
Salah seorang dari mereka membawa rekannya yang terluka menaiki mobil. Sementara sisanya mengejar Sanubari yang berlari. Mata Sanubari memindai setiap jalanan yang ia lewati, mencari tempat sembunyi. Namun, tidak ada tempat yang sepertinya bisa digunakan untuk sembunyi.
Sanubari berbelok ke kanan, kiri, melewati gang sempit. Akan tetapi, orang-orang itu selalu tahu dimana arahnya berbelok. Tiba-tiba ada yang menghadangnya di ujung gang yang berlawanan.
"Astaga, apa yang harus kulakukan?" batinnya.
Ia berada dalam posisi serba tidak menguntungkan. Berhenti, maju, mundur sama-sama ada orang yang siap menangkapnya. Sepertinya orang-orang itu lebih mengenal Medan kejar mengejar daripada Sanubari.
Orang Daeri depan menodongkan pistol sambil berseru, "Mollare!"
(Menyerahlah!)
Namun, Sanubari tidak memelankan lajunya. Sanubari yakin mereka tidak akan benar-benar menarik pelatuk. Karena jika itu dilakukan dan Sanubari menghindarinya, sudah dapat dipastikan mereka akan mengenai rekan sendiri.
Sanubari melompat ke samping, menjadikan tembok sebagai tumpuan lalu menendang kepala dua orang di depannya sekaligus. Kepala kedua orang tersebut saling terantuk lalu terjatuh, sedangkan Sanubari mendarat dengan sempurna.
Sanubari kembali ke jalanan yang lebih ramai, memasuki sebuah toko pakaian di mall tanpa tahu bahwa toko tersebut adalah toko pakaian dengan brand ternama. Tanpa sengaja ia menabrak seorang karyawan ketika masuk lebih dalam. Mereka berdua pun terjatuh.
Manekin yang dibawa karyawan tersebut terlepas dari pegangan hingga kepalanya menimpa kepala Sanubari. Sanubari mengaduh. Cukup keras manekin itu menghantam sampai kepalanya menggelinding.
Dengan panik Sanubari meminta maaf. Karyawan pria itu menenangkan Sanubari. Ia tidak mempermasalahkan kepala yang terlepas karena masih bisa dipasang kembali. Kemudian, karyawan itu mengamati Sanubari yang bermandikan peluh di musim dingin. Nampaknya Sanubari sedangkan terburu-buru.
Ketergesaan Sanubari diartikan sebagai keterburu-buruan karena mengejar waktu. Hari ini memang ada pekerja paruh waktu yang seharusnya sudah tiba setidaknya sepuluh menit yang lalu. Karyawan pria itu pun berpikir bahwa mungkin Sanubarilah orangnya.
Karyawan pria itu pun bertanya, "Sei l'uomo che si è candidato come manichino?"
(Apakah kau pria yang melamar sebagai manekin?)
"IO ...."
__ADS_1
(Aku ....)
Napas Sanubari masih tidak beraturan. Keringat pun bercucuran. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan melamar sebagai manekin. Belum sempat Sanubari memperjelas semuanya, karyawan pria itu menyeret Sanubari masuk ke sebuah ruangan.
"È un bene che tu sia venuto. Ora dobbiamo mostrare rapidamente i vestiti con gli ultimi modelli. È una buona commissione se tutti questi abiti in edizione limitata si esauriscono".
(Baguslah kau sudah datang. Kita harus memajang desain terbaru sekarang juga supaya cepat laku. Lumayan komisinya jika setelan outfit edisi terbatas ini laku semua hari ini
Mereka memasuki sebuah ruangan dengan banyak tumpukan pakaian tersusun rapi. Pembungkusnya pun dibedakan berdasarkan harga. Ada pula manekin yang tidak terpakai di sana.
Karyawan pria itu mengambil sebuah sampel lalu menyerahkannya kepada Sanubari. "Cambia rapidamente i tuoi vestiti con questo!"
(Cepat ganti pakaianmu dengan ini!?
"Ma io ...."
(Tapi aku ....)
(Tunggu apa lagi? Ada bonus seratus euro jika kita berhasil menjualnya. Cepatlah!)
Mendengar itu, Sanubari segera mengganti pakaiannya. Kebetulan Sanubari memang sedang butuh uang, lumayan jika ia berhasil memperoleh uang itu meski tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Selesai berganti pakaian, Sanubari bertanya, "Cosa devo dire per ottenere un bonus come hai detto prima?"
(Memang apa yang harus kulakukan sekarang untuk mendapatkan bonus seperti yang kau katakan tadi?)
(Kau cukup berdiri di pusat toko kita tanpa bergerak sampai jam kerja berakhir. Itu tugasmu sebagai manekin. Masalah merekomendasikan dan melayani pelanggan, semua itu bagianku.)
"Scusa, puoi prestarmi maschera e occhiali da sole?"
__ADS_1
(Maaf, apa kau bisa memberiku masker dan kacamata hitam?)
"Per che cosa?"
(Untuk apa?)
"Per nascondere la mia faccia."
(Untuk menyembunyikan wajahku.)
"Sembri una modella professionista con quel vestito. Perché devi coprirlo?"
(Kau terlihat seperti model profesional dengan setelan itu. Kenapa harus ditutupi?)
"Mi sento solo insicuro riguardo alla mia faccia. Per favore!"
(Aku hanya merasa tidak percaya diri dengan mukaku. Kumohon!(
Setelah mendapatkan pinjaman kacamata dan masker, Sanubari dibimbing keluar. Ia berpose pada tempat yang sudah disediakan. Benar saja firasatnya, para pria bersenjata mengejar sampai ke toko tempatnya berada saat ini.
"Dove è corso?"
(Kemana dia lari?)
"Sono sicuro che è qui."
(Aku yakin dia masuk sini.)
"Ho cercato dappertutto, ma non è qui."
__ADS_1
(Aku sudah mencarinya dimana-mana, tetapi dia tidak ada di sini.)
Para pria bersenjata itu berdiri tepat di depan Sanubari. Jantung remaja itu pun berdesir hebat. Sanubari berharap mereka tidak bisa mendengar bunyi jantungnya yang berisik. Ia juga berharap supaya mereka cepat pergi tanpa menyadari dirinya yang sedang berpura-pura sebagai patung.