
Abrizar memimpin zikir cukup lama. Sanubari tidak bisa konsentrasi. Pikirannya menggerayang ke mana-mana. Hingga akhirnya, dia mendapatkan ide. Saat kembali berkumpul bersama yang lain, dia mengungkapkannya.
"Kita akan menjalankan misi kedua malam ini!"
Mendengar itu, semua orang menoleh pada Sanubari. Misi berikutnya adalah memperkokoh landasan bisnis. Fanon sedang menyusun proposal pendirian dan perizinan sembari mengawasi pembangunan rumah pintar. Mereka tidak menyangka Sanubari bisa berpikir secepat itu menemukan mASalah yang harus diselesaikan.
"Misi apa?" tanya Abrizar.
"Kita akan menculik seseorang dari penjara."
Sanubari menceritakan rencananya. Mereka akan membuat para penjaga pingsan, lalu membawa pergi Muktar. Sanubari akan menjadi salah satu yang terjun langsung ke lapangan. Sisanya, dia serahkan pada yang lain. Dia juga mengatakan mengapa mereka perlu membantu Muktar.
"Kita pernah membahas ini sebelumnya. Maksudku, kami. Status buronan akan mempersulit kehidupan. Polisi akan mengejar ke mana pun, dan bila kita ketahuan terlibat, maka itu akan menjadi sandungan untuk kita. Kita harus ekstra hati-hati sampai pondasi kita cukup kuat," ucap Abrizar.
"Tapi, kebenaran harus ditegakkan! Kita tidak boleh membiarkan orang tidak bersalah dihukum," sergah Sanubari.
"Ada cara aman untuk membebaskannya. Membuatnya seolah meninggal."
Jin menyampaikan idenya. Namun, dia tidak bermaksud ikut beraksi langsung. Dia hanya merasa perlu menunjukkan kontribusi sebagai bukti kesungguhan. Dengan harapan, itu akan menumbuhkan kepercayaan seseorang terhadapnya.
"Bagaimana melakukannya?" Sanubari menoleh pada Jin.
"Berdasarkan undang-undang saat ini, hukuman mati hanya dilakukan dengan cara suntik mati," kata Jin.
Abrizar langsung menyahut, "Aku mengerti. Kita punya empat dokter di sini. Kita bisa menyuruh mereka menggantikan dokter yang bertugas."
Yang Abrizar maksud adalah Fukai, Juma, Petahana, dan Petamana. Fukai dokter sungguhan. Sementara tiga yang lain merupakan ilmuwan genetika. Meskipun begitu, Petamana dan Juma paham tentang tubuh manusia.
"Tapi, itu tidak akan mudah. Polisi dan perwakilan media akan menyaksikan secara langsung, memastikan tersangka benar-benar mati lima sampai lima belas menit. Mustahil menghentikan detak jantung selama itu, lalu menghidupkannya kembali. Terlebih lagi, ada alat pendeteksi detak jantung yang pastinya dipakai," ujar Jin.
"Kita bisa menyabotase alatnya. Selanjutnya, tinggal menyerahkan segalanya pada para dokter," usul Eiji.
"Masalah identitas, aku yang akan mengurus. Memasukkan satu data tambahan ke catatan sipil pemerintah itu hal yang mudah. Jadi, dia bisa hidup bebas dengan identitas baru tanpa menyandang status buronan."
__ADS_1
Selagi Abrizar berbicara, Jin memperhatikannya. Lelaki itu selalu menjawab tanpa keraguan.
Setelah perencanaan matang, Sanubari menyampaikannya pada Fukai, Juma, Petahana, dan Petamana. Abrizar mencari tahu siapa saja paramedis yang akan bertugas. Petamana membuat cairan yang akan dipakai di hari h.
Hari yang ditetapkan pun tiba. Sai dan Sanubari mencegat perawat yang akan berangkat bekerja. Perawat itu dibuat pingsan, lalu dibawa ke rumah dokter muda yang akan bertugas. Sai mengikuti mobil yang dikendarai Sanubari dengan motor perawat.
Petahana, Petamana, Juma, dan Fukai sudah ada di rumah dokter muda. Fukai memakai pakaian milik dokter muda. Petahana melucuti seragam perawat di salah satu kamar, meminjam baju si dokter untuk dipakaikan pada perawat sementara waktu.
Petahana dan Fukai memakai masker. Mereka juga memakai sarung tangan ciptaan Eiji untuk mencuri sidik jari. Itu digunakan untuk berjaga-jaga jika diperlukan. Mereka ke rumah sakit dengan mobil dokter muda. Sai dan Sanubari mengikuti dengan mobil lain.
