Santri Famiglia

Santri Famiglia
Infeksi


__ADS_3

"Pak, saya sudah mengarahkan mereka untuk menaikkan dosis pada anak itu dan saya baru saja mendapatkan laporan bahwa dia telah berhasil diinfeksi."


"Bagus. Nyawa memang harus dibayar dengan nyawa."


Burhan tertawa puas. Akhirnya, pembalasannya tercapai.


Andaikan waktu itu Sanubari tidak mencegah Sanum dibawa polisi, keponakannya mungkin masih hidup di sini. Kenangan masa lalu menyeruak. Kala itu, ketika Burhan masih sering mengunjungi lapas untuk menjenguk sang keponakan dalam masa kurungan.


"Pakde, aku mau hidup, mau bebas. Aku menyesal, Pakde. Menyesal."


Bahu gadis itu bergetar, naik/turun mengiringi isakannya. Air mata berderai. Dia tergugu. Dia bahkan tidak repot-repot menghapus cairan yang terus menetes.


Gadis itu tertunduk dalam. Tidak sedikit pun berani mengangkat kepala. Rasa malu dan takut seolah membebani tengkuk dan kepala belakang hingga membuatnya tetap merendahkan pandangan.


"Cah Ayuku Kiara, sudah, tenanglah! Pakde di sini akan membantumu supaya bisa keluar dari sini."


Namun, ucapan itu sebatas ucapan. Burhan gagal mewujudkannya. Berulang kali dia memohon, mengajukan grasi, menawarkan jaminan, tetapi pihak kepolisian tetap menolak.


Sanksi telah ditetapkan dan tidak bisa diganggu gugat. Pembunuhan berencana yang dilakukan Kiara terlalu rapi. Pihak kepolisian hampir saja memisahkan ibu dari anaknya karena salah tangkap.


Tahun itu juga, eksekusi dijalankan. Barang bukti yang disita tidak pernah boleh diambil.


Sejak saat itu, Burhan mencari tahu siapa yang menyebabkan keponakannya ditangkap polisi. Sayang, Sanubari dan Sanum telah pergi dari Indonesia ketika Burhan mengetahui faktanya.


Beberapa bulan kemudian, dia melihat Sanubari dalam berita internasional. Dia mencari tahu lagi tentang Sanubari. Saat itulah, dia mengenal Baron.


Baron adalah pawang burung kawakan. Segala aksinya terbungkus rapi dengan perantara para elang peliharaannya. Dengan begitu, tidak ada yang bisa melacak perbuatannya. Terbukti beberapa tahun semenjak kematian Sanum, belum ada yang mengusiknya sampai sekarang.


"Tapi, Pak. Dia bisa saja mendapatkan pengobatan langsung bila pergi hari ini juga ke rumah sakit. Saya dengar, dia memiliki banyak uang sampai bisa membeli berbidang-bidang tanah di desa."


Pernyataan itu menarik kembali Burhan ke masa kini. Kebenaran itu tidak bisa dipungkiri. Namun, Burhan tidak hilang akal.


"Hubungi setiap rumah sakit di kota ini untuk tidak menerimanya. Ah, tidak, tidak! Percepat saja kematiannya! Ya, percepat! Tidak ada yang akan tahu kalau dokter melakukan itu. Tidak ada yang berani mengotopsi jasad pasien terkena wabah. Semua akan tersimpan rapi dalam liang lahat selamanya."

__ADS_1


Burhan tersenyum bangga pada kejeniusannya. Dia bangga bisa menjadikan profesi dokter sebagai penutup kejahatan yang sempurna. Kasih sayang berlebih telah mengobrak-abrik logika hidupnya.


"Pak Wali Kota, tindakan Anda itu terlalu nekad dan berisiko. Apa Anda tidak ingat apa yang menyebabkan keponakan Anda terseret dalam jeruji dan barang bukti yang memberatkan hukumannya?" kata Baron memperingatkan.


"Aku tahu. Tidak ada namaku pada alat itu. Mereka tidak akan mencurigai ku kalaupun menyelidiki benda-benda terbang itu," jawab Burhan penuh percaya diri.


Dia sudah mempelajari kasus yang menjerat keponakannya. Dia selalu berhati-hati dan tidak memasukkan nama sendiri sebagai salah satu pemegang kontrol aifka. Jadi, Burhan sangat yakin tidak akan ketahuan.


"Tapi manusia bisa berbicara. Mereka bisa membocorkan siapa saja yang terlibat di baliknya"


Kata-kata itu begitu menohok. Lagi-lagi, Burhan dihadapkan pada kebenaran tidak terelakkan. Dia spontan menatap penuh intimidasi pada sekretaris yang duduk di sebelah Baron.


