
Berkat Abrizar, mereka bisa sampai ke seberang tanpa tergigit ular. Beruntung, ketiganya tergolong pria yang ramping. Jadi, mereka bisa melewati jajaran besi seperti jeruji.
Andai mereka gemuk dan berperut buncit, mungkin tubuh mereka akan tersangkut. Interval besi dengan besi lainnya tidak cukup lebar untuk dilewati seekor lycaon. Itu sedikit melegakan.
Melewati tanaman perdu, pepohonan rindang, ketiganya sampai di sebuah wilayah yang cukup terbuka lagi. Abrizar sengaja menggiring mereka lebih dalam karena mendengar aliran air.
Di sana, para pria itu beristirahat. Abrizar berjongkok di pinggir sungai. Dia mencuci tangan dan muka. Pun Fukai. Selesai menyuapi dan meminumkan obat pada Sanubari, Fukai melepaskan kemeja lengan panjang Sanubari.
Lengan kiri Sanubari berdarah, juga pelipisnya. Ada luka gores memanjang, sepertinya karena gesekan dengan kerikil atau ranting waktu terjatuh sebelumnya. Dia lekas membersihkan luka-luka itu, mengoleskan salep, dan menempelkan plester medis.
Setelahnya, Fukai kembali ke sungai. Melihat Abrizar yang melepas sepatu dan menggulung celana, Fukai mengernyit. Pria tuna netra itu memasukkan kaki ke sungai. Darah mengalir bersama arus sungai.
"Ayo ke tepi! Akan kuobati lukamu," ajak Fukai menepuk bahu Abrizar.
"Tidak apa-apa. Nanti saja!"
"Aku memang tidak membawa obat-obatan dan perlengkapan medis lengkap. Tapi, lukamu itu setidaknya harus mendapatkan perawatan pertama sampai kita keluar dari sini dan ke rumah sakit. Ayo!" desak Fukai.
Luka robek pada Betis Abrizar tampak sedikit mengerikan. Itu tampak lebih dalam dari luka Sanubari.
Abrizar terdiam sejenak, lalu mengikuti Fukai dengan sedikit terpincang. Lukanya terasa ngilu setiap kali mendapatkan tekanan ketika menjejakkan kaki atau melangkah. Ditentengnya sepasang sepatu.
Abrizar meringis dan mendesis setiap kali Fukai mengelap lukanya dengan cairan desinfektan dan penyeteril. Kemudian, mengoleskan salep sebelum menutupnya dengan plester medis.
Di antara ketiganya, Fukai yang makan perbekalan paling akhir. Hanya tiga potong sandwich, tetapi cukup untuk mengganjal perut sementara.
Angin sepoi memberikan kesejukan di bawah terik. Ketiganya berteduh di bawah pohon rindang. Bersandar pada batang pohon, Sanubari tertidur.
"Itu lebih baik untuknya. Dengan begitu, rasa sakitnya tidak akan begitu terasa," pikir Fukai sambil menggigit roti.
Dia memberikan obat pereda nyeri pada Abrizar dan Sanubari. Abrizar tampak melepas kacamata dan memejamkan mata di sebelah Sanubari, tetapi tidak tidur.
Sementara itu, Fukai melihat jauh. Hamparan pohon kiwano berbuah subur. Warna kuningnya bersinar cerah diterpa sinar matahari. Jauh di seberang hamparan kiwano, tampak batang pohon raksasa seperti dinding. Puncaknya menjulang ke langit. Daunnya lumayan lebat. Luas dan tinggi batangnya mungkin lebih dari gedung tiga puluh lantai.
"Itu keajaiban dunia sesungguhnya."
Mata Fukai melebar. Pandangan itu berbinar, tidak lepas dari panorama di hadapan. Ini kali pertama dirinya melihat pohon sebesar itu secara langsung.
"Apa?"
__ADS_1
Abrizar masih menyahut. Itu artinya, dia memang tidak tidur, meski udaranya cukup nyaman untuk sejenak melelapkan badan.
"Itu, ada pohon raksasa jauh di depan kita."
"Oh, ini 'kan hutan liar. Wajar bila ada tanaman besar, kan?"
"Tidak hanya itu. Di depan kita, ada hamparan kiwano sampai ke ujung mendekati pohon itu. Rasanya, ladang kiwano itu terlalu teratur untuk dikatakan tanaman liar," ungkap Fukai setelah mengamati pemandangan itu.
Kiwano-kiwano itu seperti sengaja ditanam seseorang. Semua tampak terawat.
