Santri Famiglia

Santri Famiglia
Hujan Lebat


__ADS_3

Lima belas tahun silam—ketika Fang menjalani tahun pertama pensiun, hujan deras mengguyur. Listrik padam. Perapian meretih-retih, memberikan penerangan pada ruangan. Putra pertamanya menengok ke luar jendela sambil meletakkan lilin ke atas meja.


"Ayah, suasana ini terlalu temaram untuk membaca. Mengapa tidak istirahat sebentar saja?" kata sang menantu pertama dengan penuh kekhawatiran.


"Dan sebenarnya, Ayah ini aneh, bukankah kita sudah hidup di era modern sekarang? Mengapa Ayah masih menyimpan lilin dan tidak memiliki senter LED yang bisa diisi ulang?" Putra pertama Fang duduk di sampingnya, mengungkapkan keheranannya.


Putra keduanya bergabung dalam percakapan, "Ayah, coba saja ikut aku ke kota. Kita tidak akan mengalami kegelapan seperti ini di sana."


"Di luar sedang badai, jadi wajar kalau ada pemadaman listrik, bukan?" Fang tersenyum sambil melanjutkan, "mungkin saja ada pohon yang tumbang dan mengenai kabel listrik. Jika itu masalahnya, baik di desa maupun di kota, hasilnya akan sama."


Putra pertama menghela nafas panjang. "Mungkin saja begitu, tapi lihatlah! Ayah ini seperti ingin kembali ke masa primitif."


Rumah Fang memang luas, tetapi hampir tidak ada peralatan elektronik kecuali di dapur dan pencahayaan. Bahkan telepon rumah pun tidak ada, apalagi ponsel. Untuk berkomunikasi dengan Fang, anak-anak dan cucu-cucunya harus mengirim surat bila tidak ingin merepotkan tetangga atau datang langsung ke rumahnya.


"Ini pasti gara-gara bacaan Ayah!" Putra kedua Fang mengambil buku dari Fang.


"Itu buku yang sangat bagus. Kalian akan mengerti apa itu kebersamaan sesungguhnya bila membacanya."


Bagi Fang, kehidupan yang sederhana dan jauh dari kecanggihan teknologi adalah sebuah pilihan yang disengaja. Ia membenarkan anggapan bahwa terlalu bergantung pada alat-alat modern dapat menghilangkan nilai-nilai tradisional dan kualitas interaksi sosial yang sebenarnya.


Sambil melihat cahaya lembut dari api lilin yang memancar di ruangan, Fang membayangkan bab-bab yang tertulis dalam buku. Dia meresapi semua, seakan dirinya berada dalam cerita, menghabiskan masa kecilnya di desa. Ia tumbuh dalam keadaan yang jauh dari kemewahan dan terbiasa dengan sederhana. Setiap malam, keluarganya akan berkumpul di depan perapian, menceritakan kisah-kisah nenek moyang, dan saling bertukar cerita. Itu adalah momen yang paling berharga baginya, di mana hubungan keluarga terjalin dengan erat. Sayang, itu hanya khayalan, pengalaman yang belum pernah ada dalam hidup Fang.


Fang terlahir dalam keluarga yang berkecukupan. Kedua orang tuanya bekerja, sedangkan Fang sendiri menyibukkan diri dengan kegiatan karena tidak ingin kesepian di rumah. Setelah menikah, Fang juga jarang bersama anak dan istri. Tugas-tugas rahasia tidak jarang mengharuskannya jauh dari keluarga selama berbulan-bulan. Meskipun begitu, hubungannya dengan keluarga tetap baik. Mendiang istrinya sukses mendidik anak-anak mereka menjadi pribadi yang memiliki kepedulian.


Sayangnya, kepedulian itu sebatas memenuhi kewajiban merawat. Dia pernah tinggal di rumah putra-putranya. Baik putra maupun menantunya lebih sering menghabiskan waktu di luar untuk bekerja. Cucu termudanya bahkan dirawat oleh seorang pengasuh. Mereka terlalu sibuk dengan dunia masing-masing. Oleh karena itu, Fang memutuskan untuk pindah ke desa. Sejak saat itu, keluarganya sesekali memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi Fang.


"Ayah, kamu memang memiliki kebiasaan yang unik," kata menantu keduanya sambil tersenyum, "tapi aku harus mengakui, suasana di sini sangat nyaman dan hangat. Rasanya seperti kembali ke masa lalu yang tenang."


Fang tersenyum padanya, merasakan kebahagiaan melihat kedua menantunya mulai mengerti alasan di balik pilihannya yang sederhana. "Terima kasih, anak-anak. Aku hanya ingin kita bisa menikmati momen bersama tanpa gangguan dari dunia luar yang begitu bising."

__ADS_1


Para bocah berlarian dalam keremangan. Mereka yang sudah remaja pun turut bermain. Rumah ramai dengan gelak tawa anak-anak.


Pada malam itu, hujan terus mengguyur dengan lebatnya. Sambil menatap keluar jendela, mereka mendengar suara gemuruh petir yang mengguncang langit. Namun, mereka tidak merasa takut atau cemas. Mereka merasa aman dan damai di pelukan kehangatan rumah Fang.


