
Abrizar menggeleng. " Lawan aku!"
Sanubari memandang Abrizar dengan lugunya. "Lawan bagaimana?"
"Serang aku dengan kemampuan beladiri yang kau miliki!" Ucapan Abrizar terdengar sangat tenang.
"Kenapa?"
"Bukankah kau ingin aku menjadi rekanmu dalam organisasi yang akan kau bangun? Ini syarat pertamamu. Aku akan langsung setuju jika kau menang. Mungkin akan kupertimbangkan lagi jika kau kesulitan menghadapiku."
Sanubari tergelak mendengarnya. Syarat yang sangat mudah bagi Sanubari bila melihat kondisi fisik Abrizar. Belum dimulai pun Sanubari bisa menebak hasilnya.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Abrizar karena Sanubari tidak jua bergerak.
"Kak ABRI serius mau berkelahi denganku? Tidak masuk akal."
"Apanya yang tidak masuk akal? Tubuhku saja masih bisa disayat kertas sampai berdarah kok."
"Masalahnya, penglihatan Kakak 'kan ...."
Menanggapi kalimat Sanubari itu, Abrizar hanya tersenyum. Ia tidak merasa terhina sama sekali. Apa yang dikatakan Sanubari adalah kenyataan. Tersulut emosi hanya akan membuktikan bahwa dirinya mengingkari takdir.
"Kuberi kau kesempatan untuk menyerang duluan. Cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran!"
"Baiklah. Maaf jika nanti tanpa sengaja melukai Kakak."
"Tidak perlu sungkan," ujar Abrizar masih dalam ketenangan yang sama.
Sedangkan Sanubari nampak kebingungan mau memulai dari mana. Ia masih berdiri dalam posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun. Matanya memandang Abrizar dari atas ke bawah, memikirkan serangan yang tidak akan melukai Abrizar terlalu parah.
"Apa kuinjak kakinya saja, ya? Itu termasuk serangan, kan? Sekali gerak langsung menang. Ah, benar! Aku ini memang cerdas." Sanubari manggut-manggut memikirkan taktiknya lalu menyeringai sembari terus memandangi kaki telanjang Abrizar.
Detik berikutnya, ia melempar sandalnya sendiri ke teras. Rasanya tidak adil jika ia menginjak dengan alas kaki, sementara Abrizar tidak memakai apa-apa. Sejurus kemudian, Sanubari mengangkat kaki kanannya.
Senyuman tidak terlepas dari wajah Sanubari selama menjalankan aksinya. Hatinya beranggapan ini terlalu mudah. Kurang dari satu menit berikutnya, Mata Sanubari terbelalak manakala kakinya menapak pada rerumputan.
"Tidak kena?" batin Sanubari terperangah.
Ya, Abrizar menggeser posisi berdirinya sebelum kaki Sanubari mendarat. Ia memilih menjauh beberapa langkah untuk antisipasi. Ia hanya bisa mendengar bunyi Kaki diangkat tanpa tahu gerakan Sanubari.
Sanubari sampai mengerjap-ngerjapkan mata berulang kali saking tidak percayanya. Dipelototi sampai mata berair pun kaki Abrizar tetap tidak ada di sana. Ia bisa merasakannya, bahkan menyerempet pun tidak. Hingga akhirnya Sanubari mengalihkan pandangan kepada Abrizar.
"Kok Kakak bisa menghindar? Kakak bisa membaca pikiranku, ya?" tuding Sanubari.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Abrizar menggeleng. "Mana ada yang seperti itu? Aku bukan Tuhan."
"Tetapi ...."
"Aku memang menyuruhmu untuk menyerangku, tetapi aku tidak bilang akan diam saja, kan? Coba lagi! Keluarkan kemampuan terbaikmu!" pancing Abrizar yang terus mengumbar senyum.
Kali ini, Sanubari melayangkan sebuah tinju. Dari gerakan angin, Abrizar bisa membaca arah sasaran Sanubari. Sekecil apa pun hembusannya, sebuah gerakan selalu menimbulkan angin. Indra Abrizar cukup terlatih dalam menafsirkan bisikan angin dan bunyi.
Berjam-jam mereka saling bertukar jurus. Tendangan, pukulan, tubrukan—semua bisa ditangkis serta dihindari dengan baik oleh Abrizar. Beberapa kali Sanubari terbanting.
"Argh!" teriak Sanubari saat sekali lagi punggunggungnya menghantam permukaan rumput.
"Apa kau menyerah sekarang?" Napas Abrizar Terengah.
Peluh menuruni pelipis di bawah terik matahari musim semi yang tidak terlalu menyengat. Gerakan Sanubari terlalu gesit, tanpa jeda. Jeda hanya terjadi setelah Abrizar membantingnya seperti ini.
"Jangan harap!" seru Sanubari yang lekas berdiri kembali, disusul dengan lompatan tendangan.
Abrizar menahannya dengan lengan. Posisi Abrizar pun sedikit bergeser gara-gara tendangan itu. Ia nyaris terjungkal.
"Stamina anak ini bagus juga. Bukannya kelelahan, dia malah melepaskan tendangan dengan energi lebih kuat dari sebelumnya. Kalau begini terus, bisa-bisa aku yang kalah karena kehabisan tenaga duluan," gumam Abrizar dalam hati.
Duel masih terus berlangsung, sampai sayup-sayup Abrizar mendengar suara azan dari dalam rumah. "Cukup! Kita istirahat dulu!"
