
Masinis meninggalkan kabinnya. Para penumpang lain pun terus berteriak-teriak histeris. Lampu kereta berkerlap-kerlip.
Mereka berlari menjauhi kabin masinis. Ada yang memecahkan kaca untuk melompat keluar, atau memanjat ke atas kereta. Ada yang berlari ke belakang, mencari pintu yang bisa dibuka. Mereka saling tubruk, sampai ada yang terjatuh dan terinjak.
Ledakan susulan berdebum keras. Semua penerangan padam seketika. AC pun juga mati, membuat udara mendadak pengap dan sesak.
Di kereta yang berlawanan.
Sanubari tersungkur. Mitsuki hampir saja terjatuh. Namun, dia sempat berjongkok dan berpegangan pada kursi.
Sementara itu, Abrizar berhasil meraih kembali Anki. Tunanetra itu berpegangan pada tiang sambil memeluk Anki supaya tidak terjatuh.
Api merambat dari kabin masinis. Kepulan asap lebih dahulu menyeberang dari gerbong ke gerbong, membawa aroma khas besi tertempa. Abrizar mengendusnya. Otaknya memblokir sebagian suara, memadukan aroma dan bunyi gemeretak yang mungkin menjadi penyebab. Lelaki itu seperti melihat melalui getaran.
"Kereta ini akan terbakar!" serunya kemudian.
Serempak, Sanubari dan Mitsuki menoleh. Dua pasang mata itu menerobos lorong. Hanya sedikit liukan api yang dapat mereka lihat karena kereta tidak lagi lurus. Mitsuki dengan segera meraih lengan Sanubari.
__ADS_1
"Ayo lari!"
Keempat anak manusia itu dengan susah payah menuju gerbong penumpang paling akhir. Tidak ada gerbong yang baik-baik saja. Pecahan kaca berserak di mana-mana. Namun, tiada penumpang lain di sisi kereta ini, kecuali mereka berempat dan tiga pria bermasker yang pingsan.
"Bagaimana ini? Sepertinya kita terjebak di jalan buntu." Anki menggigit bibir di Akhir kalimatnya.
Mitsuki juga tidak menyangka pintu yang dibukanya menghimpit dinding. Sementara pintu lain tertutup. Lewat jendela pun mustahil. Ada reruntuhan yang memblokir jalan. Sanubari menoleh pada bagian ekor.
Dalam diam, dia melangkah. Tangan kanannya menggenggam erat baksil, menempelkannya pada dinding besi, lalu memperpanjang bilah silet. Anki dan Mitsuki memperhatikannya.
"Apa yang kau lakukan, Sanu?" tanya Mitsuki heran.
Tangannya bergerak membentuk bujur sangkar. Dia sangat berharap di ujung gerbong ini tidak ada reruntuhan yang menghalangi jalan. Dia masih ingin hidup. Setiap kali memikirkan kematian, wajahnya selalu mendadak pucat. Namun, dia tidak ingin menyerah. Dia ingin harapan sekecil apa pun itu tetap menyala dan membawa kebebasan untuknya.
"Itu ide yang brilian. Tapi, bagaimana bi—" kalimat Mitsuki terhenti begitu saja ketika melihat rangka logam di hadapannya berdentang-dentang terjatuh, "oh, aku tidak tahu kau mempunyai alat setajam itu."
Kini, lubang cukup lebar terbuka untuk mereka. Akan tetapi, masih ada satu tabir lagi yang harus mereka belah. Mitsuki menurunkan pandangan, menatap pemotong menyerupai cutter di tangan kanan Sanubari.
__ADS_1
Sanubari melangkah terlebih dahulu. Dia kembali membuka jalan tanpa banyak bicara. Setelahnya, satu demi satu dari mereka pun melompat.
Bunyi bergaung terdengar sangat keras dalam terowongan gelap. Anki menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Mitsuki lekas mengeluarkan ponsel, mengaktifkan senter.
"Dua menit dari sekarang, jika kita tidak segera pergi dari sini, mungkin kereta lain akan menabrak kita." Abrizar mengeraskan suaranya. Dia sudah seperti alarm pengingat bahaya.
Mitsuki berdecak kesal. "Kupikir kita bisa berjalan santai ke stasiun sebelumnya."
Dengan adanya satu kereta lain, seharusnya kereta yang menuju ke arah mereka bisa berhenti tepat waktu tanpa terlibat efek dominoo. Itu hanya mungkin bila sinyal kereta berfungsi dengan baik. Namun, melihat kondisi saaat ini kemungkinan besar sinyal kereta yang baru saja menabrak juga mati.
Anki menoleh, hanya kegelapan total yang didapatinya. Listrik pada kedua kereta telah padam sempurna. Sementara kobaran api yang berada pada kegelapan belum tampak.
Buru-buru, Mitsuki membuka Navigasi. "Ikuti aku!"
Mereka berlari di atas kegulitaan rel, menantang kereta lain yang akan datang. Abrizar mengernyit heran dengan pilihan Mitsuki. Ini seperti menyerahkan diri dengan suka rela sebagai santapan ular besi bertenaga listrik.
"Mitsuki, kita bergerak ke Arah kereta itu datang. Apa kau tidak salah?" tanya Abrizar penuh selidik.
__ADS_1
Sejak awal, seharusnya dia tidak mempercayai Mitsuki. Lelaki itu terlalu mencurigakan untuk dipercaya. Namun, dia tidak punya pilihan selain mengikuti Mitsuki yang mungkin saja membawa mereka pada misi bunuh diri.
Abrizar sendiri tidak tahu harus ke mana. Sambil berlari, telinga Abrizar mencari tembok yang mungkin saja bisa dipotong dengan alat Sanubari. Sayangnya, semua terlalu tebal. Malam panjang menegangkan mereka belum berakhir. Malaikat maut pun masih setia mendampingi.