Santri Famiglia

Santri Famiglia
Silet Terbang


__ADS_3

Di dalam gerbong kereta.


"Mereka sama sekali tidak mau mengaku." Mitsuki melepaskan tangan dari kerah pria bermasker yang dicengkeramnya.


Dia berdiri, menginjak keras paha pria yang memejamkan mata, memastikan orang itu tidak berpura-pura pingsan. Sementara itu, Sanubari membuka masker dua lainnya yang juga telah kehilangan kesadaran. Pandangannya terkunci pada salah satu di antara mereka.i


"Ini ...."


Rasanya Sanubari pernah bertemu dengannya ketika pertama kali masuk kantor Onyoudan. Waktu itu ada begitu banyak orang. Namun, orang ini terlihat paling mencolok di antara semuanya. Sanubari sempat ketakutan dan ingin mundur sebelum benar-benar masuk Onyoudan juga karena dia.


"Apa maksudnya ini? Kenapa Onyoudan ingin membawa Anki?" Mengernyitkan dahi, pikiran Sanubari menjadi rumit.


Sanubari merasa ini ganjil. Mustahil Eiji mengirim orang-orang ini untuk menjemput adiknya. Terlebih lagi, ketiga pria bermasker ini hampir saja membunuhnya dan berperilaku layaknya penculik. Sedangkan sosok kakak overprotective itu sendiri yang meminta Sanubari menemani Anki.


"Kau mengenali mereka?" Mitsuki mendekati Sanubari.

__ADS_1


"Aku tidak yakin. Sebaiknya kita segera menyusul kak Abri dan Anki sebelum mereka bangun." Sanubari berdiri.


"Kau benar."


Mereka berjalan keluar dari dalam gerbong. Peron benar-benar sepi. Sanubari menyempatkan diri untuk menoleh.


"Ada tiga gerbang tiket di Fushimi. Akan sulit menentukan ke mana mereka pergi. Coba hubungi Abrizar, Sanu!" ujar Mitsuki seraya berlari diikuti Sanubari.


Dia menempelkan ponsel ke telinga, mencoba menelepon Anki. Namun, belum juga diangkat. Teriakan meminta tolong terdengar ketika Sanubari hendak mengambil ponsel.


"Anki!" Sanubari tersentak.


Mereka berlari tergesa menuju asal suara. Begitu berada cukup dekat, mereka berhenti di tempat Anki sebelumnya.


Salah satu dari pria bermasker telah membekap Anki. Mereka menggunakan Anki untuk mengancam Abrizar supaya mau menyerah. Berhubung Abrizar tidak bisa berbahasa Jepang, dia pun terus melawan.

__ADS_1


Kekuatan mereka berimbang, meskipun Abrizar harus menghadapi serangan enam orang sekaligus yang datang silih berganti


Tarou menyuruh dua lainnya untuk membawa Anki pergi selagi mereka menghadang Abrizar. Di tengah kesibukannya, Abrizar masih bisa menciptakan kesempatan untuk menghalau dua pria lain yang membawa Anki.


Lagi-lagi, Tarou dan Jirou melakukan serangan kombo untuk mengalihkan perhatian Abrizar. Tunanetra itu menangkis tendangan Jirou dengan tongkat, lalu membungkuk menghindari kepalan tangan Tarou. Dia menjulurkan kaki, menjegal Tarou. Tak pelak, Tarou pun oleng. Dengan cepat, Abrizar mengayunkan tongkat ke badan Tarou agar pria itu tidak menimpanya.


Sejurus kemudian, dia menangkap tendangan susulan dari Jirou. Dia membanting lelaki itu. Dua tembakan terarah ke kepala Abrizar. Lelaki itu lekas mengangkat tongkat. Benturan antar logam menciptakan dentingan beruntun.


Bersamaan dengan itu, empat silet terbang, menggores sedikit kulit setiap manusia yang dilewatinya. Hanya sayatan dangkal, namun mujarab untuk membuat empat orang pingsan. Termasuk seorang yang membekap Anki.


Silet-silet tersebut berfungsi layaknya pistol kejut. Wujudnya pipih, tetapi mampu mengalirkan tegangan cukup tinggi. Arus listrik yang dihasilkan pun mampu mengacaukan ritme jantung dan sistem saraf untuk sementara waktu, sehingga satu goresan cukup untuk menumbangkan manusia.


Lesatannya amat cepat. Tidak ada yang tahu bahwa siletlah yang baru saja membuat orang-orang itu tak sadarkan diri. Kejadian itu membuat Tarou dan Jirou tertegun. Momen tersebut dimanfaatkan Abrizar untuk memberikan pukulan telak pada keduanya. Dua orang itu pun ikut kehilangan kesadaran.


Anki berusaha melepaskan diri dari orang yang membekapnya. Dia tak kalah terkejut dengan kejadian ini. Dia bahkan memandang tak percaya pada Abrizar.

__ADS_1


"Apa Kak Abri selama ini berpura-pura buta?" Pertanyaan itu tidak bisa Anki tahan.


Bagaimanapun, mustahil seorang tunanetra bisa leluasa berkelahi di tengah kepungan empat orang sekaligus. Bagaimana orang buta bisa melihat untuk menghindar dan menyerang, sementara mata saja tidak berfungsi. Secara logika, semua itu tidak mungkin.


__ADS_2