Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rujukan


__ADS_3

Hari berganti. Ketika Sanubari terbangun, remaja itu menjadi pendiam. Sangat pendiam. Kelana dan Aeneas yang senantiasa mengajak berbicara pun seolah tidak diacuhkan.


Dua pria dewasa itu hampir dua puluh empat jam mendampingi Sanubari. Kelana hanya pulang sesekali untuk berganti pakaian dan mengambilkan baju untuk Aeneas.


Cerita-cerita menyenangkan diperdengarkan pada Sanubari. Namun, remaja itu masih bergeming. Saat Aeneas menyuapkan makanan, Sanubari tidak mau membuka mulutnya. Pada akhirnya, infus kembali dipasang.


Terkadang, dia mendadak histeris. Saat itu terjadi, obat penenang kembali disuntikkan. Hati Aeneas nelangsa melihat putra sulungnya seperti itu.


"Tidak adakah cara untuk mempercepat kesembuhannya?" Aeneas sungguh berharap dokter bisa memberi jawaban sesuai harapannya. Dia tidak tega melihat Sanubari terus-terusan seperti itu.


Ruangan dokter menjadi tempat yang rutin dikunjungi Aeneas kini. Setiap hari, dia keluar masuk hanya untuk berkonsultasi tentang kesehatan Sanubari. Sayangnya, sampai sekarang, dia belum mendengar kabar yang diinginkannya.


Dokter memandangi rekap data perawatan Sanubari selama satu Minggu. Segalanya stagnan di sana. Dokter itu pun geleng-geleng dan menghela napas.


"Pengobatan ini harus dihentikan."


Begitu mendengar itu, Aeneas langsung melotot. Kemarahannya meledak. Itu adalah hal yang sangat tidak ingin dia dengar.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja pengobatannya! Semahal apa pun itu pasti akan kubayar!" Aeneas berkata dengan penuh penegasan. Dia masih cukup waras untuk tidak menarik kerah kemeja dokter di hadapan.


Namun, dokter tetap menggeleng. Sebelum lelaki berjas putih itu sempat berbicara, Aeneas membentak, "Lakukan!"


"Obat-obatan ini akan berefek buruk untuk sistem saraf tuan muda jika dilanjutkan. Saya akan merujuknya ke psikolog. Kunci kesehatannya ada pada mentalnya sendiri."


"Carikan yang terbaik untuknya!" Aeneas menurunkan egonya.


Kelana yang mendampingi Aeneas hanya diam. Pikirannya meraba masa lalu. Saat pertama kali bertemu, Sanubari tampak seperti bocah lugu tanpa beban.


Dia ingat tawa lepasnya ketika pertama kali mengetahui Aeneas adalah ayah kandungnya. Dia juga ingat binar bahagia dari sorot mata Sanubari saat membawa bibit pohon singkong ke Italia.


Lingkungannya saat itu memang tidak bersahabat untuk tumbuh kembang Sanubari. Namun, Kelana tidak menemukan tanda-tanda peristiwa itu membuat Sanubari tertekan.


Sanubari tumbuh selayaknya bocah normal pada umumnya. Dia hanya sesekali murung ketika mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan.

__ADS_1


Setelah diculik pun dia masih bisa bersikap riang. Bahkan, bisa menceritakan pengalamannya itu dengan menggebu-gebu sambil tersenyum.


Hanya saja, Sanubari sedikit berubah setelah lima tahun menghilang. Sanubari menjadi memusuhi Aeneas. Selebihnya, sifat ceria masih ada dalam diri Sanubari.


Kesalahpahaman itu telah Kelana luruskan, meskipun Sanubari masih enggan menemui Aeneas. Sampai akhirnya, jadilah seperti ini.


"Apa selama ini aku salah memahami Sanu?" batin Kelana merasa gagal sebagai konselor pribadi remaja itu.


Di matanya, Sanubari merupakan sosok yang memiliki pertahanan mental kuat. Dia tidak pernah mengira, Sanubari memendam beban untuk dirinya sendiri. Hingga beban itu terakumulasi dan menjadi bom waktu yang kini telah meledak.


Bom waktu itu membelah dunia Sanubari menjadi dua, menyelubungi mata Sanubari untuk dan mengekang jiwanya. Kondisinya sangat parah. Dia bahkan terlihat seperti seseorang yang tertidur dengan mata terbuka.


Kelana sendiri sebenarnya pernah mempelajari psikologi manusia. Sayangnya, kemampuannya tidak cukup tinggi untuk mengembalikan kesadaran seseorang dari alam bawahnya. Dia sudah mencoba selama beberapa hari ini.


"Sebenarnya, ada seorang ahli jiwa yang saya rasa pasti bisa menyembuhkan tuan muda, tetapi ...." Dokter menggantung kalimatnya.


