Santri Famiglia

Santri Famiglia
Interupsi


__ADS_3

Di tengah kebingungan Aldin, Jin melangkah pasti. Pria berpedang itu melewatinya, mendorong Wongso hingga terjatuh. Kemudian, diayunkannya pedang.


Wongso menjerit sampai terkencing-kencing. Celananya basah. Bau Pesing menguar dalam ruangan.


Denting nyaring terdengar lagi. Aldin menahan bilah Jin dengan golok. Tangannya bergetar, menahan tekanan kuat dari Jin.


"Kenapa Kak Jin menyerang Bapak?"


Aldin syok. Namun, dia berusaha mengendalikan keterkejutan supaya bisa tetap berdiri. Dia sungguh tidak mengerti. Sepengetahuannya, Jin dan Wongso berada di bawah serikat yang sama. Tidak seharusnya mereka bermusuhan.


Selama ini, Jin bahkan sangat baik padanya. Perubahan sikap Jin yang mendadak ini sungguh sulit diterima Aldin.


"Kedatanganku ke mari memang untuk mengeksekusinya. Menyingkirlah!"


Jin menggerakkan kepala, memberi isyarat pada Aldin untuk pergi. Dia mundur sejenak, sengaja memberi kesempatan pada Aldin untuk berpindah tempat.


Akan tetapi, bukannya minggir, Aldin malah berdiri di hadapan Jin, menghalangi pria itu dari Wongso yang tersungkur gemetaran.


"Tapi, kenapa?"


"Karena Wongso telah melakukan kesalahan. Tugasku mengadili kesalahannya. Jadi, menyingkirlah karena aku tidak punya urusan denganmu! Paham, Anak Kecil?"


"Kesalahan apa yang dilakukan Bapak sampai Kak Jin ingin membunuh Bapak?"


"Apa kau pernah mendengar hukum potong tangan untuk pencuri?"


"Kurasa pernah mendengar di pelajaran agama."


"Itu berlaku bila sedikit, tapi kami tidak melakukannya. Kami memberi maaf untuk hal kecil. Kami tidak suka seseorang hidup dalam ketidakbergunaan. Namun, ketika pencuriannya terlalu besar, maka nyawalah yang harus dipotong. Dan akulah Sang Hakim." Jin menyeringai.


Aldin mendadak gentar. Bagaimanapun juga, Jin adalah gurunya. Dia belum pernah sekali pun menang latih tanding dengan Jin.


"Aku, aku, aku tidak mau Bapak mati dibunuh."


Aldin menggeleng takut. Senakal apa pun, Aldin bukanlah anak durhaka. Dia masih memiliki kasih sayang terhadap orang tua.


"Aku tidak akan segan melawanmu bila kau terus menghalangi. Tapi, kau masih punya pilihan. Hidup atau mati. Katakan mana yang kau mau!"

__ADS_1


Jin maju. Dia menyerang Aldin dengan pedang. Kedua benda tajam itu saling bergesekan.


"Aku ingin hidup, tapi aku juga tidak mau membiarkan siapa pun membunuh Bapak!"


Aldin berseru parau. Matanya memanas. Arir mata luruh dari mata kiri.


Dia telah salah sangka terhadap Jin. Dia pikir, ikatan baik terjalin di antara mereka. Terbayang waktu yang telah mereka lalui bersama dalam benak Aldin.


Jin telah begitu baik padanya. Jin telah menjadi sosok kakak yang baik baginya. Sehingga, tidak pernah terpikir olehnya bahwa Jin akan berbalik memusuhi seperti ini.


Jin tersenyum mendengar jawaban Aldin, lalu berkata, "Kukabulkan satu permintaanmu. Tapi, untuk yang satunya, maaf saja. Aku tidak bisa."


Jin membalik pedang. Dipukulnya pergelangan tangan Aldin dengan bagian tumpul bilah. Golok berkelontang.


Aldin mengerang. Ngilu menjalar dari lengan bawah hingga atas. Kedua tangannya seakan lumpuh untuk sementara waktu. Rasa sakitnya sungguh tidak tertahankan.


Jin beralih pada Wongso yang sedang berusaha merangkak menjauh. Dia menginjak punggung Wongso. Ayah Aldin itu seketika rebah.


"Kau tidak akan bisa lari dari hari penghakiman, Wongso!" ujar Jin.


Aldin lekas berlari. Dia tengkurep di atas ayahnya. Jika Jin menepati janji, pedang seharusnya tidak akan diayunkan. Hanya itu ide yang terlintas di pikiran Aldin.


Dia mencengkeram erat bahu Aldin. Namun, Aldin membelot. Dia enggan pergi.