"Kau mungkin tidak kelelahan, tetapi aku yang akan pingsan meladenimu," batin Abrizar tertawa miris dengan lisan berkata, "kita sudahi pertarungan ini! Sudah waktunya Zuhur. Sebaiknya istirahat sejenak sebelum salat."
"Apa artinya Kakak setuju bekerja sama denganku?" Sanubari mendekati Abrizar dengan sumringah, lalu menuntunnya ke teras.
"Masih ada syarat ke dua."
Keduanya pun duduk di teras, mendinginkan tubuh yang memanas. Sanubari berbaring terlentang di sebelah Abrizar, kepalanya mengulas pertarungan yang baru saja terjadi.
"Bagaimana bisa?" Sanubari melirik curiga pada Abrizar.
Gerakan lelaki yang duduk di sebelahnya ini terlalu normal untuk disebut tuna netra. Logika Sanubari menyangkal kebutaan Abrizar. Jika lelaki ini memang buta, seharusnya dia tidak bisa melihat gerakan Sanubari. Kenyataannya, hampir tidak ada serangan Sanubari yang mendarat tepat sasaran. Pikiran Sanubari sulit menerima ini. Mendadak Sanubari bangun.
"Kak ABRI, coba tebak ini berapa!" Sanubari menyodorkan dua jarinya ke wajah Abrizar.
Sangat dekat—jaraknya bahkan tidak ada setengah centimeter, Sedangkan bola matanya serius mengamati mata Abrizar. Persimpangan alis Sanubari sampai mengerut, mencoba mencari kebohongan dari air muka Abrizar.
"Apa?" tanya Abrizar kebingungan.
"Jariku. Jariku yang ada di depan wajah Kakak ini loh! Ayo tebak berapa!" Sanubari menggerak-gerakkan tangannya.
__ADS_1
Abrizar menyentuh jari Sanubari lalu menjawab, "Dua."
"Jangan diraba!" protes Sanubari yang langsung menarik tangannya.
"Kau pikir bisa kelihatan? Dasar Bocah Pikun!" Abrizar asal menoyor, tetapi tepat mengenai kening Sanubari.
"Kakak ini pura-pura buta, ya?"
"Untuk apa aku memasang NVDA di laptop jika bisa melihat? Tidak ada untungnya pula membohongimu."
"Ah, iya juga sih. Sanubari mengangguk.
Ia masih ingat penjelasan Abrizar tentang NVDA di hari sebelumnya. NVDA (Non Visual Desktop Acces) merupakan perangkat lunak pembaca layar yang mengonversikan setiap informasi pada layar komputer dalam bentuk suara. Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi tuna netra seperti Abrizar.
"Tapi kok Kakak bisa meninjuku? Mana kena pula. Aneh kalau Kakak tidak bisa melihat. Iya, KAn?" selidik Sanubari lagi.
"Bagaimana aku tidak tahu posisimu jika kau saja berbicara sangat dekat? Suaramu sudah cukup mengatakan dimana kau berada. Apa kau tahu ekolokasi?" jelas Abrizar.
"Ekolokasi? Maksudnya, lokasinya Eko gitu? Aku tidak kenal Eko. Mana tahu dia ada dimana." Sanubari memiringkan kepala.
Abrizar tersenyum. "Tentu bukan. Ekolokasi adalah kemampuan mengidentifikasi keberadaan objek dengan pantulan bunyi. Dengan itulah aku bisa memprediksi posisi juga gerakanmu. Paus, lumba-lumba, dan kelelawar memiliki kemampuan ini. Jika hewan saja bisa, kenapa manusia yang memiliki akal lebih sempurna tidak bisa? Aku bersyukur diberi karamah seperti ini. Terkadang binatang memang bisa menjadi guru yang baik, tetapi jangan menirukan semua polah tingkahnya! Ambil yang bermanfaat saja!" terang Abrizar dengan santai.
"Kakak, ajari aku ekolokasi juga!" pinta Sanubari dengan mata berbinar.
Kemampuan itu terdengar sangat keren di telinga Sanubari. Abrizar hanya tersenyum menanggapinya, lalu mengajak Sanubari mandi dan salat. Selesai beribadah, mereka berkumpul di kamar Abrizar.
"Untuk membentuk sebuah organisasi, kau membutuhkan anggota. Paham?" ucap Abrizar sembari membuka laptop.
"Iya, sudah ada. Aku dan Kak ABRI."
"Tidak bisa hanya berdua. Kau pikir kita ini ksatria bertopeng yang bisa berubah jadi pahlawan dadakan?"
"Bisa jadi."
"Kau butuh lebih banyak anggota, Sanu!"
"Kita bisa mengajak abi Jun, kak Penculik Baik Hati, Noka, Kumbara, hm ... siapa lagi, ya?" Sanubari mengetuk-ngetuk jarinya yang menghitung.
"Jangan asal-asalan!" tegur Abrizar yang sedang mencari file di laptop.
"Aku tidak asal-asalan kok. Kumbara itu yang mengajariku anggar. Kak Penculik Baik Hati itu keren. Dia serba bisa."
"Terserah siapa pun yang ingin kau rekrut nanti, tetapi untuk syarat ke dua aku mau kau merekrut dia," tandas Abrizar.
__ADS_1
Sanubari langsung membaca nama yang tertera di laptop, "Shiragami Eiji."