"Sepertinya, kita menuju arah yang benar," simpul Abrizar setelah mendengar keterangan Fukai. Sebentar lagi, mereka akan sampai ke tempat yang mereka cari. Pagar-pagar besi itu, pastinya ditujukan untuk sesuatu.
Tiga jam beristirahat, Sanubari terbangun. Rasa sakit di tubuhnya mereda, tersisa rasa perih yang masih dalam batas tolerannya. Dia mengendus-endus aroma tubuhnya.
"Bau, anyir. Rasanya, aku ingin berenang ke sungai jernih itu."
"Kau tidak boleh berendam terlalu lama sebelum semua lukamu menutup sempurna," ucap Fukai mengingatkan.
"Bila sudah baikan, ayo lanjutkan perjalanan! Tempat tujuan sudah di depan mata."
Mengambil ransel, Abrizar berdiri. Sepatu juga sudah dikenakan kembali.
"Bagaimana dengan jembatan atau daratan yang mungkin bisa dilompati?"
Pertanyaan balik itu menjelaskan bahwa Abrizar memang ingin maju.
"Kiwano? Apa itu kiwano?"
Sanubari menoleh pada Fukai. Dokter itu juga sedang menggerakkan kepala ke kanan dan kiri.
Kemudian, dia menjawab, "Buah kuning-kuning itu di seberang sungai."
Telunjuknya terulur ke depan sebelum mengatakan, "Tidak ada jembatan di sini. Tidak pula ada yang lebarnya cukup sempit untuk dilompati."
Pandangan Sanubari tertuju ke depan. Tiba-tiba, dia berdiri dan berlari sambil berkata, "Akan kuperiksa kedalamannya."
"Sanu, lukamu belum mengering!"
Mengabaikan peringatan dari Fukai, Sanubari melepas sepatu begitu saja dan menyingsingkan celana. Dia tersenyum lebar.
__ADS_1
"Hanya sebentar," katanya, lalu menceburkan diri ke sungai sambil membawa sepatu dengan tangan kiri dan kanan.
"Dasar anak itu!" gerutu Fukai.
Sanubari adalah pasien paling merepotkan yang pernah ditanganinya. Pemuda itu sering mengeluh, tetapi sering juga mengabaikan pantangan. Dia seperti tidak kapok dengan rasa sakit yang diderita.
Sanubari terus berjalan ke tengah. Berbalik badan, dia berseru, "Hanya selutut!"
Senyumnya tampak dipaksakan dan aneh karena harus sambil menahan perih. Lutut dan kakinya yang terendam seperti digelitik dengan benda tajam. Dia lekas berbalik badan, buru-buru ke tepian. Begitu mentas dari sungai, dia duduk dan meniup-niup satu per satu plester yang melekat pada kedua kakinya.
"Aku akan menggendongmu supaya luka itu tidak basah," ucap Fukai.
Abrizar tidak menolak. Mereka lekas menyusul Sanubari.
"Ah!"
Sanubari menjerit ketika Fukai mendadak melepaskan plester basahnya. Dokter itu membungkam Sanubari dengan tangan kirinya.
"Tahan, Bocah Cengeng! Ini akibatnya bila terus-terusan membangkang."
Fukai menurunkan tas di sebelahnya. Untungnya, dia membawa tisu besar. Jadi, dia punya sesuatu untuk mengeringkan kaki Sanubari. Seperti biasa, selesai melakukan perawatan dan mengganti plester, Fukai memasukkan sampah ke tas.
Mereka melanjutkan perjalanan. Sesekali, Sanubari berlari mendahului, lalu berhenti. Dia memegangi buah kejinggaan.
"Ini seperti semangka. Tapi, warnanya seperti jeruk, lemon? Ada tonjolan-tonjolannya juga seperti buah naga. Aromanya juga segar. Apa ini bisa dimakan?" celotehnya.
Buah unik itu benar-benar menumbuhkan keingintahuannya. Sanubari meraba tonjolan-tonjolan pada buah.
"Itu memang disebut juga melon bertanduk. Rasanya enak kalau sudah matang," jelas Fukai.
"Mau coba."
Sanubari langsung memandangnya dengan sorot penuh nafsu. Baru saja, dia hendak memetik buah itu. Namun, suara Abrizar terdengar.
"Jangan mengambil buah sembarangan! Kita di sini bukan untuk wisata petik buah!"
"Ini 'kan alam liar. Jadi, tidak masalah bila mau mengambilnya tanpa izin siapa pun, kan?"
Sanubari cemberut. Meskipun begitu, dia melepaskan buah itu, lalu menyusul Abrizar yang meninggalkannya. Sanubari masih sulit mengalihkan pandangan dari buah jingga kekuningan itu.
__ADS_1