"Jangan bunuh Bapak! Kalau Kakak tetap melakukannya, maka bunuh juga aku!"


Aldin seketika terdiam. Dia bermaksud menggertak Jin. Akan tetapi, dia menyadari kesalahan kata yang dipilih. Aldin menyesal, tetapi tidak bisa menarik kembali kata-katanya.


"Begitukah? Kau berubah pikiran? Baiklah, akan kuturuti permintaanmu itu," jawab Jin, "Ada pesan lain yang ingin kau sampaikan?"


"Aku, a–aku ...."


Aldin merasa dipermainkan. Dia bimbang. Goloknya terlalu jauh untuk digapai. Jika dia menghindar, ayahnya akan kena tebas. Jika dia nekad menerjang tanpa senjata, bilah itu bisa jadi akan menusuk badannya.


Terdengar bunyi ribut-ribut dari luar. Acap kali, terdengar pula sesuatu menghantam dinding dengan keras. Jin menyadari itu. Satu atau lebih orang sedang melawan rekannya di luar.


"Jangan bunuh Aldin!" kata Wongso lemah.

__ADS_1


Wongso juga mendengar kegaduhan yang terjadi. Dia berharap itu bantuan yang dia panggil. Untuk itu, dia harus bisa mengulur waktu sampai mereka berhasil menerobos masuk.


"Aku tidak butuh pendapatmu. Bila tidak ada lagi yang ingin kau katakan, maka mari akhiri ini secepatnya! Sudah cukup buang-buang waktunya," ucap Jin.


Ketika Jin sedang berbicara, pintu roboh menimpa ibu Aldin. Dua kaki berlari di atasnya tanpa tahu ada orang di bawahnya.


Aldin yang pengecut, berguling ke samping. Sementara satu pemuda yang baru saja membobol pintu, maju. Gerakannya gesit. Dia berlutut di sebelah Wongso, menahan katana yang hendak menebas pria paruh baya itu.


"Kak Penculik Baik Hati, hentikan!" serunya.


Alis Jin mengernyit. Pemuda bertopeng itu telah mengungkapkan jati dirinya tanpa menyebutkan nama. Jin tahu betul hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.


"Sanu?"


Tebakan itu membuat Sanubari terperanjat. Dia ingat sudah memakai masker sebelum berangkat. Sontak, dia pun meraba wajah. Kain itu masih menyelubungi kepalanya.


"Ba–bagaimana bisa Kak Penculik Baik Hati tahu kalau ini aku? Kakak tidak bisa melihat wajahku, kan? Atau jangan-jangan Kakak mempunyai kemampuan melihat menembus kain?"


"Kau sangat mudah dibaca, Sanu. Kalau mau menipu, lakukanlah dengan lebih baik lagi! Kau mungkin butuh sekolah penyamaran dan penipuan."


Sungguh sial Jin hari ini. Acaranya terganggu kehadiran orang takterduga. Visinya tertuju pada tangan Sanubari yang menggenggam bilah dengan tangan kosong.


Tangan itu sama sekali tidak berdarah. Padahal, sebelumnya, pedang itu bisa memutuskan tulang dalam sekali sabet. Anak buah Wongso di ruang depan pun tidak ada yang tidak terluka.


Aldin bingung dengan kedatangan Sanubari. Dia tidak bisa melihat wajah Sanubari. Akan tetapi, Jin menyebut-nyebut nama Sanubari. Aldin duduk sambil mundur.


Dingin logam tersentuh jari Aldin. Dia meraba, lalu melirik. Itu golok.


Diambilnya senjata itu. Dia melihat kesempatan dari keadaan ini. Selagi perhatian Jin teralih, dia harus menyerang.


Maka, bangkitlah Aldin. Dia mengincar lengan Jin. Gerakan itu tertangkap mata jeli Jin walau hanya dari samping.


Dia tidak bisa menarik pedangnya. Sanubari memegang bilahnya terlalu kuat. Dia berdecak kesal, terpaksa melepaskan gagang pedang untuk berkelindan dari sabetan liar Aldin.


Ditangkapnya pergelangan tangan Aldin. Kemudian, dia merebut golok. Ketika hendak membacok Aldin, Sanubari lagi-lagi menghalangi.


Pedang telah dibuang Sanubari. Pedang itu masuk ke kolong meja. Sementara Sanubari lagi-lagi menggenggam bilah tajam dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Kak Penculik Baik Hati tidak boleh membunuh. Jika itu Kakak langgar, Kak Penculik Baik Hati tidak akan baik hati lagi.""


__ADS_2