Melihat adanya keraguan dari mimik wajah sang dokter, Aeneas mendesak. "Siapa? Katakan saja!"


"Kalau begitu, hubungi dia!" Aeneas tidak mau tahu. Jika dia memang berguna, maka dia harus datang ke mari untuk mengobati putranya.


Sekalipun sudah pensiun, dokter tetaplah dokter. Kemampuannya pasti tidak akan mudah menghilang begitu saja. Karena obsesinya itu, Aeneas agaknya melupakan faktor usia yang mungkin menurunkan kemampuan seseorang.


"Sayangnya, beliau tidak bisa dihubungi semenjak pensiun, tetapi tunggu sebentar!" Dokter menarik laci.


Dia mengambil ponsel dan mencari-cari sesuatu. Beberapa gulir kemudian, dokter menunjukkan gambar dalam layar kepada Aeneas." Dia memperbesar foto, hingga hanya ada satu wajah yang tampak di sana.


"Jika Anda bisa menemukan orang ini, saya rasa besar kemungkinan tuan muda bisa sembuh kurang dari satu tahun, atau bahkan satu bulan."


Kelana ikut memperhatikan. Dia merasa tidak asing dengan wajah pria yang tampak segar di sana, meski lebih tua darinya.


"Dia tinggal di mana?" tanya Aeneas.


"Chilly. Namanya, Canda Parra. Dia tidak pernah gagal dalam menangani pasien," jelas dokter meyakinkan.

__ADS_1


Kelana merasa pernah mendengar nama Canda. Dia pun menggali informasi dari ingatannya sendiri. Sekelebat memori bersama Sanubari pun melintas. Nama itu pernah disebut Sanubari. Remaja itu juga menunjukkan foto bersama pria tua itu.


"Canda ... apa dia juga seorang petani?" celetuk Kelana setelah mengingat dialognya bersama Sanubari.


Waktu itu, Sanubari hanya bercerita bahwa Canda seorang petani. Dia tidak menyebutkan bahwa Canda merupakan seorang psikolog.


"Itu, aku tidak tahu, tetapi Profesor Canda memang suka bercocok tanam. Dia juga seorang Herbalis yang hebat."


"Tuan Aeneas, kurasa aku tahu bagaimana cara menghubungi orang ini."


"Anda mengenalnya?" Dokter sedikit terkejut mendengar ucapan Kelana.


Pasalnya, Canda seakan menghilang dari muka bumi selama ini. Tidak satu pun rekan, murid, maupun orang lain bisa menemukannya. Rumah lamanya kosong, seolah dia sengaja mengasingkan diri.


"Tidak, tetapi kurasa tuan muda mengenalnya. Kita bisa menemukan kontaknya dari ponsel tuan muda." Kelana sangat percaya diri dengan perkataannya.


"Bagus bila itu bisa diusahakan. Untuk sekarang, saya akan merujuk ke psikolog lain."


Usai sesi konsultasi itu, Kelana mengemudi ke rumah Abrizar. Teman-teman Sanubari itu keluar dari rumah sakit tiga hari setelah diizinkan pulang. Kendati demikian, setiap hari mereka datang ke rumah sakit.


Saat Kelana bertanya di mana mereka tinggal, Anki menjawab di rumah Abrizar. Varang-barang Sanubari pun ada di sana. Kini, para imigran itu menjadi pengangguran di rumah Abrizar.


Mereka belum bisa mencari pekerjaan sebelum mengubah status imigran gelap mereka menjadi legal. Eiji, Renji, Sai, dan Anki yang tidak memiliki dokumen lengkap membutuhkan waktu lebih lama. Sementara Fukai, Hanan, dan Hana sudah selesai mengajukan, mereka tinggal menunggu kartu identitas sementara mereka keluar.


"Jadi, kita semua akan masuk BGA?" Renji membuka sebungkus dark cokelat dan memakannya.


"Itu rencanaku selama di sini. Terserah kalian mau kerja di mana. Yang jelas, kita tidak bisa terus-terusan menganggur di sini." Eiji mengangguk, meski dia sedikit ragu untuk melaksanakannya atau tidak.


Dia masih syok dengan fakta bahwa Aeneas adalah ayah Sanubari. Dia belum bisa bersikap biasa setiap kali bertemu orang itu di rumah sakit, tetapi tetap berencana bekerja di perusahaan dalam naungan Aeneas. Andaikan bisa memilih, dia ingin seperti adiknya yang tidak tahu apa-apa. Sehingga, dia bisa bersikap biasa.


Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Salam khas orang Islam pun berkumandang. Eiji berdiri dari sofa.


"Aku saja yang membuka."

__ADS_1


__ADS_2