Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kabar


__ADS_3

Hokkaido.


Sanubari melangkah tak bersemangat. Separuh nyawanya terbelenggu gejolak pikiran. Dirinya merasa serba salah dan tidak berguna.


Melihat Sanubari yang seperti mayat hidup kembali masuk, Renji pun bertanya, "Sanu, di mana Eiji?"


Sai memperhatikan pintu geser yang telah ditutup Sanubari. Tidak terlihat bayangan siapa pun di luar sana. Pintu itu bergeming. Tak ada tanda-tanda akan dibuka kembali.


"Pergi." Suara Sanubari terdengar lesu, seolah tak memiliki gairah untuk berbicara sama sekali.


Remaja itu menjatuhkan tubuhnya ke atas futon. Berguling, terlentang, menatap kosong pada langit-langit.


"Apa-apaan Eiji itu? Kenapa seenaknya pergi tanpa berpamitan?" gerutu Renji.


"Kak Eiji berpamitan. Dia minta maaf. Katanya, tanggung jawab di sini diserahkan ke kak Sai," balaz Sanubari datar.

__ADS_1


Meski setengah melamun, Sanubari masih bisa menangkap ucapan Renji dengan baik. Kepala Sanubari dipenuhi dengan bayang-bayang sang ayah, ibu, dan Anki. Dia sangat ingin tahu keadaan Anki, tetapi Eiji mencegahnya untuk pergi.


"Hah, kenapa bisa begitu? Aku yang tertua di sini. Seharusnya aku yang menjadi ketua pengganti," protes Renji mengangkat alis.


Dia cemberut. Persis sekali dengan seorang anak yang merajuk. Renji tidak pernah habis pikir dengan keputusan yang diambil Eiji.


Sai menyadari kekesalan Renji karena merasa dilangkahi. Dia pun mengatakan, "Aku tidak keberatan siapa pun ketuanya. Kalau Ren san mau ...."


Renji mengibaskan tangan. "Tidak-tidak! Aku tidak ingin terkesan seperti senior serakah yang suka merampas hak dari juniornya. Kau saja yang jadi ketua. Itu bagus untuk latihan mu."


Tiba-tiba saja, ponsel Sanubari berbunyi. Sanubari mengangkat ponselnya. Itu panggilan dari Abrizar. Sanubari lekas menekan tombol jawab.


Setelah saling bertukar salam, Abrizar berbicara, "Sanu, aku berhasil melacak ponsel Eiji."


"Kami di Hokkaido, dan dia baru saja pergi. Aku tak tahu ke mana."

__ADS_1


"Dia masih di Hokkaido sampai satu jam yang lalu. Dia bergerak dengan cepat melewati Nagoya, tetapi berhenti cukup lama di lautan sekitar Nishikinohama," jelas Abrizar sedikit heran melalui saluran telepon.


Di kamarnya, Abrizar berulang kali menggerakkan kursor pada titik berhentinya Eiji. Berapa kali pun dia mengulang, tetap saja yang terbaca masih sama. Lautan lepas tanpa pulau. Tentu itu membuat Abrizar mengerutkan dahi.


Abrizar berpikir, tidak mungkin ada kapal yang bergerak secepat itu. Terlebih lagi, Eiji melintasi daratan dan perairan dengan sangat cepat sebelum akhirnya berhenti di tengah lautan.


Sanubari bisa mendengar ada suara ucapan sangat cepat. Saking cepatnya, Sanubari tidak bisa memahami apa yang diucapkan suara sintesis tersebut. Yang Sanubari tahu, itu adalah suara laptop Abrizar.


Mendengar penjelasan Abrizar, Sanubari merasa kagum. Dia sama sekali tidak tahu lokasi yang disebut lelaki itu. Dengan tidak sabar, dia memotong, "Apa Anki ada di sana?"


"Tidak," Abrizar menggeleng di tempatnya, "tapi aku menemukan sesuatu yang bagus, sekaligus bisa menjadi sesuatu yang buruk."


Abrizar memindah jendela layarnya. Suara seperti orang kumur itu kembali sampai ke telinga Sanubari. Sanubari selalu berpikir, bagaimana bisa Abrizar mencerna ucapan yang lebih terdengar seperti racauan bayi.


Namun, fokus Sanubari lebih tertuju pada ucapan Abrizar. Dia seketika bangkit dari pembaringan. Tanpa sadar, dia menekan terlalu keras salah satu sisi ponsel ke telinganya. Dia tak ingin salah dengar atas apa yang akan disampaikan Abrizar.

__ADS_1


__ADS_2