Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kebijakan Baru


__ADS_3

Jin sekonyong-konyong tertawa. Dirinya baru saja dinasihati seorang anak kecil. Nasihat itu pun terdengar kekanakan.


"Memangnya siapa kau, Bocah? Sok mengatur-atur hidupku?"


"Aku Sanubari. Kakak sendiri sudah tahu. Kenapa tanya lagi?"


Sanubari mengernyit di balik masker. Dia menjadi bingung. Penyamarannya sudah terbongkar sejak tadi, tapi pertanyaan Jin terdengar seolah dia belum tahu.


Aldin turut larut dalam kebingungan. Dia terjebak dalam segitiga. Tangannya masih dicekal Jin, dan tidak bisa melepaskan diri. Sementara Sanubari menahan golok.


"Aku tahu kau Sanubari. Maksudku, kita ini tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, urus saja urusanmu sendiri! Urusanku adalah urusanku. Kau tidak berhak mencampurinya!" tegas Jin.


Dia semakin menertawakan keluguan Sanubari. Padahal, Sanubari belum membuka penutup wajahnya. Ketahuan pun dia masih bisa berkilah dan berpura-pura jadi orang lain. Itu yang seharusnya Sanubari lakukan, tapi tidak. Sanubari malah terang-terangan mengaku dan membongkar penyamarannya sendiri.


Sanubari sakit hati mendengarnya. Sama halnya dengan Aldin, di mata Sanubari, Jin adalah sosok kakak pengayom yang mengagumkan. Dia pikir, Jin juga menganggapnya sebagai adik. Ternyata, dirinya tidak berarti apa-apa bagi Jin.


Kekecewaan menghampiri Sanubari. Namun, kebaikan demi kebaikan yang diberikan Jin tidak bisa dikesampingkan. Jin bahkan menyatakan diri bergabung dengannya. Setitik harapan mulai tumbuh lagi dalam benaknya. Sanubari berpikir, Mungkin Jin hanya terlalu baik dan tidak ingin kebaikannya diungkit-ungkit.


Jadi, dia berkata seperti itu. Jika bukan orang baik, mana mungkin Jin mau meluangkan waktu mempelajari kasus demi membebaskannya. Begitu simpul Sanubari setelah seperenungan singkat.


"Ada. Aku berhak ikut campur dalam hidup Kakak karena Kak Penculik Baik Hati adalah anggotaku. Sebagai sesama anggota, aku berhak menegur, aku berhak mempertahankan Kakak supaya tetap baik hati."


Itu mungkin terdengar egois, tapi Sanubari tidak peduli. Dia sadar, untuk mencapai tujuan, dirinya harus memiliki ketegasan. Dia harus fokus, tidak boleh digoyahkan satu anggota yang memberontak.


Jin terdiam. Dia sungguh sial dalam misi kali ini. Kebenaran itu tidak bisa dia hindari. Bila dia tetap menentang, kesempatan di depan mata akan hilang. Terbayang wajah Anki di bawah keremangan angkringan malam itu.


"Oke, terserah kau saja! Aku tidak akan melakukan apa pun pada mereka."


Jin melepaskan tangan. Dia melangkah mundur.


Aldin juga menjauh dari mereka. Dia sedikit lega. Namun, tatapannya masih tertuju pada Jin dan Sanubari.


"Apa yang di luar itu teman kakak? Bisa tolong suruh berhenti?" Sanubari meletakkan golok ke atas meja.

__ADS_1


"Untuk apa kau masih pakai penutup wajah? Tidak berguna," kata Jin sebelum berbalik dan keluar, "Kalian, akhiri perkelahian! Orang-orang itu kawan."


Renji terkejut melihat Jin. Dia masih mengenali pengacara yang membebaskan Sanubari.


Baku hantam di antara mereka pun terhenti. Bagi rekan-rekan Jin, perintah sang ketua adalah mutlak. Kedua orang itu bahkan berinisiatif meminta maaf dan menjabat tangan.


Renji dan Abrizar kebingungan dengan perubahan yang tiba-tiba. Namun, mereka juga tidak punya alasan untuk melanjutkan perkelahian ketika kata 'teman' telah terucap. Yang artinya, mereka adalah sekutu.


"Ada bau anyir. Apa yang terjadi?" tanya Abrizar.


Jin langsung mengendus badan sendiri. Bau itu memang menempel di pakaiannya. Lalu, dia menjawab, "Ada sedikit tragedi berdarah di dalam."


"Sanu?"


Renji spontan meneriakkan nama itu, mengabaikan nama panggung yang telah mereka sepakati. Menurutnya, tidak perlu lagi melanjutkan peran karena jelas orang ini sudah tahu identitas mereka.


