Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kultivar Singkong


__ADS_3

"Sanu, bagaimana kalau kita lomba lari? Aku akan memberimu uang 10 dolar bila kau berhasil mengalahkanku," tantang Damiyan. Mereka berjalan keluar peternakan setelah pekerjaan Sanubari selesai.


"Ide bagus! Ini masuk dalam tantanganmu, Sanu. Jangan lupa untuk mencatatnya!" sahut Fang.


Sanubari menulis lari di nomor lima. Mulai hari ini, lomba lari antara Sanubari dimulai. Setiap hari, mereka harus lari lebih dari 20 kilometer.


"Kau lambat seperti kura-kura, Sanu!" ejek Damiyan setiap kali berpapasan dengan Sanubari. Damiyan sengaja memperlambat laju, lalu mempercepat lagi setelah sejajar dengan Sanubari. Dia bahkan sengaja berhenti untuk menunggu.


Namun, Sanubari tetap gagal mendahului. "Menyebalkan! Kenapa orang-orang suka sekali mengolok-olokku?"


Sanubari geram. Setiap kali teringat ejekan demi ejekan, emosinya memuncajk. Dia berusaha keras menyelesaikan tantangan. Akan tetapi, satu bulan berlalu, belum satu pun berhasil dia taklukkan.


Dia belum bisa mengalahkan Damiyan. Dia juga belum bisa memukul bola berturut. Paling banter, dia baru bisa memukul dua. Itu pun kadang-kadang. Sanubari harus ekstra sabar dari hajaran bola yang menghantam tubuh tiada ampun.


Hingga suatu hari, Sanubari melihat pria yang berjalan sempoyongan. Tiba-tiba, orang itu tumbang. Sanubari lekas menghampirinya.


Jalan sangat sunyi. Damiyan telah lama meninggalkannya. Kendaraan pun tidak ada yang lalu lalang. Sama sekali tidak ada yang bisa dimintainya bantuan.


Sanubari sudah berusaha membangunkan si pria tua. Namun, pria beralis putih panjang itu sama sekali tidak bangun. Tidak punya pilihan lain, Sanubari memanggulnya pulang. Saat membaringkan si pria tua, Sanubari mendengar gemuruh dari perut si pria tua.


"Lapar ...." Igauan itu terdengar Sanubari.


"Kakek istirahat dulu! Akan segera kubuatkan makanan."


Sanubari bergegas ke dapur. Berasnya habis. Hanya tersisa kentang, jagung manis, dua butir telur, dan tahu di kulkas. Tanpa nasi, Sanubari sendiri tidak akan kenyang.


Alhasil, dia mengupas kentang seadanya. Selagi menunggu rebusan kentang bumbu matang, Sanubari menumis bawang putih, bawang bombai dan daun bawang, lalu menuangkan air. Kemudian, dia memasukkan tahu putih yang dipotong kecil-kecil, jagung manis, susu, garam, dan gula. Terakhir, dia menuangkan telur putih yang dicampur dengan air dan kanji ke kuah.


Telur menjadi serat seperti ganggang lembut ketika di aduk. Sementara kuning telur dijadikannya omelet.


"Sup putih telur beres! Tinggal menggoreng kentang."


Sanubari beralih meniriskan kentang, membalurinya dengan panir sebelum memasukkan ke minyak panas. Begitu selesai, Sanubari menumpuk lima potong kentang selebar telapak tangan ke piring, menuangkan sup putih telur ke mangkuk, dan omelet ke piring yang lebih kecil. Dia menata semua ke nampan. Tak lupa, segelas susu ditambahkan.


Pengalaman tinggal di Jepang membuatnya seperti itu. Meski ketika di rumah, Sanubari sering mencanpuradukkan makanan ke satu piring. Ketika menyuguhkan ke orang lain untuk satu porsi, dia jadi selalu memisah-misahkan wadah seperti itu.


Aroma sedap sampai ke kamar berbaringnya si pria tua. Saat Sanubari masuk kamar, pria tua telah duduk.


"Kakek bangun? Ini kubawakan makanan untuk Kakek. Habiskanlah, Kek! Supaya Kakek bisa bertenaga lagi!" Sanubari meletakkan nampan ke meja di sebelah ranjang, lalu duduk di kursi.


