
Angin berhembus cukup kencang, membuat langkah tiga pria terasa berat. Gerimis masih sedang, tetapi intensitasnya terus meningkat secara perlahan. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai sisi lain pantai sebelum hujan lebih lebat mengguyur.
"Apa ini sungguh penginapan?"
Sanubari melongo. Kepalanya sedikit mendongak. Dibilang bagaimanapun, yang ada di hadapan mereka adalah sebuah nanas. Lebih tepatnya, nanas setinggi pohon kelapa dengan lebar sepuluh meter.
Fukai berjalan ke papan kayu di depan halaman nanas raksasa. Dia membaca tulisan yang tertera di sana.
"Kurasa benar. Kata orang tadi, kita harus mencari bangunan bernama Pynappelhuis, dan itu yang terpampang pada papan di depan nanas ini. Ada caranya mengetuk pintu bila kebetulan sedang tutup. Tempat ini menerima siapa pun yang membutuhkan kapan pun. Mari kita coba!" kata Fukai mendahului.
"Selera orang Afrika memang aneh. Penginapan kita di pulau Mafia, rumah pohon yang menyatu dengan pohon. Sementara rumah Pak Kora seperti gelondongan kayu berongga. Sekarang, ada lagi rumah nanas."
Sanubari menggaruk kepala. Terasa sesuatu menggelitik kulit kepalanya.
Ketiga pria itu berdiri di serambi dengan pakaian setengah basah. Fukai menekan sebuah tombol. Tidak menunggu lama, pintu dibukakan.
"Selamat datang di Pyneappelhuish!"
Seorang pria bertopi nanas tersenyum satu jari, menyambut mereka. Pintu ditutup kembali setelah ketiganya masuk.
"Silakan lepas sepatu kalian di sini dan memakai sandal ruangan ini!"
Dia memandu mereka ke tempat penyimpanan alas kaki. Lalu melanjutkan, "Kalian sepertinya memerlukan baju ganti. Kami bisa menyediakan jika kalian mau. Kami juga menyediakan pelayanan makan malam. Apakah kalian ingin mengambil pelayanan penuh yang kami tawarkan?"
Pria itu terus berbicara sambil mengajak mereka berjalan ke pusat pelayanan. Mereka dipersilakan duduk di depan meja resepsionis.
"Wah, kebetulan kami memang tidak membawa baju ganti. Sepertinya, kami akan mengambil pelayanan penuh itu," jawab Fukai.
"Jika bisa, kami ingin satu kamar untuk bertiga," imbuh Abrizar.
"Tentu bisa. Silakan memilih menu dan tentukan jam berapa makanan ingin di antar ke kamar!"
__ADS_1
Mereka menunggu sejenak setelah memesan makanan dan menyelesaikan administrasi. Selang beberapa menit, kamar mereka selesai disiapkan. Orang yang sama mengantar mereka menuju kamar di lantai dua.
Baju ganti baru juga tertata rapi. Ketiganya langsung menurunkan bawaan. Usai mandi, Sanubari membuka penutup jendela luar. Dari jendela dalam yang berbentuk lingkaran, dia bisa melihat mendung telah menjadi lebih pekat dari sebelumnya. Hujan lebat seperti badai. Jika tidak melihat jam di ponsel, mungkin Sanubari akan mengira malam telah tiba. Padahal, masih jam tiga sore lebih sedikit.
"Aku merasa kita seperti anak Pramuka yang melakukan penjelajahan. Tadi kita memakai baju hijau-hijau dari Fanon. Sekarang, kita memakai kaos putih bergambar nanas dan celana training hitam panjang," celetuk Fukqai memperhatikan gambar pada kaos sendiri.
"Yang penting nyaman dan bersih," sahut Abrizar.
Sementara itu, Sanubari masih menatap ke luar jendela. Dia bersila di depan jendela yang tidak seberapa tinggi sejak Fukai selesai merawat lukanya. Kemudian, dia bergabung dalam percakapan.
"Aku masih penasaran apa yang ada dalam pohon raksasa itu."
Abrizar menopang dagu di meja rendah. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk. Setelah memastikan tidak ada kamera pengawas atau penyadap lain, dia menjawab, "Itu markas sesungguhnya Fanon. Di dalamnya mungkin ada ruangan-ruangan seperti rumah Fanon."
"Jadi, itu alasan mereka tidak mau memberi tahu tentang pohon itu? Eh, tunggu! Itu artinya, Tendei bagian dari kelompok Fanon?"
