Santri Famiglia

Santri Famiglia
Disergap


__ADS_3

Sekeluarnya dari kedutaan, mereka jalan-jalan di sekitar Santiago. Sanubari juga mengambil beberapa foto bersama dengan ponsel barunya untuk kenang-kenangan atas saran Zunta. Malam harinya, mereka mampir ke sebuah restoran di pusat perbelanjaan.


Alunan musik mengiringi langkah mereka sepanjang lorong. Beberapa pria berselisih jalan dengan mereka. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka mengancam Canda dengan berbisik. Pistol ditodongkan kepada Canda dan Sanubari. Seketika langkah mereka pun terhenti. Sanubari tidak bisa mendengar apa yang dikatakan para pria asing yang mengepung.


Namun, matanya bisa melihat dengan sangat jelas sebuah moncong pistol ditodongkan kepada Canda. Mendadak sarafnya menegang. Tangannya pun dikunci oleh seseorang dari belakang. Ia didorong, dipaksa untuk berjalan terpisah.


"Kalian mau membawa Sanu kemana?" tanya Zunta.


Sebelumnya ia tidak pernah melihat pistol sehingga Zunta tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Gadis kecil itu tidak tahu bahwa pistol yang dibawa orang-orang tersebut merupakan senjata mematikan.


Sementara itu, Canda sedang memperhitungkan resiko dalam hati. Ia memilih diam karena tidak tahu ada berapa orang yang berada di belakangnya. Begitu beberapa orang melewatinya dengan membawa Sanubari, Canda memelintir tangan lelaki yang menodong lalu dibantingnya pria itu.


Bunyi berisik membuat beberapa orang menoleh ke belakang. Melihat rekannya dilumpuhkan, mereka pun mengarahkan pistol ke arah Canda.


Akan tetapi, Canda lebih sigap. Dengan lantang ia berteriak, "Zunta, tiarap!"


Gadis kecil itu mengikuti saran kakeknya. Ia membaringkan tubuhnya ke lantai


Dor. Dor. Dor.


Beberapa kali tembakan dilepaskan. Bersamaan dengan itu, Canda mengarahkan tangannya ke arah dua penembak. Kedua pria asing itu pun langsung tak sadarkan diri. Dua pria lain terpancing untuk menoleh ke belakang ketika mendengar desingan peluru. Sanubari ikut berbalik badan.


Lagi-lagi Canda mengarahkan tangan kanannya ke arah dua pria yang tersisa. Sanubari bisa melihat sesuatu melesat secepat kilat. Ia menoleh ke salah satu pria yang mengapitnya. Terdapat bekas luka sayatan pada leher pria tersebut sebelum akhirnya ambruk.


"Zuta, bawa Sanubari lari ke mobil!" perintah Canda yang ditanggapi dengan anggukan oleh Zunta.


Zunta berlari, ia meraih lengan Sanubari dan mengajaknya berlari. Canda memutar tubuhnya. Tidak ada lagi orang asing di sekeliling mereka. Dengan segera, Canda menyusul Sanubari dan Zuta.


Canda melajukan mobilnya ke tempat lain. Setibanya di tempat itu, ia menyuruh Zunta dan Sanubari turun. Mereka berada di sebuah rumah bergaya Eropa. Tetapi rumah megah ini berbeda dengan rumah Canda sebelumnya. Zunta juga baru pertama kali ini berkunjung.


"Kakek, ini dimana?" tanya Zunta.


"Rumah lain kakek."


"Kenapa kita tidak pulang ke rumah sebelumnya saja?"


"Kakek takut masih ada orang-orang jahat yang mengikuti kita. Jadi, kita Ke sini saja."


Canda mengajak mereka masuk kemudian mengunci pintu kembali. Tanpa banyak bicara, Canda mengajak mereka ke salah satu kamar. Canda menekan-nekan gambar tanaman di dinding sebelah nakas seolah di sana ada tombol berbentuk daun.


