
Tidak tanggung-tanggung, Abrizar mentransfer lima miliar pada orang tuanya. Dia ingin menjenguk adiknya, tetapi mereka dengan tegas melarang. Kedua orang tuanya tidak ingin Abrizar juga sampai tertular.
Tidak ingin menambah kekhawatiran ayah dan ibu, Abrizar pun menyembunyikan status keberadaannya di Indonesia. Toh, sebentar lagi, dia akan kembali meninggalkan Indonesia. Sebelum menutup telepon, dia juga meminta ayahnya membawa keluarga pindah ke Italia sampai setidaknya Indonesia kembali aman.
Tidak bisa dipungkiri, Abrizar sangat mencemaskan keadaan adiknya. Perkataan Eiji pun menjadi buah pikiran baginya. Namun, dia belum memiliki bukti tentang dugaan tersebut. Jika terbukti benar, Abrizar tidak akan ragu untuk membuat perhitungan pada siapa pun yang terlibat.
Pria itu menahan segala perasaan negatif yang bergejolak. Dia menetralkan pikirannya kembali sampai jemputan datang lima jam kemudian.
Kelana sendiri yang menyetir mobil menuju rumah lama itu. Dia masih ingat posisi rumahnya. Pria itu hanya sedikit bingung ketika rumah yang menurutnya seperti kandang kuda sudah tidak ada. Untungnya, Eiji membuka pintu dan keluar rumah.
Tanpa istirahat, mereka langsung menuju tempat terparkirnya pesawat. Kurang dari satu jam, pesawat mendarat di Italia. Tujuan pertama mereka adalah rumah sakit.
"Paman, kurasa sakit Sanu ada kaitannya dengan ini. Coba periksa cairan apa yang ada di dalamnya! Dia sakit setelah digigit benda ini."
Eiji menyerahkan capung yang dia kantongi. Sesuatu berkaitan dengan bahan kimia atau biologi mendalam bukanlah bidangnya. Eiji sendiriselalu butuh waktu lama untuk mempelajari hal baru atau yang bukan menjadi ranahnya. Akan lebih cepat bila diserahkan pada ahlinya.
"Ini."
Kelana tertunduk menatap capung yang telah berpindah ke telapak tangannya. Dari permukaan, benda itu memang tidak ubahnya capung sungguhan.
"Itu aifka."
"Terima kasih, akan segera kuurus. Kalian bawalah mobil ini untuk pulang!"
__ADS_1
Kelana menyerahkan sebuah kunci. Hari masih cukup larut. Dia sangat paham bahwa para pemuda ini butuh istirahat.
"Kami akan segera kembali ke mari, menjenguk Sanu."
Eiji mengangguk. Dia menerima pinjaman Kelana, lalu pulang bersama yang lain ke rumah Abrizar.
Sanubari telah ditangani dokter di UGD. Aeneas menunggu hasil pemeriksaan dengan cemas. Waktu tujuh hari bukanlah waktu yang lama.
Pada titik ini, dia menutup kepercayaan dari dunia luar. Termasuk negara aliansi. Kecuali, orang-orangnha di Italia. Pengalaman besar terkhianati di masa lalu membuatnya sering meragukan kesetiaan seseorang. Ditambah lagi, dua kali putranya itu nyaris celaka di sana, bahkan lebih bila hari-hari sebelum penjemputannya dihitung.
Kelana juga langsung memanggil seseorang untuk memeriksa sampel pemberian Eiji. Para ahli menggunakan segenap kemampuan dan peralatan terbaik untuk mendiagnosa dengan cepat.
"Ini cukup kompleks. Protozoa trypanosoma sepertinya sengaja diinkubasi supaya bisa langsung bekerja ketika memasuki tubuh inang. Tidak hanya itu. Virus lain dan racun dari melati kuning juga dikombinasikan. Tuan muda sekarang dalam fase koma. Bila semua itu tidak bisa dinetralkan selama tiga hari, nyawanya tidak akan tertolong."
Begitu banyak keterangan dalam catatannya. Dokter tidak membacakan semua. Trypanosoma bruceiii yang biasanya butuh beberapa waktu untuk menunjukkan gejala pun langsung aktif menyerang bersama gen-gen mutasi lain. Hampir seluruh saraf Sanubari mengalami kelumpuhan total.
Aeneas terperanjat. Fakta itu benar-benar mencengangkan dan menyakitkan. Entah apa jadinya bila para teman Sanubari itu memutuskan untuk membawanya kembali dengan pesawat konvensional. Jangankan pengobatan, pemeriksaan pun mungkin belum sempat dilakukan. Sekarang saja nasib Sanubari belum pasti.
