
Pria bermasker itu lekas menyambar tangan Eiji. Dia mendongak sambil menggeser posisi Eiji sesuka hatinya.
"Persiapkan kekuatanmu!" perintah pria bermasker itu sembari menggenggam erat kedua tangan Eiji. Mereka saling berhadapan.
"Apa?"
Awalnya, Eiji tidak mengerti. Namun, setelah melihat gerak-gerik pria bermasker di hadapannya, barulah Eiji paham. Pria asing ini sedang mencoba membuat kedua tangan mereka sebagai pengganti jaring penangkap.
"Maju satu langkah!"
Kali ini, tanpa banyak cekcok, Eiji menuruti arahan itu. Dia juga memegang erat tangan pria bermasker. Pria berkacamata itu mendongak. Lensa berbingkai yang dipakai benar-benar nmembantunya mengetahui posisi Sanubari.
Kurang dari satu menit, Sanubari mendarat di atas lengan mereka. Keduanya menahan sekuat tenaga supaya tidak ikut jatuh. Meskipun lengan mereka berdenyut nyeri, tetapi masing-masing tetap mempertahankan pegangan..
"Turunkan pelan-pelan!"
Suara pria asing itu terdengar tidak nyata di telinga Sanubari. Segalanya terasa mengawang bagi remaja itu. Tubuhnya terasa digoyang-goyangkan.
Sanubari pun bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa ini?"
Pada saat itu, pandangan Sanubari gelap gulita. Raganya tidak bisa merasakan apa pun. Namun, begitu dirinya bisa melihat bayangan samar dalam minimnya pencahayaan, punggungnya ngilu.
"Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" Sanubari mengerjap bingung pada tiga kepala yang mengelilinginya.
Anki dengan mata sendunya. Eiji dengan muka seriusnya, serta pria asing dengan ekspresi entah seperti apa. Eiji bersandingan dengan Anki di sebelah kanan, sementara pria asing di sebelah kiri.
Mendengar kalimat Sanubari yang seolah tidak mengalami apa-apa membuat Eiji mengernyit. "Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kau bisa sampai jatuh?"
"Jatuh?" Sanubari mengangkat sebelah alis. Dia tidak merasa jatuh dari mana pun.
Sanubari mengedip-ngedipkan mata, menatap tangga yang menjuntai dari atas ke bawah. Garis hijau bersinar itu seperti tangga ke surga, berpangkal dari kegelapan dengan puncak bercahaya.
Sekian menit Sanubari terdiam. Dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Seingatnya, dia sedang menuruni tangga. Namun, tangga itu sekarang berada di atasnya.
Pria bermasker tidak terlibat dalam percakapan. Dia berdiri, menyentuh salah satu sisi tangga. Sekonyong-konyong, tangga kegelapan itu pun seperti ditelan kegelapan. Tangga kian memendek hingga hilang sepenuhnya.
Sesuatu menyerupai portal cahaya di atas pun menghilang. Tinggallah cahaya dari sentwer yang menjadi sumber penerangan tempat itu. Pria bermasker menyimpan tangganya kembali.
__ADS_1
"Kemudian, dia menyinari lantai. Akhirnya, pria bermasker itu menemukan titik merah yang dicari di bawah kaki Sanubari.
"Kau mata hijau, singkirkan kakimu!" perintah pria bermasker.
Sanubari tahu yang dimaksud adalah dirinya. Tidak ada orang beriris hijau selain dirinya di sana. Masih dalam kondisi ling lig lung, Sanubari duduk dan menggeser kakinya.
Pria bermasker berjongkok. Dia menggunakan kedua tangan untuk membuka sesuatu di lantai.
Sanubari terbeliak. Motif pada benda itu mengingatkannya pada peristiwa di terowongan kereta bawah tanah dan jalan di sekitar rumah Anki. Penutup-penutup gorong-gorong itu memiliki warna dan desain yang serupa.
"Kalian semua, cepat masuk sini!"
Perintah pria bermasker itu menyadarkan Sanubari dari lamunannya. Baik Anki dan Sanubari merasa Dejavu.
"Gorong-gorong?" tanya Eiji yang memandang lubang gelap itu.
"Iya, jalan bawah tanah ini akan membawa kita keluar."
"Kenapa harus ...."
Eiji tidak suka dengan sikap orang asing yang sok memerintah ini. Namun, dia tidak dibiarkan membantah atau sekadar menyampaikan opini. Adiknya dan Sanubari terlanjur mematuhi perintah itu.
Mau tak mau, Eiji pun mengikuti. Pria bermasker menyusul.
