
"Apa-apaan kalian? Kalian benar-benar sudah kehilangan sopan santun. Seenaknya memperlakukan yang lebih tua seperti ini," hardik Fukai sembari memungut pakaiannya.
Dokter itu tidak menyangka, Sai dan Eiji akan tiba-tiba menyergap dan melucuti pakaiannya. Eiji membolak balik kemejanya, melempar, menggeledah setiap inci tubuhnya. Kedua pria itu sungguh keterlaluan. Bahkan, polisi dan petugas pemeriksa di bandara saja tidak seperti mereka.
Penampilan Fukai berantakan gara-gara keduanya. Dia memakai kembali bajunya dengan muka masam.
"Semuanya normal. Tidak ada benda asing yang mencurigakan."
Eiji kembali duduk ke tempatnya. Dia merasa sedikit tidak enak karena bersikap berlebihan. Sai juga kembali ke tempatnya.
"Tentu saja. Aku ini dokter, bukan agen mata-mata suatu organisasi. Untuk apa harus membawa benda-benda kecil rahasia seperti yang kalian pikirkan?" balas Fukai. Dia merapikan pakaiannya.
"Yo, kKawan-kawan! Apa yang sedang kalian perbincangkan? Maaf menyela sejenak. Sekedar pemberitahuan. Sebentar lagi kita akan mendarat di Pulau Mafia!"
__ADS_1
Suara Renji terdengar memenuhi kabin. Pria itu berbicara melalui interkom dari kokpit
Tujuan mereka memang Pulau Mafia di kepulauan Zanzibar, negara Tanzania, Afrika. Namanya memang Pulau Mafia. Namun, bukan berarti penduduknya merupakan sindikat organisasi gelap rahasia.
Mafia sendiri bermakna nusantara, kepulauan, kelompok. Berasal dari bahasa Arab Morfiyeh. Jadi, bisa dibilang pulau mafia adalah pulau Nusantara atau wilayah kepulauan di Afrika.
Pulau Mafia pernah menjadi pulau paling terbelakang pada zaman dahulu. Namun, sekarang berkembang menjadi pulau tersejahtera. Letaknya cukup strategis. Wilayah pesisir bisa dijadikan jalur perdagangan. Meski sering mengalami kekeringan, tetapi mereka tidak pernah kekurangan hasil laut.
"Ngomong-ngomong soal Pulau Mafia, sebaiknya kita membagi tugas. Ada yang harus menetap di pulau dan mencari informasi. Sementara aku dan Sanu akan pergi ke hutan Jozani di Zanzibar," ucap Abrizar tiba-tiba.
"Aku ikut. Kesehatan Sanu adalah tanggung jawabku," ucap Fukai. Dia merasa harus selalu bersama Sanubari untuk saat ini.
"Itu pesan Gafrillo padaku juga. Sendiri pun aku bisa memastikan Sanu akan baik-baik saja. Tapi, jika fisikmu bagus dan bisa bela diri, kurasa tak masalah bila kau bersama kami. Aku tidak akan menghalangi," balas Abrizar santai. Dia tidak pernah kekurangan kepercayaan diri bila menyangkut kemampuan sendiri.
__ADS_1
"Jangan remehkan seorang dokter!"
Fukai sedikit tersinggung merasa dianggap sebagai seseorang yang fisiknya lemah. Pekerjaan dokter mungkin hanya menangani pasien di rumah sakit, tetapi Fukai selalu menyempatkan diri untuk melatih fisik.
"Kalian terlalu berlebihan. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Sanubari menggosok bawah hidung. Tentu, dia juga tidak ingin diremehkan. Tidak ada yang percaya perkataan Sanubari itu. Dilihat dari mana pun, Sanubari tampak mengenaskan.
Setidaknya, itu yang terlihat di mata dan ada pada pikiran semua orang. Plester yang melekat di kedua telapak tangan dan lengan, bekas lebam yang sedikit terlihat dari balik tudung kaos—itu membuat Sanubari tampak seperti baru dihajar habis-habisan.
Bila Sanubari dalam kondisi normal, mungkin pandangan mereka akan berbeda. Namun, untuk sekarang, mereka hanya melihat Sanubari sebagai sosok adik kecil yang wajib dilindungi.
"Apa? Kenapa kalian ganti memandangku dengan ekspresi aneh seperti itu?"
__ADS_1
Sanubari menoleh ke kiri dan kanan. Semua orang seolah mematung. Mereka diam, tidak ada yang menanggapi Sanubari.