Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tiba di Jakarta


__ADS_3

Pukul setengah lima pagi, mereka sampai di stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Matahari belum menerangi bagian bumi tersebut. Namun, stasiun sudah sangat padat. Begitulah keadaan kota besar. Pagi-pagi buta sekali mereka harus berlomba mendapatkan transportasi umum untuk pergi bekerja. Sebab, semakin siang maka jalanan akan semakin macet. Mereka akan terlambat sampai ke tempat kerja bila tidak buru-buru. Sungguh suasana yang sangat kontras dengan kota yang baru saja ditinggalkan Sanubari dan rombongannya.


Jin berjalan memimpin sambil menggandeng Sanubari. Antisipasi supaya bocah cilik itu tidak hilang.


"Kak Penculik Baik Hati, kenapa tas kakak aneh? Memangnya tidak repot ya, memasukkan baju ke dalam tas memanjang seperti itu?" tanya Sanubari yang penasaran pada bawaan Jin sejak kemarin.


Pasalnya, bentuk tas Jin tidak biasa. Persegi panjang dengan ukuran kisaran satu meter. Berbeda sekali dengan tas ransel dan koper yang dibawa Kelana. Di mata Sanubari, tas Jin terlihat aneh dan tidak praktis untuk membawa pakaian. Oleh karena itulah dua tas panjang berbeda warna itu menarik perhatiannya.


"Ini isinya bukan baju tapi tongkat kembar penyangga langit," jawab Jin berbohong.


Tidak mungkin dia berterus terang kepada bocah di bawah umur itu bahwa isi dari tasnya adalah pedang asli. Apalagi mereka berada di tempat umum. Bisa-bisa dia terkena tilang polisi bila terang-terangan memamerkan senjata tajam itu di depan khalayak umum.


Orang yang mengerti mungkin akan mengira Jin sebagai atlet Kendo dan isi dari tasnya adalah shinai (pedang bambu). Sebentar lagi pertandingan Kendo tingkat nasional akan digelar di Jakarta. Wajar bila akhir-akhir ini ada beberapa pemuda dari luar kota yang seliweran membawa tas sama seperti milik Jin.


Kenyataannya, Jin merupakan salah satu atlet kendo meskipun pedang yang saat ini ia bawa bukanlah shinai. Ia lolos dalam seleksi tingkat kota dan akan mewakili Jakarta dalam perhelatan kendo nasional. Seleksinya pun tidak mudah. Hanya dua perwakilan setiap kota yang diizinkan maju ke tingkat nasional. Dua terbaik nusantara akan di kirim ke kompetisi tingkat internasional yang akan diselenggarakan di Jepang.


Hari ini Jin cukup beruntung mendapatkan misi sebagai pemandu sekaligus pelindung bagi Sanubari dan rombongannya. Kerjaannya hanya jalan-jalan tetapi bisa dapat makanan gratis. Dia juga bisa kembali ke Jakarta dengan kereta mewah tanpa mengeluarkan uang serupiah pun. Pas sekali dengan prinsip hidupnya. Kurang lebih seperti itulah cita-cita sederhana Jin—jalan-jalan keliling dunia gratis dengan jalan berpedang.


"Memangnya langit bisa disangga dengan tongkat sekecil itu? Langit 'kan luas dan sangat tinggi," tanya Sanubari lagi.


"Jangan salah! Ini tongkat bisa memanjang dan membesar dengan sendirinya. Jadi bisa dipakai untuk menyangga langit." Kata-kata itu keluar dari mulut Jin dengan mudahnya. Ia seperti sama sekali tidak merasa berdosa telah menipu bocah itu berkali-kali.


"Keren! Mau lihat! Mau lihat!"


"Kau masih di bawah umur, Bocah. Bocil sepertimu tidak boleh melihatnya."


"Tidak adil! Masak cuma orang besar yang boleh lihat?"


"Ya."


Jawaban Jin membuat Sanubari semakin ingin cepat menjadi dewasa. Menurutnya, orang dewasa memiliki kebebasan tidak terbatas daripada anak kecil sepertinya. Sebagai anak kecil, banyak sekali hal yang sulit dia pahami dan tidak bisa ia lakukan. Diam-diam bocah itu menyimpan rasa iri terhadap para orang dewasa di sekitarnya.

__ADS_1


Ngomong-ngomong kita setelah ini mau kemana?" tanya Jin.


Dari kemarin mereka belum mendiskusikan tujuan sesampainya di Jakarta. Jin juga tidak tahu apakah Aeneas dan Kelana sudah memesan hotel atau belum. Pekerjaan Jin saat ini adalah mempermudah perjalanan mereka. Dia hanya akan memberi saran bila diminta dan menyerahkan penentuan tujuan sepenuhnya pada keluarga Sanubari.


Sanubari dengan segera menyahut, "Monas! Aku ingin melihat es krim emas raksasa seperti yang dibilang kak Penculik Baik Hati. Boleh ya, Paman, Pa, Mak? Boleh, ya? Ya? Ya?"


"Es krim emas raksasa?" batin Kelana yang langsung menatap Jin dengan pandangan aneh, "Jin ...."


Pemuda yang dianggap tersangka hanya tertawa tanpa dosa. Jin sama sekali tidak merasa bersalah. Dia memang telah banyak memberikan nasihat baik kepada Sanubari. Akan tetapi, dia juga telah banyak menanamkan pengertian yang tidak benar kepada bocah yang belum mengenal sistem penyaringan informasi itu.