"Seperti itulah faktanya. Bahkan, mungkin lebih singkat lagi."
Dokter mengatakan itu dengan penuh penyesalan. Ini kasus pertamanya menangani penyakit sintesis seperti itu. Tentunya, obat medis umum pun tidak efektif digunakan. Epidemi buatan ini sungguh merepotkan. Orang yang bisa menciptakan penyakit kompleks yang bekerja sesuai kontrolnya sekaligus membuat penawarnya pastilah seorang jenius.
"Tapi, kau punya obatnya, kan? Dia akan sembuh selama tiga hari, kan?" ucap Aeneas penuh harap.
__ADS_1
Dia begitu nelangsa memikirkan Sanubari. Selalu ada saja yang meneror kehidupan bocah itu. Andai bisa, dia ingin menukar ketenangan sendiri selama beberapa waktu dengan kemalangan sang putra. Belakangan ini, Aeneas memang tidak mendapatkan serangan dari siapa pun, tetapi keluarganya selalu menjadi incaran.
Dokter menggeleng. Memberi harapan palsu bukanlah keahliannya. Semenyakitkan apa pun, kenyataan harus tetap disampaikan kepada keluarga pasien. Memberi semangat pada pasien dengan mengatakan hal positif dan menyampaikan fakta adalah dua hal berbeda.
"Beberapa obat akan menjadi racun bila digunakan bersamaan. Sayangnya, seperti itulah resep yang bisa digunakan untuk mengobati satu per satu. Kita tidak punya banyak waktu untuk melakukan pengobatan bertahap. Tapi, saya sudah berkomunikasi dengan Profesor Canda dan orang-orang dari laboratorium. Saya harap mereka bisa menciptakan antigennya secepat mungkin."
Data-data pemeriksaan juga dikirimkan pada Canda. Penelitian ekspres ini pastinya membutuhkan ketelitian ekstra tinggi. Mereka harus bisa menciptakan vaksin yang bisa bekerja kurang dari dua puluh empat jam dalam kurun waktu yang teramat sempit.
Canda membaca laporan itu dengan seksama. Dia juga dalam perjalanan ke Italia bersama para penjemput yang diutus Aeneas.
Untuk sementara waktu, Sanubari ditangani seadanya. Sayangnya, setiap kali obat disuntikkan, parasit lain akan mendisfungsikan efek obat tersebut. Begitu seterusnya. Upaya untuk memperpanjang harapan hidup Sanubari selalu menuai kegagalan.
Malam itu, rumah sakit dan laboratorium penelitian benar-benar sibuk. Aeneas dan Kelana tidak tidur. Mereka menunggu Sanubari di kamar khusus. Alat pendeteksi detak jantung dan masker oksigen dipasang pada tubuh Sanubari.
Kelana sesekali menengok ponsel. Dia menunggu kabar dari laboratorium tentang capung itu juga penangkal virus buatan tersebut. Sebuah pesan tidak terduga terbaca olehnya. Pesan itu berasal dari Abrizar. Lelaki tuna netra itu meminta hasil penelitian juga. Kelana meneruskan setiap laporan dari laboratorium, termasuk hasil pemeriksaan Sanubari pada pria tuna netra itu.
Kondisi Sanubari dipantau setiap menit. Jantungnya sempat melemah, tetapi bisa stabil kembali. Aeneas tidak henti-hentinya dibuat berkeringat dingin.
Kabar bergabungnya Canda ke tim penelitian pun tidak bisa mengusir kegelisahan yang menyelimutinya. Ini seperti hidup dan mati Aeneas juga.
"Jangan lagi!" harap Aeneas dalam hati. Dia tidak ingin lagi orang-orang terkasihnya direnggut paksa seperti ini. Pria yang kini menjadi orang tua tunggal itu mengutuk siapa pun yang menciptakan virus sialan itu. Orang-orany itu tidak termaafkan.
Hal itu pula yang dirasakan Abrizar setelah mendengar laporan dari Kelana. Berita tentang wabah bisa menular melalui udara ternyata hanyalah dusta. Sebagian besar penyebab penyakit itu faktanya hanya bisa ditularkan melalui gigitan hewan tertentu, makanan terinfeksi, kontak darah, atau transplantasi. Semua itu hanya wabah yang sengaja disebarkan oleh oknum tertentu demi sebuah keuntungan.
__ADS_1
"Baiklah. Kalian berani bermain-main dengan keluargaku, maka waktunya kalian bermain denganku."
Abrizar menyeringai. Tanpa banyak petunjuk, akan butuh waktu lama menyelidiki siapa saja yang terlibat dengan jejak digital. Dia berniat menyelesaikan seperempat jalan sebelum tidur.