Aroma yang menguar sangat menggugah selera. Si pria tua menghirupnya dalam-dalam. Dia meletakkan buku yang selalu dipeluk, lalu mengambil kentang.


"Ini luar biasa!" Mata si pria tua melebar. Tekstur lembut di dalam, renyah di luar, juga gurihnya terasa pas di lidah. Dia hanya makan kentang, tapi bisa lebih nikmat dari daging. Manis dan gurih pada sup putih telur pun juga sangat pas. Lembut serat telurnya seolah meleleh di mulut. Si pria tua makan dengan lahap.


Sanubari memperhatikan penampilan si pria tua. Semua rambutnya putih. Rambutnya pendek dengan potongan cepak. Kumisnya pun pendek. Sementara jenggotnya agak panjang.


Ada satu hal yang menurut Sanubari unik. Yakni, alis si pria tua. Alis itu tampak abnormal. Yang di atas mata memang pendek. Namun, bagian terluarnya tumbuh memanjang, sangat panjang hingga menjuntai melewati rahang.

__ADS_1


"Ini sangat lezat!" Si pria tua menghabiskan makanan sampai ke remah. Kuah pun diminum sampai tak bersisa.


"Mau nambah?"


"Boleh?"


"Tentu. Masih ada di dapur. Sebentar aku ambilkan!"


Sanubari membawa perkakas yang telah kosong ke dapur. Kemudian, dia mengisinya ulang dan diberikan ke pria tua.


"Namamu siapa, Nak?" tanya si pria tua sebelum menyuap sesendok sup.


"Sanubari. Panggil saja Sanu!"


"Namaku Gafrillo."


"Nama kakek seperti nama ayahku."


"Hm, begitukah?"


"Um. Beberapa orang juga memanggilnya Gafrillo."


"Wah, bisa membingungkan juga kalau kami berada di tempat yang sama. Hm, Anselmus Van Gafrillo. Itu nama panjangku. Terserah kau saja mau memanggilku apa."


"Nama kakek panjang juga, ya? Jadi, aku akan memanggil Kakek Kakek Ansel."


"Boleh juga. Ngomong-ngomong, Nak, boleh aku minta bantuanmu?"


"Aku harus melanjutkan perjalanan. Tapi, aku kehabisan bekal. Yang kupunya hanyalah ini. Aku sudah berusaha menjualnya dari rumah ke rumah, tapi tak satu pun membelinya. Bisakah kau membeli ini? 200 dolar saja."


Anselmus mengangkat buku setebal kamus. Sampulnya keras dan tebal, berwarna hitam, dengan judul yang ditulis besar ‘Cassava Cultivar’. Judul itu memikat Sanubari sangat dalam. Matanya sampai terbuka lebar tanpa berkedip.


Disuguhi buku tentang kultivar singkong seperti itu, obsesi pecinta singkong seperti Sanubari pastilah berkobar. Jika dipikir-pikir, Sanubari tidak pernah membaca buku tentang singkong. Selama ini, dia hanya menanam satu jenis singkong. Itu pun bibitnya dicarikan Kelana.


"Boleh lihat-lihat bukunya?"


"Oh, tentu saja boleh. Ini baca saja!"


"Terima kasih."


Sanubari menerima buku dengan sangat antusias. Daftar isinya menampilkan berbagai varietas singkong. Termasuk pembudidayaannya.


Dia mencoba membuka salah satu bab. Penjelasannya begitu mudah dipahami. Penataan halamannya artistik dan nyaman dibaca. Foto-foto berwarna terlampir. Kertasnya glossy, tidak rusak ketika terkena air.


Sanubari jatuh cinta pada buku tersebut, akan tetapi, dia tidak punya banyak uang. Selain itu, ada utang besar yang harus dilunasi.


"Dengan buku ini, aku pasti bisa membuat singkong keju yang lebih enak lagi. Tapi, kalau tabungan kugunakan untuk membeli buku ini, utangku akan lebih lama lunasnya," batin Sanubari dilema.

__ADS_1


"Bagaimana?" Anselmus menatap Sanubari penuh harap. Namun, lekas menunduk lesu karena Sanubari tidak kunjung menjawab. "Tidak masalah kalau kau tidak mau. Aku akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil menawarkan pada orang yang kutemui nanti sepanjang jalan."


