Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mata Pemandu


__ADS_3

"Sepertinya matamu mengalami peradangan saraf optik akibat bahan kimia. Andaikan baru ditangani sepuluh tahun lagi, kau mungkin akan mengalami kebutaan permanen," papar Canda dengan nada serius.


Belum apa-apa tetapi hati Sanubari sudah diserang sebuah kejutan yang namanya syok. Pusing dan mual dadakan mulai menyerangnya sampai-sampai ia salah tangkap.


"Apa? Jadi, aku selamanya tidak akan pernah bisa melihat lagi?" tanya Sanubari yang berpura-pura baik-baik saja.


Ia mengatur napasnya sedemikian rupa guna menahan tangis di dalam dada. Tidak bisa dipungkiri, seceria apa pun Sanubari, setegar apa pun Sanubari, dia hanyalah bocah cilik lemah yang berusaha terlihat kuat saja. Psikisnya tetap bisa terguncang kala musibah besar secara tiba-tiba menerpa. Menjalani kehidupan memang tidak semudah berkata-kata. Itu benar adanya.


"Tentu tidak begitu. Belum ada satu bulan kau mengalami ini. Bisa dibilang masih baru. Kerusakan syaraf pun masih berada pada tahap awal. Itu artinya masih ada harapan untuk sembuh," ujar Canda.


"Aku bisa melihat lagi?" kata Sanubari masih berusaha tenang. Akan tetapi, perasaannya semakin sulit ditahan. Matanya memanas dan mulai berkaca-kaca.


"Iya, pertama kita harus mengeluarkan seluruh sisa-sisa racun yang ada pada tubuhmu dulu. Kita akan melakukan pengobatan jalan. Tetapi, kau harus menurutiku jika ingin sembuh."


"Apa pun itu. Apa pun itu pasti akan kulakukan."


"Aku akan membuatkan obat untukmu. Enak tak enak, bosan tak bosan kau harus tetap mengonsumsinya secara rutin jika ingin cepat sembuh. Penjedaan hanya akan memperlambat prosesnya."


"Aku tidak akan bosan."


Sanubari tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Setiap kali berucap, syaraf-syaraf melankolisnya malah semakin terangsang. Namun, ia cukup senang mendengar bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk sembuh.


Dengan telaten, Canda merawat dan membuatkan obat herbal untuk Sanubari. Pembuatan obat pun tidak mudah. Ia harus ekstra berhati-hati dalam memisahkan zat yang berbahaya dan ekstrak yang berkhasiat bagus. Salahnya pengolahan bisa-bisa malah merubah tanaman yang seharusnya berkhasiat sebagai obat menjadi racun mematikan.


Sama halnya dengan obat kimia, dalam pembuatan ramuan herbal pun harus memperhatikan aturan-aturan tertentu. Seorang Herbalis tidak boleh sembarangan.


Hari demi hari pun terlewati. Tidak terasa empat bulan sudah Sanubari tinggal bersama dengan Zunta dan Canda. Patah tulangnya sudah sembuh tetapi dia belum bisa berjalan dengan normal. Pagi, siang, malam Sanubari menjalani fisioterapi.

__ADS_1


Benar saja kata Canda. Memasuki bulan ke enam, Sanubari mulai bosan dengan obat-obatan yang ia konsumsi. Terlebih lagi belum ada perubahan pada penglihatannya. Sanubari kembali terpuruk. Ia juga menjadi malas makan.


Namun, Zunta menjadi teman setia yang senantiasa menghibur Sanubari. Gadis kecil itu selalu berceloteh ria pada Sanubari.


"Apakah Sanu tidak ingin melihatku? Padahal aku ingin sekali dilihat Sanu." Intonasi bicara Zunta terdengar sedih.


Gadis itu menggenggam kedua telapak tangan Sanubari lalu menempelkan pada pipi gembilnya. Kemudian, Zunta kembali berkata, "Lihatlah mukaku, hidungku, mataku, rambutku! Oh, iya! Lihatlah juga gigi susuku baru saja tanggal!"


Zunta memegang telunjuk tangan kanan Sanubari. Ia menyentuhkan jari Sanubari itu ke gigi ompongnya. Sanubari bisa merasakan ada rongga di antara gigi-gigi Zunta. Ia tidak mengerti apa maksud Zunta melakukan itu.


"Anak aneh. Kenapa dia malah menunjukkan gigi ompongnya?" pikir Sanubari.


Padahal Zunta hanya ingin berkata supaya Sanubari mencoba melihat dengan Indra perabanya karena belum bisa melihat dengan mata. Ia ingin Sanubari tetap bersemangat. Sebab masih ada banyak hal yang bisa dilakukan Sanubari walaupun penglihatannya bermasalah.


