Santri Famiglia

Santri Famiglia
Visi Misi Perdana


__ADS_3

Semenjak mengetahui rahasia Abrizar, Sanubari sering merecoki lelaki itu. Saat sarapan, makan siang, malam, kapan pun ada kesempatan, Sanubari tidak pernah bosan mengajak Abrizar bekerja sama.


"Kak Abri, ayo membuat mafia bersamaku!"


Begitulah pintanya sekali, dua kali waktu. Namun, Abrizar selalu mengabaikan Sanubari. Bagi Abrizar, Sanubari hanyalah bocah naif yang sedang mengajaknya bermain-main.


"Kak Abri, aku yakin! Bersama-sama, kita pasti bisa menjadi mafia terbaik!" ucap Sanubari di lain waktu.


Biasanya akan diikuti pidato panjang tentang visi dan misi yang tidak pernah ketinggalan. Abrizar sampai hafal apa saja yang dikatakan Sanubari. Yang tentu saja membuatnya ingin menahan tawa.


Bagaimana tidak jika yang Sanubari katakan adalah pertama, mencuci bumi dengan detergen kebaikan supaya kejahatan luntur beserta keraknya. Ke dua, menyemprotkan pewangi berupa dakwah Morel supaya semua mafia berakhlak mulia. Ke tiga, menggosok seluruh mafia dengan setrika kepercayaan dan kebijaksanaan supaya tambah lurus hidupnya.


Entah mendapatkan inspirasi dari mana nak itu. Sanubari sepertinya menyamakan penjahat dengan paket laundry. Ada sedikit rasa sesal memilih untuk membantu Sanubari, tetapi Abrizar juga tidak bisa membiarkan anak selugu itu dalam kesulitan.


Malam ini pun Sanubari mengoceh di sebelahnya. Abrizar hanya mencoba untuk tidak memedulikannya. Hari ini ia ingin meluncurkan serangan ke salah satu targetnya. Mumpung tidak ada pekerjaan yang mendesak.


Sanubari memperhatikan laptop Abrizar. Meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan lelaki itu, sebuah nama cukup membuat Sanubari terdiam sejenak. Sanubari melirik monitor dan Abrizar secara bergantian sebelum akhirnya bertanya, "BGA itu milik Sang Kehendak Abadi?"


"Um." Abrizar mengangguk dan memulai aksinya.


"Itu mau Kakak apain?"


"Hanya ingin sedikit memberi peringatan."


"Bukankah kata Kakak, mereka itu baik? Kok diserang? Atau Kakak ingin menolongku dengan jalan ini?"

__ADS_1


"Mereka memang baik untuk warga sini. Tetapi, kegiatan ilegal mereka bisa merugikan pihak lain. Aku ingin menghentikan perdagangan miras dan senjata ilegal mereka. Produk senjata mereka tidak main-main. Banyak pembunuhan tidak terlacak gara-gara terobosan teknologi mutakhir mereka yang tersebar tanpa batasan status. Ah, mungkin dengan cara ini pula aku bisa membebaskanmu dari kejaran mereka. Terima kasih idenya."


"Kok Kakak bisa banyak tahu sih? Padahal selama tinggal bersama, kulihat Kakak tidak banyak keluar. Palingan cuma keluar ke masjid sama Abi Jun, makan, belanja terus main laptop atau hp."


"Aku memanfaatkan alat buatan mereka untuk mengumpulkan informasi." Abrizar tersenyum licik.


Waktu usianya dua belas tahun, Abrizar pernah mencuri Aifka karena mustahil meminta kepada orang tuanya. Selain persyaratannya yang rumit, keluarganya kemungkinan tidak akan mampu membayar harganya yang selangit. Ia sudah menguasai tentang peretasan kala itu. Ketika Aifka generasi pertama diluncurkan, ia nekad meretas data pelanggan lalu merubah salah satu alamat menuju alamat acak tidak bertuan.


Abrizar sengaja menggunakan alamat orang lain karena terlalu riskan jika menggunakan alamat rumah sendiri. Sampai saat ini, tindakannya sama sekali tidak terendus. Ia segera merubah alamat pelanggan ke data semula begitu Aifka telah di tangan. Selanjutnya, ia sedikit memodifikasi program Aifka supaya lebih fleksibel dan mudah dioperasikan seorang tuna netra seperti dirinya.