*****


Siang hari, suasana pedesaan di kabupaten Blitar tetap asri seperti biasanya. Adat Jawa pun masih dilaksanakan. Sebuah rumah sedang ramai dengan kumpulan bapak-bapak bersongkok yang memanjatkan doa. Mereka sedang melakukan kenduri, memperingati empat puluh hari sejak kematian kepala keluarga rumah tersebut.


Di ruangan yang berbeda, beberapa orang juga sedang berkumpul. Mereka bukan partisipan kenduri. Melainkan beberapa pengikut almarhum yang kini beralih mengabdi kepada keturunannya. Mereka sedang menghadap kepada sang Bos Baru.


"Ketua Jin wis lungo soko Blitar, Bos."


(Ketua Jin sudah pergi dari Blitar, Bos.)


Namun, kegagalan akan mendatangkan resiko besar kepada mereka. Bukannya sekali lempar batu, dua burung jatuh tetapi sepertinya dua burung itu kini tetap bisa terbang bebas. Ini adalah ancaman serius bagi mereka.


"Lungo? Jaremu ketua Jin sak mobil karo Sanubari? Wayahe mobile ndek wingi opo ora Yo wis Kobong?"


(Pergi? Katamu ketua Jin satu mobil dengan Sanubari? Bukankah kemarin seharusnya mobil itu sudah terbakar?)


Dua hari yang lalu memang benar kecelakaan nyaris terjadi. Andaikan Jin tidak cukup sigap, mungkin tabrakan antara kereta benar-benar tidak terelakkan. Namun, kenyataan yang terjadi sepertinya tidak sesuai dengan bayangan mereka.


Bawahan tersebut tertunduk ketakutan. Ia juga paham apa resiko atas kegagalan mereka. Bukan hanya si Juru bicara yang ketakutan tetapi orang lain yang terlibat dalam misi tersebut pun merasakan tekanan yang sama. Terlebih lagi yang melihat Jin mengeksekusi juru kunci kuburan malam itu, mereka sama sekali tidak bisa hidup tenang selama tahun belum berganti tanpa peristiwa menyesakkan.


"Salah pritungan, Bos. Reme wis dirusak Kabeh. Kabel Yo uwis diowahi ben konslet. Tapi koyoke urung kanti konslet mobile wis ora dienggo."

__ADS_1


(Salah perhitungan, Bos. Semua rem sudah dirusak. Kabel juga sudah diotak-atik supaya terjadi korsleting. Tapi sepertinya mobil sudah tidak dipakai lagi sebelum korsleting terjadi.)


Bukannya tidak tahu, sejatinya mereka mengikuti mobil yang dikendarai Jin malam itu karena ingin melihat secara langsung apa yang akan terjadi. Jika sesuai dengan rencana, seharusnya mobil akan terbakar segera setelah Jin menarik rem tangan karena pedal rem tidak berfungsi. Selambat-lambatnya beberapa putaran roda setelah rem tangan itu ditarik.


Datangnya kereta dan tempat rusaknya pedal rem tidak termasuk dalam rencana mereka. Awalnya, mereka merasa senang karena tertabraknya mobil oleh kereta akan menyamarkan kejahatan mereka. Mungkin saja polisi akan mengira kecelakaan terjadi akibat kelalaian pengemudi dan kondisi mobil yang tidak dirawat.


Sayang, semua itu hanyalah harapan mereka yang tidak pernah terwujud. Sebelum kereta berhasil menghantam mobil yang dikendarai Sanubari dan Jin, mobil itu bergerak mundur kemudian berhenti. Mereka yang mengawasi dari kejauhan pun kecewa.


Mereka segera meninggalkan tempat itu karena takut Jin akan menyadari keberadaan dan mencurigai mereka. Mereka juga tidak punya nyali untuk menyerang Jin. Level mereka terlalu jauh untuk bisa mengimbangi Jin


Si Bos menggeram. "Montir ora guno! Percuma diarani Kang Bengkel Jenius. Ngurusi ngono kae wae ora iso!"


(Dasar montir tidak berguna! Percuma saja dijuluki Kang Bengkel Jenius. Mengurus begituan saja tidak becus!)


"Sepurane, Bos!"


(Maaf, Bos!)


"Ora usah nggowo-nggowo aku lak nganti masalah iki konangan ketua Jin. Awas lak nganti wani wadul!"


(Tidak usah membawa-bawa aku bila masalah ini sampai ketahuan ketua Jin! Awas kalau sampai berani mengadu!)


Agaknya si Bos menyesal telah melibatkan Jin dalam kejadian ini. Seharusnya dia mengincar Sanubari ketika Jin tidak berada di sekitar bocah itu. Mungkin dengan begitu dia tidak akan dihantui kekhawatiran. Namun, nasi telah menjadi bubur. Dia hanya bisa mengancam bawahannya supaya tidak membocorkan perihal balas dendam ini.


———©———


Catatan Penulis :


Halo! Ada yang suka dan jadi penggemarnya Jin di sini?


Setelah ditulis, ternyata Jin adalah tokoh yang mudah digerakkan daripada Sanubari. Mungkin ke depannya Sanubari akan banyak mencontoh Jin karena bocah cilik itu terlanjur mengidolakannya. Tapi entahla ya eksekusinya bagaimana jadinya.

__ADS_1


Simak terus novel ini untuk mengetahui perkembangan karakter Sanubari!


Semoga cerita sederhana ini berkenan di hati teman-teman. Terimakasih atas dukungannya sampai episode ini. Dukung terus sampai akhir, ya!


__ADS_2