Sanubari yang belum peka pun hanya dengan malas membalas, "Aku melihatmu tetapi pandanganku gelap."


"Makanya ayo semangat makan biar pipi Sanu tambah tembem! Kata kakek, makanan bisa membuat tubuh subur. Syaraf pun subur. Terus jadi sehat deh."


"Ada kok."


"Ada apanya? Aku yang merasakan. Memangnya kau tahu apa?"


"Sekarang Sanu bisa berjalan dan berlari. Bukankah beberapa bulan yang lalu kaki kiri Sanu sulit digerakkan?"


Sanubari tertegun sejenak. Benar kata Zunta. Kakinya tidak lemas dan nyeri lagi. Dia juga bisa menggerakkannya dengan leluasa. Ia tidak perlu lagi menggunakan kursi roda untuk berjalan. Perubahan kecil ini luput dari perhatian Sanubari.


"Percayalah! Kata kakek, proses itu tidak ada yang instan. Kita harus terus berpikiran positif supaya tubuh selalu sehat. Penyakit itu datangnya dari pikiran. Jika kita terpuruk karena penyakit, maka penyakit akan semakin betah berlama-lama di tubuh kita. Tersenyumlah kepada penyakit! Buat penyakit jengkel dengan semangatmu! Dengan begitu, dia bakal pergi dengan sendirinya deh," lanjut Zunta panjang lebar.

__ADS_1


Kata-katanya sudah seperti orang dewasa saja. Sanubari tersenyum dibuatnya. Hatinya pun turut tersenyum dan bergumam, "Tersenyum pada penyakit? Hm ...."


"Anak-anak, waktunya makan!"


"Iya, Kek!" jawab Zunta yang langsung menggandeng Sanubari, "ayo Sanu!"


Zunta selalu menjadi mata pengganti Sanubari. Ia yang akan membimbing kemana pun Sanubari melangkah, membantu Sanubari dalam setiap kebutuhannya. Sebab, Canda harus mengurusi ladang dan sawah lalu mempersiapkan obat Sanubari. Sehingga, ia tidak selalu bisa menemani Sanubari.


Namun, Canda selalu melakukan pekerjaannya setelah merawat Sanubari. Prioritas utamanya adalah kesehatan Sanubari. Pekerjaan rumah dan lainnya bisa ditunda sejenak.


"SANu, jika kau mogok makan lagi hari ini maka aku tidak akan segan-segan untuk mengikatmu lalu memaksamu makan dan minum obat!" ancam Canda begitu Sanubari duduk di ruang makan.


"Tidak akan."


"Bagus! Sekarang makanlah!" perintah Canda.


Zunta memegangkan sendok ke tangan Sanubari. Meskipun buta tetapi Sanubari terlatih makan sendiri. Segala hal bisa ia lakukan sendiri asal sudah disiapkan. Di rumah sederhana kakek Canda, Sanubari diajarkan untuk tidak berpangku tangan kepada orang lain meskipun dirinya memiliki keterbatasan. Kendati demikian, Sanubari tidak kekurangan kasih sayang. Canda dan Zunta menyayangi Sanubari setulus hati.


Mereka tidak pernah menghina dan memarahi Sanubari. Canda juga tidak pilih kasih dalam mengasuh Zunta dan Sanubari. Sanubari seperti menemukan keluarga ke dua dalam keluarga kecil kakek dan cucunya itu.


Tahun pertama pun berlalu. Cahaya yang dinanti-nanti mulai terespons pupil Sanubari dengan baik. Berangsur-angsur pandangannya berubah. Dari hanya sekadar cahaya menjadi berwarna, warna menjadi bayangan buram, area pandang pun meluas. Tahun ke dua akhir, Sanubari bisa melihat kembali.


*****


"SANu, sudah kubilang tidak usah membantuku, bukan? Kau tidak boleh mengangkat yang berat-berat dulu!" teriak Canda yang sedang mengumpulkan Kentang.


"Tidak apa-apa. Aku sudah kuat dan sehat!" sahut Sanubari yang sedang menaiki lereng sambil menggendong keranjang berisi alpukat setengah penuh.

__ADS_1


Semenjak bisa melihat kembali, Sanubari sering ikut Canda ke sawah. Naik turun gunungsambil memikul beban berat sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Secara tidak langsung, kegiatan tersebut pun menjadi latihan kebugaran fisik Sanubari. Otot-otot tubuhnya pun mulai terbentuk karena sering melakukannya.


"Dasar anak muda! Susah sekali diperingatkan. Awas saja kalau nanti sampai mengeluh karena matanya kambuh." Canda menghela napas.


__ADS_2