Santri Famiglia

Santri Famiglia
Monas


__ADS_3

Jin menyampaikan kepada Kelana bahwa penyebab kerusakan rem yang nyaris saja membuat mereka celaka ternyata benar-benar ulah yang disengaja oleh orang lain. Jin juga mengatakan bahwa dia sudah mengetahui pelakunya. Kelana mendiskusikan hal tersebut kepada Aeneas. Mereka mufakat untuk melepaskan penjahat kecil tersebut. Lagipula sebentar lagi mereka akan meninggalkan Indonesia. Itu artinya mereka tidak akan berurusan dengan para tersangka lagi.


"Tapi orang-orang seperti mereka tidak bisa dibiarkan. Mereka pasti akan berulah lagi bila diberi kesempatan ke dua," Kata Jin yang masih meragukan keputusan mereka.


Sukun dan para anak buahnya sudah cukup sering melanggar peraturan famiglia pusat. Jin sendiri tidak akan bisa menoleransi monyet seperti mereka yang berulang kali berulah setelah diberi kesempatan. Dilepaskan pun orang-orang seperti mereka tidak akan pernah belajar dari kesalahan. Diam-diam mencuri kesempatan—begitulah tabiat mereka.


"Kita sudah berada di sini. Tidak mungkin 'kan kita kembali ke Blitar untuk memberi pelajaran kepada mereka?" ucap Kelana.


"Kalau itu sih, orang-orangku masih ada yang di sana. Aku bisa menyuruh mereka membereskannya."


"Untuk saat ini tuan Aeneas tidak ingin menindak lanjuti kasus ini. Suasana hatinya sedang senang karena tuan muda Sanubari dan nyonya Sanum bisa berkumpul dengannya dalam keadaan sehat. Jadi, dia ingin memberi kesempatan kepada mereka. Semoga saja mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan tidak akan berulah lagi di masa mendatang."


Diskusi berakhir. Jin mengirim pesan kepada Bas untuk memperingatkan para monyet nakal tanpa menyakiti mereka. Kali ini dia tidak bisa terjun langsung karena hari turnamen semakin dekat. Walaupun dia lebih suka turun tangan langsung menangani kasus. Namun, menjaga kondisi fisiknya tetap prima untuk persiapan pertandingan jauh lebih penting saat ini.


Selanjutnya mereka berlima berjalan ke parkiran mobil. Di sana, anak buah Jin sudah menunggu. Dia menyerahkan kunci mobil kepada Jin lalu berpamitan pergi bersama rekannya menaiki sepeda motor.


Kelana dan Jin menaruh barang-barang ke bagasi. Kemudian mereka memasuki terowongan bawah tanah menuju tugu Monas dengan berjalan kaki.


Setelah beberapa meter berjalan, mereka sampai di sebuah aula. Hari ini bukanlah hari libur. Sehingga bisa dibilang suasana Monas tidak terlalu ramai. Jin langsung menuju loket pembelian tiket diikuti semuanya.


"Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" sambut wanita yang bertugas di loket pembelian tiket.


"Aku ingin membeli tiket paket lengkap," balas Jin.


"Paket lengkap museum, cawan dan puncak?" Wanita itu mengonfirmasi pesanan.


"Ya."


"Untuk berapa orang?"


"Tiga dewasa, satu anak-anak dan satu pelajar." Jin menunjukkan kartu tanda mahasiswanya.


"Tiga tiket dewasa empat puluh lima ribu, satu pelajar sepuluh ribu dan satu anak-anak delapan ribu. Totalnya enam puluh tiga ribu," kata wanita itu.


Jin menggunakan JakCard untuk membayar. JakCard merupakan kartu prabayar untuk transaksi nontunai. Pada tahun ini, semua layanan di Jakarta sudah mendukung penggunaan kartu JakCard. Banyak keuntungan bisa diperoleh bila menggunakan kartu ini untuk transaksi. Misalnya mendapatkan harga lebih murah daripada membayar tunai.

__ADS_1


Lagi-lagi Kelana mengganti uang Jin dengan nominal yang lebih banyak. Bekerja untuk bos besar memang berbeda. Sedikit-sedikit mendapat tips. Mungkin seperti ini ya rasanya menjadi pemandu wisata. Pelancong mancanegara biasanya memang tidak segan-segan memberi tips lebih ketika puas dengan kinerja pemandu.


Profesi pemandu wisata itu seperti sambil menyelam minum air. Bisa jalan-jalan gratis, dapat uang dari wisatawan, masih digaji oleh agensi pariwisata yang memperkerjakan pula. Keuntungannya berlipat-lipat. Jin tanpa sadar menyamakan pekerjaannya saat ini dengan pemandu wisata.


Tiket sudah ditangan. Mereka memasuki sebuah ruangan dimana temboknya dihiasi relief-relief yang menceritakan sejarah Indonesia, melihat peta Indonesia berwarna emas, burung Garuda serta naskah proklamasi berukuran raksasa. Mereka juga sempat mendengarkan rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh presiden pertama Indonesia—insinyur Soekarno yang diputar secara otomatis selama beberapa saat sekali.


Penjelajahan pertama mereka adalah mengkhatamkan area auditorium yang berada di lantai dasar. Mereka masih punya banyak waktu sehingga mereka tidak terburu-buru ke puncak.


Sanubari berdecak kagum pada museum Nasional itu. Ia menikmati setiap diorama yang dipajang dan membaca keterangannya. Diorama-diorama itu sangat keren di mata Sanubari. Mereka benar-benar menggambarkan suasana perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaan lebih dari seratus tahun silam.