"Kakek, ceritakan lagi kisah kehidupan di desa. Aku ingin mendengarnya," pinta cucu kelimanya, yang baru berusia tujuh tahun.


Cucu-cucunya yang lain berhenti bermain. Mereka mencari posisi nyaman sendiri-sendiri, sementara yang masih kecil-kecil mengutarakan permohonan yang sama.


Fang tersenyum pada cucunya dan memulai kisah yang telah ia ceritakan berulang kali. Suasana semakin hidup dengan sorakan dan gelak tawa anak-anak yang semakin terhanyut dalam kisah. Mereka membayangkan desa yang indah, alam yang hijau, dan kehidupan yang sederhana.


Beberapa jam kemudian, hujan mulai reda. Dari kejauhan, terdengar suara mesin-mesin listrik yang kembali menyala, menandakan pemadaman sudah usai. Namun, tidak ada yang beranjak dari tempatnya. Mereka masih tetap duduk di sekitar perapian, menikmati momen kebersamaan yang langka dalam kehidupan modern yang begitu hektik.


"Saya rindu momen seperti ini," kata menantu pertama dengan suara lembut. "Kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan dunia luar sehingga melupakan pentingnya waktu bersama keluarga."


"Benar sekali," sahut menantu keduanya. "Kehidupan yang sederhana ini mengajarkan kita untuk menghargai hal-hal kecil dan bernilai."


Lilin-lilin masih dibiarkan menyala. Itu keputusan yang tepat karena pemadaman kembali terjadi bersama Guntur yang menggelegar. Kilat sesaat menerangi malam. Kaca-kaca bergetar, lalu hujan yang lebih lebat turun. Beberapa anak menjerit saking terkejutnya.


"Ada yang mendengar itu?" Menantu kedua memastikan mereka mendengar hal yang sama.


"Biar kuperiksa!" Putra pertama berdiri. Dia membawa salah satu lilin, berjalan ke pintu depan..


Saat pintu dibuka olehnya, sesosok pria tua terlihat berdiri. Dia tidak mengenali pria tua tersebut. Mantel besar menyelubungi sekujur tubuh si pria tua. Bagian depannya menggembung. Tangannya seperti sedang membopong sesuatu yang disembunyikan di balik mantel basah.


Wajah berair si pria tua tampak garang. Tergambar kemarahan dari sana. Kegelapan dan cahaya remang kekuningan membuatnya tampak menyeramkan.


"Fang ...." Satu kata itu terucap dari pria tua asing. Suaranya berat, menunjukkan banyaknya usia yang dia miliki.


"Vladimir Arshavin?"

__ADS_1


Suara itu mengejutkan putra Fang. Saat dia menoleh, sang ayah telah berdiri di sebelahnya. Fang mengernyit. Tatapannya seolah sedang menyelidiki pria tua yang seumuran dengan dirinya.


"Fang, aku butuh bantuanmu! Pria tua itu mengatakannya degan intonasi mendesak.


"Ini sungguh kau, Vlad?" Fang seakan tidak percaya dengan pemandangan di hadapan.


Mereka tinggal di benua yang berbeda. Fang tidak pernah berpikir seseorang akan mengunjunginya dalam cuaca seburuk ini. Intensitas hujan kembali naik. Petir menyambar-nyambar.


"Iya, ini aku."


"Oh, sahabat lamaku, mari masuk! Mari masuk!"


"Selamatkan cucuku!" Vladimir setengah berlutut guna menyangga sesuatu dalam pondongan supaya bisa bergegas membuka mantel.


Dari baliknya, terlihat seorang anak kecil yang memejamkan mata. Kulit pucatnya tampak kekuningan karena pendar lilin. Bau anyir tercium darinya.


Fang lekas menyuruh Vladimir membawa anak kecil itu masuk. Kurangnya pencahayaan membuat keluarga Fang kesulitan memahami apa yang terjadi pada si bocah.


"Webster, siapkan baju ganti dan hidangan untuk tamu-tamu kita!"


"Baik, Ayah!" Putra pertama Fang membimbing mereka ke kamar kosong.


Dia meninggalkan lilin di nakas, lalu menyuruh istrinya mengerjakan perintah Fang. Sementara itu, Vladimir membaringkan bocah dalam dekapan ke kasur. Air menetes-netes dari mantel. Ketergesaan membuatnya lupa menanggalkan mantel yang basah kuyup.


"Ada apa dengan anak ini?" Fang memperhatikan noda yang menempel pada baju. Namun, dia tetap saja kesulitan menafsirkan apa itu. Cahaya lilin menyamarkan warna asli dari apa yang dilihatnya.


"Dia tertembak." Tersirat kesedihan dalam getar suara Vladimir.


Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Fang berteriak, "Web, panggil Robert ke sini sekarang juga!"

__ADS_1


"Sekarang?" Webster seakan enggan. Hujan masih belum reda, malahan bertambah lebat.


"Jangan menunda-nunda! Bilang ada yang sekarat di sini dengan luka tembak!"


__ADS_2