Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sambutan Hangat


__ADS_3

Memasuki rumah, ternyata bagian dalam bisa sangat terang. Bangunan tersebut memiliki dinding lengkung, membuatnya terlihat seperti setengah tabung yang tertangkup.


Lampu-lampu berbentuk kiwano terbelah berjajar di sisi kanan dan kiri. Cahaya keluar dari celah belahan, menyebar ke seluruh ruangan.


Karpet menghampar di sisi kiri dengan meja kayu memanjang berkaki seperti batang pohon berakar. Di sisi kanan, berbaris empat pintu oval dengan warna cokelat kayu gelap. Sementara dinding, lantai, dan atap berwarna lebih terang seperti bagian tengah Batang.


Ruangan tersebut memanjang tanpa sekat. Area dapur sampai terlihat dari tempat mereka berdiri. Di depan pintu masuk, terdapat wastafel dan tempat mencuci kaki dan tangan. Mereka melepas sepatu, naik ke Satu tingkat itu, lalu membersihkan diri. Tempat itu hanya dibatasi dinding kayu setengah badan dari hamparan karpet. Di atasnya, berbaris tanaman beraroma segar dan wangi, menjadi pengharum ruangan alami.


Keluar ke kanan, ada sebuah rak menyerupai batang kayu tempat menaruh sandal ruangan. Sayangnya, hanya ada dua. Jadi, tidak ada di antara mereka yang memakainya.


Naik satu anak tangga lagi, lantainya berbeda dari sebelumnya. Tempat itu berlantai kayu yang dilapisi serat kaca.


"Rumah yang unik. Serasa masuk ke dalam batang pohon," komentar Sanubari mengamati sekitar.


Perabot-perabotnya pun tampak klasik. Sentuhan alam ada di mana-mana.


"Aku suka menyatu dengan alam," sahut Fanon.


"Ini luar biasa! Tidak kusangka, ada rumah mewah di tengah hutan."


Mata Sanubari bergerak ke sana ke mari, tidak melewatkan satu pun detail. Keeleganan terpancar dari sisi mana pun, walau tidak ada sesuatu yang tampak mewah. Namun, itu cukup untuk dibilang mewah di mata Sanubari.


"Ini hanya rumah sederhana." Fanon tertawa.


"Kemewahan dalam kesederhanaan. Itu lebih dari sekadar mewah."


Sanubari tidak henti-hentinya memberikan pujian. Fanon mengajak mereka masuk lebih dalam. Dia meletakkan tiga kiwano ke atas meja dapur, lalu membuka pintu di dekat sana.


"Ini toilet." Kemudian, dia membuka pintu di sebelahnya. "Yang ini kamar mandi. Mandilah terlebih dahulu! Sudah ada handuk dan baju ganti di dalam. Baju kotor, masukkan saja ke keranjang! Besok akan kucucikan sekalian."


Sesuai kesepakatan, Fukai mandi pertama, selanjutnya Abrizar, lalu Sanubari. Selagi Abrizar dan Sanubari menunggu di kursi depan dapur, Fanon memotongkan kiwano dan menyuguhkan ke meja.


"Makanlah ini sambil menunggu! Ini enak," tawarnya tersenyum lebar.


Sanubari mengambilkan untuk Abrizar dengan mangkok kecil terbuat dari Batok kelapa sebelum mengambil untuk diri sendiri. Garpu yang mereka pakai terbuat dari kayu, dengan ujung pegangan berbentuk daun.


"Hum, ini manis, sedikit asam. Um, rasanya seperti pisang, tapi seperti ada rasa lemon juga. Ah, aku bingung menyebutnya."

__ADS_1


Sanubari menyuapkan sepotong lagi, mendalami rasanya. Buahnya kaya air seperti semangka. Terkadang terasa seperti melon atau timun.


Sementara itu, Fanon memasak makan malam. Hidangan selesai ketika keempatnya selesai mandi. Fanon menyajikan hidangan ke atas meja. Piring-piring tengkurep di atas meja, tampak seperti tumpukan daun.


Saat itu, Fukai sedang mengobati luka Sanubari. Lengan kaos dan celana panjang dinnaikkan supaya Fukai bisa menempelkan plaster baru. Di antara ketiganya, Sanubari yang tampak memiliki lebih banyak luka.


"Kalian diserang binatang buas sampai seperti itu?" tanya Fanon setelah meletakkan gelas terakhir.


"Hanya diseruduk binatang seperti rusa dengan kulit seperti zebra," jawab Fukai sambil menempel plaster.


"Oh, itu mungkin bongo. Apa kalian diserang sekumpulan bongo? Itu aneh. Tidak biasanya kawanan bongo menyerang manusia."


"Hanya satu. Sementara yang lain menjauh. Tapi, kulit Sanu menjadi lebih sensitif karena sakitnya belum sembuh total. Jadi, sentuhan ringan kerikil pun bisa menggores kulitnya sampai berdarah seperti ini, dan tidak akan menutup hanya dalam satu atau dua hari," jelas Fukai.


"Sakit apa? Apa Sanu mengidap kelainan darah yang membuat darahnya sukar membeku?" selidik Fanon.


