Santri Famiglia

Santri Famiglia
Menerima


__ADS_3

Teman-teman Sanubari memahami kondisinya. Mereka tidak mempermasalahkan lagi Sanubari yang menyebut mereka belalang setelah mendengar penjelasan Canda.


Hari demi hari berlalu. Setiap hari, Canda menerapi Sanubari. Eiji, Sai, dan Renji mulai bekerja di BGA. Hana dan Hanan menjadi penjaga toko tidak jauh dari rumah Abrizar. Berkat rekomendasi Aeneas, Fukai pun diterima di rumah sakit tempat Sanubari dirawat sebelumnya.


Sementara pekerjaan Abrizar tidak berubah. Dia tetap menjadi tenaga WFH atau bekerja dari rumah sambil sesekali meretas perusahaan besar dalam daftar incarannya.


Ketika sore tiba, Abrizar akan ke masjid bersama Aljunaidi dan Anki. Semua orang mulai menjalani rutinitas normalnya. Kunjungan ke rumah Sanubari pun hanya dilakukan di akhir pekan.


Hari-hari Sanubari habiskan untuk berkebun bersama Zunta, Aeneas, Kelana, dan Canda. Mereka lebih sering bermain-main daripada mengerjakan ladang. Saling lempar bola tanah maupun menyemprot air. Alhasil, masih banyak bibit yang belum ditanam.


Sampai tengah hari, koki menghampiri Aeneas, menyampaikan bahwa makan siang sudah siap. Aeneas pun menyuruh mereka menghentikan kegiatan dan mencuci tangan.


Zunta dan Sanubari berlari ke meja lesehan. Sebuah angkringan cukup luas dibuat di halaman belakang. Itu sengaja Aeneas adakan untuk menghadirkan nuansa makan di gubuk tengah sawah, meski tempat itu lebih mewah dari gubuk sebenarnya.


Sanubari tidak pernah mau disuruh ganti baju saat akan makan setelah berkebun. Zunta pun ikut-ikutan. Orang dewasa lainnya juga, mereka hanya membersihkan tanah yang menempel ke pakaian, lalu mencuci tangan. Mereka duduk mengitari hidangan yang tersaji di atas meja. Namun, saat Sanubari mengambil piring putih, warnanya mendadak Semerah darah. Sanubari tersentak.


Dia refleks melempar piring tersebut hingga pecah. Semua orang terperanjat.


Tangan Sanubari bergetar hebat seiring meningkatnya detak jantungnya. Ke mana pun mata memandang, semua tampak seperti darah. Nasi putih pun terlihat menjijikkan.


Sekelebat demi sekelebat tragedi berdarah terbayang di kepala Sanubari. Perut yang tertusuk, kepala yang tertembak, dada yang berdarah. Meski semua itu tidak jelas, tetapi napas Sanubari sesak karenanya.


Sekonyong-konyong, Sanubari berlari. Aeneas lekas mengejarnya.


"Sanu! Ada apa?" Aeneas mencekal lengan Sanubari.


Remaja itu meronta, memaksakan diri untuk terlepasdari Aeneas tanpa kata-kata. Namun, Aeneas tidak melepasnya begitu saja. Dia mendekap Sanubari dari belakang.


"Apa yang kaulihat kali ini? Tidak apa-apa. Papa ada di sini," bisik Aeneas.


Kepala Zunta tertoleh mengikuti Sanubari. Beberapa hari ini, Sanubari terlihat sangat ceria, meskipun masih menganggapnya dan yang lain sebagai belalang.


Namun, Sanubari hari ini mendadak aneh. Zunta cukup terkejut ketika melihat Sanubari tiba-tiba membanting piring seperti tadi.

__ADS_1


Dengan sedih, dia pun bertanya, "Kakek, Sanu kenapa lagi?"


"Sepertinya, Sanu mimpi buruk." Canda berdiri.


"Bagaimana mungkin Sanu bermimpi? Jelas-jelas dia bangun dan baru saja bercocok tanam denganku." Zunta tidak mengerti.


"Kaumakan saja dulu! Kakek mau membantu Sanu."


Setelah itu, Canda mengajak Aeneas untuk membawa Sanubari ke kamar remaja itu sendiri. Aeneas meninggalkan keduanya. Sanubari duduk di ranjang. Sementara Canda di kursi putar.


"Apa yang kaulihat, Sanu?"


Sanubari tidak menjawab. Dia tertunduk dengan wajah pucat.


"Coba tutup matamu, tarik napas dalam, lalu keluarkan perlahan! Itu akan membuatmu lebih tenang."


Sanubari menolak saran Canda itu dalam diam. Dia tidak berani mengangkat kepala.


"Apa ada sesuatu yang menakutkan di kerajaan belalang ini? Katakanlah jika ada! Aku akan menyingkirkannya untukmu." Canda berusaha mendapatkan kepercayaan Sanubari.


Dalam konsultasi-konsultasi sebelumnya pun Canda yang lebih banyak berbicara untuk memancing Sanubari. Walau hanya sepatah atau dua patah kata yang terkadang Sanubari ucapkan, Canda tetap sabar.


"Katakan saja!" kata Canda selembut mungkin. Dia tidak ingin terdengar memaksa. Paksaan keras hanya akan membuat Sanubari bertambah membangkang.


