Santri Famiglia

Santri Famiglia
Jus Tomat


__ADS_3

Fang dan Damiyan berjalan bersama. Mereka baru saja mendiskusikan rencana pelatihan Sanubari kembali. Damiyan menceritakan kelemahan-kelemahan Sanubari. Yang perlu dilakukan Fang adalah memberikan keahlian yang bisa menutupi kelemahan tersebut. Termasuk mematangkan teknik bela diri Sanubari.


Ketika keluar dari ruang bawah tanah, mereka berpapasan dengan Sumiati di selasar. Gadis pekerja itu membawa nampan. Tiga gelas jus tomat dan setoples kacang mede tertata di atasnya.


"Loh, Sumi mau ke mana?" Damiyan tersenyum.


Sumiati balas tersenyum malu-malu. Dia menghindari tatapan Damiyan. "Anu, tadinya, saya ingin membawakan ini untuk kalian. Saya pikir, akan segar bila minum jus tomat setelah olahraga."


"Wah, wah, terima kasih atas perhatiannya," Damiyan mengambil alih nampan, "bisa tolong panggilkan Sanu?"


"Bukankah Tuan Sanu bersama kalian?" Gadis itu mengangkat pandangan, lalu lekas menunduk.


Fang memperhatikan gerak-gerik Sumiati. Senyumnya mengembang menyadari sesuatu. Sesuatu itu bertunas dan mulai terlihat kuncupnya.


Di tempat tinggal Fang, pemuda memang langka. Mayoritas hanyalah orang-orang berumurr dan anak-anak. Para pemuda harus keluar desa bila ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.


Damiyan berkata, "Dia keluar duluan. Dia sepertinya ada di sungai. Bilang padanya untuk menemui kami di halaman depan!"


"Baik." Sumiati mengangguk.


"Sumi, setelah itu, siapkan makanan untuk kita semua!" Fang menambahkan sebelum gadis itu benar-benar pergi.


Sumiati berlari kecil memutari rumah. Damiyan menatap kepergiannya.


"Gadis itu manis meski tak semanis gadis Jepangnya Sanu."


Damiyan tanpa sadar membandingkan Sumiati dengan Anki. Kedua gadis itu cantik dengan cirinya masing-masing. Jika disuruh membuat peringkat, Damiyan akan menempatkan Anki di posisi pertama, lalu Sumiati di peringkat kedua.


Rambut Sumiati panjang lurus dengan ujung bergelombang alami. Warnanya agak cokelat kemerahan. Itu tampak seperti warna alaminya. Matanya sedikit sipit, kebalikan dari Anki yang bermata belo meski berdarah Jepang. Warna bibirnya pun kemerahan. Bisa dibilang, bila Anki memiliki kecantikan yang memancarkan kepolosan murni, Sumiati memiliki kecantikan sensual.


Fang tersenyum semakin lebar. Dia terpancing untuk menggoda Damiyan. "Kau harus menunggu setidaknya tiga tahun lagi bila ingin meminangnya."

__ADS_1


Damiyan menanggapinya dengan biasa. "Apa itu akhir kontrak kerjanya?"


Mereka kembali berjalan. Berjalan sangat santai sambil menikmati semilir angin sepoi.


"Bukan, tapi dia masih terlalu muda. Selain itu, kau harus mencarikan pekerja pengganti untukku bila sungguh ingin mengambilnya!"


"Aku hanya bilang kalau dia manis, bukan berarti akan melakukan itu, kan?" Damiyan terkekeh, "lagi pula, Kek, seharusnya kau terima tawaran anak-anakmu bila kesepian, bukan malah mencari pekerja perempuan muda."


"Mereka tidak mau tinggal di sini. Apa boleh buat, kan?"


"Tapi, kau sungguh pandai memilih pekerja, Kakek Fang!"


"Ingat untuk membawakan ganti yang sama cantik sebelum menculiknya!"


Mereka duduk di taman bonsai. Tanaman-tanaman kerdil tersisa daun. Segala jenis buah yang ada telah dihabiskan Sanubari. Sejak diberi izin, pemuda itu selalu memetik buah dalam setiap kesempatan. Fangg membuang napas kasar dan geleng-geleng pada tanaman bonsainya yang tak lagi berbuah.


"Kenapa murid-muridku suka sekali menghabiskan buah-buahan budi dayaku?"


"Ya. Waktu itu dia sangat menyedihkan, kurus, seperti anak yang berhari-hari tidak makan. Jadi, ketika melihat kebunku yang penuh buah, dia langsung makan banyak."


"Bos Aeneas pernah seperti itu?" Damiyan tercengang. Sorot matanya mengatakan keheranan. Dia mengeluarkan kapsul dari saku. Tangannya terhenti di atas gelas. Sementara matanya terarah pada Fang yang duduk di hadapan, memberikan tatapan takpercaya. Pasalnya, pertama kali bertemu, Aeneas sudah memiliki mobil. Hidupnya pun tidak pernah susah.