Jika normalnya Aifka hanya bisa dikontrol dari jarak maksimal satu kilometer melalui pusat pengendali, Abrizar merubahnya menjadi tidak terbatas. Si Jenius Buta tersebut juga memasang sistem pengenalan suara yang kala itu belum ada dalam fitur Aifka. Selain itu, Abrizar juga membuat Aifka mampu mendeteksi ketersediaan daya secara otomatis dan mencari sumber daya sendiri sehingga tidak kehabisan energi ketika dikendalikan dari jarak jauh. Dengan Aifka tersebutlah Abrizar bisa mengumpulkan informasi dari seluruh belahan dunia tanpa harus terjun langsung ke lapangan.


"Apa? Kakak mencuri?" sentak Sanubari terperanjat begitu mencerna dengan baik keterangan dari Abrizar.


Sulit dipercaya pemuda alim yang sering bolak-balik masjid bisa mencuri. Bagaimanapun juga, Abrizar terlihat seperti orang baik-baik. Mustahil rasanya jika Abrizar melakukan tindak kriminal. Agaknya Sanubari lupa bahwa kegiatan peretasan yang dikerjakan Abrizar itu sendiri merupakan kegiatan ilegal, meskipun maksudnya tidak buruk. Yang namanya kejahatan digital tetaplah kejahatan.


Sampai saat ini pun ia masih suka mencuri. Walaupun yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi hanya uang hasil perdagangan manusia, itu tidak lantas merubah status pencuriannya. Ia memberikan uang-uang tersebut kepada keluarga korban yang kerabatnya meninggal akibat organ dalamnya diambil paksa. Tidak pernah sedikit pun terbesit niat untuk menggunakan uang curian demi kepentingan pribadi.


Sanubari tidak mempertanyakan itu lagi. Ada hal lain yang menarik perhatiannya. Jantungnya terasa berhenti sesaat manakala melihat nama 'Aeneas Baldovino Gafrillo' serta sebuah foto terpampang di monitor.


"Papa?" batin Sanubari sambil mengepalkan kedua telapak tangan yang berada di pahanya.


"Berdoalah! Aku akan mulai berkomunikasi dengannya. Semoga dengan ini kau bisa terlepas dari incarannya!"


"Apa Kakak yakin dengan mengirim pesan padanya aku bisa bebas?" tanya Sanubari tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

__ADS_1


Dadanya naik turun menahan perasaan yang sulit diungkapkan. Ia masih tidak menyangka ayahnya terlibat dengan Sang Kehendak Abadi. Seharusnya dia bangga karena ayahnya bagian dari pencipta perdamaian Italia. Namun, kenyataan pasukan Sang Kehendak Abadi mengejarnya malah membuat Sanubari semakin curiga.


"Tentu saja! Jika dia setuju untuk membebaskanmu maka dapat dipastikan para mafioso itu tidak akan mengusikku lagi," jawab Abrizar mantap.


"Kok Kak Abri kedengarannya yakin sekali?"


"Ya iyalah! Kau tahu siapa Aeneas Baldovino Gafrillo' ini?"


"Tidak," balas Sanubari asal.


Ia ragu untuk mengakui Aeneas sebagai ayahnya di hadapan Abrizar. Andaikan Abrizar bisa melihat, pasti kebohongan Sanubari sudah terbongkar. Remaja tersebut sebelas dua belas dengan ayahnya.


"Dialah bos besar Gafrillo. Bos besar Sang Kehendak Abadi—pemimpin tertinggi yang disegani semua mafia," terang Abrizar.


Fakta tersebut membuat Sanubari semakin terbelalak. Sanubari sampai tidak mampu berkata-kata. Namun, ada rasa yang tersulut dalam dirinya. Sebuah rasa yang sulit digambarkan.


Ia menatap sengit pada foto ayahnya tanpa menghiraukan percakapan Abrizar dengan Aeneas. Begitu fokusnya, sampai Sanubari tidak sadar Abidzar sudah memasang headphone. Menit berikutnya, Sanubari menyeringai.


Lalu, dengan lantang Sanubari berseru, "Sudah kuputuskan! Aku akan menjadi perintis mafia bersahaja serta berakhlak mulia. Akan kubersihkan kotoran dari mafia dan kujadikan dunia ini surga dengan mafia baik hati!"


Sontak saja Abrizar terkejut. Ia sampai membisukan mikrofonnya supaya suara dadakan Sanubari tidak sampai bocor ke seberang. Padahal tadi ia sudah memberikan kode kepada Sanubari untuk tidak berisik.


"Dasar Anak ini!" gerutu Abrizar sembari sekali lagi memberikan isyarat kepada Sanubari untuk diam.


Namun, Sanubari tidak jua diam. Ia terus menyerocos, mengulang pidato panjangnya untuk merayu Abrizar.

__ADS_1


"Haduh, anak ini mulai lagi ...," gumam Abrizar dalam hati.


__ADS_2