Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pulau Lain


__ADS_3

Keluar dari kamar mandi, Abrizar tiba-tiba berkata, "Jangan minum airnya!"


"Air? Maksudnya minuman pesanan kita?"


Sanubari berhenti menyeruput. Isi gelasnya tinggal setengah. Karena Abrizar belum keluar juga sebelumnya, dia dan Fukai memutuskan untuk mencicipi minuman sambil menunggu.


"Iya."


Abrizar duduk. Aroma makanan lezat memenuhi rongga hidung. Setelah mendengar percakapan tadi, kecurigaan terhadap sajian pun tidak bisa dicegah. Namun, isi percakapan tadi sama sekali tidak menyinggung tentang makanan.


"Memangnya kenapa? Rasanya memang tidak biasa, tapi lumayan enak kok," ucap Sanubari mengangkat alis kiri.


"Pokoknya, jangan minum saja!" tegas Abrizar.


Sulit baginya untuk menjelaskan, apalagi dia tidak mendengar isi percakapan secara penuh. Abrizar juga kurang paham apa yang mereka maksud dengan 'menyamarkan'. Apakah percakapan itu benar ditujukan untuk mereka atau yang lain, Abrizar tidak memiliki keyakinan.


Akan lebih baik untuk berjaga-jaga, tetapi Sanubari terlanjur meminumnya. Bila prasangkanya salah dan tidak terjadi apa-apa, itu artinya mereka akan membiarkan minuman mubazir jika tidak menyentuhnya.


Fukai memperhatikan Abrizar yang diam, lalu melihat ke gelas sendiri. Dia tidak merasa ada yang aneh. Minumannya pun sudah berkurang sepertiga tinggi. Hanya ada rasa khas teh hijau menyegarkan karena min.


"Kak Abri tidak jelas. Daripada itu, lebih baik ayo makan saja!"


Sanubari mengambil sate ikan. Diberikannya tusukan pertama pada Abrizar. Sejenak, Abrizar meragu. Namun, dimakan juga ikan itu pada akhirnya. Setiap kali Sanubari memberikan yang baru, dia melahapnya.


Akan tetapi, dia menggeleng ketika Sanubari menyodorkan minuman beraroma jahe dan jeruk nipis. Dia masih meragukan minuman itu.


"Kalau Kak Abri tidak mau, kuminum, ya!"


Tanpa jawaban Abrizar, Sanubari menghabiskan minuman itu. Sementara itu, Fukai mengambil air dari dispenser dan memberikannya kepada Abrizar.


"Semoga hanya prasangkaku saja!" batin Abrizar menghabiskan air putih pemberian Fukai.


Mereka lekas tidur setelah petugas rumah nanas membereskan meja. Lampu dimatikan. Jendela yang dibuka Sanubari pun telah ditutup kembali.


Ketenangan malam terusik ketika beberapa orang memasuki kamar mereka. Salah satunya menyalakan lampu dengan daya lebih kecil, memberikan pencahayaan remang pada ruangan.


"Apa-apaan ini? Sampah? Kenapa sampah dibawa-bawa?"

__ADS_1


Orang itu meletakkan kantung plastik, kembali merogoh tas. Dia membuka setiap resleting yang ada.


"Obat-obatan, plester, astaga! Kenapa bawaannya seperti ini?"


Dia terus menggerutu sambil mengeluarkan perlengkapan medis dan baju kotor. Dia terus mencari-cari benda berharga.


"Di sini juga ada sebotol obat dan sampah, tapi uangnya lebih dari seratus ribu shilling."


"Sama. Kenapa mereka bertiga membawa sebotol obat? Dan sepertinya obatnya sama. Ada kiwano juga."


Dia memperhatikan botol obat yang dikeluarkan rekannya. Botol-botol itu sama persis.


"Mungkinkah itu ekstasi? Kumpulkan saja! Nanti kita periksa. Siapa tahu bisa dijual. Kalian juga, ayo cepat bergerak!"


Ketua terus memberi komando tanpa berbuat apa-apa. Dia hanya mengawasi seperti mandor.


"Lumayan, di sini juga ada lebih dari seratus ribu shilling dan sebuah ponsel."


Pria itu bersiul. Dia mengeluarkan uang dari dompet Sanubari setelah menghitungnya. Banyak uang kertas sepuluh ribu shilling yang diperolehnya. Sama sekali tidak ada receh. Kemudian, dompet dijatuhkan, dibiarkan berserak bersama barang yang dianggap tidak berguna lainnya.


"Sepertinya mereka dari keluarga kaya. Lumayan bila bisa meminta tebusan tinggi dari keluarganya, kan?"