Aeneas sangat royal. Setiap kali beraksi pun sudah dapat dipastikan sukses membawa kemenangan. Hanya sedikit yang bisa lolos dari incarannya. Bahkan, orang yang berusaha membunuhnya pun malah terbunuh.


Sedangkan Aeneas yang dikabarkan meninggal malah kembali hidup-hidup setelah tiga bulanan konon jasadnya menghilang di lautan. Itu sepengetahuan Damiyan. Di matanya, Aeneas selalu terlihat keren terlepas dari sifat son complex yang dimilikinya sekarang. Damiyan sulit membayangkan Aeneas dalam kekurangan.


Bagaimana bisa Damiyan membayangkan Aeneas pernah sengsara, sementara saat ini saja pria itu rela menggelontorkan banyak uang untuk Damiyan demi melindungi Sanubari. Kekayaan Aeneas seolah tiada habisnya. Pria itu sangat totalitas dalam mengupayakan keselamatan Sanubari. Yang bisa Damiyan pikirkan hanyalah bahwa Aeneas bisa saja bangkrut gara-gara Sanubari.


"Itu dulu sekali, sebelum dia sukses mengembangkan bisnis rintisan ayahnya. Beberapa orang mungkin terlahir hidup mudah dan enak sejak lahir. Namun, ada pula yang mulai dari titik nol dan terberat. Keluarga Gafrillo contohnya. Mereka bahkan tidak memiliki rumah dan harus hidup berpindah-pindah."


Kalau hidup berat, Damiyan pernah mengalami. Namun, hidup berat versi Damiyan adalah ditumtut melakukan latihan fisik hingga bosan. Dia tidak pernah kekurangan uang. Mau beli dan makan apa pun bisa. Mau bersantai-santai tanpa kerja pun tidak akan kelaparan. Kekayaan keluarga sudah lebih dari cukup untuk seumur hidup.

__ADS_1


Kendati demikian, Damiyan memilih jalan yang dilakoninya sekarang, jalan yang membuat pelatihannya sejak kecil berguna. Setelah bertemu Aeneas, Damiyan bersungguh-sungguh diet. Dia berhasil mengembalikan berat badan ideal. Setelah tahu menjadi gemuk itu membuat badan berat, Damiyan tidak mau kelebihan berat badan lagi. Sampai sekarang pun proporsional tubuhnya tetap terjaga.


Fang memperhatikan apa yang dijatuhkan Damiyan. Benda itu berdesis, lalu larut dalam air.


"Hei, apa yang kau masukkan ke jus?"


"Ini obat Sanu. Anak itu harus mengonsumsi obat secara teratur. Aku belum mengatakan padanya kalau aku bekerja pada ayahnya. Akan mencurigakan bila aku tiba-tiba memberinya obat. Jadi, aku hanya bisa diam-diam menaruh obat pada minuman seperti ini." Damiyan tertawa.


"Dia sakit?" Fang mengangkat alis. Kali ini, giliran Fang yang sulit percaya. Di matanya, pemuda seaktif dan secekatan Sanubari mustahil dalam kondisi kurang sehat.


"Dalam masa penyembuhan."


"Ayolah, Sanu! Ini serius tidak ada racunnya." Suara Shawn menginterupsi perbincangan. Anak itu membuntuti Sanubari.


""Tidak mau! Pokoknya, aku tidak mau main itu lagi! Singkirkan benda itu dariku!" Sanubari berlari.


Shawn mengejar. Keduanya berhenti di depan meja di bawah pohon Sakura. Sejak Sanubari tiba, pohon itu tidak pernah berhenti berbunga meski setiap hari kelopak berguguran.


"Sanu, akhirnya tiba juga. Kubuatkan jus spesial untukmu sebagai obat dahaga," aku Damiyan, "pas sekali setelah lari-larian, kan?"


"Aku mau!" Shawn tersenyum. Bulir-bulir air yang menuruni gelas kaca tampak menyegarkan. Matanya berbinar. Dia menyerobot gelas yang diulurkan.


Damiyan lekas menjauhkan gelas dan menampik tangan Shawn. "Ini bukan untuk anak kecil. Kau tidak dengar tadi? Ini spesial untuk Sanu."


Shawn cemberut. "Pelit!"


"Shawn, ini masih ada bila kau ingin. Yang itu biar untuk Sanu. Dia baru berolahraga dan bekerja berat, butuh nutrisi supaya tubuhnya tetap bugar." Fang menyodorkan gelas lain. Dia juga tidak mungkin membiarkan si bocah minum jus tomat yang dicampur obat entah untuk penyakit apa. Fang paham mengapa Damiyan bersikap demikian.


"Hore!" Shawn menerima pemberian Fang.


"Kau dengar, kan, Sanu? Minum jus tomat ini supaya tubuhmu tetap sehat!" Damiyan kembali menyerahkan gelas.

__ADS_1


    


__ADS_2