
Pengatur suhu ruangan disetel ke angka dua puluh delapan derajat Celcius. Tidak terlalu dingin. Tidak pula panas. Anki membenarkan posisi selimut Sanubari, memastikan kain tersebut menutupi seluruh tubuh Sanubari sampai ke leher.
Para pria masih melanjutkan topik pembahasannya. Abrizar mengulurkan tangan ke meja.
Sai yang melihat, langsung sigap bertanya, "Mau makan atau minum?"
"Minum."
Tanpa menanggapi jawaban itu, Sai menggenggamkan air mineral ke tangan Abrizar. Lelaki itu berterima kasih, lalu menenggak hampir seperempat botol.
Seperenungan kemudian, Eiji menemukan jawaban atas permasalahannya. Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk melakukannya.
"Semua akan baik-baik saja bila kita memakai jalur belakang." Eiji menyeringai.
"Maksudmu memalsukan paspor dan visa, lalu mencuri pesawat?" Renji memperjelas.
Eiji tersenyum. "Akuu hanya mempercepat prosesnya. Jadi, kurasa itu tidak sepenuhnya bisa disebut pemalsuan."
"Kak Eiji, Kakak sudah berhenti dari Onyoudan, jadi jangan melakukan hal semacam itu lagi!" Anki menoleh pada Eiji. Dia sama sekali tidak setuju dengan ide Eijii.
"Kau anak kecil, tidur sana!"
"Aku tidak akan membiarkan kalian merencanakan kejahatan." Anki menggeleng, "Aku sudah cukup umur untuk mengerti."
"Tetapi kau belum mengerti seberapa mendesak kondisi kita, Anki. Tidurlah! Ada yang harus kubicarakan dengan mereka." Eiji sekali lagi mengacak rambut Anki, lalu kembali ke sofa.
"Ngomong-ngomong, aku kehilangan ponsel dan laptop ketika ke Osaka. Ada di antara kalian yang membawa sesuatu yang bisa digunakan?" ucapnya begitu telah duduk.
"Hanya ponsel," jawab Sai.
"Kau ingin melakukannya malam ini?" Renji menguap.
"Iya. Kalian istirahatlah! Aku akan butuh bantuan kalian lagi besok," jawab Eiji mengangguk.
Sai mengambil ponsel dari tasnya, lalu menyerahkannya pada Eiji. Malam itu, Eiji begadang sendirian. Dia menghapus seluruh data tentang divisinya dari database Onyoudan.
Dia juga melenyapkan data fisik yang ada dengan memanfaatkan AI yang dikendalikan dari jarak jauh. Namun, dia tidak bisa menghilangkan data tercetak sepenuhnya. Sebab, dia tidak tahu di mana saja duplikasinya disimpan.
Setelahnya, dia mengurus dokumen Anki. Dia juga mencari tahu tentang visa Italia.
__ADS_1
Renji dan Sai meninggalkan kamar itu. Mereka pindah ke kamar sebelah yang kata Fukai ada dua ranjang lain di sana.
Abrizar tidur di sofa satu kamar dengan Sanubari. Sementara Anki merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah Sanubari. Mereka terlelap dengan cepat.
Pagi harinya, Sai, Anki, dan Abrizar menunggu di lobi rumah sakit sesudah membeli makanan di toserba rumah sakit. Sebelum tidur, Abrizar mengirim pesan pada Mohammad untuk mengemas barang miliknya dan Sanubari, lalu membawanya ke rumah sakit.
Waktu belum genap menunjukkan setengah enam pagi. Suasana rumah sakit masih sedikit hening. Belum banyak pengunjung yang hilir mudik.
Langit pagi itu tampak suram. Dedaunan pun masih basah karena gerimis di waktu fajar. Tiada terik matahari yang membantu proses pengeringan.
Tak lama berselang, keluarga Mohammaddatang. Mereka membawa dua koper, dua ransel, sementara Hana dan Hanan masing-masing menyandang satu ransel.
"Wah, barang bawaan Kak ABRI dan Sanu banyak juga, ya?" celetuk Anki saat melihat semua itu.
"Hanya satu ransel berisi mungkin tiga setel baju. Apanya yang banyak?" balas Abrizar.
"Lalu, koper-koper ini?"
"Milik kami," Hanan dan Hana menjawab bersamaan.
Mereka masih berdiri. Tas Abrizar telah diberikan pada pemiliknya. Sementara milik Sanubari dibawakan Anki.
Mohammad tampak ragu untuk mengatakannya. Akan tetapi, dia tetap berusaha mengungkapkan niatnya, "Bawa juga Hanan dan Hana bersama kalian. Kumohon!"
Saat mengetahui Abrizar akan pergi, Mohammad memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya. Dia tahu kemampuan Sanubari. Oleh karena itu, dia ingin kedua anaknya aman bersama Sanubari dan Abrizar.
