
Suara demi suara yang bermunculan menambah informasi baru. Penyelidikan mengarah pada satu titik. Kandidat tersangka pun ditetapkan.
Kini para penyidik berkumpul di salah satu sudut studio, duduk bersila melingkar membawa temuan masing-masing. Mereka menggabungkan dan mendiskusikan semua informasi yang telah terkumpul.
Dari hasil pemeriksaan, korban meninggal sekitar pukul sembilan belas lebih empat puluh dua menit sampai sembilan belas lebih empat puluh lima menit. Sekitar lima belas menitan sebelum satuan Reskrim tiba di tempat kejadian. Waktu itu film masih diputar.
Hasil forensik menyatakan bahwa korban meninggal karena tebasan dileher. Luka tersebut cukup dalam karena tulang kerongkongan korban sampai ikut terbelah. Itu membuktikan bahwa senjata yang digunakan untuk membunuh korban sangatlah tajam.
Luka belahan juga ditemukan di kedua lengan dalam tangan korban. Sayatannya membelah daging hingga menembus tulang. Selain itu, tidak ditemukan bekas penganiayaan di tempat lain. Tidak pula ditemukan racun atau bahan kimia lain yang bisa menjadi penyebab kematian korban.
Satu-satunya barang bukti yang ditemukan adalah pisau hitam legam dengan dua sisi tajam. Benda tajam tersebut telah diserahkan kepada orang dari unit labkrim untuk diselidiki. Hasilnya pun telah disampaikan pada ketua unit investigasi.
"Tidak ada sidik jari siapa pun pada pisau tersebut. Ini terlihat seperti kejahatan yang telah direncanakan dengan matang."
"Mungkin pelakunya sengaja membersihkannya setelah memakainya."
"Saya rasa itu tidak mungkin. Bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan bila sampai diketahui penonton di sebelahnya?"
"Benar juga. Tapi, itu tidak mustahil bila seseorang di sampingnya berusaha melindungi pelaku."
"Apa maksudmu? Kau sudah menemukan tersangkanya?"
"Tidak juga. Tetapi sudah ada tiga terduga."
Penyidik itu mulai menjelaskan tentang tiga calon tersangka. Tiga orang yang memiliki masalah dengan korban dan masih dalam area gedung Blitos adalah sang tunangan berinisial D, penjual tiket berinisial K serta Sanum.
Pasangan kekasih biasanya akan duduk berdampingan. Akan tetapi, kenyataannya D tidak berada di samping korban. Setelah diselidiki, rupanya kursi yang berdekatan sudah kosong. Korban duduk di kursi 9D.
Sedangkan D duduk di kursi 19A. Penonton di kursi 18A dan 20A bersaksi bahwa D tidak pernah meninggalkan tempatnya selama film berlangsung. Itu artinya D terlepas dari status terduga tersangka.
__ADS_1
Namun, di sini ada sebuah keganjilan. Bila kursi studio dianggap terisi semua lalu mengapa kursi di sekitar korban kosong? Kecurigaan pun jatuh pada K yang menjual tiket. Sebab, hanya dia yang mengetahui ketersediaan kursi sebagai pegawai yang bertugas menjual tiket.
K mengatakan bahwa ada beberapa orang yang memesan tiket secara on line. Mungkin saja mereka tidak jadi datang. Maka dari itu beberapa kursi menjadi kosong. K selalu berada di loket penjualan tiket sampai peristiwa pembunuhan itu terjadi. Penjual pop corn juga bersaksi bahwa K tidak pernah meninggalkan tempatnya.
Itu artinya K juga terlepas dari dugaan tersangka karena pembunuhan terjadi dalam studio tiga. Penjaga pintu teater juga menyatakan bahwa tidak ada orang keluar masuk selama sejak film dimulai sampai polisi tiba di tempat kejadian perkara. Itu artinya pelaku masih ada dalam studio tiga.
Namun, kosongnya dua belas kursi masih menjadi suatu hal yang aneh di sini. Mungkinkah ada oknum yang sengaja mengosongkannya demi mengambinghitamkan penonton di sebelah korban sehingga kejahatan yang sebenarnya tertutup rapat? Ataukah memang kebetulan kosong karena pemesan berhalangan hadir?
Kemungkinan pertama akan sangat merugikan tumbal bila itu memang benar demikian. Sebab orang tidak bersalah harus menanggung hukuman atas perbuatan orang lain. Itu sungguh tidak adil. Namun, bisa juga kemungkinan ke dua adalah yang paling benar. Itu artinya dugaan tersangka jatuh pada Sanum yang duduk di sebelah korban.