Puas berkeliling menikmati museum, mereka naik elevator menuju puncak. Sanubari langsung berlarian saat pintu elevator terbuka. Ia mengamati seluruh penjuru kota. Ini adalah wisata yang sangat menakjubkan bagi Sanubari yang belum pernah melihat dunia luar. Dia juga mencoba menggunakan teropong untuk mengamati pemandangan. Tentunya dengan bantuan Jin.


Berikutnya mereka turun ke cawan. Pemandangannya tidak jauh berbeda. Udaranya juga menyejukkan. Semilir angin membuat mengantuk. Setelah itu, mereka pulang ke rumah Jin. Dia yang mengurusi akomodasi secara keseluruhan selama mereka berada di Jakarta.


Tidak ada gangguan berarti selama itu. Urusan bisnis selesai. Visa jadi lebih cepat. Tidak terasa tiga hari telah berlalu. Kini mereka berada di bandara Internasional Soekarno-Hatta.


"Kak Penculik Baik Hati tidak ikut kami ke Italia?" tanya Sanubari merasa sedih dengan perpisahan ini.


"Aku masih ada banyak urusan di sini. Jika beruntung, mungkin kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat?" jawab Jin.


"Terimakasih sudah menemani kami selama ini. Ini untukmu," kata Kelana menyerahkan amplop cokelat.


"Apa ini?" Jin tidak langsung menerimanya. Dia mengamati amplop di tangan Kelana.


"Terima saja! Kau dilarang menolak!" paksa Kelana.


"Baiklah."


Mereka berpisah sampai sini. Rombongan Sanubari memasuki ruang tunggu keberangkatan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Jin.


Kendati demikian, Jin tetap menunggu sampai pesawat tinggal landas. Ia harus memastikan tidak ada keributan yang membahayakan rombongan Sanubari, barulah dia pulang.


Sekembalinya ke rumah, seseorang telah menunggunya di ruang tamu. Jin selalu memastikan untuk mengunci pintu bila keluar rumah. Hanya satu orang yang memiliki kunci cadangan rumahnya.


"King?" ucap Jin ketika melihat pria yang berusia dua kali lipat darinya.

__ADS_1


"Duduklah!" perintah King.


Jin duduk di sofa depan King. Mereka saling berhadapan. Sebuah amplop cokelat besar diletakkan di meja.


"Aku kemari hanya untuk memberikan bayaranmu secara langsungg karena berhasil melaksanakan tugas dengan baik.


"Ini untukku?" Jin mengambil amplop di hadapannya.


"Ya, bukalah!"


"Tumben. Biasanya juga cuma ditransfer." Tanpa sungkan Jin mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Dia menghitung gepokan uang dari dalam amplop di hadapan King.


"Aku hanya ingin menyampaikan pujian langsung. Kau benar-benar melakukannya dengan baik."


"Hm, lima puluh juta? Apa ini tidak terlalu banyak?"


"Kau pantas mendapatkannya. Gafrillo sangat puas dengan pekerjaanmu. Dia memberiku banyak hadiah. Itu hanya sebagian kecilnya saja. Untuk bayaran tugas lain, aku sudah mengirimnya ke rekeningmu."


"Fantastis!"


Hanya menemani keluarga Sanubari kurang dari seminggu tetapi bayarannya bisa setinggi ini. Tadi juga Kelana memberinya uang sebesar dua puluh juta. Jin seperti mendapatkan bayaran kombo. Pada misi biasa, umumnya Jin hanya akan memperoleh tidak lebih dari sepuluh juta. Kecuali bila King mengizinkan dia mengambil jatah lebih dari pungutan yang akan ia lakukan.


Jumlah orang yang bekerja di bawah Jin pun ditentukan famiglia pusat. Bila melebihi jumlah yang ditetapkan maka Jin harus membayar mereka sendiri.


"Pasti ada maksud lain King datang kemari," lanjut Jin.


"Oke, kau memang benar. Aku kemari untuk memperingatkanmu. Jangan sekali-sekali kau realisasikan atau ungkapkan niat konyolmu di hadapan Gafrillo!"


"Tidak akan."


"Kupegang kata-katamu. Kalau kau melanggar maka aku sendiri yang akan memberimu pelajaran. Aku tidak mau kau merusak citra kita di mata Gafrillo. Apalagi sampai menjadi awal penyebab kehancuran kita karena kau mencari gara-gara dengannya," pesan King yang kemudian berdiri, "ya ya ya, punya anak terlalu bebas yang tak gentar dengan apa pun sepertimu memang merepotkan. Sampai jumpa lagi!"


King meninggalkan rumah Jin begitu selesai memberi nasihat. Awalnya, King merasa khawatir memperkerjakan Jin kepada Gafrillo. Mengingat pemuda itu sering sekali mengatakan ide-ide ekstrim tentang Gafrillo, tidak menutup kemungkinan Jin akan mewujudkannya dengan jiwa liar yang dia miliki. Karena itu King sering mewanti-wanti Jin melalui tatap muka langsung.


Sebaik-baiknya interaksi adalah dengan tatap muka langsung. Memang kecanggihan teknologi mampu menghubungkan orang di seluruh dunia tanpa terpengaruhi jarak. Namun, kecanggihan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan nyata kasih sayang. Bila King ingin setiap perkataannya dianggap Jin dan kesetiaan pemuda itu semakin terpupuk maka dia sendiri yang harus mendekatinya tanpa perantara dalam bentuk apa pun. Baik berupa alat buatan maupun manusia itu sendiri. Interaksi fisik jauh lebih bermakna daripada interaksi virtual—begitulah moto King.

__ADS_1


__ADS_2