Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tiga Pria


__ADS_3

Tiga pria bermasker hitam memasuki gerbong. Mereka menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang. Salah satu dari mereka menepuk bahu yang lain.


"Itu dia," lirihnya yang ditanggapi dengan anggukan dan gumaman kecil dari dua lainnya.


Penampilan serba hitam, pancaran aura misterius membuat dua penumpang di paling ujung bertanya-tanya, "Ninja no raibu kA?"


Pada hari-hari tertentu, pertunjukan ninja dadakan terkadang memang diadakan di sarana-sarana umum. Tanpa pemberitahuan, memberikan hiburan sekaligus kejutan pada pengunjung yang tidak menduga. Khususnya, di akhir pekan.


Selain itu, drama lapangan yang melibatkan tiga tokoh besar pemersatu Jepang—Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu telah menjadi agenda mingguan Nagoya. Sudah menjadi hal lumrah bisa bertemu dengan orang-orang berpenampilan seperti samurai atau ninja di zaman serba modern sekalipun. Terutama bila berkunjung ke Kastil Nagoya.


Akan tetapi, ini bukan Kastil Nagoya. Bukan pula bandara internasional yang terkadang menjadi lokasi pertunjukan untuk menyambut turis. Tentu ada sedikit rasa aneh bertunas dalam hati para penumpang. Apalagi, kehadiran mereka sampai mengganggu kelancaran transportasi umum.

__ADS_1


Namun, mengingat ini adalah goldenweek, dan karnaval baru saja diadakan, beberapa orang merasa wajar. Mereka mengira mungkin orang-orang ini bagian dari festival. Sementara sebagian lainnya menegang.


Perempuan di sebelah pria yang mengira ini sebagai pertunjukan langsung ninja, menolehkan kepala. Dia memperhatikan penampilan ketiga orang yang baru datang. Dari sepatu hingga atasan, semua serba hitam. Namun, tidak ada sesuatu yang menutupi kepala mereka, kecuali masker yang menyembunyikan sebagian wajah.


Salah satu dari mereka membawa pedang pendek yang tersemat di belakang punggung secara horizontal. Satu lainnya memiliki pistol melekat di paha kanan. Sedang sisanya tidak terlihat membawa senjata apa pun.


Usai mengamati, perempuan itu berkomentar, "Ninja mitakunai wa."


Tiga orang itu berjalan melewati tiga penumpang, berhenti di depan empat orang yang duduk satu kursi. Pria di tengah sekilas melihat Sanubari sebelum menatap Anki.


Anki menunduk. Dia menatap sepatu hitam yang berdiri menghadap ke arahnya. Ada tiga pasang, dan satu pasang di tengah berada cukup dekat dengannya.

__ADS_1


Dengan nada datar, pria berpenampilan serba hitam yang berdiri di hadapan Anki berkata, "Shiragami Anki, Oretachi to kitekure!"


Dia mengajak Anki untuk ikut dengannya. Sontak, Anki pun mendongak. Menatap pria asing yang tak terlihat wajahnya, tanda tanya besar berputar-putar di kepala Anki.


Gadis itu tidak bergerak dari tempat duduknya. Ekspresinya menggambarkan keluguan yang sangat murni, membuat siapa pun betah berlama-lama memandangnya. Namun, pria itu tidak dibayar hanya untuk melihat. Tak ingin waktu terulur lagi, dia pun membuka mulut di balik maskernya.


"Tate!" Pria itu menyuruh Anki berdiri.


Sanubari tidak mengerti apa yang terjadi. Akan tetapi, dia ikut mendongak, memandang dingin pada pria yang baru saja berbicara. Dia tidak akan membiarkan Anki pergi dengan pria asing tanpa alasan jelas. Karenanya, dia melontarkan kalimat, "Anki wa omaera to isshou ni ikanai."


Pria itu membalas tatapan Sanubari. "Kanojo wa Oretachi to iku kara, jama suru Na!"

__ADS_1


Lelaki itu menyuruh Sanubari untuk tidak mengganggu urusan mereka. Bagaimanapun juga, mereka akan tetap membawa Anki.


__ADS_2