Setelah beberapa sentuhan, dipan, nakas dan lantai bergerak sendiri. Ada sebuah tangga turun di bekas dipan sebelumnya. Canda mengajak mereka menuruni tangga. Kamar kembali seperti semula begitu mereka masuk.


Di lantai bawah tanah, terdapat sebuah kereta listrik dengan satu gerbong penumpang. Mereka bertiga menaiki kereta tersebut. Canda menetapkan tempat tujuan lalu kembali duduk bersama Zunta dan Sanubari. Ia memotong borgol yang mengikat Sanubari menggunakan alat yang sama dengan alat yang ia pakai untuk melumpuhkan para penjahat.


Sanubari melepas headphone-nya begitu tangannya bebas. Ia tidak sabar untuk bertanya tentang pemandangan luar biasa yang baru saja dilihatnya. Dengan antusias Sanubari bertanya, "Apa yang Kakek lakukan tadi? Kenapa mereka semua bisa mendadak terjatuh? Lalu, bagaimana Kakek memotong besi yang mengikat tanganku? Apakah Kakek menggunakan alat yang sama?"

__ADS_1


Canda mengangguk. "Iya, silet pencukur jenggot."


Canda mengangkat sebuah benda pipih dengan ujung silet terekspos. Ia mendekatkan alat itu ke dagunya seolah mau mencukur jenggot. Sanubari tertawa mendengarnya.


"Masak silet bisa memotong besi dan membuat orang terjatuh?"


"Tidak percaya?" ucap Canda yang lantas mengambil potongan borgol, "perhatikan ini!"


Canda mengarahkan benda digenggamannya ke potongan borgol. Ia hanya menyentuh-nyentuhkan mata silet dengan ringan. Namun borgol tersebut bisa tercacah. Zunta dan Sanubari menyaksikannya dengan mata berbinar.


"Aku juga bisa membuatmu pingsan dengan satu sayatan. Mau coba?"


"Ah, tidak-tidak! Tapi aku juga mau alat keren seperti itu."


"Aku juga, Kek!" seru Zuta mengangkat tangan.


Canda tersenyum. Ia bersyukur kejadian tadi tidak mempengaruhi mental dua anak di bawah asuhannya.


"Untuk Sanu, nanti pasti kuberikan satu. Aku juga akan mengajarimu beladiri supaya bisa melarikan diri dengan mudah ketika bertemu orang-orang seperti mereka," ujar Canda.


Ia sudah banyak mendengar kisah Sanubari. Dari cerita demi cerita, Canda bisa menarik garis merah bahwa memang ada orang yang mengincarnya. Sepertinya identitas Sanubari ini tidak biasa.


Sanubari harus dilatih agar bisa melindungi dirinya sendiri. Canda sudah sangat tua. Tidak selamanya ia bisa menjadi pelindung bagi Sanubari dan Zunta.


Memikirkan usianya, membuat Canda semakin mengkhawatirkan Zunta. Zunta masih sangat kecil. Canda berharap dirinya akan diberi umur panjang. Setidaknya sampai Zunta kecilnya dewasa dan bisa mandiri.


"Kakek harus bersikap adil. Jika Sanu dapat satu maka aku juga harus dapat satu," nasihat Zunta bak orang bijaksana.


*****


"¿Cómo? ¿Dónde está ese chico de dos billones de shekel?"


(Bagaimana? Mana bocah dua triliun shekel itu?)


Seorang pria berambut kemerahan berkutat dengan laptopnya. Matanya tak sedikit pun teralihkan dari monitor seakan ada hal besar di sana.


"Lo siento, jefe. No pudimos atraparlo."


(Maaf, Bos. Kami gagal membawanya.)


"¡Eres débil! Los cinco ni siquiera pueden capturar a un niño. ¿El desarrollo durante estos dos años ha sido muy rápido?"