Sanubari melihat buku di tangan. Dia menyayangkan buku itu bila harus dikembalikan. Terlalu banyak informasi berharga yang mungkin akan disesalinya bila melewatkan kesempatan.


"200 dolar seharusnya bukan apa-apa. Bila berhasil membudidayakan singkong baru yang sangat lezat, bukan mustahil mengembalikan 200 dolar dalam waktu singkat, kan? Dan buku ini membukakan jalan untuk itu. Lalu, utangku pun bisa lunas lebih cepat. Benar sekali! Aku harus mencobanya," kata hati Sanubari yang dilanjutkan ucapan lisan, "aku akan membeli buku ini."


"Benarkah?" Anselmus tersenyum. Matanya berbinar.


Sanubari lekas membuka laci. Semua uang yang dikumpulkan di toples dikeluarkannya. Mereka berserak di kasur, di antara Anselmus dan Sanubari. Di hadapan Anselmus, Sanubari menghitungnya lantang.


"Maaf, aku hanya punya ini." Sanubari bermuka sendu.


Anselmus mengambil uang dari genggaman Sanubari. "Tidak masalah. 185 dolar juga boleh. Bagaimana kalau untuk kekurangannya, kau membuatkan bekal untukku? Masakanmu sangat enak."


Sanubari tersenyum lebar. Dia kehabisan bahan makanan, tetapi masih memiliki kentang yang ditanam di belakang rumah. Sanubari harap itu sudah berumbi dan cukup umur untuk dipanen. Dia berjalan ke luar kamar.


"Terima kasih! Aku akan segera memasak lagi untuk Kakek Ansel! Andai punya bibit singkong, setelah ini aku pasti mencobanya!"


"Aku bisa mencarikannya untukmu bila kau memberikan uang lebih."


Mendengar itu, Sanubari seketika berhenti di gawang pintu. Dia menoleh. "Tapi, itu akan membuat perjalanan Kakek Ansel tertunda hanya untuk kembali kemari."


"Tidak. Aku akan menggunakan jasa pengiriman. 1000 dolar saja. Aku akan mengupayakannya cukup untuk berbagai varietas yang kau perlukan."


Itu sebuah rayuan maut. Sanubari terbujuk dengan mudahnya. Tanpa pikir panjang lagi, Sanubari berlari ke rumah Fang.


"Lama sekali, Sanu. Apa kemampuan larimu melambat? Atau, jangan-jangan kau pingsan di jalan?" Damiyan tertawa. Lama sudah, Damiyan duduk menunggu Sanubari di bawah pohon Sakura.


Yang ditunggu-tunggu malah asyik memasak untuk orang lain. Bukannya menjelaskan, Sanubari malah terlalu fokus memikirkan hal lain pula. Dia memasuki halaman. Namun, dia tidak menghampiri Damiyan yang sudah menunggu. Damiyan mengernyit.


"Hei, Sanu, mau ke mana? Kita harus latihan!" Damiyan berdiri.


"Nanti saja! Aku ada bisnis penting!"


Sanubari terus berlari, meninggalkan Damiyan di bawah pohon Sakura. Kendati demikian, Damiyan bergegas menyusul. Dia melihat Sanubari yang berteriak-teriak.


"Paman Alfred! Paman Alfred!" Sanubari berhenti di depan tukang kebun yang sedang mencabuti rumput liar. Tanpa jeda, dia berkata, "Pinjami aku uang 1000 dolar!"


Alfred menoleh heran pada Sanubari. Dia sedikit mendongak dalam posisi jongkok.


"Untuk apa uang sebanyak itu, Sanu?" Damiyan berhenti di belakang Sanubari.


"Ini sangat penting. Aku mohon!" Sanubari menangkupkan kedua telapak tangan.


"Jangan bilang kalau kau ingin kabur dari sini?" Damiyan curiga.


"Aku hanya ingin membeli singkong dari seorang kakek kok. Aku pasti akan mencicil utangku pada Paman Alfred setiap hari. Aku juga akan tetap mengumpulkan uang untuk utang pada Kakek Fang dan Dokter Patrick."

__ADS_1


"Baiklah. Akan kupinjami." Alfred berdiri, mengajak Sanubari ke rumah.


Damiyan melongo. Dia garuk-garuk kepala sebelum menyusul keduanya.


__ADS_2