Fukai mulai bisa memahami sekarang. Jawaban Abrizar menjelaskan segalanya. Meskipun begitu, dia masih belum tahu banyak tentang yang dituju Abrizar dan Sanubari.
"Sepertinya begitu. Saat Fanon bilang di sana tidak ada helikopter pun aku yakin dia berbohong," kata Abrizar.
"Lalu, apa arti dari katanya bergabung dengan kita kalau Pak Kora menyembunyikan banyak hal dari kita?" tanya Sanubari. Bertunas sedikit rasa dipermainkan setelah mendengar itu. Kekecewaan datang begitu saja tanpa diundang.
"Sanu, kau harus bisa membedakan dia bergabung dengan kita atau kita yang bergabung dengan organisasinya. Itu dua hal berbeda.
"Lagipula, kita hanya orang yang baru dikenalnya, mana mungkin Fanon mau berbagi rahasia dengan kita. Saat ini pun Fanon mungkin masih setengah hati menanggapi permintaanmu, Sanu.
"Tapi, tidak menutup kemungkinan organisasi itu akan menyatu dengan kita bila kau berhasil mengambil hati Fanon sepenuhnya. Itu tugasmu."
Abrizar tersenyum. Dia sudah memilihkan rute terbaik untuk Sanubari. Sukses atau tidak, itu tergantung keseriusan Sanubari. Abrizar sendiri belum menyerahkan seratus persen hatinya untuk organisasi rintisan ini.
Dia hanya ingin bertaruh dan memberi kesempatan. Probabilitas seperti apakah yang bisa dibawa kesempatan itu untuk masa depan, Abrizar ingin mencoba melihat.
__ADS_1
"Meyakinkan satu orang dan satu organisasi bisa diyakinkan. Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak kenal siapa saja anggota organisasi itu."
Sanubari menatap Abrizar. Namun, Abrizar membalasnya dengan senyuman dan perkataan, "Kau akan segera tahu."
Bertopik obrolan berlalu. Tanpa terasa, malam telah tiba. Makan malam di antarkan ke kamar mereka ketika Abrizar sedang di kamar mandi.
Pizza zanzibar, lobster, sate sapi, sate ikan tersaji di atas meja. Karena daging-daging itu berlabel halal, Sanubari berani memesannya. Jika tidak, dia mungkin hanya akan memesan makanan laut.
Maghrebi mint tea yang terbuat dari teh hijau, mint, dan gula menjadi pilihan Fukai untuk melengkapi hidangan. Sementara Sanubari memesan zobo (minuman berbahan utama daun Rosela kering, bawang, jahe, dan nanas), sedangkan milik Abrizar adalah minuman jahe dengan perasan jeruk nipis.
"Hubungi kami bila kalian membutuhkan hal lain atau sudah selesai! Kami akan segera datang. Jika sudah tidak ada lagi yang diperlukan, kami mohon undur diri!"
Kedua pelayan itu meninggalkan kamar. Mereka tersenyum sampai sang tamu tidak terlihat lagi.
Air wastafel menggerajak, membuat getaran-getaran dari tempat lain sampai ke telinga Abrizar. Dia berkonsentrasi untuk mendengar suara samar itu.
Ketika dia berkonsentrasi penuh, dinding kedap suara pun bisa tertembus. Sebelum bisa mengendalikan, Abrizar selalu terganggu dengan banyaknya suara. Namun, seiring bertambahnya usia, dia bisa menyaring apa yang ingin didengar dan tidak. Otaknya akan secara otomatis menyamarkan kebisingan tidak diharapkan.
Dia menangkap sesuatu yang terdengar mencurigakan karena keberisikan kecil yang dibuatnya. Jadi, Abrizar membuka ketajaman pendengarannya. Seolah sedang berjalan di lantai-lantai ruangan, Abrizar menelusuri sumber suara. Raganya berdiri di tempat yang sama, tetapi pendengarannya berkelana.
"Itu bukan Paman Fukai dan Sanu. Tiga orang," batinnya.
Suara-suara itu datang dari lantai lain. Mereka sepertinya di lantai bawah.
"Sudah?"
"Ya, tinggal menunggu reaksinya saja."
"Tapi, tidak ketahuan, kan?"
"Seperti biasanya, rasa dan aroma minuman pasti bisa menyamarkannya seratus persen."
__ADS_1
"Kita memiliki waktu delapan jam setelah itu bereaksi."