(Dasar Lemah! Kalian berlima tetapi meringkus satu bocah saja tidak bisa. Apakah perkembangannya selama dua tahun ini sepesat itu?)


"No lo sabemos, jefe. El anciano que estaba con él nos noqueó."

__ADS_1


(Kami tidak tahu Bos. Orang tua yang bersamanya membuat kami pingsan.)


Tiba-tiba saja seorang remaja lima belas tahun melompat ke atas meja. Ia berjongkok di sana lalu mendoyongkan kepalanya ke layar monitor hingga menghalangi pandangan pria berambut kemerahan.


"johyeon-a, geumanhae! neolang nol sigan eobs-eo."


(Hyun Jo, hentikan! Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu.)


"Frosty! Frosty! Frosty!"


"nae chaegsang-eseo kkeojyeo! dangsin-eun modeun hoesa deiteoleul jiul su issseubnida."


(Menyingkir dari mejaku! Kau bisa menghilangkan semua data perusahaan.)


Akan tetapi, Hyun Jo tidak mengindahkan kalimatnya. Remaja itu malah mendorong pria berambut kemerahan itu menjauh. Hyunjo memainkan laptopnya.


Ia tertawa seperti bayi yang baru saja mendapatkan mainan. Jari jemarinya dengan lincah meninggalkan jejak pada papan ketik.


"joesonghabnida, gim hoejangnim!"


(Maafkan saya, Presdir Kim!)


Han Sina tertunduk.


"naega geuleul sanchaegsikilago haji anh-assseubnikka? daesin-e geuleul nae jigjang-e delyeoganeun iyuga mueos-ibnikka?"


(Bukankah aku menyuruhmu untuk membawanya jalan-jalan? Kenapa malah membawanya ke tempat kerjaku?)


"sanchaeg-eul halyeogo haessneunde gabjagi jeolm-eun sabu hyeonjoga yeogilo dallyeowassda."


(Saya sedang membawanya jalan-jalan. Tetapi tiba-tiba tuan muda Hyun Jo berlari kemari.)


Sina menjawab sejujur-jujurnya. Napasnya saja masih terengah-engah akibat mengikuti pergerakan Hyun Jo yang tidak bisa ditebak.


Saat Kim Jong Hyun hendak memarahi Sina lagi, tiba-tiba Hyun Jo keluar ruangan sambil melempar dua kotak kecil. Dua orang dewasa itu sempat tercengang sejenak. Namun, Jong Hyun segera menyuruh Sina untuk mengikuti Hyun Jo kembali.


Sedangkan Jong Hyun bergegas menghampiri laptopnya. Laptopnya telah kembali normal. Virus ganas yang menyerang juga telah lenyap. Hanya saja tombol 'F' dan 'S' pada papan ketik laptopnya hilang.


Pola pikir Hyun Jo memang sulit ditebak. Dia juga sukar dikendalikan. Tahun lalu ketika Jong Hyun memintanya untuk mengatasi virus yang sama, remaja itu malah menghancurkan laptopnya.


Pada akhirnya Jong Hyun harus mengeluarkan uang miliaran untuk menyelamatkan rahasia perusahaan. Frosty Sky selalu meresahkan Jong Hyun setiap tahunnya. Programmer perusahaannya pun tidak pernah bisa mengatasi ketika Frosty Sky kembali menyerang. Namun, hari ini Hyun Jo membasmi virus menyusahkan itu tanpa diminta. Beruntungnya lagi, laptop tidak berakhir menjadi rongsokan meskipun harus kehilangan dua tombol.


"자폐아들은 정말 이해하기 어렵습니다."


(Anak Autis benar-benar sulit dimengerti.)

__ADS_1


Kehadiran Hyun Jo sampai membuat Jong Hyun melupakan seseorang yang sedang menunggunya di seberang telepon. Mereka hanya bisa diam tanpa bisa menyela. Tidak pula berani menutup sambungan sepihak tanpa persetujuan sang Bos Di Korea.


__ADS_2