Santri Famiglia

Santri Famiglia
Fanon Sangkara


__ADS_3

Satu orang bertongkat dengan celana robek, satu pemuda dengan kemeja berdarah, dan satu dengan pakaian kotor—mereka berdiri menghadap padanya. Pria yang membopong sambil menarik tumpukan kiwano itu terkejut.


"Oh, apa kalian rombongan ekspedisi yang tersesat?" tanyanya setelah mengamati mereka.


Tidak ada orang awam yang berjalan sampai ke area itu biasanya. Sebagian besar umumnya akan berlari terbirit-birit mencari jalan keluar setelah bertemu para binatang buas di perbatasan. Staf perhutanan pun paling jauh hanya akan menjelajah sampai pagar besi jika bisa.


"Kami tidak tahu tersesat atau tidak, tapi kami sedang mencari sebuah tempat di sekitar sini," jawab Sanubari.


Dia melangkah maju. Mengulurkan tangan kanan, sepatunya menggantung di lengan, dia memperkenalkan diri, "Namaku Sanubari. Apa ini ladang Bapak?"


"Jika kau berbicara tentang kiwano, maka iya. Aku yang menanam mereka. Aku FAnon Sangkara."


FAnon melepaskan penarik kereta angkut. Dia menjabat tangan Sanubari dengan ramah.


"Wah, keren! Ladang seluas ini, Pak Kora sendiri yang menanam?"

__ADS_1


"Tentu tidak. Mana mungkin aku bisa menyelesaikan semua ini tanpa bantuan orang lain?"


Fanon terkekeh. Dia tampak seperti orang yang sangat ramah dan hangat di mata Sanubari. Fukai merasakan hal yang sama. Sementara Abrizar mendalami suara itu.


"Ngomong-ngomong, kau dan temanmu sepertinya terluka," lanjutnya.


"Ah, kami memang diserang binatang buas sebelum sampai ke sini," jawab Sanubari.


Fanon mengamati ketiganya. Dari tadi, hanya Sanubari yang berbicara. Sementara dua pria lain tetap diam.


Dia menata tumpukan kiwano supaya ada cukup ruang untuk ketiganya. Mereka saling berkenalan dan naik ke gerobak dengan riang.


"Kalian sungguh nekad! Menjelajah hutan tanpa senjata. Hampir tidak ada yang selamat melewati hutan itu. Jika tidak dimakan lycaon, singa, macan tutul, atau binatang buas lain, mungkin ular berbisa akan menggigit dan kalian akan meninggal sebelum mendapat pertolongan. Beruntunglah, kalian bertemu denganku, Kawan! Aku tahu cara lebih aman untuk keluar dari hutan ini," celoteh Fanon bersemangat.


Motor melaju pelan, tidak lebih dari dua puluh kilometer per jam. Sanubari menatap batang yang masih membentang, meski lima menit telah berlalu. Pohon itu benar-benar besar.

__ADS_1


"Lycaon, apa itu nama binatang seperti anjing dengan telinga kucing yang mengeluarkan suara tertawa aneh?" tanya Sanubari.


"Iya, kurang lebih seperti itu. Mereka mirip hyena dan terganas di antara binatang buas di kawasan ini. Mereka juga tidak ragu memakan manusia. Pernah suatu kali, seorang ranger Jozani ditemukan tinggal kepala, tangan, dan kaki. Badannya dimakan habis. Mungkin perubahan lingkungan telah mengubah mereka, menjadikan mereka lebih ganas," jelas FAnon.


Sanubari bergidik mendengar cerita itu. Jelas, tidur di alam terbuka merupakan pilihan terburuk. Siapa yang mau dimakan binatang buas ketika sedang asyik-asyiknya terlelap?


Sepuluh menit berikutnya, ketika langit telah menggelap, mereka sampai di sebuah rumah kayu. Tempat itu sangat gelap. Tidak ada sumber penerangan, kecuali dari kendaraan Fanon.


Saat kendaraan dimatikan, kegelapan total menyelimuti mereka. Fanon menekan satu bagian dari caping anehnya yang memiliki gundukan menjulang seperti kiwano. Tonjolan-tonjolan pada caping itu menyala terang.


"Ayo turun, Kawan-kawan! Kita sudah sampai!" ucap Fanon. Dia mengambil tiga kiwano dan menunggu Sanubari serta yang lain turun.


"Apa Anda tidak memiliki tetangga, Pak Kora? Atau ini memang pemukiman tanpa listrik?"


Sanubari mengeluarkan ponsel, menyalakan senter pada gawai tersebut. Di sekitar mereka sama sekali tidak ada sumber cahaya barang setitik pun. Kecuali, dari mereka berempat sendiri.

__ADS_1


__ADS_2