Sanubari bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia bimbang, haruskah dia katakan atau tidak. Pada akhirnya, satu kata keluar dari mulutnya.


"Darah."


Canda kurang paham dengan darah yang dimaksud Sanubari. Jadi, dia memberikan jawaban paling umum, "Manusia memiliki darah. Hewan juga memiliki darah. Apa yang kautakutkan dari darah?"


"Mati," satu jawaban singkat lagi yang diberikan Sanubari.


"Setiap makhluk hidup pasti akan bertemu kematian. Entah itu hari ini, esok, atau lain waktu. Begitulah siklus kehidupan. Ada yang meninggal tanpa mengeluarkan darah. Ada pula yang berdarah-darah."

__ADS_1


Semua yang dikatakan Canda itu Sanubari akui kebenarannya. Akan tetapi, Sanubari masih saja takut. Dirinya masih banyak kesalahan. Dirinya masih sangat miskin. Dia takut terjatuh ke tempat yang lebih buruk.


"Semua itu telah ditetapkan takdir. Siapa pun tidak bisa mengelak darinya. Kita hanya bisa bersiap dengan baik supaya tidak ada penyesalan ketika kematian mendekat. Aku, kau, ayahmu, teman-teman, serta semua orang di sekitarmu pasti akan mengalaminya."


"Aku pembunuh." Suara Sanubari melirih, hampir-hampir tidak terdengar. Kemudian, dia terdiam kembali.


Itu dua kata yang mengejutkan. Canda tidak selalu bersama Sanubari. Dia tidak tahu apa saja yang dialami Sanubari.


Dia hanya mendengar dari Aeneas bahwa Sanubari melihat kematian ibu, adiknya, serta Matilda secara langsung. Ketiganya mati terbunuh. Bisa jadi Sanubari sekarang sedang menyalahkan dirinya sendiri atas bencana yang terjadi. Begitulah asumsi Canda.


Terlebih lagi, Kelana pernah bilang bahwa keuluarga anak itu pernah didiskriminasikan karena dia yang terlahir berbeda. Sementara dari Damiyan dan teman-teman Sanubari lainnya, Canda hanya mendengar bahwa Sanubari beberapa kali terjebak dalam kondisi yang membahayakan nyawa.


Canda menarik kesimpulan dari semua itu. Dia tetap berusaha tenang dan mengatakan sesuatu senetral mungkin supaya tidak terkesan menghakimi.


"Satu kali berbuat salah, bukan berarti selamanya salah. Tanpa kesalahan, manusia tidak akan belajar menjadi benar. Kesalahan merupakan bagian dari kehidupan dan proses belajar. Selalu ada kata maaf dan memaafkan untuk itu.


Aku dan ayahmu pun pernah melakukan kesalahan. Mungkin lebih buruk, atau bahkan lebih besar dari yang kauperbuat, tapi kami tidak bisa terus terbelenggu penyesalan.


Kami memiliki keluarga. Jika kami terus-terusan terpuruk, siapa yang akan menjaga keluarga kami? Zunta masih sangat kecil. Dia butuh kasih sayangku.


Ayahmu memilikimu. Dia pun pasti terus melangkah maju demi dirimu. Selalu ada waktu untuk memperbaiki diri, meski waktu tidak bisa dimundurkan.


Ah, maaf! Aku jadi cerita panjang lebar. Bagaimana denganmu? Adakah sesuatu yang ingin kauceritakan?"


Lagi-lagi, tidak ada jawaban dari Sanubari. Canda terkesan menggurui di telinga Sanubari, meski lelaki tua itu sudah berhati-hati. Sehingga, jiwa penolakan dalam diri Sanubari membuatnya bungkam.


"Kauini hebat, Sanu! Kaubisa melewati hari-hari berat sendirian. Aku tidak bisa sepertimu. Tanpa Zunta, mungkin aku tidak akan bisa sampai di sini. Aku kagum dengan kemandirianmu."


Pujian Canda itu membuat Sanubari bertanya-tanya, benarkah dirinya sehebat itu, benarkah dirinya sekuat itu. Dia senang mendengarnya. Di saat yang bersamaan, ekspektasi orang lain yang terlalu tinggi terhadapnya membangkitkan kegelisahan tersendiri.


Canda membaca itu. Dia sempat melihat seulas senyum dari Sanubari, tetapi langsung menghilang sekejap mata.


"Pada akhirnya, kaulah yang paling mengerti seberapa besar kemampuanmu. Tidak perlu memaksakan diri untuk memuaskan orang lain. Orang bisa bermuka seribu, dan Kaubisa lelah sendiri bila menuruti semuanya. Ada kalanya kita perlu bersikap tidak acuh terhadap lingkungan sekitar, tapi pujianku padamu tulus." Canda tertawa, mencoba mencairkan suasana supaya Sanubari tidak terlalu tegang.

__ADS_1


"Kauharus menerima ketakutanmu itu sebagai kawan agar bisa lebih tenang, Sanu!" lanjutnya.


Canda sudah berbicara terlalu banyak hari ini. Dia memutuskan untuk menyudahi sesi kali ini. Ruangan itu hening seketika.


__ADS_2