"Kau harus tutup mulut apa pun yang terjadi!"


"Baik, Pak."


Sekretaris itu menunduk ragu. Sejauh ini, pekerjaannya berjalan lancar. Namun, dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Bagus-bagus. Aku akan segera mengirimkan sejumlah bonus pada kalian karena kesuksesan ini."


Di malam yang sama, Eiji, Sai, dan Renji saling menunjuk untuk melakukan panggilan. Mereka memang sudah memutuskan untuk menghubungi Kelana, tetapi terlalu sungkan untuk melakukannya. Apalagi menghubungi Aeneas langsung, mereka tambah tidak berani


Kemudian, muncullah Abrizar. Mereka menjelaskan apa yang terjadi dan menyuruh pria itu berbicara pada Kelana.


"Halo, Paman. Kami tidak tahu jika di Indonesia ternyata ada wabah mematikan yang hanya memberi masa hidup satu Minggu bagi mereka yang terinfeksi, dan Sanu di sini sepertinya juga baru terinfeksi virus itu," terang lugas Abrizar.


Dia tahu, dalam kondisi darurat seperti ini, kepadatan pesan sangatlah penting. Setiap detik teramat berharga untuk diisi dengan basa-basi atau sekadar kalimat berbelit.


"Bawa dia ke rumah sakit segera! Berapa pun biayanya, akan segera kutransfer."


Kelana berbicara sangat cepat dari seberang telepon. Seperti biasa, dia ikut panik ketika mendengar kabar buruk tentang Sanubari, meski pemuda itu bukan anaknya.


"Masalahnya, Paman, ada beberapa hal yang membuat kami meragukan pelayanan medis di sini ...."

__ADS_1


Abrizar lekas menjelaskan kecurigaan mereka. Kelana menangkap maksud Abrizar. Dia segera memutus sambungan setelah menyuruh para pemuda itu bersiap.


Peristiwa yang menimpa Sanubari membuat Abrizar berpikir bahwa bencana ini benar-benar serius. Dia menjadi khawatir terhadap keluarganya. Maka, setelah memastikan barangnya telah siap, dia menelepon sang ibu.


Panggilannya tersambung. Namun, hanya suara Isak yang bisa Abrizar dengar.


"Assalamualaikum, Ibu! Ibu kenapa menangis?"


Abrizar mencoba memancing. Tetap tidak ada jawaban. Hanya ada embusan napas, lalu bunyi kemerasak. Ponsel berpindah tangan.


"Assalamualaikum, Bri! Apa kabar?"


"Waalaikum salam, Yah. Alhamdulillah baik. Ayah dan keluarga di sana bagaimana? Kudengar ada wabah mematikan yang sekarang ...."


"Adikmu ...."


Suara Dana melemah. Tersirat kesedihan teramat mendalam dari Intonasinya.


"Fai? Fai kenapa, Yah?" tanya Abrizar, meski sudah bisa menebak jawabannya.


Dia hanya tidak ingin mendengar jawaban pasti itu. Dia berharap Dana akan memberikan jawaban lain.


"Adikmu terjangkit wabah itu. Kami sudah membawanya ke rumah sakit, tetapi belum bisa mendapatkan pelayanan medis. Dokter-dokter sekarang sepertinya telah dibutakan oleh uang. Mereka bahkan melupakan etika kedokteran demi meraup untung lebih besar. Andai aku punya lebih banyak uang, mungkin aku bisa membuat putriku mendapatkan prioritas," protes Dana.


Dari dahulu kala, dia memang tidak senang dengan kesewenang-wenangan. Namun, dia tidak memiliki kuasa untuk mengubah dunia yang dianggapnya bobrok. Dia juga tidak boleh sembarangan bertindak demi anak dan istri.


"Ayah butuh berapa? Biar kukirim beberapa rupiah untuk menutupi kekurangannya."


"Tidak perlu, Bri! Aku dan ibumu sudah sepakat untuk menjual rumah."


"Jangan jual! Kalau hanya uang, aku ada tabungan. Sebutkan saja berapa nominalnya! Aku mohon, Yah! Jangan menolak. Aku anakmu, Fai adikku. Uangku uangmu juga. Aku hanya ingin membantu pengobatan Fai dan mendengar Fai kecilku sehat kembali."


Paksaan Abrizar itu meluluhkan hati Dana. Bagaimanapun, dirinya sekarang memang sangat membutuhkan uang demi menyelamatkan sang putri.

__ADS_1


Dengan sungkan, Dana menyebutkan, "Hampir satu miliar rupiah ...."


__ADS_2