Abrizar merasa canggung dengan situasi ini. Dirinya sekarang tidak dalam posisi bisa mengambil keputusan.
Dengan enggan tidak enggan, Abrizar menjawab, "Bukannya tidak mau membantu, tetapi kami sendiri sedang ...."
Namun, Mohammad memaksa. Dia dengan segera memotong kalimat Abrizar dengan berkata, "Jangan masalahkan biaya! Aku akan membekali putra-putriku."
Mohammad cukup tahu diri. Dia tidak akan membuat Abrizar dan Sanubari menanggung biaya hidup putra-putrinya. Dirinya sudah cukup merepotkan dengan meminta bantuan mereka untuk menjadi pelindung. Dia tidak ingin menyusahkan lebih dari itu.
"Bukan itu ...." Abrizar tertunduk.
"Aku dan istriku juga berencana meninggalkan Jepang, tetapi kami tidak memiliki kekuatan seperti kalian untuk melindungi putra-putri kami." Mohammad masih belum menyerah.
"Setujui saja, Kak ABRI!" Kasihan mereka. Lagipula, dengan tambahan dua orang, perjalanan pasti akan lebih menyenangkan."
__ADS_1
Karena desakan Anki itu, Abrizar mengiyakan akhirnya. Anki juga mengajak Mohammad dan istrinya untuk melakukan perjalanan bersama. Namun, keduanya memilih untuk melakukan perjalanan terpisah.
Setelahnya, Mohammad dan istri berpamitan. Saat mereka memasuki elevator, Fukai berjalan cepat menyusul sambil menenteng gua tas plastik.
"Paman Fukai membawa apa?" tanya Anki melirik ke bawah.
"Oh, ini baju ganti untuk kalian semua. Daripada pakai baju pasien terus-terusan, ya kupesankan saja ke temanku. Ngomong-ngomong, siapa dua orang baru ini?"
"Hana dan Hanan. Mereka teman kami." Anki tersenyum sambil memeluk tas Sanubari.
Ketika pintu elevator terbuka, Fukai baru sadar bahwa dirinya melupakan sesuatu. Dia menyerahkan belanjaannya pada Sai, lalu kembali ke atas. Tak lama kemudian, dia kembali dengan perlengkapan medis.
Setelah memeriksa Sanubari, dia menyuntikkan cairan melalui Vent flon yang masih tertancap di tangan Sanubari. Tidak ada yang berbicara selama pemeriksaan berlangsung. Setelahnya, dokter itu membaca kertas-kertas yang dijepit pada papan dada.
"Ada apa sebenarnya dengan Sanubari, Paman?" Anki bertanya khawatir.
"Aku belum bisa mendiagnosanya secara pasti. Semuanya tampak normal. Hanya saja, suhu tubuhnya masih stagnan. Tetapi, aku sudah menyuntikkan penurun panas dan nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya. Kita lihat saja perkembangannya setelah ini."
"Bukankah dia tertidur terlalu lama hanya untuk sebuah demam?" Anki menuntut jawaban atas kecemasannya.
Fukai menghela napas. Tiba-tiba, Fukai mencubit keras lengan Sanubari. Anki yang menyaksikannya langsung melotot.
"Apa yang Paman lakukan?"
Membuka kelopak mata, lalu menyorotinya dengan senter kecil bisa dimaklumi Anki sebagai bagian pemeriksaan. Pun dengan menggerak-gerakkan tubuh Sanubari yang tidak berdaya atau menerapkan alat-alat kedokteran yang tidak diketahuinya.
"Tenang dulu!"
"Tapi Paman menyakiti Sanu."
"Perhatikan baik-baik seluruh tubuhnya atau setidaknya, ekspresinya. Apa ada perubahan?" Mata Fukai tidak lepas dari Sanubari.
Remaja di hadapannya itu bergeming. Bulu matanya pun sama sekali tidak bergerak.
"Yang bisa kusimpulkan untuk sekarang adalah, ada indikasi penurunan kesadaran. Aku hanya berharap ini tidak berkembang menjadi koma berkepanjangan." Fukai melepaskan tangannya dari Sanubari.
"Apa itu artinya sangat berbahaya?" Bibir Anki melengkung seperti kubah.
"Jangan khawatir! Setelah ini, aku akan mendalami hasil pemeriksaan Sanu untuk mengetahui penyebabnya supaya bisa memberikan perawatan lebih tepat. Jadi, apa ada yang belum kalian katakan tentang bagaimana dia bisa menjadi seperti ini?"
__ADS_1
Eiji menyahut, "Aku sudah mengatakan semua yang kuketahui kemarin."
"Ini akan sulit." Fukai melihat jam tangannya, "Sebenarnya, ada yang ingin kusampaikan pada kalian, tetapi aku harus kerja dulu. Nanti aku akan kembali ke sini saat jam makan siang, sekalian memantau perkembangan Sanu."