Orang-orang itu terus mengobrol. Sementara dua orang lain menggulingkan tubuh Sanubari, mengikat kaki dan tangannya. Dua orang lagi melakukan hal yang sama pada Fukai.


Keduanya sama sekali tidak terbangun. Namun, ketika pria yang lain hendak mengikat Abrizar, pria yang menyentuh kaki langsung ditendang hingga terjengkang. Sementara yang memegang tubuhnya tertinju tepat di mata sampai menjerit.


"Siapa pun kalian, kembalikan barang kami, lalu pergi dari sini!"


Abrizar bangun. Meraba sebelah tempat tidur, dia mengambil tongkat dan memanjangkannya.


Awalnya, Abrizar berniat membiarkan mereka menjarah barangnya dan pura-pura tidur. Dia selalu berpikir, tidak masalah kehilangan beberapa uang asal dirinya baik-baik saja. Namun, ketika mendengar isi percakapan dan mengerti tujuan mereka, dia berubah pikiran. Itu terdengar lebih buruk dari perampokan.


"Kau? Bagaimana mungkin kau masih terjaga?"


Mereka terkejut. Tidak ada yang tidak mendelik melihat Abrizar berdiri, kecuali orang yang sedang memegang mata akibat pukulan Abrizar.


"Memangnya siapa kalian, berhak menentukan kapan aku tertidur? Sekali lagi kuperingatkan, kembalikan barang kami dan tinggalkan kamar ini!"

__ADS_1


Perkataan Abrizar itu tidak digubris. Ketua penyergapan itu malah tertawa, lalu memerintahkan, "Kalian semua, tangkap dia!"


Semua yang bebas maju. Satu kali entak kaki, Abrizar tahu di mana saja posisi mereka. Gerak udara juga mengatakan dengan jelas keberadaan mereka.


Abrizar menendang orang di depannya, memukul leher setiap orang yang menyerbu dengan tongkat.


Dia berputar, memberikan sikutan keras tepat di perut orang yang ingin menangkapnya dari belakang. Orang itu terbatuk-batuk.


Bunyi berdebum beberapa kali terdengar, tetapi Sanubari dan Fukai tetap memejamkan mata. Abrizar harus melawan mereka yang jatuh bangun sendirian.


Tempat itu tidak terlalu luas, membuat pergerakan mereka terbatas. Namun, memberikan peluang pada pihak lawan.


Abrizar merasakan sebuah jarum menembus pinggangnya, lalu cairan disemprotkan ke dalam tubuhnya dari sana. Dia merasa ini buruk.


"Kalian ...."


Abrizar meraba pinggangnya, tetapi jarum itu sudah tidak ada. Dia masih bisa melakukan perlawanan pada beberapa orang yang menyerang. Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Setelah sesuatu dimasukkan ke tubuhnya, kesadaran Abrizar memudar. Kemudian, dia tumbang.


Semua orang berhenti bergerak. Mereka menatap Abrizar yang jatuh.


"Apa dia masih bergerak?" tanya seorang dari mereka, khawatir Abrizar akan bangkit begitu didekati seperti sebelumnya.


Ketua orang-orang itu menyenggol-nyenggol tubuh Abrizar dengan kaki. Raga itu sama sekali tidak berkutik.


"Sudah tidak apa-apa. Ikat dia!"


Orang yang membawa tali pun langsung mendekati Abrizar yang tergeletak. Mereka mengikat dengan cepat.


"Satu lawan sepuluh, kau pikir bisa menang dari kami, hah? Dasar sombong!" katanya tertawa pongah.


"Tapi Bos, mungkin kita yang akan kalah bila aku tidak menyuntikkan obat bius. Dia benar-benar merepotkan. Tubuhku sampai terasa remuk."


"Itu gara-gara kecerobohan kalian sendiri. Apa benar kalian sudah memberinya obat tidur? Jika kalian melakukannya dengan benar, ini semua tidak akan terjadi."


"Kami yakin sudah mencampur obat tidur ke minumannya. Mungkin dia memiliki ketahanan lebih tinggi dari dua rekannya."


"Ah, sudahlah! Sebaiknya, segera kita bawa pergi mereka!"

__ADS_1


Orang-orang itu bergegas menggotong Sanubari, Abrizar, dan Fukai. Sebuah mobil Van sudah siaga dengan mesin menyala di bawah. Mereka memasukkan ketiganya ke sana.


Selanjutnya, mobil melaju menerobos hujan, menuju kapal muatan yang sudah menunggu. Begitu mobil naik, kapal mulai berlayar tanpa menghiraukan hujan lebat. Nahkoda dengan hati-hati mengemudikan kapal supaya tidak karam Terempas ombak atau angin, menuju pulau lain masih di negara yang sama.


__ADS_2