"Tidak. Seseorang meracuninya dengan virus buatan yang sangat ganas. Dia sempat koma. Sekarang, dia sedang dalam masa pengobatan," tutur Fukai menempelkan plester terakhir.


"Bila sudah selesai, mari makan dulu! Kita lanjutkan pembicaraan setelah perut kenyang!"


Fanon sangat tertarik dengan virus yang disebut-sebut. Dia ingin mendengar lebih banyak, tetapi makanan hangat sedang menanti. Akan sangat disayangkan bila mereka dibiarkan mendingin hanya karena sebuah obrolan.


"Apa ini mi goreng? Rasanya berbeda dari spageti di Italia dan mi instan di Indonesia. Mi Jepang pun tidak seperti ini. Ada rasa jagung di dalamnya. Manis dan gurih."


Sanubari memutar-mutar garpu, memasukkan segulung mi ke mulut. Saat mengunyah pun sengaja dilama-lama demi menyesap rasa.


"Itu memang pasta dari jagung. Namanya ugalini. Lidahmu tajam juga, Sanu!"" jawab Fanon.


"Maafkan kelancangan teman saya yang mendahului tuan rumah," ucap Fukai setelah melihat Sanubari lekas memenuhi piringnya. Dia sendiri belum menyentuh piring karena Fanon belum mengambil hidangan.


"Santai saja! Jangan terlalu formal! Panggil aku FAnon dan anggap teman kalian sendiri! Ayo ambil sepuasnya! Jika perlu, habiskan semua!" ujar Fanon mengangkat tangan kanan, mengisyaratkan pada tamu-tamunya untuk segera membalik piring.


Sanubari menusuk sebuah gorengan yang terasa lembut di dalam, tetapi renyah di luar. Lagi-lagi, dia menemukan rasa jagung di dalamnya, tetapi tidak ada tekstur jagung di sana.


"Lalu, ini apa? Perkedel jagung?"


Sanubari mengangkat garpu. Di ujungnya, menancap sebuah gorengan setengah tergigit.

__ADS_1


"Itu Zambuza, terbuat dari tepung jagung."


"Wah, Pak Kora suka sekali jagung, ya? Semua serba jagung."


"Makanan khas di sini sebagian besar memang terbuat dari tepung jagung. Itu makanan pokok di sini."


Sanubari manggut-manggut mendengar jawaban Fanon. Selanjutnya, mereka makan dengan tenang. Sanubari menambah dua kali dengan masing-masing sepiring penuh.


Selesai makan, dia juga mencemil beberapa zambuza. Sementara itu, Fanon memindahkan ugalini yang tersisa ke atas kompor dan Fukai membantunya mencuci piring.


Fanon bertanya banyak tentang virus itu. Fukai dan Abrizar memberitahukan segala yang mereka ketahui.


"Beberapa negara terkaya di Afrika pun mulai terjangkit penyakit aneh. Semula, ada yang mendiagnosanya sebagai penyakit tidur, tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Lalu, muncullah pengumuman itu. Tapi, obatnya di sini jauh lebih mahal dari yang kalian sebut. Apa jangan-jangan wabah di benua ini berkaitan dengan kasus di Indonesia?" tanya Fanon setelah mendengar semua.


"Bisa jadi," jawab singkat Abrizar.


"Oh, iya. Kalian bilang kalau Sanu diobati sendiri karena dosisnya terlalu tinggi. Jadi, kalian punya penawarnya? Apa memang semahal itu biaya produksinya?"


Fanon memandang Fukai dan Abrizar penuh harap. Dia merasa beruntung, tamu-tamu tidak terduganya membawa informasi yang tampak berharga.


"Aku bukan bagian dari tim penelitian. Jadi, kurang tahu."


Fukai mengangkat bahu. Dia mengeringkan tangan sebelum bergabung dengan yang lain di meja makan.


Sanubari hanya menjadi penyimak. Dia menikmati waktu mencemilnya.


"Jika lebih murah, aku mau membelinya. Beberapa temanku butuh itu. Kuharap kalian bisa memberi tahu aku tentang informasi itu."


"Jika di sini ada internet atau alat komunikasi lintas negara, aku bisa mencoba menanyakannya sekarang juga."


Fukai merasa kasihan. Jika mereka memang terkena virus buatan itu, mereka pasti tidak memiliki waktu panjang. Penundaan akan membuat segalanya terlambat.


"Tentu ada. Pinjam ponselmu sebentar!"


Fanon senang akan segera mendapatkan informasi berharga itu. Setelah ponsel Fukai di tangan, dia segera menyambungkan pada jaringan yang hanya bisa terdeteksi dengan teknik khusus. Kemudian, dikembalikannya ponsel itu pada Fukai.


Selagi Fukai menghubungi seseorang, Fanon bertanya, "Ngomong-ngomong, kalian bilang tadi sore sedang mencari suatu tempat di sekitar sini. Tempat apa yang kalian cari? Katakan saja, akan kuantar supaya lebih aman!"

__ADS_1


"Kami mencarimu, Fanon Sangkora."


Pengakuan tidak disangka-sangka dari Abrizar itu seketika membuat Fanon tercengang. Lengkung senyum pada bibir Fanon dalam sekejap berubah menjadi garis datar. Tatapan ramahnya berubah menjadi tatapan tajam penuh kecurigaan.


__ADS_2