"Itu tidak mungkin! Mustahil wanita berinisial S itu pelakunya," sanggah seorang penyidik lain.
"Lalu, siapa lagi yang mungkin jadi tersangka tanpa disadari penonton lainnya? Penonton di kursi 12E dan 12C?"
"Bukan mereka juga. Perhatikan ini baik-baik!" Penyidik itu menyodorkan laptop pada kawan-kawan satu timnya.
Video diperbesar hingga korban terlihat jelas. Dalam video, terlihat bahwa beberapa kursi di depan, belakang dan samping kanan korban kosong. Tepat di sebelah kiri korban ada Sanum, seorang anak kecil dan pria bule.
Awalnya, video berjalan normal. Hingga akhirnya tibalah di detik-detik dimana korban menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tepat saat itu juga mendadak sebuah pisau hitam legam menancap pada pergelangan tangan korban yang saling berdekatan. Tidak diketahui darimana arah pisau itu berasal. Pisau tersebut muncul begitu saja.
Selanjutnya tangan korban melorot, mengekspos leher korban yang telah terbelah secara horizontal. Tubuh korban ambruk ke arah Sanum. Selama itu pula Sanum sama sekali tidak bergerak. Penonton di kursi 12E dan 12C juga fokus menonton. Tidak terlihat seorang pun mendekati korban ketika waktu pembunuhan terjadi.
Semua penyidik terbelalak menyaksikan video tersebut. Pemandangan dalam video sangat sulit diterima akal. Tanda tanya besar muncul di kepala para penyidik.
"Ini tidak mungkin! Coba putar ulang dan perlambat!"
"Saya tadi juga sudah melakukannya berulang kali tetapi hasilnya tetap sama."
Penyidik yang bertugas mengamati rekaman kamera pengawas itu pun memutar ulang video. Untuk memastikan tidak salah lihat, mereka mempelajari video tersebut bersama-sama. Video diputar dalam mode paling lambat. Namun hasilnya tetap sama.
__ADS_1
Video pun di ekstrak frame demi frame. Mereka memperhatikan dengan seksama ratusan gambar hasil ekstrak video. Lembar demi lembar mereka geser. Akan tetapi, jejak arah kemunculan pisau tetap tidak tercetak dalam gambar-gambar tersebut.
"Ini mustahil. Bagaimana mungkin sebuah pisau bisa muncul sendiri secara tiba-tiba?"
"Pisaunya bergerak sendiri tanpa ada yang memegangnya?"
"Tapi, bukankah pisau yang kita temukan ini terlalu kecil untuk bisa menembus lengan sampai kerongkongan?"
"Mungkinkah ini pisau gaib?"
"Mungkinkah hantu yang melakukan pembunuhan ini?"
Para penyidik semakin tercengang setelah menyaksikan video tersebut. Ini kali pertama kasus semacam ini terjadi. Mereka benar-benar dibuat pusing karenanya.
"Saya yakin wanita itu pasti pelakunya. Dia mungkin saja bekerjasama dengan seseorang untuk menghapus bagian penusukan itu."
"Tapi rasanya itu sulit dilakukan. Pertama, korban pasti akan berteriak minta tolong saat menyadari ada yang mau menusuknya sehingga akan menarik perhatian penonton lain. Karena pisau ini tertahan lengan korban dan tidak mengenai leher korban secara langsung.
"Mungkinkah pelaku menggunakan obat bius sebelum meluncurkan aksinya?"
"Hasil forensik menyatakan bahwa tidak ada senyawa kimia apa pun pada tubuh korban yang bisa dimanfaatkan untuk mencelakainya."
"Kedua, audio pada video ini runtut. Sehingga dapat dipastikan tidak ada bagian yang terpotong. Bisa saja sih bila pelaku memisahkan file audio dan visualnya terlebih dahulu. Kemudian memotong bagian gambar yang tidak diinginkan lalu menyatukan file audio dan visual kembali. Tetapi, saya sudah meneliti rekaman CCTV ini puluhan kali. Tidak ada bagian yang terpotong. Video ini sudah cukup membuktikan bahwa S tidak bersalah."
Penyelidikan mengalami titik buntu. Pisau yang menjadi barang bukti sama sekali tidak bisa menuntun pada pelaku. Rekaman kamera pengawas yang seharusnya menjadi bukti pendukung pun tidak bisa diandalkan.
"Tapi kita juga tidak bisa menutup kasus ini dengan menentukan pembunuhnya adalah makhluk gaib."
"Lantas, siapa dan bagaimana cara pelaku melakukannya?"
__ADS_1