Sesuai yang dijanjikannya, pria asing itu membawa mereka ke sebuah gang. Fajar telah menyingsing ketika mereka muncul ke permukaan.
Tak jauh dari lubang yang sudah ditutup kembali itu terparkir sebuah ambulans. Seorang berpenampilan putih-putih yang bersandar pada tiang lekas berlari kecil, membukakan pintu belakang, lalu bersiap ke kursi kemudi.
"Ayo naik!" ajak pria bermasker.
Namun, Eiji menolak, "Terima kasih, tetapi dari sini kami bisa pergi sendiri."
"Kalian tidak akan mendapatkan transportasi umum untuk ke Nagoya sekarang. Mereka pasti akan memblokir semua transportasi."
"Pria ini mungkin benar. Aku saja kesulitan untuk ke mari. Untungnya, aku bertemu turis baik hati yang bersedia memberi tumpangan sampai ke sini kemarin."
Berbeda dengan reaksi Sanubari yang terkesan mendukung, Eiji malah memberikan tatapan curiga. Dalam pikiran Eiji, pria bermasker ini terlalu maha tahu untuk dianggap sekadar orang asing.
__ADS_1
"Kau, bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku? Siapa kau sebenarnya?"
"Anggap saja aku ini penggemarmu. Penggemar mana yang tidak serba tahu tentang idolanya? Jangan banyak tanya lagi! Kita harus cepat pergi dari sini. Terima saja tawaranku. Kakak tidak bermaksud membuat mata hijau yang pucat pasi ini mengeluarkan lebih banyak tenaga, kan?"
Pria bermasker menjawab dengan enteng. Dia menunjuk Sanubari.
Eiji pun menoleh. Dia teringat kejadian Sanubari jatuh dari elevator sebelumnya. Jika mereka bertemu dengan anak buah Shima setelah ini, Sanubari mungkin akan dalam bahaya karena tidak dalam kondisi prima. Dengan terpaksa, Eiji lagi-lagi harus menuruti pria bermasker itu.
Setelah keempatnya naik, ambulans dilajukan. Mobil itu meninggalkan kawasan Abe no Harukas. Sanubari duduk di sebelah pria bermasker, saling berhadapan dengan Anki dan Eiji.
Sesekali semburat jingga menerobos kaca, membuat Sanubari menyipit karena silau. Jalanan pagi itu cukup sepi, memperlancar perjalanan mereka.
"Siapa namamu?" celetuk Eiji memecah kesunyian di antara mereka.
"Aku?" Pria bermasker memandang Sanubari dan Eiji secara bergantian sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hanya kau yang tidak kukenal di sini, dan sopir yang sedang mengemudi." Eiji menoleh ke depan.
Apabila semua dipikirkan dengan baik, Eiji tahu jelas ini bukanlah kebetulan semata. Kentara sekali bahwa sopir ambulans ini tadi sedang menunggu seseorang. Belum lagi, jalan rahasia bawah tanah itu. Eiji baru tahu ada jalan tikus semacam itu di bawah sebuah gedung ternama.
"Identitas orang ini pasti tidak biasa," batin Eiji.
"Itu tidak penting, kan" Pria bermasker itu enggan mengungkapkan identitasnya.
"Apakah kita saling mengenal?" Eiji masih saja mengejar. Dia sangat penasaran dengan pria misterius itu. Lelaki itu merasa bahwa kercayaannya telah dipermainkan olehnya.
Dengan menaiki mobil bersama pria bermasker, sejatinya Eiji merasa was-was. Apakah dia benar-benar tulus ataukah akan menjerumuskannya dalam masalah yang lebih rumit, Eiji sungguh tidak bisa menebak.
Sementara itu, Anki memperhatikan Sanubari yang tepat di hadapannya. Pemuda Eurasia itu menunduk dan banyak diam. Bibir pucatnya masih tetap sama. Gadis itu sangat mencemaskan kondisi Sanubari.
Tiba-tiba saja, bunyi rem berdecit nyaring. Sanubari dan Anki terdorong akibat pemberhentian mendadak. Sanubari menabrak pria bermasker, sedangkan Anki menabrak kakaknya.
"Ada apa? Kenapa mengerem mendadak?" tanya pria bermasker dengan intonasi seruan.
Semua penumpang langsung mengintip ke depan karena penasaran. Dua mobil hitam menghadang jalan di hadapan mereka. Dilihat dari posisinya, sepertinya ked7a mobil itu baru menyalip, lalu serta-merta berhenti melintang.
"Bagaimana bisa ketahuan?" Pria bermasker berdecih.
__ADS_1