Sementara itu, Petamana dan Juma duduk di hadapan dokter muda yang tampak ling lung. Sejumlah obat penenang yang mempengaruhi otak telah disuntikkan padanya. Dengan itu, mereka akan mencuci otak dokter muda. Mereka menyeringai.
"Skenario seperti apa yang akan kita tanamkan ke alam bawah sadarnya?"
"Ayo suit! Yang menang boleh menentukan skenarionya," ajak Petamana.
Mereka pun mengepalkan tangan, lalu mengeluarkan benda masing-masing. Hasilnya, Petamana keluar sebagai pemenang setelah melawan gunting dengan batu. Dia berpikir sambil memandang sang dokter.
"Aku tahu."
Mereka setengah berbisik. Petamana sedang menyusun semuanya dalam pikiran. Setelah yakin mengingatnya, dia pindah duduk ke samping si dokter.
"Hari inii Senin. Hari ini kamu akan bertugas sebagai dokter yang mengeksekusi terpidana mati. Pagi ketika berangkat ke rumah sakit, kamu bertemu perawat yang motornya bocor.
"Karena kasihan, kamu memberinya tumpangan. Sementara motor perempuan itu dibawa orang bengkel untuk diperbaiki. Kamu menyuruh mereka mengantar motor ke rumahmu setelah selesai diperbaiki.
"Tugas kalian sukses. Kalian menyerahkan jenazah ke dokter lain untuk diotopsi, lalu melanjutkan pekerjaan sampai jam kerja selesai. Setelah itu, kalian pulang bersama."
Petamana terus mengulang sugestinya selama sepuluh kali. Dia melakukan hal yang sama pada si perawat. Versi cerita sedikit diubah untuk menyesuaikan.
Sementara itu, Juma siaga dengan earphone. Eiji Di seberang sedang menyamar sebagai dokter forensik. Dia harus siap bila Eiji butuh bantuan.
Selesai dengan si perawat dan dokter, mereka pergi ke tempat dokter forensik. Di sana, mereka bertemu Renji. Renji telah menangani satu dokter itu. Selanjutnya, bagian Petahana dan Juma untuk memanipulasi ingatan dengan bantuan obat-obatan.
__ADS_1
Di rumah sakit, Muktar digiring dengan tangan terborgol oleh dua polisi. Jin datang sebagai saksi bersama dua jurnalis. Mereka memasuki ruangan yang telah disiapkan.
Petahana yang berperan sebagai perawat, mempersilakan mereka masuk. Hukuman tidak langsung dilaksanakan. Banyak hidangan lezat tersaji di atas meja. Borgol dilepas, lalu Muktar diizinkan makan sepuasnya.
Orang-orang yang terlibat dalam eksekusi ikut makan, kecuali Fukai dan Petahana. Polisi bahkan menawarkan pada Muktar untuk memesan apa pun yang dikehendakinya. Selama makan mereka tidak membahas eksekusi sama sekali.
Begitu kenyang makan, agenda utama pun dimulai. Tersangka dibaringkan ke ranjang. Kabel-kabel dipasang, juga venflon.
Petahana berdiri di meja tempat peralatan, siap menjadi asisten dokter. Mereka berdoa sebelum eksekusi dimulai. Perwakilan polisi memimpin dengan khusyuk.
Setelah itu, polisi bertanya, "Saudara Muktar, adakah pesan atau permintaan terakhir sebelum ini dimulai?"
Muktar menggeleng, "Saya serahkan segalanya pada Allah."
Andai ada pun sesungguhnya Muktar ingin hidup. Polisi tidak akan mengabulkannya. Permintaan itu bertentangan dengan vonis yang dijatuhkan padanya.
Dalam hati, dia terus melafalkan, "Subhanallah, Alhamdulillah, lailahailallah, Allahuakbar, lahaula wala kuwata ila billah."
Bacaan itu tanpa putus. Dia berserah diri seutuhnya pada Sang Pencipta. Muktar ingin mati dalam keadaan baik.
Sekali lagi, polisi bertanya, "Kamu yakin?"
"Insyaallah."
Muktar mengangguk lemah. Jantungnya berdebar lebih kencang, terbaca jelas pada kardiograf.
"Baiklah, silakan dimulai, Dok!"
Fotografer mengambil gambar tanpa suara dan cahaya kilat. Rekan jurnalisnya mencatat di buku kecil, sedangkan Jin berdiri membisu. Jin ingin tahu bagaimana perencanaan itu direalisasikan.
Semua orang bisa berteori. Namun, hanya sedikit yang bisa menerapkannya secara nyata. Jin sungguh penasaran.
"Akankah kelompok kecil Sanubari berhasil menyelesaikannya?" batin Jin.
__ADS_1