keluguannya.
__ADS_1
Sanubari sangat terkejut mendengar penuturan patisier itu. Sulit dipercaya bahwa selembar uang kertas lima ratusnya bisa digunakan untuk membeli makanan besar nan lezat. Dengan setengah tidak percaya, Sanubari mencoba memastikan.
"È vero?"
(Benarkah?)
"Sì."
(Iya.)
Patisier wanita itu mengangguk. Dia masih mempertahankan senyuman ramahnya, menunggu Sanubari memesan.
Sanubari nampak memperhatikan makanan contoh yang dipajang di etalase. Terdapat nama dan keterangan di setiap makanan. Setelah berpikir sejenak, Sanubari memutuskan untuk membeli focaccia.
"Voglio focaccia. Solo una porzione ma con molta carne in più. Va bene?"
(Aku mau focaccia. Satu porsi saja tapi dengan tambahan daging sapi yang banyak. Apa boleh?)
"Certo che puoi. Ma devi pagare il doppio. Come?"
(Tentu bisa. Tapi kamu harus membayar dua kali lipat. Bagaimana?)
"Sì, certamente."
"Va bene, mi preparo."
(Baiklah, akan kusiapkan.)
Wanita itu menyerahkan selembar lima ratus euro kepada patisier pria di sebelahnya. Patisier pria itu memasukkan uang ke laci lalu berkata, "Cinquanta euro in totale. Quindi quattrocentocinquanta euro in cambio."
(Totalnya lima puluh euro. Jadi, kembaliannya empat ratus lima puluh euro.)
Sanubari menggeleng. Dia mengangkat tangan kanannya, melakukan gestur penolakan sambil berkata, "Basta prendere il cambiamento! Oh, sì! È un piccolo formaggio per la manioca per lo zio e tutto. Buona fortuna!"
(Ambil saja kembaliannya! Oh, iya! Ini ada sedikit singkong keju untuk Paman dan semuanya. Semoga suka!)
Sanubari meletakkan kantung berisi tiga boks sebesar dua kali tempat bekal makanan ke atas meja. Inilah tujuan sebenarnya Sanubari datang ke toko. Dia hanya ingin berbagi singkong keju. Sedangkan membeli makanan yang dijual di toko dilakukan Sanubari hanya untuk menghormati pemilik toko.
"Grazie.)
(Terimakasih.)
__ADS_1
Patisier pria itu penasaran dengan hubungan Sanubari dan Gafrillo. Berhubung kesempatan ada di depan mata, dia pun bermaksud untuk memanfaatkannya. Patisier pria itu mengawali pembicaraan dengan sedikit basa-basi.
"Wow, si scopre che il piccolo uomo d'affari che è in aumento è molto generoso. Vuoi comprare focaccia nel nostro negozio di Bakersi. Dai anche un premio Anche se non ci conosciamo. Puoi davvero essere orgoglioso, figliolo! Grazie per la manioca al farmigio!"
(Wah, ternyata pengusaha kecil yang baru naik daun ini sangat murah hati. Mau membeli focaccia dari toko kami. Selain itu juga memberikan hadiah pula. Padahal kita 'kan tidak saling kenal. Kamu memang anak yang bisa dibanggakan, Nak! Sekali lagi terimakasih atas singkong kejunya.)
"Ah, questo zio è troppo. Dopotutto, è la mamma che cucina tutto. Quindi, la mamma merita più credito.)
(Ah, paman ini terlalu berlebihan. Lagipula yang memasak itu semua mama. Jadi, mamalah yang lebih pantas mendapatkan pujian.)
"A proposito, ho visto che il signor Gafrillo era presente per la prima volta all'apertura del caffè. Chi sei?"
(Ngomong-ngomong, waktu pembukaan kafe singkong keju pertama kali, kulihat tuan Gafrillo juga hadir. Dia itu siapamu?)
"Signor Gavrilo? Chi è?"
(Tuan Gafrillo? Siapa dia?)
"Non lo conosci?"
(Kau tidak mengenalnya?)
Sanubari menggeleng. Sanubari tidak tahu bahwa yang dimaksud dengan Gafrillo adalah Aeneas. Dia tidak tahu nama panjang Aeneas. Sanubari juga lupa jika Jin pernah memanggil Aeneas dengan nama Gafrillo sekali.
Selama di rumah, semua orang memanggil ayah Sanubari itu dengan panggilan Aeneas. Empat asisten pribadi Aeneas pun tidak ada yang memanggilnya Gafrillo.
Sedangkan saat acara pembukaan kafe, Sanubari terlalu sibuk dengan teman-temannya. Dia tidak mengurusi pembicaraan para orang dewasa sama sekali.
Tidak lama kemudian pesanan Sanubari pun selesai dibungkus. Dia keluar toko dengan wajah bahagia. Dalam hati dia berkata, "Ternyata harga makanan di sini murah-murah, ya? Dengan uang lima puluh saja bisa dapat roti dengan daging sapi pula. Di Indonesia mana bisa dapat? Buat beli permen aja paling cuma dapat bungkusnya doang."
Sanubari belum sadar bahwa uang lima ratus yang baru saja dia keluarkan setaraf dengan delapan juta rupiah lebih. Itu artinya focaccia yang ia beli seharga delapan ratus ribuan. Kemahalannya sekitar lima puluh kali lipat dari harga kebab Indonesia. Minimnya pengetahuan membuat Sanubari tetap berpikir bahwa makanan yang mahalnya selangit itu murah meriah.
Dia tidak sabar menceritakan tentang kemurahan ini kepada ibunya. Buru-buru Sanubari berlari kembali ke kafenya.
Sementara itu di toko bakeri, dua patisier mencoba mencicipi singkong keju Sanubari. Setelah menelan beberapa suapan mereka mengerti. Kafe Sanubari akan tetap bisa mendapatkan tempat di hati pelanggan dan membuat kecanduan meskipun tanpa adanya peran Gafrillo di baliknya. Teksturnya yang sangat empuk dan rasa gurih merata berpadu dengan keju serta saus lainnya benar-benar memanjakan lidah. Mereka seperti sedang menikmati hidangan dari surga.
"Di questo passo, come può il nostro negozio competere con il caffè di fronte?"
(Kalau seperti ini, bagaimana mungkin toko kita bisa bersaing dengan kafe di depan?)
"Sembra che dobbiamo fare qualcosa."
__ADS_1
(Sepertinya kita memang harus melakukan sesuatu.)
Tiba-tiba saja genta kecil berbunyi lagi. Mereka segera menyambut pelanggan ke dua hari ini—sesosok wanita berambut putih dengan masker dan kacamata hitam.