"Dia baik-baik saja, tapi banyak mayat orang lain di sana." Jin mengatakannya dengan santai.


Renji masuk untuk memastikan. Seperti halnya Sanubari, dia tanpa sadar menginjak orang yang tertimpa pintu.


Sanubari telah membuka masker. Dia menoleh saat mendengar jeritan.


"Ibu!"


Aldin berlari. Dia melihat ibunya terjepit.


Renji melompat. Dia sungguh tidak tahu di bawahnya ada manusia. Sanubari membantu Aldin memindah daun pintu.


"Maaf, aku merusak pintu rumahmu, Din."


Aldin hanya diam. Dia memapah ibunya ke ruang tengah. Dirinya masih tertekan dan syok. Sulit baginya melihat Jin bisa luluh pada Sanubari ketika sebelumnya menggebu ingin membunuhnya. Jelas posisi Sanubari lebih penting darinya bagi Jin. Aldin bisa melihat itu.


Sanubari membantu Wongso berdiri. Namun, pria itu berdiri sendiri. Dia mengambil pakaian ganti, lalu ke kamar mandi.

__ADS_1


Dengan lancang, Sanubari memakai dapur. Dia membuat teh untuk semua orang. Tidak tanggung-tanggung, dia memasak mi instan dan telur yang ada.


"Ketegangan tadi pasti membuat kita semua lapar, ayo makan dulu!" Sanubari menyengir, menyajikan makanan ke atas meja.


Aldin memelototi Sanubari, tetapi tidak marah. Bagaimanapun, Sanubari telah menyelamatkan keluarganya. Ditambah lagi, Aldin sadar diri tidak memiliki cukup kekuatan untuk bertindak sewenang-wenang. Mustahil dirinya bisa selamat bila tujuh orang lain yang ada dalam ruangan mendadak berubah pikiran.


Hanya saja, Aldin tidak habis pikir, bisa-bisanya Sanubari berlaga seperti tuan rumah. Sementara ini adalah rumah aAldin sendiri. Kendati demikian, dia ikut makan bersama yang lain. Masakan Sanubari kandas dalam hitungan menit.


"Jika kurang kenyang, kalian bisa masak sendiri. Berhubung kita semua sudah makan, kurasa kalian pasti sudah lebih tenang dari sebelumnya."


"Apa hubungannya ketenangan dengan makanan, Sanu? Sudah, cepat katakan saja apa yang ingin kau sampaikan! Jangan banyak omong kosong!" tegur Renji.


"Jika perut terisi, maka otak pun mendapat asupan. Dengan begitu, pikiran bisa jernih. Masak begitu saja tidak tahu, Kak Ren?" Sanubari tersenyum.


"Astaga, Gri! Apa anak ini keseringan makan jeruk basi? Suka sekali basa-basi." Renji memutar bola mata malas.


"Langsung saja, Sanu! Mereka pasti lelah dan butuh istirahat," tutur Abrizar.


Wongso memang lelah mental. Namun, dia tidak berani bertingkah di hadapan Jin. Dia khawatir Jin akan berubah pikiran kalau salah ambil langkah. Jadi, dia hanya diam.


"Begini, Pak. Sebenarnya, kedatangan kami ke sini untuk mendiskusikan perihal kuburan. Kami ingin segala macam biaya ditiadakan. Sebagai gantinya, kita bisa menyediakan kotak sedekah. Siapa pun boleh menyumbang seikhlasnya untuk pengurusan tanah makam."


Permintaan Sanubari membuat Jin seketika tersentak. Sanubari akan menyulitkannya. Namun, dia tetap diam.


"Jin, itu tidak mungkin ...."


"Kalian dengarkan saja!" perintah Jin.


Sementara Sanubari melanjutkan, "Bagaimanapun, tidak etis rasanya bila pemakaman itu dikenai tarif tinggi. Mengurus jenazah adalah kewajiban bagi kita yang masih hidup. Alangkah baiknya bila kita kerjakan dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. Biarlah Allah yang membalasnya kelak dengan limpahan pahala!


"Masalah pegawai bapak yang menjadikan pengurusan jenazah ini sebagai ladang rezeki, kami juga sudah memikirkan solusinya. Kami akan menyediakan lapangan pekerjaan. Bagaimana, pak? Apa Bapak setuju?"


"Kalau kebijakan baru ini yang diharapkan Ketua Jin, saya ikut saja. Saya berjanji akan mematuhi segala peraturan baru yang diterapkan Ketua Jin dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

__ADS_1


Wongso menjawabnya sambil menunduk. Dia masih ketakutan.


"Kak Penculik Baik Hati pasti setuju. Kami sudah mendiskusikannya."


__ADS_2